Humor Di Tengah Tegang
Kalau kemarin warung kopi Haji Darsa sudah resmi berubah jadi markas rapat para pemuda maka pagi ini suasana lebih kocak sekaligus tegang karena hari itu mereka berencana membawa spanduk hasil kerja bakti semalaman untuk pertama kali diperlihatkan ke publik dan tentu saja spanduk itu jadi pusat perhatian masalahnya spanduk itu tidak seperti bayanganmu
Begini ceritanya semalam setelah rapat panjang pemuda pemuda masih sibuk melukis spanduk di lantai warung mereka menulis kata kata besar dengan cat merah di atas kain putih Arman sudah mengingatkan berkali kali tulisannya harus jelas jangan salah ejaan jangan sampai bikin malu tapi namanya juga pemuda desa yang semangatnya lebih besar dari kerapihan tulisannya tentu saja hasil akhirnya agak mengejutkan
Pagi itu spanduk dibentangkan di depan warung dengan penuh kebanggaan tapi begitu terlihat semua orang langsung terdiam lalu meledak tertawa tulisan besar yang seharusnya berbunyi REFORMASI DAMAI malah tertulis REFO MASI DAI M semua hurufnya kepisah pisah seperti puzzle bahkan ada noda cat yang membuat huruf A jadi mirip U sehingga beberapa orang membaca REFO MUSI DUMAI
Rahayu yang melihat pertama kali menutup mulutnya menahan tawa tapi akhirnya tidak tahan juga ia tertawa keras sampai matanya berkaca kaca Haji Darsa yang biasanya galak pun sampai garuk garuk kepala lalu nyengir kecut “Astaghfirullah ini spanduk mau bikin rezim jatuh atau bikin orang ngakak” katanya sambil geleng geleng
Arman awalnya hampir pingsan melihat hasil kerja yang katanya semalaman penuh perjuangan tapi akhirnya ia pun ikut tertawa ia sadar semangat lebih penting daripada kerapihan walau jujur saja spanduk itu kalau dibawa ke alun alun bisa jadi bahan meme nasional andai zaman itu sudah ada media sosial
Tapi jangan kira mereka menyerah pemuda yang menulis spanduk dengan penuh percaya diri malah maju ke depan ia berkata dengan gaya sok filosofis “Tulisan ini punya makna dalam huruf huruf yang terpisah melambangkan betapa bangsa ini tercerai berai dan harus kita satukan kembali” mendengar penjelasan ngawur itu semua orang makin ngakak bahkan Ustaz Karna sampai tepuk jidat sambil berkata “Kalau begitu sekalian saja bikin tulisan RE FO MA SI DI PECAH BIAR MAKIN DALAM”
Tawa itu menggema di warung suasana yang tadinya tegang karena rencana demo berubah jadi seperti acara lawakan dadakan bahkan ayam kampung yang biasa nyelonong ikut naik ke kursi lalu mematuk cat merah di spanduk seolah ikut berpartisipasi
Namun di balik semua kelucuan itu ada semangat yang tidak bisa diremehkan pemuda pemuda tetap bersiap mereka tahu spanduk salah tulis tidak akan mengurangi keberanian mereka untuk turun ke jalan malah bisa jadi ciri khas yang bikin orang ingat bahwa perjuangan tidak harus selalu serius penuh wajah tegang kadang justru tawa adalah senjata paling ampuh melawan rasa takut
Arman mencoba menenangkan suasana ia berkata sambil tersenyum “Biarlah tulisannya salah yang penting isi hati kita benar biarlah orang tertawa melihat spanduk ini asalkan mereka juga tertawa bersama kita bukan menertawakan kita” kalimat itu membuat semua mengangguk mereka sadar perjuangan bukan soal kesempurnaan tapi soal keberanian untuk memulai
Rahayu diam diam menatap Arman matanya berbinar ia kagum bagaimana lelaki itu bisa mengubah bahan ejekan jadi bahan semangat ia lalu mendekatinya sambil menyerahkan gelas kopi “Kang kalau nanti spanduknya bikin orang ketawa itu artinya kau sudah memberi mereka alasan untuk tersenyum di tengah krisis” Arman menatapnya sebentar lalu tersenyum hangat seolah hanya Rahayu yang bisa membuat beban di dadanya terasa ringan
Tentu saja komedi tidak berhenti sampai di situ karena setelah spanduk pertama ada spanduk kedua yang bahkan lebih kacau tulisan yang seharusnya “Hidup Mahasiswa” malah jadi “Hidup Mahasusu” entah siapa yang salah menulis huruf A jadi U hasilnya semua orang histeris tawa bahkan ada yang usul menjadikan itu slogan resmi “Karena mahasiswa memang suka susu” kata salah satu pemuda sambil ngakak
Haji Darsa sampai duduk lemas di kursi bambu sambil berkata “Ya Allah beginilah kalau warung kopi dijadikan percetakan revolusi” tapi meski mulutnya mengomel matanya tampak lembut ia sebenarnya bangga karena warungnya jadi saksi tawa di tengah tegang
Sore harinya pemuda pemuda membawa spanduk itu ke alun alun Garut mereka berjalan dengan langkah mantap meski dalam hati masih deg degan begitu spanduk dibentangkan di depan massa reaksi warga persis seperti di warung pertama terdiam lalu meledak tertawa sebagian menunjuk nunjuk sambil berkata “Ini apaan tulisannya” sebagian lain langsung memotret dengan kamera analog jadul untuk kenang kenangan
Tapi justru karena spanduk itu aneh orang orang jadi mendekat ingin tahu apa maksudnya dan di situlah Arman mengambil kesempatan ia berdiri lalu berorasi dengan penuh semangat “Tulisan boleh salah tapi hati kami benar kami hanya ingin perubahan damai kami ingin hidup yang lebih adil” suaranya lantang penuh keyakinan orang orang yang tadinya menertawakan perlahan terdiam lalu bertepuk tangan
Itulah momen penting pembaca kadang sesuatu yang salah bisa jadi jalan menuju kebenaran kadang kekeliruan kecil membuka pintu untuk pesan besar
Di balik kerumunan itu Rahayu berdiri di antara warga ia melihat Arman berani berdiri di depan massa membawa spanduk salah tulis tanpa malu tanpa gentar malah menjadikannya bahan semangat ia tersenyum dan dalam hati berbisik lelaki ini bukan hanya cerdas tapi juga punya hati yang kuat
Sementara itu aparat yang berjaga di pinggir alun alun tampak bingung mereka ingin membubarkan tapi begitu melihat spanduk aneh itu mereka pun saling pandang salah satu sampai nyengir menahan tawa jelas sekali bahkan aparat pun tidak bisa menahan diri di tengah situasi panas itu
Rapat jalan kaki selesai tanpa bentrok warga pulang sambil tertawa menirukan spanduk lucu tapi di hati mereka ada sesuatu yang lebih besar semangat bahwa perubahan bisa lahir bahkan dari hal kecil yang konyol
Malamnya kembali ke warung suasana penuh cerita semua pelanggan warung ikut nimbrung mendengar kisah spanduk salah tulis itu ada yang sampai jatuh dari kursi karena terlalu keras tertawa ada yang langsung memberi julukan baru pada warung “Markas Refo Masi”
Arman duduk di pojok warung sambil menatap Rahayu mereka tidak banyak bicara hanya senyum saling mengerti mereka tahu perjuangan masih panjang tapi hari ini mereka belajar satu hal penting bahwa tawa bisa jadi cahaya di tengah gelap
Dan kamu pembaca jangan anggap remeh momen sepele seperti ini karena bisa jadi justru inilah yang kelak dikenang sebagai cerita paling hidup dari warung kopi kecil di Garut spanduk salah tulis yang membuat orang tertawa tapi juga membuat orang percaya bahwa perubahan mungkin
Begini ceritanya semalam setelah rapat panjang pemuda pemuda masih sibuk melukis spanduk di lantai warung mereka menulis kata kata besar dengan cat merah di atas kain putih Arman sudah mengingatkan berkali kali tulisannya harus jelas jangan salah ejaan jangan sampai bikin malu tapi namanya juga pemuda desa yang semangatnya lebih besar dari kerapihan tulisannya tentu saja hasil akhirnya agak mengejutkan
Pagi itu spanduk dibentangkan di depan warung dengan penuh kebanggaan tapi begitu terlihat semua orang langsung terdiam lalu meledak tertawa tulisan besar yang seharusnya berbunyi REFORMASI DAMAI malah tertulis REFO MASI DAI M semua hurufnya kepisah pisah seperti puzzle bahkan ada noda cat yang membuat huruf A jadi mirip U sehingga beberapa orang membaca REFO MUSI DUMAI
Rahayu yang melihat pertama kali menutup mulutnya menahan tawa tapi akhirnya tidak tahan juga ia tertawa keras sampai matanya berkaca kaca Haji Darsa yang biasanya galak pun sampai garuk garuk kepala lalu nyengir kecut “Astaghfirullah ini spanduk mau bikin rezim jatuh atau bikin orang ngakak” katanya sambil geleng geleng
Arman awalnya hampir pingsan melihat hasil kerja yang katanya semalaman penuh perjuangan tapi akhirnya ia pun ikut tertawa ia sadar semangat lebih penting daripada kerapihan walau jujur saja spanduk itu kalau dibawa ke alun alun bisa jadi bahan meme nasional andai zaman itu sudah ada media sosial
Tapi jangan kira mereka menyerah pemuda yang menulis spanduk dengan penuh percaya diri malah maju ke depan ia berkata dengan gaya sok filosofis “Tulisan ini punya makna dalam huruf huruf yang terpisah melambangkan betapa bangsa ini tercerai berai dan harus kita satukan kembali” mendengar penjelasan ngawur itu semua orang makin ngakak bahkan Ustaz Karna sampai tepuk jidat sambil berkata “Kalau begitu sekalian saja bikin tulisan RE FO MA SI DI PECAH BIAR MAKIN DALAM”
Tawa itu menggema di warung suasana yang tadinya tegang karena rencana demo berubah jadi seperti acara lawakan dadakan bahkan ayam kampung yang biasa nyelonong ikut naik ke kursi lalu mematuk cat merah di spanduk seolah ikut berpartisipasi
Namun di balik semua kelucuan itu ada semangat yang tidak bisa diremehkan pemuda pemuda tetap bersiap mereka tahu spanduk salah tulis tidak akan mengurangi keberanian mereka untuk turun ke jalan malah bisa jadi ciri khas yang bikin orang ingat bahwa perjuangan tidak harus selalu serius penuh wajah tegang kadang justru tawa adalah senjata paling ampuh melawan rasa takut
Arman mencoba menenangkan suasana ia berkata sambil tersenyum “Biarlah tulisannya salah yang penting isi hati kita benar biarlah orang tertawa melihat spanduk ini asalkan mereka juga tertawa bersama kita bukan menertawakan kita” kalimat itu membuat semua mengangguk mereka sadar perjuangan bukan soal kesempurnaan tapi soal keberanian untuk memulai
Rahayu diam diam menatap Arman matanya berbinar ia kagum bagaimana lelaki itu bisa mengubah bahan ejekan jadi bahan semangat ia lalu mendekatinya sambil menyerahkan gelas kopi “Kang kalau nanti spanduknya bikin orang ketawa itu artinya kau sudah memberi mereka alasan untuk tersenyum di tengah krisis” Arman menatapnya sebentar lalu tersenyum hangat seolah hanya Rahayu yang bisa membuat beban di dadanya terasa ringan
Tentu saja komedi tidak berhenti sampai di situ karena setelah spanduk pertama ada spanduk kedua yang bahkan lebih kacau tulisan yang seharusnya “Hidup Mahasiswa” malah jadi “Hidup Mahasusu” entah siapa yang salah menulis huruf A jadi U hasilnya semua orang histeris tawa bahkan ada yang usul menjadikan itu slogan resmi “Karena mahasiswa memang suka susu” kata salah satu pemuda sambil ngakak
Haji Darsa sampai duduk lemas di kursi bambu sambil berkata “Ya Allah beginilah kalau warung kopi dijadikan percetakan revolusi” tapi meski mulutnya mengomel matanya tampak lembut ia sebenarnya bangga karena warungnya jadi saksi tawa di tengah tegang
Sore harinya pemuda pemuda membawa spanduk itu ke alun alun Garut mereka berjalan dengan langkah mantap meski dalam hati masih deg degan begitu spanduk dibentangkan di depan massa reaksi warga persis seperti di warung pertama terdiam lalu meledak tertawa sebagian menunjuk nunjuk sambil berkata “Ini apaan tulisannya” sebagian lain langsung memotret dengan kamera analog jadul untuk kenang kenangan
Tapi justru karena spanduk itu aneh orang orang jadi mendekat ingin tahu apa maksudnya dan di situlah Arman mengambil kesempatan ia berdiri lalu berorasi dengan penuh semangat “Tulisan boleh salah tapi hati kami benar kami hanya ingin perubahan damai kami ingin hidup yang lebih adil” suaranya lantang penuh keyakinan orang orang yang tadinya menertawakan perlahan terdiam lalu bertepuk tangan
Itulah momen penting pembaca kadang sesuatu yang salah bisa jadi jalan menuju kebenaran kadang kekeliruan kecil membuka pintu untuk pesan besar
Di balik kerumunan itu Rahayu berdiri di antara warga ia melihat Arman berani berdiri di depan massa membawa spanduk salah tulis tanpa malu tanpa gentar malah menjadikannya bahan semangat ia tersenyum dan dalam hati berbisik lelaki ini bukan hanya cerdas tapi juga punya hati yang kuat
Sementara itu aparat yang berjaga di pinggir alun alun tampak bingung mereka ingin membubarkan tapi begitu melihat spanduk aneh itu mereka pun saling pandang salah satu sampai nyengir menahan tawa jelas sekali bahkan aparat pun tidak bisa menahan diri di tengah situasi panas itu
Rapat jalan kaki selesai tanpa bentrok warga pulang sambil tertawa menirukan spanduk lucu tapi di hati mereka ada sesuatu yang lebih besar semangat bahwa perubahan bisa lahir bahkan dari hal kecil yang konyol
Malamnya kembali ke warung suasana penuh cerita semua pelanggan warung ikut nimbrung mendengar kisah spanduk salah tulis itu ada yang sampai jatuh dari kursi karena terlalu keras tertawa ada yang langsung memberi julukan baru pada warung “Markas Refo Masi”
Arman duduk di pojok warung sambil menatap Rahayu mereka tidak banyak bicara hanya senyum saling mengerti mereka tahu perjuangan masih panjang tapi hari ini mereka belajar satu hal penting bahwa tawa bisa jadi cahaya di tengah gelap
Dan kamu pembaca jangan anggap remeh momen sepele seperti ini karena bisa jadi justru inilah yang kelak dikenang sebagai cerita paling hidup dari warung kopi kecil di Garut spanduk salah tulis yang membuat orang tertawa tapi juga membuat orang percaya bahwa perubahan mungkin
Other Stories
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
O
o ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...