Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bentrok Di Pasar Baru

Pagi itu Garut tidak seindah biasanya langit mendung pasar baru yang biasanya ramai dengan suara tawar menawar kali ini dipenuhi wajah tegang pedagang menatap aparat yang berdiri di ujung jalan lengkap dengan tameng dan pentungan suasana jadi seperti kuali panas yang siap meledak

Arman dan beberapa pemuda desa baru saja sampai mereka datang bukan untuk mencari gara gara tapi untuk membeli kebutuhan warung sekaligus mencari kabar terbaru tapi begitu mereka melihat kerumunan itu mereka langsung tahu bahwa hari ini bukan hari belanja biasa

Pedagang sayur berteriak “Harga sewa kios dinaikkan lagi ini sudah gila kita mau makan apa kalau begini” lalu seorang aparat menjawab dengan nada dingin “Kami hanya menjalankan perintah jangan bikin ribut”

Nah di sini lah kamu yang membaca mungkin mulai merasa ketegangan naik perlahan seperti benang biola ditarik terlalu kencang

Arman menatap situasi itu dengan mata tajam ia tahu kalau dibiarkan bentrok bisa pecah kapan saja lalu tiba tiba seorang pedagang ayam menendang keranjang hingga ayam ayam berlari ke sana kemari membuat suasana tambah kacau aparat mulai maju pedagang mundur sambil teriak teriak

Dan benar saja bentrok kecil meledak pedagang dorong aparat aparat balas dengan pentungan suara teriakan bercampur dengan kokok ayam dan jeritan ibu ibu yang panik mencari jalan keluar

Arman tidak tahan lagi ia langsung maju meski beberapa pemuda mencoba menahannya “Kang jangan ikut campur nanti kau dipukuli” tapi Arman malah tertawa miris “Kalau bukan kita yang melerai siapa lagi”

Ia melompat ke tengah keributan dengan tangan terangkat tinggi berteriak “Berhenti semua jangan bodoh” suaranya keras sampai menembus hiruk pikuk orang orang menoleh sebagian kaget karena mengenal wajah pemuda yang belakangan sering disebut sebut di warung kopi sebagai motor pergerakan

Aparat menoleh heran pedagang pun sedikit terhenti Arman memanfaatkan jeda itu untuk bicara cepat “Kalian semua saudara kita ini pasar bukan medan perang pedagang butuh hidup aparat butuh kerja kenapa kita saling hantam padahal sama sama rakyat kecil yang dikorbankan kebijakan orang atas”

Suasana agak mereda sebentar tapi tentu tidak semudah itu karena ada aparat muda yang emosinya meledak ia mendorong Arman sambil berteriak “Jangan sok jadi pahlawan” Arman hampir jatuh tapi pemuda desa yang bersamanya segera menopang lalu salah satu pedagang teriak balik “Jangan sentuh dia kalau berani lawan semua kami”

Nah inilah titik di mana komedi tidak bisa dihindari seorang pedagang tahu malah melempar segenggam tahu bulat goreng ke arah aparat dan bukannya kena kepala aparat malah kena kepala Arman sendiri plok tahu nempel di pipinya seisi pasar sejenak hening lalu pecah tawa meski situasi tegang

Arman mengelap pipinya dengan kesal tapi ia tertawa juga lalu berkata “Kalau mau lempar lempar makanan kasih ke saya aja lumayan sarapan gratis” tawa makin meledak bahkan beberapa aparat tidak tahan ikut cekikikan

Humor itu entah bagaimana menurunkan tensi sebagian orang meski ketegangan belum hilang sepenuhnya Arman lalu kembali bicara kali ini lebih pelan tapi menusuk “Kita bisa terus pukul pukulan sampai semua dagangan hancur sampai pasar ini kosong tapi apa gunanya lebih baik kita duduk bicara cari jalan tengah”

Aparat senior yang dari tadi hanya mengawasi akhirnya maju wajahnya keras tapi matanya menyimpan sedikit rasa hormat ia berkata “Kau siapa berani bicara seperti itu”

Arman menatapnya tanpa gentar “Saya hanya anak desa yang tidak mau lihat pasar kami jadi kuburan ayam dan tahu bulat”

Pedagang bersorak beberapa aparat tersenyum kecil lalu suasana perlahan reda meski masih banyak wajah tegang

Rahayu yang diam diam ikut ke pasar bersama ibunya melihat semuanya dari kejauhan ia gemetar tapi juga bangga ia melihat Arman berdiri tegak meski dikelilingi aparat dan pedagang yang penuh emosi ia merasa hatinya bergetar lagi lebih kuat dari sebelumnya dan kali ini ia sadar bahwa rasa itu bukan sekadar kagum ini sudah jadi cinta yang sulit disangkal

Namun tentu saja ketegangan tidak hilang sepenuhnya salah satu aparat masih menggeram sambil menatap pedagang seperti mau menerkam tapi aparat senior mengangkat tangan memberi isyarat berhenti lalu berkata “Kita mundur dulu kita bicarakan dengan atasan” lalu mereka pergi meninggalkan pasar yang berantakan tapi tidak jadi perang besar

Pedagang langsung mengerubungi Arman sebagian menepuk bahunya sebagian lagi mengucapkan terima kasih Kang Ujang bahkan berkata “Kang kalau tadi kau tidak maju mungkin saya sudah babak belur dipukul pentungan”

Arman hanya tersenyum lelah “Saya hanya melakukan yang seharusnya kita semua satu perahu jangan sampai saling tenggelamkan”

Rahayu akhirnya mendekat dengan wajah cemas “Kang kamu tidak apa apa” Arman menatapnya lalu tersenyum “Aku baik baik saja meski sempat kena tahu bulat tadi” mereka berdua tertawa kecil dan tawa itu entah bagaimana terdengar lebih indah daripada suara keributan barusan

Kamu pembaca mungkin ikut tertawa membayangkan tahu bulat nempel di pipi pemuda idealis tapi juga ikut merasa hangat karena dari semua kekacauan justru cinta dan solidaritas lah yang muncul lebih jelas

Setelah kejadian itu nama Arman makin dikenal bukan hanya di warung kopi tapi juga di pasar pasar orang mulai bicara tentang pemuda desa yang berani melerai bentrok tanpa takut aparat mulai ada yang menyebutnya pahlawan kecil meski Arman sendiri menolak sebutan itu ia hanya bilang “Saya bukan pahlawan saya hanya tidak mau lihat rakyat makin sengsara”

Malamnya ketika cerita bentrok sudah menyebar sampai ke telinga Haji Darsa warung kembali jadi pusat obrolan pelanggan datang lebih banyak dari biasanya sebagian hanya ingin dengar langsung kisah Arman

Haji Darsa menatap Arman lama lalu berkata dengan nada campur aduk “Kamu memang bikin pusing tapi entah kenapa aku bangga juga” Rahayu yang duduk di dekatnya hanya tersenyum malu malu hatinya penuh rasa bangga meski masih takut ayahnya akan menolak

Dan di sinilah pembaca sekali lagi diajak melihat bahwa perjuangan bukan hanya soal bentrok atau teriakan di jalan tapi juga soal keberanian menahan diri soal tawa di tengah kacau dan soal hati yang bergetar di antara reruntuhan tahu bulat

Malam semakin larut lampu petromak kembali jadi saksi orang orang masih berceloteh sebagian tertawa sebagian serius Arman duduk tenang menatap langit Garut yang mulai berbintang lalu berbisik pada dirinya sendiri “Perjuangan masih panjang tapi aku tidak sendiri”

Other Stories
Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Download Titik & Koma