Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Tawa Di Tengah Krisis

Kalau kamu pikir setelah ribut soal poster reformasi suasana warung kopi Haji Darsa bakal suram dan muram, maka kamu keliru besar. Warung ini memang unik, kalau satu menit bisa jadi medan debat politik yang panas, di menit berikutnya bisa berubah jadi panggung komedi yang membuat semua orang ngakak. Entah bagaimana caranya, tapi selalu saja ada kejadian konyol yang bikin hidup jadi terasa lebih ringan meski krisis sedang mencengkeram.

Pagi itu Rahayu sibuk menyiapkan pesanan. Seperti biasa ia berlari kecil antara dapur dan meja, rambutnya tergerai sedikit karena tergesa gesa. Arman duduk di pojok, menatap diam diam sambil pura pura membaca koran yang sudah usang. Kamu tahu kan gaya cowok kalau pura pura tidak memperhatikan padahal matanya jelas mengikuti tiap langkah gadis yang ia sukai. Ya begitulah Arman.

Lalu tiba tiba terdengar suara keras dari dapur. “Aduh Ya Allah… gasnya habis” teriak Rahayu.

Nah ini dia, bencana kecil yang bisa membuat segalanya kacau. Gas habis artinya kopi dan gorengan berhenti jalan, artinya pelanggan bisa kabur, artinya ekonomi warung bisa goyah. Tapi tunggu dulu, jangan tegang dulu, karena warung Haji Darsa punya cara sendiri menghadapi masalah.

Ustaz Karna yang lagi baca kitab langsung nyeletuk, “Kalau gas habis ya sudah, masak pakai kayu bakar saja. Sekalian biar nostalgia.”

Pedagang pasar nyaut, “Nostalgia gimana, Ustaz, ini bukan acara reuni. Saya mau sarapan cepat, bukan nunggu kayu nyala.”

Nelayan menimpali sambil ketawa, “Kalau nunggu kayu bakar nyala, nanti kita keburu lapar lagi, jadi pesan dua kali. Untung buat warung.”

Semua langsung ketawa. Rahayu yang tadinya panik jadi ikutan tersenyum. Bahkan Haji Darsa yang biasanya serius cuma geleng geleng kepala sambil bilang, “Kalian ini kalau krisis malah ketawa, dasar pelanggan gila semua.”

Arman yang dari tadi diam akhirnya berdiri. “Saya bisa bantu cari gas, Neng. Di jalan tadi saya lihat ada warung yang masih jual tabung.”

Rahayu menatapnya penuh syukur, tapi belum sempat ia menjawab, Kang Deden tiba tiba nyeletuk. “Eh jangan sok pahlawan dulu. Kalau dia yang pergi, bisa bisa tabung gasnya malah ditukar sama poster reformasi.”

Semua langsung ngakak lagi. Arman hanya mengangkat bahu, pura pura santai. Dalam hati tentu saja ia ingin menjitak kepala Deden, tapi ia memilih tersenyum sambil menatap Rahayu. Dan tatapan itu, hei pembaca, jangan pura pura tidak peka, jelas jelas bikin pipi Rahayu merona.

Belum selesai masalah gas, muncul masalah baru. Kopi yang diseduh Rahayu tadi gosong. Kamu mungkin bingung, mana ada kopi gosong. Nah begini ceritanya, karena panik gas habis, Rahayu mencoba mengakali dengan kompor minyak tua di gudang. Minyaknya kebanyakan, apinya terlalu besar, jadilah teko kopi menghitam dan bau gosong memenuhi ruangan.

Pedagang pasar langsung protes, “Astaga, ini kopi atau arang bakar. Kalau saya minum bisa langsung kumis saya ikut hitam.”

Nelayan malah menepuk meja, “Kalau kumis kamu hitam semua, nanti orang kira kamu lagi cosplay jadi penyanyi dangdut.”

Warung pun pecah lagi dengan tawa. Bahkan ayam kampung yang entah kenapa selalu jadi cameo di warung itu tiba tiba masuk, berkokok keras di dekat meja. Pelanggan makin heboh, ada yang menendang pelan supaya keluar, ada yang malah memberi remah gorengan. Dan tentu saja, ayam itu malah naik ke bangku seolah olah mau ikut rapat politik kemarin.

Arman melihat kesempatan. Ia mendekati ayam itu sambil berkata, “Kalau ayam saja berani masuk warung, masa manusia takut bicara kebenaran.”

Ucapan itu sebenarnya serius, tapi karena timingnya pas semua malah ketawa makin keras. Ustaz Karna bahkan sampai menepuk lututnya, “Astagfirullah, ini warung atau panggung lawak”

Rahayu tertawa lepas, wajahnya berseri. Dan bagi Arman, tawa itu lebih berharga dari seribu poster. Ia sadar, perjuangan boleh berat, tapi kalau ada tawa di tengah krisis, manusia bisa tetap bertahan.

Setelah ribut panjang, akhirnya gas berhasil didapat. Arman pulang dengan tabung di pundak, wajah berkeringat tapi senyum lebar. Rahayu langsung menyambut, matanya berbinar. “Terima kasih Kang. Kalau tidak ada Kang, mungkin warung sudah bubar jalan.”

Arman menatapnya dalam. “Kalau Neng yang minta, saya sanggup pikul lebih berat dari tabung gas.”

Nah kamu lihat kan, itu jelas jelas kalimat gombal, tapi kadang gombal diucapkan di saat tepat bisa terasa seperti janji suci. Rahayu menunduk malu, pipinya merah lagi. Kang Deden di pojok mendengus, tapi tidak bisa berkata apa apa.

Dengan gas baru, kopi bisa kembali diseduh, gorengan kembali digoreng, dan pelanggan kembali ramai. Semua orang masih menertawakan kejadian tadi. Si pedagang pasar pura pura batuk sambil bilang, “Eh tolong jangan kasih saya kopi gosong lagi ya, kumis saya masih trauma.”

Sementara nelayan menambahkan, “Kalau ayam masuk lagi, mending sekalian kasih dia daftar menu.”

Tawa pecah lagi. Dan kali ini Haji Darsa pun tidak kuasa menahan senyum. Ia sadar betul, meski krisis melanda, meski politik memanas, tawa adalah penyelamat jiwa.

Warung kopi kecil itu kembali penuh canda. Tapi di balik semua gelak tawa, ada sesuatu yang pelan pelan tumbuh. Rahayu semakin sering melirik Arman, dan Arman semakin yakin bahwa perjuangan reformasi tidak hanya soal menumbangkan rezim, tapi juga soal menemukan seseorang yang membuat hati berani.

Nah pembaca, jangan kaget kalau nanti ceritanya makin rumit. Karena hidup memang seperti kopi di warung Haji Darsa. Kadang pahit, kadang gosong, kadang bikin ngakak. Tapi selalu ada rasa hangat yang membuatmu ingin kembali lagi.

Other Stories
Kk

jjj ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Download Titik & Koma