Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Cinta Di Tengah Api

Sore itu Garut diselimuti cahaya jingga matahari condong ke barat sawah yang baru saja ditanam padi memantulkan cahaya seperti cermin kecil ribuan titik emas berkilauan angin bertiup lembut membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik yang mulai menyapa dari pematang

Rahayu berjalan pelan sambil membawa bakul kecil berisi gorengan yang tadi ia ambil diam diam dari dapur warung langkahnya terasa ringan meski di dalam hatinya masih menyimpan kecemasan setelah keributan di pasar baru kemarin ia mencari Arman yang katanya sedang beristirahat di dekat sawah desa

Dan benar saja di ujung pematang ia melihat Arman duduk bersila menatap langit wajahnya tenang tapi ada garis letih di matanya Rahayu berhenti sebentar menatapnya dari jauh lalu tersenyum tipis seperti ada sesuatu yang hangat merambat dari dada ke pipinya

Arman mendengar langkah kaki ia menoleh dan langsung tersenyum “Ah ternyata kamu Rahayu aku kira petani yang mau usirku karena duduk di pematang”

Rahayu terkekeh “Kalau petani mungkin sudah dilempar cangkul tapi kalau aku cukup dengan tatapan saja” wajahnya memerah setelah sadar kata katanya terdengar terlalu jujur tapi Arman malah tertawa “Wah tatapanmu lebih berbahaya daripada cangkul berarti”

Rahayu duduk di sampingnya meletakkan bakul gorengan lalu berkata pelan “Aku bawa bala bala dan tempe mendoan biar kau makan jangan cuma idealisme yang kau telan” Arman mengambil satu bala bala panas dan langsung meniup niup “Astaga panas sekali tapi enak” ia mengunyah dengan lahap Rahayu menatapnya geli sambil berkomentar “Kau ini aktivis gagah tapi kalah oleh bala bala”

Mereka berdua tertawa suasana perlahan berubah hangat meski langit masih memerah dengan sisa api matahari

Tak lama terdengar suara khas dari kejauhan anak anak desa memainkan angklung mereka berdiri di pinggir sawah berderet sambil menggoyangkan bambu nada riang mengalun sederhana tapi indah

Arman menutup mata sebentar mendengarkan lalu berkata “Kamu tahu Rahayu suara angklung ini seperti suara rakyat sederhana tidak mewah tapi bisa bikin bulu kuduk merinding kalau dimainkan bersama sama”

Rahayu tersenyum lembut “Aku suka dengarnya seperti doa yang tidak pernah putus”

Hening sebentar hanya angin sawah dan suara angklung mengisi ruang lalu Arman memandang Rahayu matanya serius kali ini “Rahayu aku sering ditanya apa aku tidak takut berjuang melawan arus apa aku tidak takut dipukul ditangkap bahkan mungkin hilang dan jawabanku selalu sama aku takut tapi aku lebih takut kalau rakyat kecil terus diinjak tanpa ada yang berani bicara”

Rahayu menunduk hatinya bergetar kata kata itu seperti menyalakan api di dadanya sekaligus membuatnya semakin khawatir ia pelan berkata “Kalau suatu hari kau benar benar hilang apa kau tidak kasihan padaku apa kau tidak kasihan pada ayahku yang sudah menganggapmu anak meski sering marah”

Arman terdiam sebentar lalu dengan nada lebih lembut “Aku tidak mau hilang aku ingin tetap hidup aku ingin melihat sawah ini tumbuh panen aku ingin tetap minum kopi buatanmu di warung kecil itu dan kalau aku boleh jujur aku ingin terus melihatmu tersenyum di sisiku”

Rahayu terkejut pipinya makin merah ia hampir menutup wajah dengan kain selendangnya tapi Arman menahan pelan tangannya tanpa memaksa hanya menyentuh sebentar seolah bilang jangan sembunyi dari perasaanmu

Di titik ini mungkin kamu pembaca ikut menahan napas menunggu apakah akhirnya ada pengakuan cinta ataukah hanya isyarat samar samar

Dan benar Arman akhirnya berkata lebih jelas “Aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat di tengah kerusuhan dan ketidakpastian tapi hatiku sudah bicara sejak pertama kali aku melihatmu menumpahkan kopi di bajuku di warung hari itu aku tahu ada sesuatu yang berbeda”

Rahayu tertawa kecil mengingat kejadian itu “Jadi bajumu yang penuh noda kopi itu justru jadi awal cerita kita”

Arman mengangguk “Ya noda itu jadi tanda bahwa sejak hari itu hidupku tidak lagi sama”

Rahayu tidak bisa menahan senyum ia menatap Arman dalam dalam lalu berkata pelan “Kalau begitu jangan pernah hilang dari hidupku Kang”

Mereka saling menatap lama suara angklung terus bergema angin membawa aroma sawah senja menjahit momen itu menjadi kenangan yang tak akan pernah mereka lupakan

Namun tentu saja kehidupan tidak bisa selamanya serius karena tiba tiba seekor kambing yang lepas dari ikatannya berlari kencang melintas di depan mereka membawa sepotong kain di mulutnya Rahayu terkejut lalu menjerit kecil “Astaga itu kain jemuranku dibawa lari” Arman spontan berdiri mengejar kambing itu hingga nyaris tercebur ke sawah

Pembaca mungkin tergelak membayangkan seorang aktivis gagah berlari kejar kambing dengan kain berkibar di mulut hewan itu Arman akhirnya berhasil merebut kain tapi kakinya malah masuk ke lumpur sawah setengah betis wajahnya penuh lumpur Rahayu tertawa terpingkal pingkal sampai matanya berair

Arman berdiri kikuk sambil berkata “Kalau begini rasanya perjuangan melawan aparat lebih mudah daripada melawan kambingmu Rahayu”

Tawa mereka pecah bersama dengan suara angklung yang semakin riang momen itu menegaskan bahwa di tengah api perjuangan di tengah ketakutan akan masa depan selalu ada ruang untuk cinta dan tawa kecil yang membuat hidup terasa layak diperjuangkan

Saat matahari benar benar tenggelam langit berganti ungu tua mereka duduk lagi di pematang Rahayu bersandar pelan di bahu Arman tanpa kata kata panjang hanya diam yang penuh makna Arman menatap horizon lalu berbisik “Kalau suatu hari bangsa ini benar benar bebas aku ingin mengajakmu duduk di sini lagi tapi dengan hati yang lebih tenang”

Rahayu hanya mengangguk pelan matanya berkaca kaca tapi senyumnya tetap ada ia tahu jalannya tidak akan mudah tapi ia juga tahu hatinya sudah memilih

Dan kamu pembaca mungkin tersenyum juga menyadari bahwa cinta sejati justru lahir di tengah lumpur sawah di antara suara angklung dan gorengan bala bala bukan di tempat mewah atau pesta megah

Malam itu bintang mulai bermunculan angin semakin dingin tapi hati mereka justru semakin hangat



Other Stories
Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Download Titik & Koma