Malam Panjang Di Warung
Kalau kamu pernah merasakan malam di kampung ketika listrik padam maka kamu akan tahu betapa hening bisa terasa bising betapa gelap bisa terasa hangat dan betapa suara jangkrik bisa jadi orkestra nasional yang lebih jujur daripada acara musik di televisi yang penuh lipsync nah malam itu di warung kopi Haji Darsa suasana seperti itu
Lampu padam mendadak pelanggan berteriak kecil ada yang menumpahkan kopi ada yang tersandung kaki meja dan ada pula ayam kampung yang entah bagaimana bisa nyelonong lagi ke dalam warung sambil berkokok padahal jelas jelas bukan waktu subuh pelanggan ketawa cekikikan meski ada juga yang ngedumel tentang PLN yang katanya lebih sering bikin gelap daripada terang
Haji Darsa yang tadi siang marah besar sekarang justru sibuk menyalakan lampu petromak suaranya mendesis menelan minyak tanah lalu menyala redup tapi cukup untuk membuat wajah wajah yang berkumpul terlihat kuning kekuningan seperti dalam film lawas kalau kamu pernah nonton film hitam putih lalu diwarnai seadanya nah kira kira begitu lah
Ustaz Karna langsung komentar “Subhanallah padamnya listrik ini mengingatkan kita bahwa hidup hanyalah sementara janganlah kita terlalu cinta dunia” padahal kalau kamu jujur ustaz Karna sendiri salah satu yang paling kesal karena belum sempat main kartu gapleh
Rahayu membawa baki berisi gelas kopi ia tersenyum meski dalam hati masih ada sisa resah dari pertengkaran ayahnya dengan Arman tadi siang matanya mencari cari sosok itu dan benar Arman duduk di bangku paling pojok menatap gelap di luar warung seakan mencari bintang yang tak muncul
Aku tahu kamu penasaran apa yang ia pikirkan dan jangan khawatir karena sebentar lagi ia akan bicara
Beberapa pelanggan mulai berceloteh Kang Deden misalnya tiba tiba membuka topik tentang cabe katanya harga cabe naik bukan karena gagal panen tapi karena permainan tengkulak lalu disusul nelayan yang ngotot bilang lebih penting memikirkan solar untuk perahu daripada cabe di dapur jadilah perdebatan kecil kecil lucu macam lomba adu mulut tanpa juri setiap kalimat disambut tawa kadang umpatan tapi tak pernah benar benar marah
Di tengah semua keributan ringan itu Arman menghela napas panjang lalu berkata lirih cukup jelas terdengar karena hening sesudah gelombang tawa “Kadang aku rindu rumah”
Warung mendadak tenang lagi Rahayu yang sedang menuang kopi hampir saja meneteskan ke meja karena kaget ustaz Karna menoleh dengan tatapan penasaran bahkan Haji Darsa yang sedang sibuk mengatur sumbu petromak ikut mendongak meski pura pura tidak peduli
Arman menatap meja matanya sayu “Aku anak sulung di Bandung bapak sudah lama sakit ibu harus kerja keras jadi aku kuliah sambil jadi aktivis bukan karena sok hebat tapi karena aku lihat ketidakadilan tiap hari sementara keluargaku sendiri juga kesusahan kadang aku bertanya apakah aku ini anak durhaka karena lebih sering ada di jalanan daripada di rumah”
Nah pembaca ini bagian di mana hatimu mungkin ikut meremas remas karena jujur siapa pun yang pernah meninggalkan rumah demi cita cita pasti pernah merasa bersalah apalagi kalau keluarga di belakang sedang tidak baik baik saja
Rahayu meletakkan gelas di depan Arman tanpa berkata apa apa tapi matanya berbicara banyak sekali seperti ingin bilang kamu tidak sendirian kamu boleh berjuang tapi jangan lupa kamu juga manusia yang butuh pelukan sayang
Arman tersenyum tipis “Aku kabur ke Garut bukan semata ingin bersembunyi dari aparat tapi juga ingin bernapas sejenak aku lelah tapi aku tahu kalau aku berhenti suara kami akan hilang dan negeri ini tetap saja dikuasai mereka yang kenyang di atas penderitaan orang kecil”
Kang Deden nyeletuk “Wih berat pisan bahasanna padahal tadi kita lagi ribut soal cabe” dan semua orang ketawa lagi termasuk Arman tapi kali ini tawanya getir seperti orang yang sudah terlalu sering menelan kenyataan pahit tapi masih berusaha menyelipkan gula
Rahayu duduk di kursi dekatnya Haji Darsa melirik dengan alis berkerut tapi tidak berkata apa apa mungkin dalam hatinya ia masih menolak tapi telinganya tak bisa menolak cerita anak muda itu
Ustaz Karna menepuk bahu Arman “Nak kalau kau berjuang untuk kebaikan jangan takut dosa justru kalau kau diam melihat ketidakadilan itu yang lebih berat di hadapan Tuhan”
Arman mengangguk lalu menatap ke arah Rahayu sekilas wajahnya memerah tapi ia cepat cepat mengalihkan pandangan “Tapi terkadang aku hanya ingin duduk seperti ini minum kopi lihat orang bercanda dengar ayam masuk warung dan lupa sebentar bahwa dunia di luar sana penuh gas air mata”
Kamu mungkin merasa adegan ini klise romantis dramatis sekaligus tapi bukankah hidup memang begitu campuran kopi pahit dengan gula setengah sendok
Lampu petromak bergoyang diterpa angin malam bayangan wajah wajah itu menari di dinding papan tua warung kopi seperti sandiwara bayangan murah tapi lebih jujur daripada teater besar di kota
Rahayu akhirnya bicara suaranya lembut “Kang Arman kalau rindu rumah jangan dipendam nanti sakit kalau ingin pulang pulanglah sebentar Abah mungkin marah tapi Rahayu percaya kalau hati baik pasti akan sampai di rumah dengan selamat”
Haji Darsa batuk keras pura pura membersihkan tenggorokan padahal jelas ia menahan sesuatu di hatinya pelanggan melirik sambil senyum senyum nakal
Dan kamu pembaca jangan kaget kalau hatimu ikut hangat karena begitulah malam panjang di warung kopi sederhana listrik padam justru membuat semua orang lebih jujur lebih dekat seakan kegelapan memaksa mereka menyalakan cahaya di dalam dada masing masing
Arman tersenyum pada Rahayu kali ini tidak ada kata kata hanya tatapan yang membuat waktu berhenti sejenak lalu kembali berjalan dengan suara gelas beradu sendok dan ayam kampung yang akhirnya ketiduran di bawah meja
Begitulah malam itu berlangsung panjang obrolan kecil berganti dengan curhat tawa berganti dengan diam seolah warung itu bukan sekadar tempat jualan kopi tapi sebuah ruang pengakuan tempat orang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi
Dan kalau kamu merasa malam itu terlalu indah untuk nyata percayalah begitulah kekuatan sebuah warung kecil ia bisa jadi saksi perjuangan air mata cinta sekaligus komedi receh yang membuat kita bertahan menghadapi hari esok
Maka selesai lah malam panjang itu bukan dengan listrik menyala lagi melainkan dengan janji tak terucap antara hati hati yang mulai saling terhubung.
Lampu padam mendadak pelanggan berteriak kecil ada yang menumpahkan kopi ada yang tersandung kaki meja dan ada pula ayam kampung yang entah bagaimana bisa nyelonong lagi ke dalam warung sambil berkokok padahal jelas jelas bukan waktu subuh pelanggan ketawa cekikikan meski ada juga yang ngedumel tentang PLN yang katanya lebih sering bikin gelap daripada terang
Haji Darsa yang tadi siang marah besar sekarang justru sibuk menyalakan lampu petromak suaranya mendesis menelan minyak tanah lalu menyala redup tapi cukup untuk membuat wajah wajah yang berkumpul terlihat kuning kekuningan seperti dalam film lawas kalau kamu pernah nonton film hitam putih lalu diwarnai seadanya nah kira kira begitu lah
Ustaz Karna langsung komentar “Subhanallah padamnya listrik ini mengingatkan kita bahwa hidup hanyalah sementara janganlah kita terlalu cinta dunia” padahal kalau kamu jujur ustaz Karna sendiri salah satu yang paling kesal karena belum sempat main kartu gapleh
Rahayu membawa baki berisi gelas kopi ia tersenyum meski dalam hati masih ada sisa resah dari pertengkaran ayahnya dengan Arman tadi siang matanya mencari cari sosok itu dan benar Arman duduk di bangku paling pojok menatap gelap di luar warung seakan mencari bintang yang tak muncul
Aku tahu kamu penasaran apa yang ia pikirkan dan jangan khawatir karena sebentar lagi ia akan bicara
Beberapa pelanggan mulai berceloteh Kang Deden misalnya tiba tiba membuka topik tentang cabe katanya harga cabe naik bukan karena gagal panen tapi karena permainan tengkulak lalu disusul nelayan yang ngotot bilang lebih penting memikirkan solar untuk perahu daripada cabe di dapur jadilah perdebatan kecil kecil lucu macam lomba adu mulut tanpa juri setiap kalimat disambut tawa kadang umpatan tapi tak pernah benar benar marah
Di tengah semua keributan ringan itu Arman menghela napas panjang lalu berkata lirih cukup jelas terdengar karena hening sesudah gelombang tawa “Kadang aku rindu rumah”
Warung mendadak tenang lagi Rahayu yang sedang menuang kopi hampir saja meneteskan ke meja karena kaget ustaz Karna menoleh dengan tatapan penasaran bahkan Haji Darsa yang sedang sibuk mengatur sumbu petromak ikut mendongak meski pura pura tidak peduli
Arman menatap meja matanya sayu “Aku anak sulung di Bandung bapak sudah lama sakit ibu harus kerja keras jadi aku kuliah sambil jadi aktivis bukan karena sok hebat tapi karena aku lihat ketidakadilan tiap hari sementara keluargaku sendiri juga kesusahan kadang aku bertanya apakah aku ini anak durhaka karena lebih sering ada di jalanan daripada di rumah”
Nah pembaca ini bagian di mana hatimu mungkin ikut meremas remas karena jujur siapa pun yang pernah meninggalkan rumah demi cita cita pasti pernah merasa bersalah apalagi kalau keluarga di belakang sedang tidak baik baik saja
Rahayu meletakkan gelas di depan Arman tanpa berkata apa apa tapi matanya berbicara banyak sekali seperti ingin bilang kamu tidak sendirian kamu boleh berjuang tapi jangan lupa kamu juga manusia yang butuh pelukan sayang
Arman tersenyum tipis “Aku kabur ke Garut bukan semata ingin bersembunyi dari aparat tapi juga ingin bernapas sejenak aku lelah tapi aku tahu kalau aku berhenti suara kami akan hilang dan negeri ini tetap saja dikuasai mereka yang kenyang di atas penderitaan orang kecil”
Kang Deden nyeletuk “Wih berat pisan bahasanna padahal tadi kita lagi ribut soal cabe” dan semua orang ketawa lagi termasuk Arman tapi kali ini tawanya getir seperti orang yang sudah terlalu sering menelan kenyataan pahit tapi masih berusaha menyelipkan gula
Rahayu duduk di kursi dekatnya Haji Darsa melirik dengan alis berkerut tapi tidak berkata apa apa mungkin dalam hatinya ia masih menolak tapi telinganya tak bisa menolak cerita anak muda itu
Ustaz Karna menepuk bahu Arman “Nak kalau kau berjuang untuk kebaikan jangan takut dosa justru kalau kau diam melihat ketidakadilan itu yang lebih berat di hadapan Tuhan”
Arman mengangguk lalu menatap ke arah Rahayu sekilas wajahnya memerah tapi ia cepat cepat mengalihkan pandangan “Tapi terkadang aku hanya ingin duduk seperti ini minum kopi lihat orang bercanda dengar ayam masuk warung dan lupa sebentar bahwa dunia di luar sana penuh gas air mata”
Kamu mungkin merasa adegan ini klise romantis dramatis sekaligus tapi bukankah hidup memang begitu campuran kopi pahit dengan gula setengah sendok
Lampu petromak bergoyang diterpa angin malam bayangan wajah wajah itu menari di dinding papan tua warung kopi seperti sandiwara bayangan murah tapi lebih jujur daripada teater besar di kota
Rahayu akhirnya bicara suaranya lembut “Kang Arman kalau rindu rumah jangan dipendam nanti sakit kalau ingin pulang pulanglah sebentar Abah mungkin marah tapi Rahayu percaya kalau hati baik pasti akan sampai di rumah dengan selamat”
Haji Darsa batuk keras pura pura membersihkan tenggorokan padahal jelas ia menahan sesuatu di hatinya pelanggan melirik sambil senyum senyum nakal
Dan kamu pembaca jangan kaget kalau hatimu ikut hangat karena begitulah malam panjang di warung kopi sederhana listrik padam justru membuat semua orang lebih jujur lebih dekat seakan kegelapan memaksa mereka menyalakan cahaya di dalam dada masing masing
Arman tersenyum pada Rahayu kali ini tidak ada kata kata hanya tatapan yang membuat waktu berhenti sejenak lalu kembali berjalan dengan suara gelas beradu sendok dan ayam kampung yang akhirnya ketiduran di bawah meja
Begitulah malam itu berlangsung panjang obrolan kecil berganti dengan curhat tawa berganti dengan diam seolah warung itu bukan sekadar tempat jualan kopi tapi sebuah ruang pengakuan tempat orang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi
Dan kalau kamu merasa malam itu terlalu indah untuk nyata percayalah begitulah kekuatan sebuah warung kecil ia bisa jadi saksi perjuangan air mata cinta sekaligus komedi receh yang membuat kita bertahan menghadapi hari esok
Maka selesai lah malam panjang itu bukan dengan listrik menyala lagi melainkan dengan janji tak terucap antara hati hati yang mulai saling terhubung.
Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...