Rahasia Rahayu
Kalau kamu mengira Rahayu hanya gadis sederhana yang pandai menyuguhkan kopi dengan senyum ramah maka kamu salah besar sebab di balik senyum itu ada rahasia yang ia sembunyikan rapat rapat bahkan dari ayahnya sendiri ya kamu tidak salah baca seorang gadis warung ternyata punya sisi yang mungkin lebih berani dari para lelaki yang berdebat soal cabe setiap hari di bangku kayu itu
Malam setelah lampu padam yang membuat Arman membuka isi hatinya tentang keluarga dan perjuangan Rahayu tak bisa tidur ia duduk di kamarnya yang sempit ditemani lampu teplok kecil tangannya sibuk menulis sesuatu di buku tulis lusuh yang sampul depannya sudah penuh coretan bunga dan kata kata acak kalau kamu kebetulan masuk ke kamar itu mungkin kamu akan mengira itu sekadar diary remaja lugu padahal isinya jauh dari sekadar curhatan soal siapa yang cakep siapa yang rese
Isi buku itu adalah puisi puisi pendek tentang harapan tentang perubahan tentang negeri yang adil dan manusia yang tidak lagi lapar hanya karena harga beras melonjak Rahayu menulis dengan sederhana tapi tulus kata katanya mengalir seperti air sungai Cimanuk yang tidak pernah berhenti meski musim kemarau
“Kalau malam terlalu panjang biarlah aku menyalakan lilin kata kalau esok terlalu gelap biarlah aku menanam benih doa di halaman rumah kalau negeri ini retak biarlah cinta jadi semen yang merekatkan”
Ya begitu kira kira salah satu puisinya dan aku yakin kamu yang membaca ini pun merasa tersentuh walau mungkin kamu malu mengakuinya karena takut dibilang baperan
Nah rahasia ini terbongkar bukan dengan sengaja tapi karena pagi harinya Arman tanpa sengaja melihat buku itu Rahayu sedang menulis di pojok warung sebelum pelanggan datang matahari baru naik separuh langit kabut masih menempel di dedaunan Arman yang semalam tidur di bale bambu warung bangun lebih awal dan mendekat pelan awalnya ia hanya ingin menyapa tapi matanya terpaku pada tulisan tangan itu
“Indah sekali” katanya lirih dan seketika Rahayu kaget hampir menutup buku itu dengan terburu buru wajahnya memerah seperti cabe rawit yang baru saja dibicarakan pelanggan kemarin
“Jangan dibaca itu hanya coretan” katanya gelagapan
Tapi Arman tersenyum tidak mengejek justru matanya berbinar “Rahayu kamu menulis dengan hati kata katamu lebih jujur dari pidato pejabat di televisi”
Kamu bisa bayangkan bagaimana jantung Rahayu saat itu berdegup lebih cepat dari lesung yang ditumbuk ibu ibu di dapur sebelah ia tidak menyangka lelaki aktivis yang terlihat berani itu bisa begitu lembut menanggapi
“Ini rahasiaku Kang jangan bilang siapa siapa apalagi Abah kalau Abah tahu aku menulis begini bisa bisa bukuku dibakar”
Arman menggeleng pelan “Jangan takut suara sekecil apa pun tetap bisa jadi api aku kagum sama kamu Rahayu ternyata kamu jauh lebih berani daripada yang terlihat”
Nah inilah titik di mana chemistry mereka makin terasa kalau kamu duduk di bangku warung saat itu mungkin kamu akan pura pura sibuk menyeruput kopi padahal telingamu tegak menyimak
Obrolan mereka terhenti ketika pelanggan pertama datang Kang Ujang pedagang sayur dengan becak bututnya ia masuk sambil mengeluh harga bawang naik lagi sambil duduk ia melirik Arman dan Rahayu bergantian lalu nyengir “Euleuh euleuh pagi pagi sudah mesra atuh” dan seisi warung ketawa padahal mereka sendiri belum ngapa ngapain
Begitulah warna warung kecil ini selalu saja ada komedi receh yang mencairkan suasana bahkan di momen paling serius
Siangnya ketika warung ramai Rahayu sibuk melayani pesanan sementara Arman ikut membantu membersihkan meja entah kenapa pelanggan jadi sering menggoda mereka berdua ada yang bilang cocok jadi pasangan ada yang iseng nanya kapan lamaran Haji Darsa mendelik tapi dalam hati sebenarnya ia mulai goyah karena melihat kedekatan mereka
Arman sesekali melirik Rahayu dengan tatapan yang sulit dijelaskan seolah ia menemukan energi baru dari gadis itu bukan hanya kecantikan sederhana tapi juga keberanian tersembunyi yang bahkan ia sendiri belum tentu punya
Malamnya ketika warung sepi lagi Arman memberanikan diri bertanya “Rahayu boleh aku membaca satu lagi puisimu”
Rahayu ragu tapi akhirnya mengangguk lalu membuka halaman lain
“Kalau rakyat kecil menangis siapa yang menghapus air matanya kalau jalanan penuh teriakan siapa yang mendengarkan doa di sela sela kerikil kalau cinta hanya diam bukankah itu sama saja dengan mati sebelum ajal tiba”
Arman menutup matanya sebentar ia merasa kata kata itu lebih menyentuh daripada slogan slogan yang sering diteriakkan di jalanan ia menggenggam buku itu erat lalu mengembalikannya dengan penuh hormat
“Kamu tahu Rahayu puisi puisi ini bisa membakar semangat lebih kuat dari orasi di depan ribuan orang kata kata yang lahir dari hati selalu punya kekuatan jangan sembunyikan terus tulislah lebih banyak”
Rahayu menunduk malu tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan
Nah pembaca di sinilah kita melihat bagaimana cinta bisa tumbuh bukan karena tampang bukan karena harta tapi karena kata kata karena keberanian yang saling menyalakan
Tapi jangan kira semuanya mulus karena rahasia tetaplah rahasia dan semakin banyak orang tahu semakin besar pula resikonya
Beberapa hari kemudian seorang pelanggan usil melihat Rahayu menulis diam diam lalu nyeletuk keras “Eh si Neng lagi jadi wartawan atau penyair nih hati hati nanti dipanggil tentara” dan warung pun riuh dengan tawa meski Rahayu hanya bisa tersenyum kaku
Arman menatapnya dengan prihatin ia tahu betapa berat kalau rahasia ini sampai ke telinga aparat apalagi suasana Garut sedang panas setelah kabar dari Jakarta
Namun justru di tengah ketakutan itu rasa mereka makin dalam karena mereka berbagi sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu sebuah buku lusuh berisi puisi yang bisa jadi bahan bakar api perubahan
Dan aku tahu kamu pasti bertanya apakah puisi puisi itu nanti akan berperan besar dalam perjalanan mereka jawabannya ya tapi sabar dulu karena setiap cerita butuh waktu untuk meletup
Malam itu sebelum tidur Arman berbisik pada dirinya sendiri “Aku datang ke Garut untuk bersembunyi tapi ternyata aku menemukan alasan baru untuk berjuang seorang gadis penjual kopi dengan pena lebih tajam dari pedang”
Dan Rahayu di kamarnya menulis lagi kali ini lebih berani dari sebelumnya
“Jika cinta hanyalah bisik biarlah puisiku jadi teriakan jika langkahku kecil biarlah ia tetap menuju harapan kalau aku harus takut maka aku akan takut kehilangan keyakinan”
Kamu mungkin menghela napas sekarang karena merasa cerita ini mulai terlalu romantis tapi begitulah hidup bahkan di tengah krisis dan ancaman selalu ada ruang bagi cinta dan kata kata untuk tumbuh
Warung kopi itu kembali tidur malamnya tapi rahasia Rahayu kini sudah terbagi tidak lagi sendiri ia punya saksi yang akan menjaganya seorang mahasiswa dari Bandung yang sedang mencari rumah di tengah gelombang sejarah
Dan jangan lupa pembaca ini baru awal rahasia kecil bisa jadi percikan besar esok hari.
Malam setelah lampu padam yang membuat Arman membuka isi hatinya tentang keluarga dan perjuangan Rahayu tak bisa tidur ia duduk di kamarnya yang sempit ditemani lampu teplok kecil tangannya sibuk menulis sesuatu di buku tulis lusuh yang sampul depannya sudah penuh coretan bunga dan kata kata acak kalau kamu kebetulan masuk ke kamar itu mungkin kamu akan mengira itu sekadar diary remaja lugu padahal isinya jauh dari sekadar curhatan soal siapa yang cakep siapa yang rese
Isi buku itu adalah puisi puisi pendek tentang harapan tentang perubahan tentang negeri yang adil dan manusia yang tidak lagi lapar hanya karena harga beras melonjak Rahayu menulis dengan sederhana tapi tulus kata katanya mengalir seperti air sungai Cimanuk yang tidak pernah berhenti meski musim kemarau
“Kalau malam terlalu panjang biarlah aku menyalakan lilin kata kalau esok terlalu gelap biarlah aku menanam benih doa di halaman rumah kalau negeri ini retak biarlah cinta jadi semen yang merekatkan”
Ya begitu kira kira salah satu puisinya dan aku yakin kamu yang membaca ini pun merasa tersentuh walau mungkin kamu malu mengakuinya karena takut dibilang baperan
Nah rahasia ini terbongkar bukan dengan sengaja tapi karena pagi harinya Arman tanpa sengaja melihat buku itu Rahayu sedang menulis di pojok warung sebelum pelanggan datang matahari baru naik separuh langit kabut masih menempel di dedaunan Arman yang semalam tidur di bale bambu warung bangun lebih awal dan mendekat pelan awalnya ia hanya ingin menyapa tapi matanya terpaku pada tulisan tangan itu
“Indah sekali” katanya lirih dan seketika Rahayu kaget hampir menutup buku itu dengan terburu buru wajahnya memerah seperti cabe rawit yang baru saja dibicarakan pelanggan kemarin
“Jangan dibaca itu hanya coretan” katanya gelagapan
Tapi Arman tersenyum tidak mengejek justru matanya berbinar “Rahayu kamu menulis dengan hati kata katamu lebih jujur dari pidato pejabat di televisi”
Kamu bisa bayangkan bagaimana jantung Rahayu saat itu berdegup lebih cepat dari lesung yang ditumbuk ibu ibu di dapur sebelah ia tidak menyangka lelaki aktivis yang terlihat berani itu bisa begitu lembut menanggapi
“Ini rahasiaku Kang jangan bilang siapa siapa apalagi Abah kalau Abah tahu aku menulis begini bisa bisa bukuku dibakar”
Arman menggeleng pelan “Jangan takut suara sekecil apa pun tetap bisa jadi api aku kagum sama kamu Rahayu ternyata kamu jauh lebih berani daripada yang terlihat”
Nah inilah titik di mana chemistry mereka makin terasa kalau kamu duduk di bangku warung saat itu mungkin kamu akan pura pura sibuk menyeruput kopi padahal telingamu tegak menyimak
Obrolan mereka terhenti ketika pelanggan pertama datang Kang Ujang pedagang sayur dengan becak bututnya ia masuk sambil mengeluh harga bawang naik lagi sambil duduk ia melirik Arman dan Rahayu bergantian lalu nyengir “Euleuh euleuh pagi pagi sudah mesra atuh” dan seisi warung ketawa padahal mereka sendiri belum ngapa ngapain
Begitulah warna warung kecil ini selalu saja ada komedi receh yang mencairkan suasana bahkan di momen paling serius
Siangnya ketika warung ramai Rahayu sibuk melayani pesanan sementara Arman ikut membantu membersihkan meja entah kenapa pelanggan jadi sering menggoda mereka berdua ada yang bilang cocok jadi pasangan ada yang iseng nanya kapan lamaran Haji Darsa mendelik tapi dalam hati sebenarnya ia mulai goyah karena melihat kedekatan mereka
Arman sesekali melirik Rahayu dengan tatapan yang sulit dijelaskan seolah ia menemukan energi baru dari gadis itu bukan hanya kecantikan sederhana tapi juga keberanian tersembunyi yang bahkan ia sendiri belum tentu punya
Malamnya ketika warung sepi lagi Arman memberanikan diri bertanya “Rahayu boleh aku membaca satu lagi puisimu”
Rahayu ragu tapi akhirnya mengangguk lalu membuka halaman lain
“Kalau rakyat kecil menangis siapa yang menghapus air matanya kalau jalanan penuh teriakan siapa yang mendengarkan doa di sela sela kerikil kalau cinta hanya diam bukankah itu sama saja dengan mati sebelum ajal tiba”
Arman menutup matanya sebentar ia merasa kata kata itu lebih menyentuh daripada slogan slogan yang sering diteriakkan di jalanan ia menggenggam buku itu erat lalu mengembalikannya dengan penuh hormat
“Kamu tahu Rahayu puisi puisi ini bisa membakar semangat lebih kuat dari orasi di depan ribuan orang kata kata yang lahir dari hati selalu punya kekuatan jangan sembunyikan terus tulislah lebih banyak”
Rahayu menunduk malu tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan
Nah pembaca di sinilah kita melihat bagaimana cinta bisa tumbuh bukan karena tampang bukan karena harta tapi karena kata kata karena keberanian yang saling menyalakan
Tapi jangan kira semuanya mulus karena rahasia tetaplah rahasia dan semakin banyak orang tahu semakin besar pula resikonya
Beberapa hari kemudian seorang pelanggan usil melihat Rahayu menulis diam diam lalu nyeletuk keras “Eh si Neng lagi jadi wartawan atau penyair nih hati hati nanti dipanggil tentara” dan warung pun riuh dengan tawa meski Rahayu hanya bisa tersenyum kaku
Arman menatapnya dengan prihatin ia tahu betapa berat kalau rahasia ini sampai ke telinga aparat apalagi suasana Garut sedang panas setelah kabar dari Jakarta
Namun justru di tengah ketakutan itu rasa mereka makin dalam karena mereka berbagi sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu sebuah buku lusuh berisi puisi yang bisa jadi bahan bakar api perubahan
Dan aku tahu kamu pasti bertanya apakah puisi puisi itu nanti akan berperan besar dalam perjalanan mereka jawabannya ya tapi sabar dulu karena setiap cerita butuh waktu untuk meletup
Malam itu sebelum tidur Arman berbisik pada dirinya sendiri “Aku datang ke Garut untuk bersembunyi tapi ternyata aku menemukan alasan baru untuk berjuang seorang gadis penjual kopi dengan pena lebih tajam dari pedang”
Dan Rahayu di kamarnya menulis lagi kali ini lebih berani dari sebelumnya
“Jika cinta hanyalah bisik biarlah puisiku jadi teriakan jika langkahku kecil biarlah ia tetap menuju harapan kalau aku harus takut maka aku akan takut kehilangan keyakinan”
Kamu mungkin menghela napas sekarang karena merasa cerita ini mulai terlalu romantis tapi begitulah hidup bahkan di tengah krisis dan ancaman selalu ada ruang bagi cinta dan kata kata untuk tumbuh
Warung kopi itu kembali tidur malamnya tapi rahasia Rahayu kini sudah terbagi tidak lagi sendiri ia punya saksi yang akan menjaganya seorang mahasiswa dari Bandung yang sedang mencari rumah di tengah gelombang sejarah
Dan jangan lupa pembaca ini baru awal rahasia kecil bisa jadi percikan besar esok hari.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Test
Test ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...