Kerusuhan Menyebar
Pagi di Garut tidak lagi terasa biasa embun masih ada di pucuk padi suara ayam masih berkokok di kampung tapi ada semacam getaran yang berbeda di udara sesuatu yang sulit dijelaskan seakan angin membawa kabar buruk dari jauh yang makin lama makin dekat
Warung kopi Haji Darsa hari itu ramai lebih ramai dari biasanya orang orang berdatangan bukan hanya untuk ngopi tapi untuk mencari kabar apa yang sebenarnya terjadi di kota besar radio kecil di pojok warung jadi pusat perhatian semua mata memandang semua telinga menajamkan mendengar suara penyiar yang terbata bata melaporkan keadaan di Jakarta katanya banyak toko dijarah jalanan penuh asap ban terbakar mahasiswa ditangkap bahkan ada korban nyawa
Orang orang terdiam wajah mereka kaku lalu pelan pelan mulai ramai dengan suara debat Kang Deden bersuara lantang “Aku bilang juga apa kalau keadaan begini aparat harus lebih tegas kalau dibiarkan bisa rusak semua” tapi Ustaz Karna menggeleng sambil berkata tenang “Kekerasan tidak akan menyelesaikan apa apa Kang justru makin banyak luka yang timbul”
Nelayan tua ikut menyahut “Di pasar harga ikan sudah naik orang takut keluar rumah kalau begini terus kita semua mau makan apa”
Suasana makin panas masing masing punya pendapat sendiri ada yang menyalahkan mahasiswa ada yang menyalahkan pemerintah ada yang menyalahkan takdir pokoknya semua saling tunjuk saling tinggi suara
Dan di tengah keributan itu Arman duduk diam wajahnya serius matanya merah bukan karena marah tapi karena sedih ia mendengar kabar itu seolah mendengar suara kawan kawannya di Jakarta yang sedang berjuang ia menunduk lama lalu berkata pelan tapi jelas “Mereka bukan perusuh mereka saudara kita yang berani bicara ketika kita semua takut”
Hening mendadak semua mata tertuju pada Arman sebagian tidak setuju sebagian kagum Rahayu yang berdiri di belakang meja ikut menahan napas ia tahu ucapan itu bisa memancing masalah tapi di sisi lain hatinya makin kagum karena Arman tetap berani jujur meski semua orang melawan
Haji Darsa yang baru masuk ke warung wajahnya serius mendengar ucapan itu langsung menatap tajam “Kamu lagi lagi bikin panas suasana Arman apa tidak cukup kemarin bikin demo kacau sekarang kamu mau bikin orang di sini ribut juga”
Arman menatap balik tidak mundur “Saya tidak mau bikin ribut Pak Haji saya hanya bilang apa adanya bahwa bangsa ini sedang sakit dan kita semua tidak bisa pura pura sehat”
Pembaca bayangkan suasana menegang seolah warung kecil itu jadi arena debat nasional pelanggan yang biasanya cuma ribut soal harga cabe kini jadi analis politik dadakan Rahayu di antara semua itu berusaha menenangkan menyuguhkan kopi tambahan berharap kopi bisa jadi jembatan damai
Tapi tidak semua bisa ditenangkan karena tiba tiba masuk beberapa pemuda kampung dengan wajah panik “Pak Haji pasar mulai ricuh ada isu mau ada penjarahan orang orang mulai bawa kayu dan batu”
Suasana warung pecah sebagian pelanggan langsung berdiri panik sebagian ingin keluar melihat sebagian lain justru makin keras bicara Arman spontan ikut berdiri “Kalau benar ada kerusuhan kita harus pastikan orang orang tidak terbawa emosi jangan sampai Garut ikut terbakar”
Haji Darsa menatapnya sinis “Kamu siapa berani berani atur kampung ini” tapi sebelum sempat lanjut Ustaz Karna menengahi “Tenang tenang jangan saling serang lebih baik kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan”
Akhirnya beberapa pemuda termasuk Arman dan Kang Deden sepakat menuju pasar untuk melihat langsung apa yang terjadi Rahayu tentu saja gelisah ia ingin ikut tapi ditahan ayahnya “Kamu di rumah saja jangan ikut campur urusan lelaki” tapi dalam hatinya ia berdoa semoga Arman baik baik saja
Sementara itu di jalan menuju pasar suasana makin ramai orang berkerumun sebagian berteriak sebagian panik ada toko yang buru buru menutup pintu ada pedagang yang lari sambil mengangkut barang Arman melihat wajah wajah penuh cemas ia tahu api sedang menunggu bensin sedikit saja bisa meledak
Dan benar di ujung jalan ada sekelompok pemuda lain membawa kayu dan batu seolah siap melempar ke arah toko yang ditutup Arman segera maju berteriak “Hei jangan begitu itu bukan musuh kalian itu tetangga kita kalau kalian jarah kalian hancurkan masa depan sendiri”
Pemuda pemuda itu menoleh ada yang mengenali Arman sebagai mahasiswa Bandung yang suka bicara lantang ada yang sinis “Kau siapa sok sok jadi pahlawan” lalu batu nyaris melayang tapi Kang Deden sigap menahan sambil berteriak “Jangan bodoh kalian jangan bikin kampung kita terbakar”
Ketegangan makin tinggi warga sekitar mulai teriak jangan rusuh jangan rusuh tapi sebagian lain ikut terbawa emosi situasi nyaris pecah jadi bentrok
Di sisi lain di warung Rahayu gelisah ia mondar mandir tidak tenang lalu mengambil kertas kecil menulis puisi cepat hanya beberapa baris tentang harapan Garut yang damai ia menaruhnya di meja seakan menyalurkan keresahan lewat kata kata karena ia tahu hanya itu yang bisa ia lakukan
Dan pembaca di sinilah kamu bisa merasakan bahwa kerusuhan bukan hanya soal bentrokan fisik tapi soal hati hati yang resah soal anak muda yang marah soal ibu ibu yang takut soal pedagang kecil yang bingung
Kembali ke pasar akhirnya situasi berhasil ditenangkan setelah Ustaz Karna datang membawa toa masjid sambil berteriak lantang “Saudara saudara ini bukan jalan kita jangan saling hancurkan mari kembali ke rumah mari kembali ke keluarga kalian” suara ustaz menggema dan entah bagaimana bisa menenangkan sebagian orang
Arman ikut membantu meyakinkan pemuda lain Kang Deden sibuk menarik beberapa orang agar tidak melempar batu perlahan suasana mereda walau masih ada wajah wajah panas
Malamnya warung kopi penuh lagi orang orang cerita tentang apa yang baru saja terjadi sebagian lega sebagian masih marah tapi setidaknya Garut belum terbakar seperti kota besar lain
Rahayu duduk diam menatap Arman yang letih tapi tersenyum kecil ia tahu lelaki itu tidak hanya bicara ia benar benar berusaha mencegah api membesar di kampung mereka
Haji Darsa masih keras wajahnya kaku tapi di balik tatapan itu ada sedikit rasa hormat yang mulai muncul meski ia tidak mau mengakuinya
Dan kamu pembaca mungkin ikut lega bahwa setidaknya untuk hari ini Garut masih bertahan meski kabar dari Jakarta makin mengerikan
Malam itu ketika semua pelanggan pulang warung sepi Rahayu mendekati Arman sambil menyodorkan secangkir kopi hangat “Terima kasih sudah berusaha menjaga kampung ini Kang meski banyak yang tidak suka padamu aku tahu hatimu tulus”
Arman menatapnya lama lalu tersenyum “Aku tidak tahu apakah aku bisa menjaga semuanya tapi aku akan terus berusaha karena kalau bukan kita siapa lagi”
Rahayu menunduk pipinya merah lagi hatinya bergetar sama seperti dulu hanya kali ini lebih kuat karena ia melihat sendiri keberanian itu bukan hanya kata kata tapi nyata
Dan begitulah malam itu Garut masih berdiri di ambang badai api belum menyala penuh tapi asap sudah tercium semua orang tahu hari hari ke depan akan makin berat tapi di tengah ketakutan itu selalu ada tawa selalu ada cinta selalu ada warung kopi yang tetap menyajikan segelas hitam pahit yang entah bagaimana bisa membuat hati terasa lebih kuat
Warung kopi Haji Darsa hari itu ramai lebih ramai dari biasanya orang orang berdatangan bukan hanya untuk ngopi tapi untuk mencari kabar apa yang sebenarnya terjadi di kota besar radio kecil di pojok warung jadi pusat perhatian semua mata memandang semua telinga menajamkan mendengar suara penyiar yang terbata bata melaporkan keadaan di Jakarta katanya banyak toko dijarah jalanan penuh asap ban terbakar mahasiswa ditangkap bahkan ada korban nyawa
Orang orang terdiam wajah mereka kaku lalu pelan pelan mulai ramai dengan suara debat Kang Deden bersuara lantang “Aku bilang juga apa kalau keadaan begini aparat harus lebih tegas kalau dibiarkan bisa rusak semua” tapi Ustaz Karna menggeleng sambil berkata tenang “Kekerasan tidak akan menyelesaikan apa apa Kang justru makin banyak luka yang timbul”
Nelayan tua ikut menyahut “Di pasar harga ikan sudah naik orang takut keluar rumah kalau begini terus kita semua mau makan apa”
Suasana makin panas masing masing punya pendapat sendiri ada yang menyalahkan mahasiswa ada yang menyalahkan pemerintah ada yang menyalahkan takdir pokoknya semua saling tunjuk saling tinggi suara
Dan di tengah keributan itu Arman duduk diam wajahnya serius matanya merah bukan karena marah tapi karena sedih ia mendengar kabar itu seolah mendengar suara kawan kawannya di Jakarta yang sedang berjuang ia menunduk lama lalu berkata pelan tapi jelas “Mereka bukan perusuh mereka saudara kita yang berani bicara ketika kita semua takut”
Hening mendadak semua mata tertuju pada Arman sebagian tidak setuju sebagian kagum Rahayu yang berdiri di belakang meja ikut menahan napas ia tahu ucapan itu bisa memancing masalah tapi di sisi lain hatinya makin kagum karena Arman tetap berani jujur meski semua orang melawan
Haji Darsa yang baru masuk ke warung wajahnya serius mendengar ucapan itu langsung menatap tajam “Kamu lagi lagi bikin panas suasana Arman apa tidak cukup kemarin bikin demo kacau sekarang kamu mau bikin orang di sini ribut juga”
Arman menatap balik tidak mundur “Saya tidak mau bikin ribut Pak Haji saya hanya bilang apa adanya bahwa bangsa ini sedang sakit dan kita semua tidak bisa pura pura sehat”
Pembaca bayangkan suasana menegang seolah warung kecil itu jadi arena debat nasional pelanggan yang biasanya cuma ribut soal harga cabe kini jadi analis politik dadakan Rahayu di antara semua itu berusaha menenangkan menyuguhkan kopi tambahan berharap kopi bisa jadi jembatan damai
Tapi tidak semua bisa ditenangkan karena tiba tiba masuk beberapa pemuda kampung dengan wajah panik “Pak Haji pasar mulai ricuh ada isu mau ada penjarahan orang orang mulai bawa kayu dan batu”
Suasana warung pecah sebagian pelanggan langsung berdiri panik sebagian ingin keluar melihat sebagian lain justru makin keras bicara Arman spontan ikut berdiri “Kalau benar ada kerusuhan kita harus pastikan orang orang tidak terbawa emosi jangan sampai Garut ikut terbakar”
Haji Darsa menatapnya sinis “Kamu siapa berani berani atur kampung ini” tapi sebelum sempat lanjut Ustaz Karna menengahi “Tenang tenang jangan saling serang lebih baik kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan”
Akhirnya beberapa pemuda termasuk Arman dan Kang Deden sepakat menuju pasar untuk melihat langsung apa yang terjadi Rahayu tentu saja gelisah ia ingin ikut tapi ditahan ayahnya “Kamu di rumah saja jangan ikut campur urusan lelaki” tapi dalam hatinya ia berdoa semoga Arman baik baik saja
Sementara itu di jalan menuju pasar suasana makin ramai orang berkerumun sebagian berteriak sebagian panik ada toko yang buru buru menutup pintu ada pedagang yang lari sambil mengangkut barang Arman melihat wajah wajah penuh cemas ia tahu api sedang menunggu bensin sedikit saja bisa meledak
Dan benar di ujung jalan ada sekelompok pemuda lain membawa kayu dan batu seolah siap melempar ke arah toko yang ditutup Arman segera maju berteriak “Hei jangan begitu itu bukan musuh kalian itu tetangga kita kalau kalian jarah kalian hancurkan masa depan sendiri”
Pemuda pemuda itu menoleh ada yang mengenali Arman sebagai mahasiswa Bandung yang suka bicara lantang ada yang sinis “Kau siapa sok sok jadi pahlawan” lalu batu nyaris melayang tapi Kang Deden sigap menahan sambil berteriak “Jangan bodoh kalian jangan bikin kampung kita terbakar”
Ketegangan makin tinggi warga sekitar mulai teriak jangan rusuh jangan rusuh tapi sebagian lain ikut terbawa emosi situasi nyaris pecah jadi bentrok
Di sisi lain di warung Rahayu gelisah ia mondar mandir tidak tenang lalu mengambil kertas kecil menulis puisi cepat hanya beberapa baris tentang harapan Garut yang damai ia menaruhnya di meja seakan menyalurkan keresahan lewat kata kata karena ia tahu hanya itu yang bisa ia lakukan
Dan pembaca di sinilah kamu bisa merasakan bahwa kerusuhan bukan hanya soal bentrokan fisik tapi soal hati hati yang resah soal anak muda yang marah soal ibu ibu yang takut soal pedagang kecil yang bingung
Kembali ke pasar akhirnya situasi berhasil ditenangkan setelah Ustaz Karna datang membawa toa masjid sambil berteriak lantang “Saudara saudara ini bukan jalan kita jangan saling hancurkan mari kembali ke rumah mari kembali ke keluarga kalian” suara ustaz menggema dan entah bagaimana bisa menenangkan sebagian orang
Arman ikut membantu meyakinkan pemuda lain Kang Deden sibuk menarik beberapa orang agar tidak melempar batu perlahan suasana mereda walau masih ada wajah wajah panas
Malamnya warung kopi penuh lagi orang orang cerita tentang apa yang baru saja terjadi sebagian lega sebagian masih marah tapi setidaknya Garut belum terbakar seperti kota besar lain
Rahayu duduk diam menatap Arman yang letih tapi tersenyum kecil ia tahu lelaki itu tidak hanya bicara ia benar benar berusaha mencegah api membesar di kampung mereka
Haji Darsa masih keras wajahnya kaku tapi di balik tatapan itu ada sedikit rasa hormat yang mulai muncul meski ia tidak mau mengakuinya
Dan kamu pembaca mungkin ikut lega bahwa setidaknya untuk hari ini Garut masih bertahan meski kabar dari Jakarta makin mengerikan
Malam itu ketika semua pelanggan pulang warung sepi Rahayu mendekati Arman sambil menyodorkan secangkir kopi hangat “Terima kasih sudah berusaha menjaga kampung ini Kang meski banyak yang tidak suka padamu aku tahu hatimu tulus”
Arman menatapnya lama lalu tersenyum “Aku tidak tahu apakah aku bisa menjaga semuanya tapi aku akan terus berusaha karena kalau bukan kita siapa lagi”
Rahayu menunduk pipinya merah lagi hatinya bergetar sama seperti dulu hanya kali ini lebih kuat karena ia melihat sendiri keberanian itu bukan hanya kata kata tapi nyata
Dan begitulah malam itu Garut masih berdiri di ambang badai api belum menyala penuh tapi asap sudah tercium semua orang tahu hari hari ke depan akan makin berat tapi di tengah ketakutan itu selalu ada tawa selalu ada cinta selalu ada warung kopi yang tetap menyajikan segelas hitam pahit yang entah bagaimana bisa membuat hati terasa lebih kuat
Other Stories
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...