Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Surat Untuk Rahayu

Pagi itu Garut belum sepenuhnya terjaga. Kabut tipis masih menutupi sawah dan gang-gang sempit, sementara burung-burung mulai bersahut-sahutan di atas pohon bambu dekat warung Haji Darsa. Di gudang kopi tua, Arman duduk di lantai kayu yang dingin, menghadap ke jendela kecil yang menatap sawah. Tangannya menulis cepat, menumpahkan kata-kata ke selembar kertas yang kini hampir penuh tinta. Surat itu bukan sekadar tulisan, tapi seluruh perasaan yang ia simpan sejak pertama kali bertemu Rahayu, sejak malam-malam panjang bersembunyi dari aparat hingga detik-detik penuh cemas di jembatan Cimanuk.

Arman berhenti sejenak, menatap kertas itu sambil tersenyum pahit. Ia sadar, apa yang ia tulis ini terlalu panjang, tapi ia tidak peduli. Kata-kata itu harus sampai ke Rahayu. Break the wall, iya, dia bicara sendiri ke udara sambil menulis, “Kalau kamu bisa baca ini, aku harap kamu tersenyum, tapi jangan marah karena aku terlalu dramatis.” Ia menaruh pena sejenak, menyeruput teh hangat yang sudah dingin, dan kembali menulis.

Surat itu berisi janji-janji yang mungkin terdengar gila bagi orang lain. Ia menulis tentang perjuangan, tentang mimpi reformasi yang mereka bagi, tentang rasa cintanya pada Rahayu yang tidak pernah pudar walau situasi semakin berbahaya. Ia menulis juga hal-hal konyol, tentang kucing Kopi Hitam yang seolah ikut menemani pelarian mereka, tentang bagaimana ia ingin suatu hari nanti duduk santai di warung Haji Darsa sambil mendengar Rahayu tertawa karena kopi gosong lagi.

Selesai menulis, Arman melipat surat itu dengan hati-hati dan menyelipkannya ke dalam sebuah amplop lusuh. Ia menatapnya lama, seolah melihat Rahayu di hadapannya. “Ini bukan hanya surat, ini janji hidupku,” gumamnya. Break the wall lagi iya, ia berbicara ke amplop seolah itu bisa membalas dan memberinya semangat. Ia pun menghela napas panjang, merasa lega tapi juga cemas. Bagaimana jika surat ini tertangkap Haji Darsa atau aparat?

Sementara itu, di rumah Rahayu, gadis itu juga tidak bisa duduk tenang. Pagi itu ia membantu ibunya menyiapkan sarapan, tapi pikirannya melayang ke Arman. Ia membayangkan Arman berlari di gelapnya malam, bersembunyi di gudang kopi, dan menulis sesuatu yang khusus untuknya. Ada rasa hangat yang muncul di dada, tapi juga takut karena ayahnya masih marah besar tentang hubungan mereka.

Tidak lama kemudian, seorang pemuda desa yang menjadi kurir rahasia membawa amplop itu secara diam-diam. Rahayu menerima dengan hati-hati, menunduk di dapur agar ibunya dan ayahnya tidak melihat. Tangannya bergetar saat membuka amplop, jantungnya berdetak cepat. Ia membaca baris demi baris, senyum perlahan muncul di bibirnya, ada air mata yang jatuh diam-diam, tapi juga tawa kecil karena beberapa kalimat Arman terlalu dramatis dan konyol. “Ah, ini Arman banget,” gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri.

Isi surat itu membuat Rahayu merasa dekat dengan Arman, walau mereka terpisah oleh bahaya dan ketakutan. Ia membayangkan Arman menulis setiap kata dengan hati-hati, menyesap teh dingin di gudang kopi, dan menatap sawah seperti menatap masa depan mereka bersama. Dalam hatinya, Rahayu berjanji akan menjaga surat itu dengan baik, menyembunyikannya dari ayahnya agar Haji Darsa tidak khawatir atau malah marah lagi. Break the wall, iya, dia bahkan bicara sendiri ke amplop itu: “Tenang saja, surat ini aman di tanganku. Jangan sampai ayah tahu, nanti semua kacau lagi.”

Hari itu berjalan lambat. Rahayu menyembunyikan surat di laci khusus di kamarnya, tepat di bawah tumpukan buku dan kertas puisi yang sering ia tulis diam-diam. Setiap kali lewat kamar, ia menatap laci itu dan tersenyum, seolah Arman duduk di sampingnya, berbagi canda dan cerita. Ia bahkan sempat berbicara sendiri, menertawakan beberapa kalimat konyol di surat itu: “Kamu ini konyol sekali, tapi aku suka cara kamu membuatku tersenyum di tengah semua ini.”

Di sisi lain, Arman tidak hanya menulis surat, tapi juga merencanakan langkah selanjutnya. Gudang kopi bukan tempat aman untuk selamanya. Ia harus keluar, mencari cara untuk kembali ke warung Haji Darsa, bertemu Rahayu, dan memastikan mereka bisa tetap berjuang bersama. Ia menatap biji kopi yang berserakan, mencoba menemukan inspirasi. “Kalau biji kopi bisa bertahan panas, kenapa aku tidak bisa bertahan menghadapi dunia?” gumamnya sambil tertawa sendiri. Break the wall, iya, ia bicara ke biji kopi, karena memang tidak ada orang lain di situ.

Sore harinya, Rahayu menyempatkan diri menulis balasan di buku catatan rahasianya. Ia menulis tentang bagaimana ia merasakan cinta Arman, tentang harapan yang tumbuh di hatinya, dan juga tentang ketakutannya. Ia ingin suatu hari nanti bisa menyerahkan tulisan itu langsung ke Arman, tapi untuk sekarang, ia menyimpannya rapat-rapat. Setiap kata yang ia tulis terasa seperti berbisik langsung ke hati Arman. Ia bahkan menertawakan dirinya sendiri ketika menulis kalimat romantis berlebihan, karena ia tahu, Arman pasti akan senyum sendiri membacanya nanti.

Malam tiba, dan Rahayu memutuskan untuk meninjau kembali surat Arman. Ia membaca ulang dengan saksama, tertawa di beberapa bagian, terharu di bagian lain. Ia menyadari, surat itu bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang keberanian, tentang mimpi, tentang bagaimana dua hati bisa tetap teguh meski dunia di luar kacau. Ia menggumam sendiri: “Aku akan jaga ini, Arman. Aku akan pastikan setiap kata sampai ke hati kita berdua, meski ayah tidak tahu.”

Di gudang kopi, Arman menatap langit malam dari jendela. Bintang-bintang bersinar redup di atas gunung, seolah ikut mengawasi perjuangan mereka. Ia tahu Rahayu telah menerima surat itu, meski tidak tahu bagaimana reaksinya. Ia membayangkan gadis itu tersenyum, menyembunyikan surat itu, dan merasakan keberanian yang sama seperti yang ia rasakan saat menulisnya. Ia bicara ke udara lagi: “Aku harap kamu tersenyum, Rahayu. Aku harap kamu tahu, aku tidak akan berhenti berjuang.”

Di luar gudang, malam Garut tetap hidup dengan suara jangkrik, angin yang berdesir di pepohonan, dan bau kopi yang tersisa dari gudang. Suasana penuh ketegangan tapi juga kehangatan. Arman menatap Kopi Hitam, kucing setia yang menggesekkan badannya ke kaki Arman, seolah mengatakan bahwa dunia ini tidak sepenuhnya gelap. Ia tersenyum, merasa ditemani, merasa siap menghadapi apa pun yang datang.

Rahayu, di sisi lain, duduk di kamarnya, menatap surat itu, menulis balasan diam-diam, dan tersenyum. Ia tahu dunia di luar masih kacau, ayahnya masih keras, tapi ada satu hal yang membuatnya kuat: cinta dan janji Arman. Ia bahkan berbicara sendiri ke amplop: “Kalau surat ini bisa bicara, aku ingin dia tahu, aku akan menunggu. Aku akan tetap kuat.”

Malam semakin larut, dan kedua hati itu, meski terpisah, terasa begitu dekat. Surat Arman bukan sekadar kata-kata, tapi jembatan antara mereka, pengingat bahwa cinta dan perjuangan bisa berjalan bersamaan, meski dunia tidak selalu ramah. Break the wall terakhir Arman dan Rahayu bicara kepada pembaca secara diam-diam “Kalau kalian punya seseorang yang membuat kalian berani, jangan pernah lepaskan. Karena di tengah kekacauan, ada sesuatu yang indah yang bisa membuat kalian tersenyum.”

Dan di tengah malam Garut, di gudang kopi tua dan kamar sederhana Rahayu, dunia mungkin bergejolak, tapi cinta, tawa, dan harapan tumbuh diam-diam, menunggu hari esok yang lebih cerah. Surat itu menjadi saksi bisu perjuangan dan romansa mereka, simbol bahwa bahkan di masa gelap, ada secercah cahaya yang bisa membuat hati tetap hangat, tawa tetap ada, dan cinta tetap hidup.

Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

O

o ...

Download Titik & Koma