Doa Di Mushola
Malam itu Garut sunyi padahal biasanya suara jangkrik dan aliran sungai Cimanuk terdengar menenangkan tapi kali ini udara seperti menahan napas seluruh kota seakan sedang ikut berduka warung kopi Haji Darsa masih penuh dengan orang orang yang baru saja pulang dari kericuhan di jembatan ada yang lebam ada yang tergores ada juga yang hanya gemetar menahan trauma wajah wajah mereka suram tapi ada satu hal yang sama mereka semua kehilangan semangat
Rahayu duduk di pojok matanya bengkak karena menangis Arman dibawa aparat dan sampai sekarang belum ada kabar ia menatap meja kayu yang penuh noda kopi dan cat spanduk kemarin seolah benda benda sederhana itu ikut bersedih bersama dirinya
Lalu datanglah suara yang menenangkan Ustaz Karna sang ustaz kampung yang rambutnya sudah memutih tapi matanya masih bersinar ia masuk ke warung dengan langkah pelan membawa tasbih di tangan semua orang otomatis memberi jalan seakan malaikat baru saja singgah
“Sudah cukup kalian menangis mari kita ke mushola” katanya pelan tapi tegas
Awalnya orang orang bingung sebagian masih marah sebagian merasa takut tapi entah kenapa kata kata sederhana itu seperti magnet semua yang tadinya duduk lunglai perlahan berdiri mengikuti langkah ustaz
Mushola kecil di dekat pasar itu tidak pernah seramai malam ini tikar lusuh digelar ke luar halaman karena jamaah meluber ke jalan suara sandal diseret bercampur dengan isak tangis tapi ketika azan kecil dikumandangkan suasana berubah hening hanya angin malam yang masih berbisik
Rahayu ikut duduk di barisan perempuan ia berusaha menahan tangis meski dadanya masih sesak ia merasa kehilangan besar tapi begitu melihat wajah ustaz Karna yang khusyuk ia merasa ada harapan
Shalat berjamaah dimulai suara imam terdengar lembut setiap bacaan ayat seakan langsung menusuk hati terutama ketika sampai pada ayat tentang kesabaran dan pertolongan Allah air mata menetes tanpa bisa ditahan bukan hanya Rahayu tapi hampir semua jamaah menangis
Selesai salam ustaz Karna tidak langsung berdiri ia tetap duduk lalu menengadahkan tangan suaranya bergetar namun tegas “Ya Allah kami rakyat kecil yang sering dianggap tidak punya suara kami hari ini datang kepadaMu karena suara kami ditutup oleh pentungan manusia Engkau Maha Mendengar maka dengarlah doa kami ya Rabb”
Tangis semakin pecah doa itu bukan doa biasa bukan sekadar permintaan tapi jeritan hati seluruh rakyat yang merasa ditekan
Ustaz melanjutkan “Kami mohon ampuni kesalahan kami jika cara kami salah ampuni pemuda pemuda yang terlanjur berani ampuni aparat yang mungkin hanya menjalankan perintah dan kuatkan hati kami agar tidak bercerai berai”
Kata kata itu membuat banyak orang saling pandang yang tadinya pro pemerintah dan kontra pemerintah yang tadinya saling sindir di warung kini duduk sejajar meneteskan air mata bersama doa menyatukan mereka sesuatu yang bahkan debat berjam jam di meja kopi tidak pernah bisa lakukan
Rahayu menunduk dalam doa ia berbisik lirih ya Allah lindungi Arman jangan biarkan dia patah di dalam penjara kuatkan dia seperti Engkau kuatkan aku malam ini
Tiba tiba suara dari belakang memecah suasana seorang bapak bapak yang biasanya suka bercanda di warung malah berkata dengan nada parau “Ustaz kalau doa kita dikabulkan bisakah kita juga minta harga cabe turun sedikit” suasana hening sekejap lalu pecah jadi tawa bercampur tangis memang begitulah orang kampung bahkan di tengah krisis masih bisa menyelipkan humor sederhana
Ustaz Karna pun tersenyum lalu berkata “Insya Allah harga cabe pun ikut turun kalau hati kita sudah naik ke langit” jamaah kembali tertawa dan seketika suasana tidak lagi menakutkan tapi hangat
Aku tahu mungkin kau yang membaca ini bingung bagaimana bisa orang orang menangis hebat lalu tertawa dalam satu menit percayalah itu nyata begitulah cara orang kecil bertahan di tengah tekanan mereka tidak punya senjata selain air mata dan tawa
Doa itu berlangsung lama orang orang menunduk tangan terangkat wajah basah oleh air mata ketika selesai mushola seperti dipenuhi cahaya bukan cahaya lampu tapi cahaya dari hati hati yang merasa lebih ringan
Haji Darsa yang biasanya keras pun malam itu luluh ia mendekati ustaz lalu berkata lirih “Saya salah selama ini saya pikir anak muda hanya bikin rusuh tapi ternyata mereka punya hati yang lebih murni dari saya semoga Allah ampuni saya” ustaz hanya menepuk bahunya dan berkata “Tidak ada kata terlambat Haji”
Rahayu diam diam mendengar itu dan hatinya bergetar ia merasa ayahnya mulai berubah sedikit demi sedikit dan itu memberi harapan bahwa suatu saat ia akan menerima Arman dengan lapang dada
Setelah doa bersama warga tidak langsung pulang mereka duduk di pelataran mushola berbagi cerita ada yang bercerita tentang anaknya yang ditangkap ada yang bercerita tentang pedagangannya yang sepi ada juga yang masih sempat bercanda soal spanduk salah tulis kemarin dan entah kenapa semua cerita itu jadi terasa ringan setelah doa
Arman mungkin masih di tangan aparat tapi malam itu ia hadir dalam doa ratusan orang namanya terucap di langit meski tubuhnya terkunci di balik jeruji
Dan kau yang membaca ini jangan remehkan doa kolektif seperti itu sebab kadang doa seribu rakyat kecil bisa lebih kuat dari teriakan mikrofon di gedung besar siapa tahu malam itu langit Garut benar benar terbuka menerima semua keluhan
Ketika jamaah akhirnya pulang suasana kota terasa berbeda masih ada tentara masih ada ketakutan tapi ada juga kekuatan baru mereka tahu mereka tidak sendirian mushola kecil itu telah menjadikan mereka satu keluarga
Rahayu berjalan pulang bersama ayahnya matanya masih merah tapi langkahnya lebih tegap dalam hati ia berjanji akan terus menulis puisi bukan hanya untuk Arman tapi untuk semua orang yang berjuang
Dan aku sebagai penulis ingin bilang kalau kau pernah merasa sendirian cobalah ingat mushola kecil di Garut tahun 98 itu tempat di mana tangis tawa doa dan cinta bertemu jadi satu
Rahayu duduk di pojok matanya bengkak karena menangis Arman dibawa aparat dan sampai sekarang belum ada kabar ia menatap meja kayu yang penuh noda kopi dan cat spanduk kemarin seolah benda benda sederhana itu ikut bersedih bersama dirinya
Lalu datanglah suara yang menenangkan Ustaz Karna sang ustaz kampung yang rambutnya sudah memutih tapi matanya masih bersinar ia masuk ke warung dengan langkah pelan membawa tasbih di tangan semua orang otomatis memberi jalan seakan malaikat baru saja singgah
“Sudah cukup kalian menangis mari kita ke mushola” katanya pelan tapi tegas
Awalnya orang orang bingung sebagian masih marah sebagian merasa takut tapi entah kenapa kata kata sederhana itu seperti magnet semua yang tadinya duduk lunglai perlahan berdiri mengikuti langkah ustaz
Mushola kecil di dekat pasar itu tidak pernah seramai malam ini tikar lusuh digelar ke luar halaman karena jamaah meluber ke jalan suara sandal diseret bercampur dengan isak tangis tapi ketika azan kecil dikumandangkan suasana berubah hening hanya angin malam yang masih berbisik
Rahayu ikut duduk di barisan perempuan ia berusaha menahan tangis meski dadanya masih sesak ia merasa kehilangan besar tapi begitu melihat wajah ustaz Karna yang khusyuk ia merasa ada harapan
Shalat berjamaah dimulai suara imam terdengar lembut setiap bacaan ayat seakan langsung menusuk hati terutama ketika sampai pada ayat tentang kesabaran dan pertolongan Allah air mata menetes tanpa bisa ditahan bukan hanya Rahayu tapi hampir semua jamaah menangis
Selesai salam ustaz Karna tidak langsung berdiri ia tetap duduk lalu menengadahkan tangan suaranya bergetar namun tegas “Ya Allah kami rakyat kecil yang sering dianggap tidak punya suara kami hari ini datang kepadaMu karena suara kami ditutup oleh pentungan manusia Engkau Maha Mendengar maka dengarlah doa kami ya Rabb”
Tangis semakin pecah doa itu bukan doa biasa bukan sekadar permintaan tapi jeritan hati seluruh rakyat yang merasa ditekan
Ustaz melanjutkan “Kami mohon ampuni kesalahan kami jika cara kami salah ampuni pemuda pemuda yang terlanjur berani ampuni aparat yang mungkin hanya menjalankan perintah dan kuatkan hati kami agar tidak bercerai berai”
Kata kata itu membuat banyak orang saling pandang yang tadinya pro pemerintah dan kontra pemerintah yang tadinya saling sindir di warung kini duduk sejajar meneteskan air mata bersama doa menyatukan mereka sesuatu yang bahkan debat berjam jam di meja kopi tidak pernah bisa lakukan
Rahayu menunduk dalam doa ia berbisik lirih ya Allah lindungi Arman jangan biarkan dia patah di dalam penjara kuatkan dia seperti Engkau kuatkan aku malam ini
Tiba tiba suara dari belakang memecah suasana seorang bapak bapak yang biasanya suka bercanda di warung malah berkata dengan nada parau “Ustaz kalau doa kita dikabulkan bisakah kita juga minta harga cabe turun sedikit” suasana hening sekejap lalu pecah jadi tawa bercampur tangis memang begitulah orang kampung bahkan di tengah krisis masih bisa menyelipkan humor sederhana
Ustaz Karna pun tersenyum lalu berkata “Insya Allah harga cabe pun ikut turun kalau hati kita sudah naik ke langit” jamaah kembali tertawa dan seketika suasana tidak lagi menakutkan tapi hangat
Aku tahu mungkin kau yang membaca ini bingung bagaimana bisa orang orang menangis hebat lalu tertawa dalam satu menit percayalah itu nyata begitulah cara orang kecil bertahan di tengah tekanan mereka tidak punya senjata selain air mata dan tawa
Doa itu berlangsung lama orang orang menunduk tangan terangkat wajah basah oleh air mata ketika selesai mushola seperti dipenuhi cahaya bukan cahaya lampu tapi cahaya dari hati hati yang merasa lebih ringan
Haji Darsa yang biasanya keras pun malam itu luluh ia mendekati ustaz lalu berkata lirih “Saya salah selama ini saya pikir anak muda hanya bikin rusuh tapi ternyata mereka punya hati yang lebih murni dari saya semoga Allah ampuni saya” ustaz hanya menepuk bahunya dan berkata “Tidak ada kata terlambat Haji”
Rahayu diam diam mendengar itu dan hatinya bergetar ia merasa ayahnya mulai berubah sedikit demi sedikit dan itu memberi harapan bahwa suatu saat ia akan menerima Arman dengan lapang dada
Setelah doa bersama warga tidak langsung pulang mereka duduk di pelataran mushola berbagi cerita ada yang bercerita tentang anaknya yang ditangkap ada yang bercerita tentang pedagangannya yang sepi ada juga yang masih sempat bercanda soal spanduk salah tulis kemarin dan entah kenapa semua cerita itu jadi terasa ringan setelah doa
Arman mungkin masih di tangan aparat tapi malam itu ia hadir dalam doa ratusan orang namanya terucap di langit meski tubuhnya terkunci di balik jeruji
Dan kau yang membaca ini jangan remehkan doa kolektif seperti itu sebab kadang doa seribu rakyat kecil bisa lebih kuat dari teriakan mikrofon di gedung besar siapa tahu malam itu langit Garut benar benar terbuka menerima semua keluhan
Ketika jamaah akhirnya pulang suasana kota terasa berbeda masih ada tentara masih ada ketakutan tapi ada juga kekuatan baru mereka tahu mereka tidak sendirian mushola kecil itu telah menjadikan mereka satu keluarga
Rahayu berjalan pulang bersama ayahnya matanya masih merah tapi langkahnya lebih tegap dalam hati ia berjanji akan terus menulis puisi bukan hanya untuk Arman tapi untuk semua orang yang berjuang
Dan aku sebagai penulis ingin bilang kalau kau pernah merasa sendirian cobalah ingat mushola kecil di Garut tahun 98 itu tempat di mana tangis tawa doa dan cinta bertemu jadi satu
Other Stories
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...