Baku Hantam Di Jembatan Cimanuk
Pagi itu langit Garut tampak muram seakan meniru suasana hati para pemuda yang bersiap untuk turun ke jalan bukan sekadar demo receh dengan spanduk salah tulis kali ini tapi aksi besar yang melibatkan lebih banyak orang isu tentang harga kebutuhan pokok yang melambung dan berita dari Jakarta soal mahasiswa yang gugur membuat darah mereka mendidih titik kumpul ditentukan di Jembatan Cimanuk sebuah tempat yang sudah akrab bagi warga sebagai jalur utama tapi kali ini akan jadi saksi sejarah kecil yang panas
Di warung kopi Haji Darsa orang orang sudah bersiap ada yang membuat perbekalan nasi bungkus ada yang menyiapkan spanduk baru kali ini tulisannya lebih rapi meski tetap ada typo kecil kalau kau tanya ya memang tidak ada demo yang sempurna pasti ada bahan lucu di dalamnya Rahayu berdiri di belakang meja sambil menatap Arman yang sibuk memberi arahan kepada pemuda desa wajahnya serius sorot matanya penuh api tapi jujur saja buat Rahayu ia tampak semakin menawan
Haji Darsa berusaha menahan anak anak muda itu agar tidak nekat tapi siapa yang bisa menahan arus sejarah lelaki tua itu akhirnya hanya bisa menghela napas dan berkata kalau kalian benar benar turun ke jalan jangan bikin onar jaga diri dan jangan lupa doa doa
Barisan bergerak menuju jembatan Arman di depan memimpin langkah dengan spanduk besar bertuliskan HIDUP RAKYAT KECIL suaranya lantang ketika meneriakkan yel yel meski di sela sela teriakan ada suara pemuda yang salah komando jadi bikin suasana agak kocak bayangkan saja ketika semua berteriak REFORMA SI DAMAI tiba tiba ada yang teriak REFORMA SI DUMAI dan satu kelompok ikut ikutan jadi terdengar seperti iklan pariwisata
Tapi tawa itu lenyap seketika ketika sampai di jembatan sudah ada barisan aparat berdiri menghadang lengkap dengan tameng dan pentungan udara terasa berat seolah setiap embusan angin membawa ancaman ketegangan merayap masuk ke dada Arman dan kawan kawan tapi tidak ada jalan mundur
Arman maju ke depan dengan tangan terangkat tinggi ia mencoba bicara dengan aparat katanya kami datang dengan damai kami hanya ingin menyuarakan keresahan kami tidak ingin kekerasan tapi sayangnya situasi tidak sesederhana itu aparat sudah menerima perintah tegas untuk membubarkan kerumunan sebelum massa makin banyak
Bentrok pun pecah suara teriakan bercampur dengan dentuman tongkat mengenai tameng pemuda berusaha bertahan dengan tangan kosong beberapa melemparkan botol kosong bukan untuk melukai tapi sekadar menahan jarak Jembatan Cimanuk yang biasanya jadi tempat santai memancing mendadak berubah jadi arena baku hantam
Di tengah kekacauan itu Arman mencoba menenangkan kawan kawannya jangan melawan dengan kekerasan tahan diri tapi tentu saja suara satu orang kalah oleh riuh ratusan tubuh yang saling dorong Rahayu yang diam diam ikut di belakang massa menjerit histeris ketika melihat Arman dipukul dari samping ia terjatuh dan aparat langsung menyeretnya
Hati Rahayu seperti diremas ia mencoba maju tapi ditahan oleh para ibu ibu yang juga ikut aksi mereka berteriak jangan dek nanti kamu juga ditangkap tapi Rahayu tidak peduli air matanya bercucuran melihat lelaki yang diam diam mulai ia cintai dibawa pergi seperti penjahat padahal ia hanya berteriak untuk rakyat
Lucunya di tengah adegan dramatis itu masih ada momen kocak seorang pemuda yang ketakutan malah loncat ke sungai Cimanuk padahal airnya keruh dan dingin sekali ia muncul lagi sambil batuk batuk membuat semua orang yang sempat panik jadi terpecah antara takut dan tertawa aneh memang bentrok bisa melahirkan komedi absurd kalau kau ada di sana mungkin juga ikut terpingkal walau sedang gemetar
Rahayu terus menjerit memanggil nama Arman suaranya memecah kerumunan bahkan aparat sempat menoleh sebentar tapi tak ada yang bisa ia lakukan hanya doa dalam hati ya Allah lindungi dia jangan biarkan dia hilang dari hidupku
Arman diseret ke dalam truk aparat tubuhnya penuh luka lebam tapi matanya tetap menatap lurus ke depan ia tidak menyesal justru ia merasa inilah harga dari keberanian untuk bersuara di dalam kepalanya ada suara lirih wajah wajah mahasiswa yang gugur di Jakarta seolah menyemangatinya bertahan
Sementara di jembatan kerusuhan makin mereda aparat berhasil membubarkan massa tapi suasana hati warga sudah tidak sama lagi mereka melihat sendiri bagaimana aparat memperlakukan anak anak mereka bagaimana suara yang seharusnya didengar malah dipukul mundur warung kopi Haji Darsa sore itu jadi tempat pengungsian ada yang luka ada yang ketakutan ada juga yang masih bisa bercanda meski tubuh penuh memar “Minimal kita terkenal sekarang besok kalau ada berita di radio mungkin nama Garut disebut” ujar salah satu pemuda sambil meringis
Haji Darsa hanya bisa menghela napas berat sambil memandangi putrinya yang masih menangis Rahayu duduk di pojok warung wajahnya pucat tangannya gemetar ia merasa kosong seolah separuh hidupnya ikut direnggut bersama Arman
Dan di sinilah aku sebagai penulis ingin berhenti sebentar mengajakmu berpikir kadang sejarah besar tercatat dengan tinta darah dan air mata tapi jangan lupa ada cinta kecil yang ikut terbawa arus bukankah itu yang membuat kisah ini bukan sekadar catatan politik melainkan cerita manusia
Malam itu warung kopi gelap hanya diterangi petromak kecil suara radio memutar berita dari Jakarta tentang demonstrasi besar besaran hati semua orang di sana gelisah tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok tapi satu hal pasti mereka tidak bisa lagi diam
Rahayu menatap kosong ke luar jendela angin malam membawa dingin Cimanuk ke dalam dadanya ia memeluk erat buku catatan puisi miliknya dan menuliskan dengan tangan gemetar sebuah kalimat pendek yang mungkin sederhana tapi penuh makna “Aku tidak takut pada gelap jika ada cahaya yang kujaga dalam hatiku”
Ia berharap cahaya itu tetap ada di diri Arman entah di mana pun ia kini berada
Di warung kopi Haji Darsa orang orang sudah bersiap ada yang membuat perbekalan nasi bungkus ada yang menyiapkan spanduk baru kali ini tulisannya lebih rapi meski tetap ada typo kecil kalau kau tanya ya memang tidak ada demo yang sempurna pasti ada bahan lucu di dalamnya Rahayu berdiri di belakang meja sambil menatap Arman yang sibuk memberi arahan kepada pemuda desa wajahnya serius sorot matanya penuh api tapi jujur saja buat Rahayu ia tampak semakin menawan
Haji Darsa berusaha menahan anak anak muda itu agar tidak nekat tapi siapa yang bisa menahan arus sejarah lelaki tua itu akhirnya hanya bisa menghela napas dan berkata kalau kalian benar benar turun ke jalan jangan bikin onar jaga diri dan jangan lupa doa doa
Barisan bergerak menuju jembatan Arman di depan memimpin langkah dengan spanduk besar bertuliskan HIDUP RAKYAT KECIL suaranya lantang ketika meneriakkan yel yel meski di sela sela teriakan ada suara pemuda yang salah komando jadi bikin suasana agak kocak bayangkan saja ketika semua berteriak REFORMA SI DAMAI tiba tiba ada yang teriak REFORMA SI DUMAI dan satu kelompok ikut ikutan jadi terdengar seperti iklan pariwisata
Tapi tawa itu lenyap seketika ketika sampai di jembatan sudah ada barisan aparat berdiri menghadang lengkap dengan tameng dan pentungan udara terasa berat seolah setiap embusan angin membawa ancaman ketegangan merayap masuk ke dada Arman dan kawan kawan tapi tidak ada jalan mundur
Arman maju ke depan dengan tangan terangkat tinggi ia mencoba bicara dengan aparat katanya kami datang dengan damai kami hanya ingin menyuarakan keresahan kami tidak ingin kekerasan tapi sayangnya situasi tidak sesederhana itu aparat sudah menerima perintah tegas untuk membubarkan kerumunan sebelum massa makin banyak
Bentrok pun pecah suara teriakan bercampur dengan dentuman tongkat mengenai tameng pemuda berusaha bertahan dengan tangan kosong beberapa melemparkan botol kosong bukan untuk melukai tapi sekadar menahan jarak Jembatan Cimanuk yang biasanya jadi tempat santai memancing mendadak berubah jadi arena baku hantam
Di tengah kekacauan itu Arman mencoba menenangkan kawan kawannya jangan melawan dengan kekerasan tahan diri tapi tentu saja suara satu orang kalah oleh riuh ratusan tubuh yang saling dorong Rahayu yang diam diam ikut di belakang massa menjerit histeris ketika melihat Arman dipukul dari samping ia terjatuh dan aparat langsung menyeretnya
Hati Rahayu seperti diremas ia mencoba maju tapi ditahan oleh para ibu ibu yang juga ikut aksi mereka berteriak jangan dek nanti kamu juga ditangkap tapi Rahayu tidak peduli air matanya bercucuran melihat lelaki yang diam diam mulai ia cintai dibawa pergi seperti penjahat padahal ia hanya berteriak untuk rakyat
Lucunya di tengah adegan dramatis itu masih ada momen kocak seorang pemuda yang ketakutan malah loncat ke sungai Cimanuk padahal airnya keruh dan dingin sekali ia muncul lagi sambil batuk batuk membuat semua orang yang sempat panik jadi terpecah antara takut dan tertawa aneh memang bentrok bisa melahirkan komedi absurd kalau kau ada di sana mungkin juga ikut terpingkal walau sedang gemetar
Rahayu terus menjerit memanggil nama Arman suaranya memecah kerumunan bahkan aparat sempat menoleh sebentar tapi tak ada yang bisa ia lakukan hanya doa dalam hati ya Allah lindungi dia jangan biarkan dia hilang dari hidupku
Arman diseret ke dalam truk aparat tubuhnya penuh luka lebam tapi matanya tetap menatap lurus ke depan ia tidak menyesal justru ia merasa inilah harga dari keberanian untuk bersuara di dalam kepalanya ada suara lirih wajah wajah mahasiswa yang gugur di Jakarta seolah menyemangatinya bertahan
Sementara di jembatan kerusuhan makin mereda aparat berhasil membubarkan massa tapi suasana hati warga sudah tidak sama lagi mereka melihat sendiri bagaimana aparat memperlakukan anak anak mereka bagaimana suara yang seharusnya didengar malah dipukul mundur warung kopi Haji Darsa sore itu jadi tempat pengungsian ada yang luka ada yang ketakutan ada juga yang masih bisa bercanda meski tubuh penuh memar “Minimal kita terkenal sekarang besok kalau ada berita di radio mungkin nama Garut disebut” ujar salah satu pemuda sambil meringis
Haji Darsa hanya bisa menghela napas berat sambil memandangi putrinya yang masih menangis Rahayu duduk di pojok warung wajahnya pucat tangannya gemetar ia merasa kosong seolah separuh hidupnya ikut direnggut bersama Arman
Dan di sinilah aku sebagai penulis ingin berhenti sebentar mengajakmu berpikir kadang sejarah besar tercatat dengan tinta darah dan air mata tapi jangan lupa ada cinta kecil yang ikut terbawa arus bukankah itu yang membuat kisah ini bukan sekadar catatan politik melainkan cerita manusia
Malam itu warung kopi gelap hanya diterangi petromak kecil suara radio memutar berita dari Jakarta tentang demonstrasi besar besaran hati semua orang di sana gelisah tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok tapi satu hal pasti mereka tidak bisa lagi diam
Rahayu menatap kosong ke luar jendela angin malam membawa dingin Cimanuk ke dalam dadanya ia memeluk erat buku catatan puisi miliknya dan menuliskan dengan tangan gemetar sebuah kalimat pendek yang mungkin sederhana tapi penuh makna “Aku tidak takut pada gelap jika ada cahaya yang kujaga dalam hatiku”
Ia berharap cahaya itu tetap ada di diri Arman entah di mana pun ia kini berada
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...