Bab 11 Foto Palsu
Internet itu seperti monster yang selalu lapar. Begitu ada satu rumor dilempar, langsung dimakan habis-habisan, dikunyah, ditelan, lalu dimuntahkan lagi dalam bentuk meme, berita, dan thread panjang yang bikin sakit kepala. Kali ini Luna jadi korbannya.
Pagi itu ia bangun dengan notifikasi meledak di HP. Grup chat timnya rame, DM penuh, mention di Twitter seperti hujan deras. Dengan mata masih lengket, Luna membuka satu link yang paling atas.
Judul besar terpampang di layar:
“Politisi Muda dan Gamer Cantik Tertangkap di Hotel Mewah?”
Luna terlonjak duduk. “apa ini…” bisiknya.
Ia scroll ke bawah. Ada foto dirinya sedang duduk di kasur hotel dengan kaos longgar. Di sebelahnya ada Adrian, tanpa jas, hanya dengan kemeja yang kancingnya terbuka sedikit. Pose mereka terlihat… intim.
Padahal itu jelas jelas palsu.
“ini editan! sumpah ini editan!” kata Luna panik. Ia langsung telepon Adrian.
“halo” kata Adrian dengan suara mengantuk.
“kamu buka berita belum” kata Luna terburu buru.
“belum. Kenapa”
“astaga kamu harus lihat. Ada foto kita. Di hotel. Aku bahkan nggak pernah masuk hotel itu. Ini gila!”
Adrian langsung terdengar terbangun. “tenang. Aku ke tempatmu sekarang.”
Setengah jam kemudian Adrian muncul di depan rumah kontrakan Luna. Rambutnya masih berantakan, wajahnya tegang. Luna berdiri di pintu sambil memegang ponsel.
“hai” kata Luna lirih.
“hai” kata Adrian cepat. “aku sudah lihat. Itu jelas jelas editan kasar. Tapi masalahnya orang nggak peduli itu palsu atau asli.”
Luna menggigit bibir. “aku takut reputasiku hancur. Aku baru mau bangun karier. Kalau semua orang percaya aku cuma numpang naik lewat kamu gimana.”
Adrian menatapnya dalam. “aku di sini. Kita hadapi bareng.”
Luna terdiam. Ia ingin marah, ingin nangis, tapi begitu melihat wajah Adrian yang penuh keyakinan, hatinya sedikit tenang.
Mereka masuk ke ruang tamu. TV menyala menayangkan infotainment yang sama. Hostnya dengan nada sok misterius berkata, “apakah ini bukti bahwa hubungan politisi muda dan gamer cantik lebih dari sekadar profesional.”
Luna menutup wajah dengan bantal. “aku malu banget. Semua orang ngomongin kita.”
Adrian duduk di sampingnya. “biarin orang ngomong. Yang penting kita tahu kebenarannya.”
“kamu nggak marah? Nama kamu juga jelek jadinya.”
Adrian menghela napas. “aku sudah biasa difitnah di politik. Tapi kamu… kamu nggak seharusnya kena ini.”
Ia menepuk lembut tangan Luna. Luna menoleh. Ada ketulusan di mata Adrian yang sulit dipalsukan.
“hai” kata Luna pelan.
“hai” kata Adrian sambil tersenyum tipis. “aku janji aku bakal cari siapa dalangnya.”
Luna mendengus. “kamu kayak film detektif aja.”
“kalau demi kamu, aku rela jadi apa aja.”
Deg. Lagi lagi kalimat itu sukses bikin Luna salah tingkah. Ia buru buru berdiri, pura pura sibuk merapikan meja. “kamu ini kenapa sih suka banget bikin aku bingung.”
Adrian hanya menatapnya sambil terkekeh.
Hari itu mereka memutuskan tidak keluar rumah. Media sudah berkeliaran di depan kafe gaming, paparazzi menunggu di jalan. Adrian membeli makanan lewat ojek online, dan mereka makan berdua di ruang kecil itu.
Saat sedang makan ayam geprek, Luna berkata pelan, “aku beneran takut. Kalau gosip ini nggak berhenti gimana.”
Adrian menatapnya serius. “denger ya Luna. Kamu bukan alat politik. Kamu bukan bayangan siapa pun. Kamu itu… kamu. Gamer jenius yang aku kagumi. Dan gosip nggak bisa mengubah itu.”
Luna terdiam lama. Lalu senyum kecil muncul di bibirnya. “kamu sadar nggak, kamu makin pinter ngomong.”
Adrian terkekeh. “aku kan politisi. Tapi kali ini bukan pidato. Ini beneran dari hati.”
Luna memandangnya, dan entah kenapa hatinya bergetar. Ia menunduk cepat cepat.
Malamnya, mereka duduk di balkon sempit sambil menatap langit kota yang penuh lampu. Suasana lebih tenang. Angin berhembus lembut.
“hai” kata Luna tiba tiba.
“hai” kata Adrian sambil meliriknya.
“kenapa kamu selalu muncul setiap aku butuh.”
Adrian menghela napas pelan. “karena aku nggak mau kamu hadapi ini sendirian.”
Hening sejenak. Lalu Luna tersenyum tipis. “kalau nanti kariermu runtuh gara gara aku, kamu nyesel nggak.”
“enggak. Karena yang aku dapat jauh lebih berharga.”
“apa”
“kamu.”
Luna langsung menutup wajah dengan kedua tangan. “ya ampun jangan ngomong gitu tiba tiba.”
Adrian tertawa kecil, lalu dengan hati hati menurunkan tangan Luna dari wajahnya. Mata mereka bertemu.
“serius. Kamu itu alasan aku kuat.”
Luna merasakan pipinya panas. Untuk sesaat, dunia di sekeliling seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua.
“aku… aku nggak tahu harus jawab apa” kata Luna terbata.
“nggak usah jawab sekarang. Cukup kamu tahu.”
Detik itu, meski gosip di luar sana makin gila, di ruangan kecil itu hati mereka terasa aman.
Tiba tiba notifikasi ponsel berbunyi lagi. Ada ratusan mention baru. Luna membuka dengan setengah hati. Kali ini fans terbagi dua kubu: ada yang membela, ada yang menghujat.
“aku capek lihat orang ngata ngatain kamu” kata Adrian.
“aku juga capek” kata Luna pelan.
Adrian mendekat, meraih tangan Luna dan menggenggamnya erat. “kalau kamu capek, sandar ke aku. Aku nggak akan pergi.”
Dan Luna, tanpa berpikir panjang, akhirnya benar benar menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian.
“makasih ya” bisiknya.
“selalu” jawab Adrian lembut.
Malam itu gosip masih bergulir, media masih menggila, tapi di balik semua itu tumbuh sesuatu yang lebih kuat. Kepercayaan. Rasa nyaman. Dan benih cinta yang makin sulit disembunyikan.
Pagi itu ia bangun dengan notifikasi meledak di HP. Grup chat timnya rame, DM penuh, mention di Twitter seperti hujan deras. Dengan mata masih lengket, Luna membuka satu link yang paling atas.
Judul besar terpampang di layar:
“Politisi Muda dan Gamer Cantik Tertangkap di Hotel Mewah?”
Luna terlonjak duduk. “apa ini…” bisiknya.
Ia scroll ke bawah. Ada foto dirinya sedang duduk di kasur hotel dengan kaos longgar. Di sebelahnya ada Adrian, tanpa jas, hanya dengan kemeja yang kancingnya terbuka sedikit. Pose mereka terlihat… intim.
Padahal itu jelas jelas palsu.
“ini editan! sumpah ini editan!” kata Luna panik. Ia langsung telepon Adrian.
“halo” kata Adrian dengan suara mengantuk.
“kamu buka berita belum” kata Luna terburu buru.
“belum. Kenapa”
“astaga kamu harus lihat. Ada foto kita. Di hotel. Aku bahkan nggak pernah masuk hotel itu. Ini gila!”
Adrian langsung terdengar terbangun. “tenang. Aku ke tempatmu sekarang.”
Setengah jam kemudian Adrian muncul di depan rumah kontrakan Luna. Rambutnya masih berantakan, wajahnya tegang. Luna berdiri di pintu sambil memegang ponsel.
“hai” kata Luna lirih.
“hai” kata Adrian cepat. “aku sudah lihat. Itu jelas jelas editan kasar. Tapi masalahnya orang nggak peduli itu palsu atau asli.”
Luna menggigit bibir. “aku takut reputasiku hancur. Aku baru mau bangun karier. Kalau semua orang percaya aku cuma numpang naik lewat kamu gimana.”
Adrian menatapnya dalam. “aku di sini. Kita hadapi bareng.”
Luna terdiam. Ia ingin marah, ingin nangis, tapi begitu melihat wajah Adrian yang penuh keyakinan, hatinya sedikit tenang.
Mereka masuk ke ruang tamu. TV menyala menayangkan infotainment yang sama. Hostnya dengan nada sok misterius berkata, “apakah ini bukti bahwa hubungan politisi muda dan gamer cantik lebih dari sekadar profesional.”
Luna menutup wajah dengan bantal. “aku malu banget. Semua orang ngomongin kita.”
Adrian duduk di sampingnya. “biarin orang ngomong. Yang penting kita tahu kebenarannya.”
“kamu nggak marah? Nama kamu juga jelek jadinya.”
Adrian menghela napas. “aku sudah biasa difitnah di politik. Tapi kamu… kamu nggak seharusnya kena ini.”
Ia menepuk lembut tangan Luna. Luna menoleh. Ada ketulusan di mata Adrian yang sulit dipalsukan.
“hai” kata Luna pelan.
“hai” kata Adrian sambil tersenyum tipis. “aku janji aku bakal cari siapa dalangnya.”
Luna mendengus. “kamu kayak film detektif aja.”
“kalau demi kamu, aku rela jadi apa aja.”
Deg. Lagi lagi kalimat itu sukses bikin Luna salah tingkah. Ia buru buru berdiri, pura pura sibuk merapikan meja. “kamu ini kenapa sih suka banget bikin aku bingung.”
Adrian hanya menatapnya sambil terkekeh.
Hari itu mereka memutuskan tidak keluar rumah. Media sudah berkeliaran di depan kafe gaming, paparazzi menunggu di jalan. Adrian membeli makanan lewat ojek online, dan mereka makan berdua di ruang kecil itu.
Saat sedang makan ayam geprek, Luna berkata pelan, “aku beneran takut. Kalau gosip ini nggak berhenti gimana.”
Adrian menatapnya serius. “denger ya Luna. Kamu bukan alat politik. Kamu bukan bayangan siapa pun. Kamu itu… kamu. Gamer jenius yang aku kagumi. Dan gosip nggak bisa mengubah itu.”
Luna terdiam lama. Lalu senyum kecil muncul di bibirnya. “kamu sadar nggak, kamu makin pinter ngomong.”
Adrian terkekeh. “aku kan politisi. Tapi kali ini bukan pidato. Ini beneran dari hati.”
Luna memandangnya, dan entah kenapa hatinya bergetar. Ia menunduk cepat cepat.
Malamnya, mereka duduk di balkon sempit sambil menatap langit kota yang penuh lampu. Suasana lebih tenang. Angin berhembus lembut.
“hai” kata Luna tiba tiba.
“hai” kata Adrian sambil meliriknya.
“kenapa kamu selalu muncul setiap aku butuh.”
Adrian menghela napas pelan. “karena aku nggak mau kamu hadapi ini sendirian.”
Hening sejenak. Lalu Luna tersenyum tipis. “kalau nanti kariermu runtuh gara gara aku, kamu nyesel nggak.”
“enggak. Karena yang aku dapat jauh lebih berharga.”
“apa”
“kamu.”
Luna langsung menutup wajah dengan kedua tangan. “ya ampun jangan ngomong gitu tiba tiba.”
Adrian tertawa kecil, lalu dengan hati hati menurunkan tangan Luna dari wajahnya. Mata mereka bertemu.
“serius. Kamu itu alasan aku kuat.”
Luna merasakan pipinya panas. Untuk sesaat, dunia di sekeliling seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua.
“aku… aku nggak tahu harus jawab apa” kata Luna terbata.
“nggak usah jawab sekarang. Cukup kamu tahu.”
Detik itu, meski gosip di luar sana makin gila, di ruangan kecil itu hati mereka terasa aman.
Tiba tiba notifikasi ponsel berbunyi lagi. Ada ratusan mention baru. Luna membuka dengan setengah hati. Kali ini fans terbagi dua kubu: ada yang membela, ada yang menghujat.
“aku capek lihat orang ngata ngatain kamu” kata Adrian.
“aku juga capek” kata Luna pelan.
Adrian mendekat, meraih tangan Luna dan menggenggamnya erat. “kalau kamu capek, sandar ke aku. Aku nggak akan pergi.”
Dan Luna, tanpa berpikir panjang, akhirnya benar benar menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian.
“makasih ya” bisiknya.
“selalu” jawab Adrian lembut.
Malam itu gosip masih bergulir, media masih menggila, tapi di balik semua itu tumbuh sesuatu yang lebih kuat. Kepercayaan. Rasa nyaman. Dan benih cinta yang makin sulit disembunyikan.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...