Demo Di Alun-Alun Garut
Kalau kamu kira setelah tawa karena gas habis kopi gosong dan ayam kampung jadi cameo suasana warung Haji Darsa akan adem ayem maka sekali lagi kamu keliru besar sebab hidup di tahun 1998 itu tidak pernah stabil ibarat gelombang laut kadang tenang kadang mendadak menggulung sampai orang orang terpeleset jatuh ke air dingin dan itulah yang akan kamu lihat pagi ini di alun alun Garut
Arman duduk di bangku pojok warung sambil mengetik cepat di kertas bekas dengan bolpoin yang tintanya nyaris habis wajahnya serius meski matanya kadang melirik ke arah Rahayu yang sedang menata gelas kamu tahu kan tatapan yang pura pura fokus padahal pikirannya jelas terbagi dua antara reformasi dan gadis manis nah begitulah Arman
Ia sedang menuliskan rencana singkat ajakan untuk turun ke jalan menurutnya rakyat kecil tidak bisa terus terdiam harga sembako naik bensin mahal listrik sering padam sementara berita dari Jakarta makin panas mahasiswa ditembak aparat dan darah tumpah di jalan jadi Arman merasa waktunya sudah tiba meski di kota kecil seperti Garut suara rakyat tetap berarti
Ketika kertas itu selesai ia berdiri memanggil beberapa pemuda desa yang nongkrong di depan warung ada Kang Deden yang sok berani tapi penakut ada Jajang yang selalu telat tapi semangatnya setinggi langit ada pula Ujang si nelayan yang entah kenapa tiba tiba ikut padahal kerjaannya jelas lebih cocok melaut daripada berorasi
“Saudara saudara” kata Arman dengan suara yang bergetar setengah karena semangat setengah karena grogi “besok kita kumpul di alun alun kita tunjukkan bahwa Garut juga peduli kita bawa spanduk kita bawa suara rakyat kita damai tapi tegas”
Para pemuda mengangguk angguk meski wajah mereka lebih mirip orang kebingungan daripada siap perang Ujang malah nyeletuk “Kalau damai boleh tapi kalau lapar gimana kalau kita demo sambil bawa gorengan”
Semua ketawa kecuali Arman yang berusaha tetap serius “Pokoknya jangan salah paham kita bukan mau bikin rusuh kita mau tunjukkan keberanian” katanya sambil melirik Rahayu berharap gadis itu ikut mengerti
Dan tahukah kamu pembaca ternyata Rahayu memang mengerti meski wajahnya cemas ia melihat kilau keberanian di mata Arman dan hatinya bergetar entah karena kagum atau takut kehilangan siapa yang tahu mungkin keduanya
Keesokan harinya alun alun Garut sudah ramai orang berdatangan ada yang benar benar ingin menyuarakan aspirasi ada pula yang cuma penasaran ingin lihat keramaian seperti nonton kuda renggong di hajatan bedanya kali ini tidak ada musik dangdut yang mengiringi hanya teriakan yang saling bersahut sahutan
Arman berdiri di depan sambil menggenggam toa tua pinjaman dari masjid toa itu sebenarnya lebih sering dipakai untuk adzan tapi kali ini dipakai untuk reformasi bayangkan betapa aneh suaranya serak putus putus kadang malah keluar suara dengung seperti lebah
“Hidup rakyat” teriak Arman
“Hidup” jawab massa meski lebih mirip teriakan setengah hati seperti orang dipaksa bangun pagi
“Hidup mahasiswa”
“Hidup” lagi tapi makin lemah beberapa malah sibuk selfie eh maaf belum ada selfie tahun 98 jadi lebih tepatnya sibuk ngobrol sendiri dan ada yang malah jajan cilok di pinggir jalan
Masalah makin lucu ketika Kang Deden salah baca spanduk spanduk itu harusnya bertuliskan “Turunkan Harga Turunkan Rezim” tapi entah siapa yang salah tulis jadinya “Turunkan Harga Turunkan Resmi” sehingga orang orang malah kebingungan apakah ini demo politik atau diskon baju lebaran
Rahayu yang ikut menonton di tepi jalan hampir tidak bisa menahan tawa tapi ia juga khawatir aparat mulai mendekat beberapa polisi berdiri dengan wajah tegang membawa pentungan sementara di kejauhan tampak truk berisi pasukan siaga
Arman mencoba tetap fokus ia naik ke atas becak yang parkir lalu berteriak lagi “Saudara saudara jangan takut suara kita penting demi masa depan”
Tapi tiba tiba toa mati total entah kehabisan baterai atau memang sudah uzur jadilah Arman berteriak pakai suara asli dan kamu pasti tahu teriakannya kalah jauh dengan suara penjual bakso yang lewat dengan teriakannya yang khas baksooo kuah panas
Kerumunan jadi kacau sebagian serius meneriakkan slogan sebagian lagi malah mengejar gerobak bakso seolah olah demo berubah jadi pesta rakyat
Namun jangan kira ini hanya lelucon sebab di balik kekacauan itu ada getaran nyata orang orang kecil yang biasanya diam kini berani berdiri meski masih canggung meski salah komando meski spanduknya salah tulis tetap saja keberanian itu lahir dari hati dan itu yang membuat Rahayu terharu
Ia melihat Arman yang terus mencoba mengatur barisan wajahnya merah keringat mengucur tapi matanya menyala penuh semangat seperti api kecil yang berusaha melawan angin besar dan di situlah Rahayu sadar bahwa cinta dan keberanian kadang datang dalam wujud yang sama
Akhirnya aparat membubarkan massa sebelum jadi rusuh tidak ada baku hantam besar hanya dorong dorongan kecil dan Arman sempat hampir jatuh kalau saja Ujang tidak menarik lengannya dengan teriakan kocak “Kang hati hati nanti jatuhnya bukan di jalan tapi jatuh hati sama Rahayu”
Semua yang dengar langsung ketawa termasuk beberapa polisi yang mencoba menahan senyum bayangkan saja di tengah ketegangan masih ada ruang untuk candaan
Demo itu mungkin gagal dalam ukuran politik besar tapi berhasil dalam ukuran hati karena sejak hari itu warung Haji Darsa jadi lebih ramai pembicaraan tentang reformasi tidak lagi tabu bahkan para pelanggan yang biasanya hanya gosip cabe sekarang berani membahas harga diri bangsa
Dan bagi Rahayu demo itu adalah titik balik ia semakin kagum pada Arman meski ia tahu jalan di depan tidak akan mudah ayahnya pasti akan menolak hubungannya dengan mahasiswa onar itu tapi apa boleh buat hati tidak bisa memilih ia sudah terlanjur jatuh
Nah pembaca kamu mungkin tertawa melihat kekonyolan spanduk salah tulis dan toa yang mati tapi jangan remehkan percikan kecil itu sebab sejarah sering dimulai dari hal hal sederhana dari obrolan di warung kopi dari spanduk yang belepotan cat dari teriakan serak seorang mahasiswa yang tidak pernah lelah
Begitulah demo kecil di alun alun Garut bukan sekadar aksi main main tapi juga panggung pertama di mana cinta dan perjuangan berjalan beriringan meski jalannya masih goyah
Dan kamu tahu kan ini baru permulaan
Arman duduk di bangku pojok warung sambil mengetik cepat di kertas bekas dengan bolpoin yang tintanya nyaris habis wajahnya serius meski matanya kadang melirik ke arah Rahayu yang sedang menata gelas kamu tahu kan tatapan yang pura pura fokus padahal pikirannya jelas terbagi dua antara reformasi dan gadis manis nah begitulah Arman
Ia sedang menuliskan rencana singkat ajakan untuk turun ke jalan menurutnya rakyat kecil tidak bisa terus terdiam harga sembako naik bensin mahal listrik sering padam sementara berita dari Jakarta makin panas mahasiswa ditembak aparat dan darah tumpah di jalan jadi Arman merasa waktunya sudah tiba meski di kota kecil seperti Garut suara rakyat tetap berarti
Ketika kertas itu selesai ia berdiri memanggil beberapa pemuda desa yang nongkrong di depan warung ada Kang Deden yang sok berani tapi penakut ada Jajang yang selalu telat tapi semangatnya setinggi langit ada pula Ujang si nelayan yang entah kenapa tiba tiba ikut padahal kerjaannya jelas lebih cocok melaut daripada berorasi
“Saudara saudara” kata Arman dengan suara yang bergetar setengah karena semangat setengah karena grogi “besok kita kumpul di alun alun kita tunjukkan bahwa Garut juga peduli kita bawa spanduk kita bawa suara rakyat kita damai tapi tegas”
Para pemuda mengangguk angguk meski wajah mereka lebih mirip orang kebingungan daripada siap perang Ujang malah nyeletuk “Kalau damai boleh tapi kalau lapar gimana kalau kita demo sambil bawa gorengan”
Semua ketawa kecuali Arman yang berusaha tetap serius “Pokoknya jangan salah paham kita bukan mau bikin rusuh kita mau tunjukkan keberanian” katanya sambil melirik Rahayu berharap gadis itu ikut mengerti
Dan tahukah kamu pembaca ternyata Rahayu memang mengerti meski wajahnya cemas ia melihat kilau keberanian di mata Arman dan hatinya bergetar entah karena kagum atau takut kehilangan siapa yang tahu mungkin keduanya
Keesokan harinya alun alun Garut sudah ramai orang berdatangan ada yang benar benar ingin menyuarakan aspirasi ada pula yang cuma penasaran ingin lihat keramaian seperti nonton kuda renggong di hajatan bedanya kali ini tidak ada musik dangdut yang mengiringi hanya teriakan yang saling bersahut sahutan
Arman berdiri di depan sambil menggenggam toa tua pinjaman dari masjid toa itu sebenarnya lebih sering dipakai untuk adzan tapi kali ini dipakai untuk reformasi bayangkan betapa aneh suaranya serak putus putus kadang malah keluar suara dengung seperti lebah
“Hidup rakyat” teriak Arman
“Hidup” jawab massa meski lebih mirip teriakan setengah hati seperti orang dipaksa bangun pagi
“Hidup mahasiswa”
“Hidup” lagi tapi makin lemah beberapa malah sibuk selfie eh maaf belum ada selfie tahun 98 jadi lebih tepatnya sibuk ngobrol sendiri dan ada yang malah jajan cilok di pinggir jalan
Masalah makin lucu ketika Kang Deden salah baca spanduk spanduk itu harusnya bertuliskan “Turunkan Harga Turunkan Rezim” tapi entah siapa yang salah tulis jadinya “Turunkan Harga Turunkan Resmi” sehingga orang orang malah kebingungan apakah ini demo politik atau diskon baju lebaran
Rahayu yang ikut menonton di tepi jalan hampir tidak bisa menahan tawa tapi ia juga khawatir aparat mulai mendekat beberapa polisi berdiri dengan wajah tegang membawa pentungan sementara di kejauhan tampak truk berisi pasukan siaga
Arman mencoba tetap fokus ia naik ke atas becak yang parkir lalu berteriak lagi “Saudara saudara jangan takut suara kita penting demi masa depan”
Tapi tiba tiba toa mati total entah kehabisan baterai atau memang sudah uzur jadilah Arman berteriak pakai suara asli dan kamu pasti tahu teriakannya kalah jauh dengan suara penjual bakso yang lewat dengan teriakannya yang khas baksooo kuah panas
Kerumunan jadi kacau sebagian serius meneriakkan slogan sebagian lagi malah mengejar gerobak bakso seolah olah demo berubah jadi pesta rakyat
Namun jangan kira ini hanya lelucon sebab di balik kekacauan itu ada getaran nyata orang orang kecil yang biasanya diam kini berani berdiri meski masih canggung meski salah komando meski spanduknya salah tulis tetap saja keberanian itu lahir dari hati dan itu yang membuat Rahayu terharu
Ia melihat Arman yang terus mencoba mengatur barisan wajahnya merah keringat mengucur tapi matanya menyala penuh semangat seperti api kecil yang berusaha melawan angin besar dan di situlah Rahayu sadar bahwa cinta dan keberanian kadang datang dalam wujud yang sama
Akhirnya aparat membubarkan massa sebelum jadi rusuh tidak ada baku hantam besar hanya dorong dorongan kecil dan Arman sempat hampir jatuh kalau saja Ujang tidak menarik lengannya dengan teriakan kocak “Kang hati hati nanti jatuhnya bukan di jalan tapi jatuh hati sama Rahayu”
Semua yang dengar langsung ketawa termasuk beberapa polisi yang mencoba menahan senyum bayangkan saja di tengah ketegangan masih ada ruang untuk candaan
Demo itu mungkin gagal dalam ukuran politik besar tapi berhasil dalam ukuran hati karena sejak hari itu warung Haji Darsa jadi lebih ramai pembicaraan tentang reformasi tidak lagi tabu bahkan para pelanggan yang biasanya hanya gosip cabe sekarang berani membahas harga diri bangsa
Dan bagi Rahayu demo itu adalah titik balik ia semakin kagum pada Arman meski ia tahu jalan di depan tidak akan mudah ayahnya pasti akan menolak hubungannya dengan mahasiswa onar itu tapi apa boleh buat hati tidak bisa memilih ia sudah terlanjur jatuh
Nah pembaca kamu mungkin tertawa melihat kekonyolan spanduk salah tulis dan toa yang mati tapi jangan remehkan percikan kecil itu sebab sejarah sering dimulai dari hal hal sederhana dari obrolan di warung kopi dari spanduk yang belepotan cat dari teriakan serak seorang mahasiswa yang tidak pernah lelah
Begitulah demo kecil di alun alun Garut bukan sekadar aksi main main tapi juga panggung pertama di mana cinta dan perjuangan berjalan beriringan meski jalannya masih goyah
Dan kamu tahu kan ini baru permulaan
Other Stories
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...