Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Kopi Hitam Obrolan Panas

Kalau kamu pikir setelah pemuda dari Bandung itu duduk lalu menyeruput kopi suasana warung menjadi tenang maka kamu salah besar. Justru di warung Haji Darsa tidak ada yang namanya tenang lebih dari lima menit. Baru saja kopi disajikan dan asap tipis mengepul dari gelas kaca, para pelanggan sudah mulai ribut lagi dengan bahan obrolan yang sama sekali tidak pernah habis, yaitu harga cabe.

Bayangkan sebuah meja kayu panjang yang sudah goyah kakinya, di atasnya ada piring kerupuk yang tinggal remah, gelas-gelas berembun, dan di sekitarnya orang-orang yang mulutnya lebih cepat daripada tangan mereka. Seorang nelayan yang baru saja pulang dengan perahu kecil menepuk meja sambil berteriak, katanya harga cabe naiknya tidak masuk akal. Lalu pedagang pasar menimpali bahwa semua itu karena ulah tengkulak. Ustaz Karna yang seharusnya menenangkan malah ikut panas dan mengutip satu dua ayat, tapi nada suaranya jelas-jelas penuh sindiran pada pemerintah.

Kamu yang duduk di kursi sebelah tentu bingung harus tertawa atau menunduk, sebab perdebatan ini campur aduk antara serius dan lucu.

Rahayu dari balik meja kasir hanya bisa menghela napas sambil tersenyum tipis. Ia sudah hafal, kalau tidak cabe ya beras, kalau tidak beras ya minyak tanah, kalau tidak itu ya bensin. Hidup memang penuh kekurangan, tapi entah kenapa orang-orang di warung ini selalu bisa menjadikannya bahan guyonan.

“Kalau cabe terus naik begini, nanti kita bikin sambal pakai daun singkong saja,” celetuk nelayan itu.

Dan tawa pun pecah. Bahkan mahasiswa yang baru datang dari Bandung itu tidak bisa menahan senyumnya. Namanya Arman, meski ia belum memperkenalkan diri secara resmi, tapi semua orang sudah bisa menebak kalau ia bukan orang sembarangan. Tatapannya tajam, cara duduknya gelisah, seperti seseorang yang menyimpan api di dadanya.

Nah, di sinilah obrolan mulai berubah arah. Dari cabe ke beras, lalu melompat ke gosip politik. Seperti biasanya, topik itu selalu bikin suasana panas. Pedagang pasar mengeluh kalau harga beras membuat pembeli kabur. Nelayan berseloroh kalau sebentar lagi ikan pun mogok karena lapar. Ustaz Karna mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berkata keras, bahwa semua ini tanda negeri sedang sakit.

Arman tidak tahan lagi. Ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya dalam, “Bapak-bapak semua tidak salah. Ini bukan hanya soal harga cabe atau beras. Ini soal ketidakadilan yang sudah lama dibiarkan. Kami mahasiswa sudah lama turun ke jalan menuntut perubahan.”

Nah, kamu pasti bisa membayangkan, begitu kata perubahan dilontarkan, seluruh warung seakan menahan napas. Orang-orang saling pandang, seakan menunggu siapa yang berani menanggapi. Pedagang pasar yang tadi berisik langsung menunduk, takut kalau-kalau ada mata-mata aparat. Tapi Ustaz Karna justru mengangguk pelan, matanya bersinar penuh harap.

“Anak muda,” kata ustaz itu, “kadang kebenaran memang pahit. Tapi bukankah kopi yang pahit itulah yang justru memberi tenaga.”

Kamu dengar itu. Betapa indahnya perumpamaan. Bahkan Rahayu yang biasanya hanya diam kali ini ikut tersenyum bangga. Ia menatap Arman sekejap, dan entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat.

Tapi sebelum suasana semakin serius, seorang nelayan tiba-tiba bersin keras hingga meja bergetar. Gelas hampir tumpah, semua orang terkejut, lalu tawa pecah lagi. Kamu pasti tahu bagaimana rasanya, saat ketegangan pecah oleh sesuatu yang remeh. Itulah warung kopi Haji Darsa. Selalu ada yang mengubah air mata jadi tawa dalam sekejap.

Namun jangan kira semua berakhir dengan ringan. Sebab Arman diam-diam sudah menarik perhatian. Ia merasa aman di warung itu, tapi di luar sana, siapa tahu ada mata yang mengintai. Dan kamu yang membaca ini mungkin sudah bisa menebak, bahwa percakapan sederhana tentang harga cabe bisa menjelma jadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Haji Darsa yang sejak tadi duduk di pojok akhirnya bersuara. Suaranya berat dan tenang, membuat semua orang diam.

“Kalian boleh bicara apa saja di sini. Tapi ingat, jangan sampai warung ini jadi alasan orang-orang datang membawa masalah. Aku hanya ingin warung ini tetap jadi tempat tawa, bukan tangisan.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan sekaligus doa. Dan Arman mengangguk hormat. Rahayu yang sedang membereskan gelas merasa dadanya hangat. Ia tahu ayahnya keras, tapi jauh di dalam, ayahnya juga peduli.

Sekarang mari saya tanya pada kamu. Apakah kamu tidak merasa aneh, bagaimana mungkin harga cabe, harga beras, gosip politik, tawa nelayan, doa ustaz, dan tatapan seorang gadis pada pemuda asing bisa bercampur dalam satu ruangan sempit bernama warung kopi. Tapi begitulah hidup. Penuh hal-hal yang tidak nyambung tapi justru di situlah ceritanya jadi bermakna.

Arman menyeruput kopinya pelan, matanya tak lepas dari Rahayu. Ia merasa ada sesuatu yang baru tumbuh, sesuatu yang manis di tengah pahitnya kopi. Dan kamu yang ikut menyaksikan dari kursi samping mungkin juga merasakannya. Ini bukan sekadar obrolan panas. Ini awal dari sebuah kisah besar.

Dan jangan buru-buru menutup buku. Karena obrolan di warung ini tidak akan pernah selesai hanya dengan satu gelas kopi. Masih banyak perdebatan, masih banyak tawa, masih banyak rahasia yang akan terungkap.

Kamu siap kan. Kalau begitu, ayo lanjut. Kopinya masih panas, ceritanya juga.

Other Stories
Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Tes

tes ...

Download Titik & Koma