Poster Reformasi
Kalau kamu kira cinta yang baru tumbuh di antara Rahayu dan Arman bisa berjalan tenang maka kamu jelas belum pernah nongkrong di warung kopi Haji Darsa karena di sini tenang itu hanya ada sebelum teko kopi mendidih. Setelahnya selalu ada saja hal yang bikin hati meloncat. Dan kali ini semua bermula dari selembar kertas tipis yang ditempel di papan kayu usang.
Pagi itu udara Garut masih segar. Matahari baru naik separuh, ayam jantan belum bosan berkokok, dan pelanggan warung sudah mulai berdatangan. Ada nelayan yang baru pulang melaut matanya masih sayu. Ada pedagang pasar yang ribut soal harga beras yang katanya naik lagi. Ada Ustaz Karna yang baru selesai subuh berjamaah lalu mampir untuk menyeruput kopi pahit favoritnya. Rahayu mondar mandir membawa gelas panas, senyumnya menyejukkan suasana meski krisis masih menggantung di udara.
Di pojok meja duduklah Arman. Pemuda Bandung itu masih menyimpan lelah perjalanan kemarin, tapi pikirannya tidak bisa diam. Ia merasa warung ini bukan hanya tempat singgah, melainkan juga titik kecil di mana suara perubahan bisa mulai terdengar. Jadi ketika semua orang sibuk berceloteh soal harga cabe, Arman membuka ranselnya, mengeluarkan beberapa selebaran yang dibawanya dari Bandung. Kertasnya agak kusut, tapi huruf huruf tebal bertuliskan Reformasi atau Turunkan Pemimpin yang Menindas terlihat jelas.
Kamu mungkin ingin bilang wah gila ya anak ini bukannya sembunyi malah bikin keributan baru. Ya begitulah Arman. Kalau hatinya sudah terbakar idealisme, ia lebih takut kalau diam daripada kalau dikejar aparat.
Dengan wajah serius ia berdiri lalu menempelkan salah satu selebaran itu di papan kayu dekat pintu warung. Bunyi paku diketuk membuat kepala semua orang menoleh. Dan di sinilah pertunjukan dimulai.
Nelayan yang sedang meneguk kopi langsung menunjuk. “Eh itu apa tulisan begituan ditempel di warung”
Pedagang pasar yang suka bawel ikut menyahut. “Ih berani amat. Kalau aparat lihat bisa dibredel warung ini.”
Ustaz Karna menatap tajam lalu menghela napas. “Anak muda… ini tempat orang cari rezeki, bukan tempat tempel poster politik.”
Arman tidak mundur. Ia berdiri tegak, suaranya tegas tapi tetap sopan. “Maaf Pak Ustaz, maaf semua. Saya percaya kalau rakyat kecil harus tahu apa yang sedang terjadi. Poster ini bukan sekadar tulisan, tapi suara hati jutaan orang yang sudah lama diam.”
Nah sekarang kamu bisa bayangkan keributan kecil mulai bergulir. Ada yang mengangguk setuju, ada yang menggeleng keras. Bahkan Kang Deden yang kemarin cemburu, entah dari mana tiba tiba nongol, ikut nimbrung. “Saya bilang juga apa. Anak ini bawa masalah. Warung jadi nggak aman kalau begini.”
Suasana makin panas. Pedagang pasar ikut nimbrung sambil teriak. “Kalau harga beras naik siapa yang peduli sama poster. Perut saya lebih butuh nasi daripada tulisan reformasi.”
Lalu si nelayan menepuk meja keras. “Justru karena harga beras naik kita harus berani teriak. Kalau diam saja kita akan terus diinjak.”
Kamu tahu kan apa yang terjadi kalau debat di warung kopi. Satu orang bicara, lima orang menyahut, sepuluh orang tertawa, dan tiba tiba semua merasa paling benar. Jadi jangan heran kalau pagi itu warung Haji Darsa berubah jadi arena sidang rakyat kecil yang gaduh.
Di tengah kegaduhan itu Rahayu mencoba menenangkan. Ia mendekat ke Arman, berbisik lirih. “Kang… hati hati. Ayah bisa marah besar.”
Tapi Arman hanya menatapnya lembut, lalu tersenyum. “Kalau bukan di tempat rakyat kecil seperti warung ini, di mana lagi suara perubahan bisa dimulai Neng.”
Nah kamu lihat sendiri kan. Kata katanya memang sederhana, tapi bagi Rahayu itu seperti puisi hidup. Ia tidak bisa menolak getaran di dadanya meski otaknya bilang ini berbahaya.
Keributan semakin memanas ketika Haji Darsa akhirnya muncul dari dapur. Wajahnya keras, alisnya menukik. Semua orang langsung diam, seperti anak anak ketahuan mencuri gula.
“Apa ini” tanya Haji Darsa sambil menunjuk poster.
Tidak ada yang berani jawab. Arman menunduk sebentar lalu maju selangkah. “Itu saya yang tempel Pak Haji. Kalau salah, saya yang tanggung.”
Bayangkan heningnya ruangan. Semua orang menunggu apakah Haji Darsa akan meledak. Dan benar saja, suaranya menggelegar. “Kamu tahu tidak, aparat sering keliling. Kalau mereka lihat poster begini di warung saya, bisa habis semua rezeki saya. Mau bikin onar di mana saja terserah, tapi jangan bawa bawa tempat orang cari makan.”
Arman terdiam. Rahayu menggigit bibir, ingin membela tapi takut memperkeruh.
Lalu tiba tiba si pedagang pasar nyeletuk, “Betul Haji, warung ini jadi rawan. Mending copot saja.”
Tapi nelayan langsung balas, “Kalau dicopot sama saja kita tutup mulut. Mau sampai kapan kita diem”
Perdebatan kembali pecah, kali ini lebih keras. Bahkan papan catur di pojok pun terbalik kena dorongan. Satu gelas kopi tumpah, ayam kampung masuk lagi ke warung entah dari mana, dan suasana jadi campur aduk antara tegang dan kocak.
Nah di sinilah bagian komedi tidak bisa ditahan. Bayangkan orang orang lagi debat panas tentang Orde Baru, tapi tiba tiba ayam jantan naik ke meja lalu berkokok keras. Semua orang refleks menoleh dan sejenak lupa siapa pro siapa kontra. Bahkan Ustaz Karna tidak bisa menahan tawa kecil meski mencoba tetap khidmat.
Akhirnya Haji Darsa menepuk meja keras sekali. “Cukup. Poster ini copot. Saya tidak mau warung saya jadi sasaran.”
Arman menghela napas panjang, lalu dengan berat hati menurunkan poster itu. Tapi sebelum ia duduk kembali, Rahayu mendekat lalu berbisik. “Kang… jangan putus asa. Kadang suara yang benar memang sulit diterima di awal.”
Dan kamu tahu, kalimat itulah yang membuat Arman tidak benar benar kalah. Meski posternya dicopot, semangatnya justru makin menyala.
Ketika keributan reda, pelanggan mulai bubar sambil tetap saling debat di jalan. Warung kembali sepi, hanya tersisa Rahayu yang membereskan meja. Arman duduk termenung, tapi senyumnya tipis karena ia tahu ia tidak sendirian.
“Terima kasih Neng,” katanya lirih.
Rahayu menoleh, tersenyum manis. “Saya cuma penjual kopi Kang. Tapi kalau kopi bisa menguatkan orang untuk terus berjuang, mungkin warung kecil ini tidak sia sia.”
Nah di situlah bab ini berakhir. Bukan pada kemenangan atau kekalahan, tapi pada percikan api yang semakin menyala. Poster boleh diturunkan, tapi semangat tidak bisa dipaku atau dicopot begitu saja. Dan kamu, pembaca, harus siap, karena badai yang lebih besar sebentar lagi akan masuk ke pintu warung.
Pagi itu udara Garut masih segar. Matahari baru naik separuh, ayam jantan belum bosan berkokok, dan pelanggan warung sudah mulai berdatangan. Ada nelayan yang baru pulang melaut matanya masih sayu. Ada pedagang pasar yang ribut soal harga beras yang katanya naik lagi. Ada Ustaz Karna yang baru selesai subuh berjamaah lalu mampir untuk menyeruput kopi pahit favoritnya. Rahayu mondar mandir membawa gelas panas, senyumnya menyejukkan suasana meski krisis masih menggantung di udara.
Di pojok meja duduklah Arman. Pemuda Bandung itu masih menyimpan lelah perjalanan kemarin, tapi pikirannya tidak bisa diam. Ia merasa warung ini bukan hanya tempat singgah, melainkan juga titik kecil di mana suara perubahan bisa mulai terdengar. Jadi ketika semua orang sibuk berceloteh soal harga cabe, Arman membuka ranselnya, mengeluarkan beberapa selebaran yang dibawanya dari Bandung. Kertasnya agak kusut, tapi huruf huruf tebal bertuliskan Reformasi atau Turunkan Pemimpin yang Menindas terlihat jelas.
Kamu mungkin ingin bilang wah gila ya anak ini bukannya sembunyi malah bikin keributan baru. Ya begitulah Arman. Kalau hatinya sudah terbakar idealisme, ia lebih takut kalau diam daripada kalau dikejar aparat.
Dengan wajah serius ia berdiri lalu menempelkan salah satu selebaran itu di papan kayu dekat pintu warung. Bunyi paku diketuk membuat kepala semua orang menoleh. Dan di sinilah pertunjukan dimulai.
Nelayan yang sedang meneguk kopi langsung menunjuk. “Eh itu apa tulisan begituan ditempel di warung”
Pedagang pasar yang suka bawel ikut menyahut. “Ih berani amat. Kalau aparat lihat bisa dibredel warung ini.”
Ustaz Karna menatap tajam lalu menghela napas. “Anak muda… ini tempat orang cari rezeki, bukan tempat tempel poster politik.”
Arman tidak mundur. Ia berdiri tegak, suaranya tegas tapi tetap sopan. “Maaf Pak Ustaz, maaf semua. Saya percaya kalau rakyat kecil harus tahu apa yang sedang terjadi. Poster ini bukan sekadar tulisan, tapi suara hati jutaan orang yang sudah lama diam.”
Nah sekarang kamu bisa bayangkan keributan kecil mulai bergulir. Ada yang mengangguk setuju, ada yang menggeleng keras. Bahkan Kang Deden yang kemarin cemburu, entah dari mana tiba tiba nongol, ikut nimbrung. “Saya bilang juga apa. Anak ini bawa masalah. Warung jadi nggak aman kalau begini.”
Suasana makin panas. Pedagang pasar ikut nimbrung sambil teriak. “Kalau harga beras naik siapa yang peduli sama poster. Perut saya lebih butuh nasi daripada tulisan reformasi.”
Lalu si nelayan menepuk meja keras. “Justru karena harga beras naik kita harus berani teriak. Kalau diam saja kita akan terus diinjak.”
Kamu tahu kan apa yang terjadi kalau debat di warung kopi. Satu orang bicara, lima orang menyahut, sepuluh orang tertawa, dan tiba tiba semua merasa paling benar. Jadi jangan heran kalau pagi itu warung Haji Darsa berubah jadi arena sidang rakyat kecil yang gaduh.
Di tengah kegaduhan itu Rahayu mencoba menenangkan. Ia mendekat ke Arman, berbisik lirih. “Kang… hati hati. Ayah bisa marah besar.”
Tapi Arman hanya menatapnya lembut, lalu tersenyum. “Kalau bukan di tempat rakyat kecil seperti warung ini, di mana lagi suara perubahan bisa dimulai Neng.”
Nah kamu lihat sendiri kan. Kata katanya memang sederhana, tapi bagi Rahayu itu seperti puisi hidup. Ia tidak bisa menolak getaran di dadanya meski otaknya bilang ini berbahaya.
Keributan semakin memanas ketika Haji Darsa akhirnya muncul dari dapur. Wajahnya keras, alisnya menukik. Semua orang langsung diam, seperti anak anak ketahuan mencuri gula.
“Apa ini” tanya Haji Darsa sambil menunjuk poster.
Tidak ada yang berani jawab. Arman menunduk sebentar lalu maju selangkah. “Itu saya yang tempel Pak Haji. Kalau salah, saya yang tanggung.”
Bayangkan heningnya ruangan. Semua orang menunggu apakah Haji Darsa akan meledak. Dan benar saja, suaranya menggelegar. “Kamu tahu tidak, aparat sering keliling. Kalau mereka lihat poster begini di warung saya, bisa habis semua rezeki saya. Mau bikin onar di mana saja terserah, tapi jangan bawa bawa tempat orang cari makan.”
Arman terdiam. Rahayu menggigit bibir, ingin membela tapi takut memperkeruh.
Lalu tiba tiba si pedagang pasar nyeletuk, “Betul Haji, warung ini jadi rawan. Mending copot saja.”
Tapi nelayan langsung balas, “Kalau dicopot sama saja kita tutup mulut. Mau sampai kapan kita diem”
Perdebatan kembali pecah, kali ini lebih keras. Bahkan papan catur di pojok pun terbalik kena dorongan. Satu gelas kopi tumpah, ayam kampung masuk lagi ke warung entah dari mana, dan suasana jadi campur aduk antara tegang dan kocak.
Nah di sinilah bagian komedi tidak bisa ditahan. Bayangkan orang orang lagi debat panas tentang Orde Baru, tapi tiba tiba ayam jantan naik ke meja lalu berkokok keras. Semua orang refleks menoleh dan sejenak lupa siapa pro siapa kontra. Bahkan Ustaz Karna tidak bisa menahan tawa kecil meski mencoba tetap khidmat.
Akhirnya Haji Darsa menepuk meja keras sekali. “Cukup. Poster ini copot. Saya tidak mau warung saya jadi sasaran.”
Arman menghela napas panjang, lalu dengan berat hati menurunkan poster itu. Tapi sebelum ia duduk kembali, Rahayu mendekat lalu berbisik. “Kang… jangan putus asa. Kadang suara yang benar memang sulit diterima di awal.”
Dan kamu tahu, kalimat itulah yang membuat Arman tidak benar benar kalah. Meski posternya dicopot, semangatnya justru makin menyala.
Ketika keributan reda, pelanggan mulai bubar sambil tetap saling debat di jalan. Warung kembali sepi, hanya tersisa Rahayu yang membereskan meja. Arman duduk termenung, tapi senyumnya tipis karena ia tahu ia tidak sendirian.
“Terima kasih Neng,” katanya lirih.
Rahayu menoleh, tersenyum manis. “Saya cuma penjual kopi Kang. Tapi kalau kopi bisa menguatkan orang untuk terus berjuang, mungkin warung kecil ini tidak sia sia.”
Nah di situlah bab ini berakhir. Bukan pada kemenangan atau kekalahan, tapi pada percikan api yang semakin menyala. Poster boleh diturunkan, tapi semangat tidak bisa dipaku atau dicopot begitu saja. Dan kamu, pembaca, harus siap, karena badai yang lebih besar sebentar lagi akan masuk ke pintu warung.
Other Stories
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Kk
jjj ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...