Bab 13 Misi Pembersihan Nama
Kota masih gaduh dengan gosip tentang mereka. Media gosip online tak pernah berhenti menayangkan headline baru setiap hari.
“Politisi Muda Main Hati dengan Gamer Cantik”
“Skandal Live Stream: Cinta atau Settingan?”
“Luna Naik Daun Karena Adrian?”
Semua itu menghantam Luna tanpa ampun. Ia membaca judul-judul berita itu sambil memeluk lutut di sofa. Rasanya seperti setiap kalimat adalah jarum menusuk.
Sementara di seberang ruangan, Adrian sibuk menjawab telepon. Suaranya terdengar tegas, keras, penuh wibawa. “tidak, itu framing. Luna tidak ada hubungannya dengan keputusan partai. Jangan coba-coba pakai namanya buat isu murahan. Kalau kalian berani tayangin lagi tanpa bukti, saya tuntut.”
Luna melirik sekilas. Hatinya campur aduk. Ada rasa terharu karena Adrian membela habis-habisan, tapi juga takut. Takut kalau semakin ia dibela, makin banyak yang bilang ia hanya bayangan Adrian.
“hai” kata Luna pelan begitu Adrian menutup telepon.
Adrian menoleh. “hai.”
“kenapa kamu repot banget ngurusin aku. Kamu kan punya karier politik sendiri.”
Adrian berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. “karier bisa jatuh bangun, Luna. Tapi kalau orang yang aku peduliin diinjak-injak, aku nggak bisa diam.”
Luna menunduk. “tapi semua orang mikir aku cuma nempel di kamu.”
Adrian tersenyum tipis. “biar mereka mikir. Tugas kita bukan ngatur pikiran semua orang. Tugas kita nunjukin siapa kita sebenarnya.”
Luna menatapnya. Pandangannya dalam, seolah mencari jawaban di wajah Adrian. “kamu nggak capek? Dihujat, difitnah, dituduh macem-macem.”
“capek” jawab Adrian jujur. “tapi aku lebih capek kalau lihat kamu terluka sendirian.”
Kalimat itu membuat pipi Luna merona. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. “duh kenapa kamu ngomong gitu sih… bikin aku nggak bisa marah lagi.”
Adrian terkekeh pelan. “ya bagus dong. Berarti aku efektif.”
Keesokan harinya, Adrian benar-benar melancarkan misi pembersihan nama. Ia menggelar konferensi pers. Kamera media berderet, kilatan lampu tak henti-henti.
“isu yang beredar beberapa minggu terakhir mengenai saya dan Luna adalah fitnah” kata Adrian dengan suara tegas. “Luna adalah seorang gamer berbakat, mandiri, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Dia bukan alat politik saya, bukan tameng citra saya. Jika ada pihak yang terus memelintir fakta, kami akan menempuh jalur hukum.”
Di belakang panggung, Luna menonton sambil menggenggam tangannya sendiri. Ia bisa melihat aura Adrian yang berbeda. Laki-laki itu benar-benar sosok pemimpin, bukan hanya pria konyol yang gagal headshot di game. Dan entah kenapa, hatinya bergetar melihat Adrian berani menghadapi dunia demi dirinya.
Setelah acara selesai, Adrian turun dari panggung. Ia langsung menghampiri Luna.
“hai” kata Luna, tersenyum kecil.
“hai” balas Adrian, wajahnya masih berkeringat tapi matanya berbinar. “aku tadi keren nggak.”
Luna mengangkat alis. “sedikit.”
“sedikit aja?” Adrian pura-pura kecewa.
Luna terkikik. “ya… mungkin lebih dari sedikit.”
Adrian menatapnya dalam. “aku nggak peduli kalau reputasiku dipertaruhkan. Yang penting kamu bisa bebas main game tanpa bayangan gosip murahan itu.”
“tapi Adrian…” Luna menggigit bibir. “kalau karier politikmu jatuh gara-gara aku gimana?”
“kalau jatuh, aku bangun lagi. Tapi kalau aku kehilangan kamu, aku nggak yakin bisa nemuin lagi.”
Luna membeku. Kata-kata itu menusuk langsung ke hati. Ia mencoba menyembunyikan wajah yang memerah, tapi Adrian sudah melihat.
“kamu jahat” gumam Luna.
“kenapa.”
“karena kamu bikin aku meleleh tiap ngomong kayak gitu.”
Adrian tersenyum lembut lalu meraih tangannya. “kalau meleleh, biar aku yang jagain serpihannya.”
Luna spontan menutup wajah dengan tangan satunya. “ya ampun… gombalnya over banget.”
Tapi senyumnya jelas tak bisa disembunyikan.
Beberapa hari kemudian, hasil misi pembersihan nama mulai terlihat. Artikel-artikel gosip menghilang satu per satu. Media besar mulai menulis narasi berbeda: “Adrian Tegaskan Dukungan untuk Gamer Lokal” atau “Luna, Talenta Baru Esports yang Patut Diikuti.”
Fans pun ikut berbalik arah. Banyak yang menulis di chat saat Luna live:
“maaf ya kemarin aku salah sangka. Kamu emang keren banget”
“semangat kak Luna, kami percaya sama kamu.”
Luna membaca komentar itu dengan mata berkaca-kaca. Rasanya seperti beban berat terangkat dari pundaknya.
Saat ia mematikan stream, Adrian muncul dari balik pintu dengan wajah lega.
“lihat, aku bilang juga apa. Orang akan lihat siapa kamu sebenarnya.”
“hai” kata Luna sambil tersenyum manis.
“hai.”
“makasih ya Adrian. Kalau nggak ada kamu, aku mungkin udah nyerah.”
Adrian menggeleng. “kamu nggak akan nyerah. Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir. Aku cuma dorong dikit.”
Luna mendekat, jaraknya hanya sejengkal dari Adrian. Jantungnya berdegup cepat. “kamu tau nggak… kamu bikin aku bingung. Antara mau marah sama kamu atau malah…”
“malah apa.”
“malah jatuh hati.”
Adrian terdiam sejenak. Senyum perlahan terukir di wajahnya. Ia mendekat sedikit, jaraknya makin tipis. “kalau gitu… jangan bingung. Jatuh hati aja sekalian.”
Luna menatapnya dengan wajah merah padam. “kamu bikin aku malu.”
“nggak apa-apa. Malu itu tanda hati kamu lagi jujur.”
Mereka berdua tertawa kecil, lalu terjebak dalam tatapan yang panjang. Udara di antara mereka hangat, penuh sesuatu yang tak terucap tapi terasa jelas.
Malam itu, di balkon apartemen, mereka duduk berdua menatap langit. Kota di bawah terlihat penuh cahaya.
“aku dulu cuma gadis miskin yang main game buat kabur dari kenyataan” kata Luna lirih. “aku nggak pernah nyangka hidupku bisa seribet ini. Tapi juga… seindah ini.”
Adrian menoleh. “aku dulu cuma anak muda ambisius yang mikir politik itu satu-satunya jalan buat berarti. Tapi setelah ketemu kamu, aku baru sadar… arti itu bisa datang dari orang yang kita sayang.”
Luna terdiam. Lalu pelan-pelan, ia menyandarkan kepala di bahu Adrian.
“hai” bisiknya.
“hai” jawab Adrian sambil tersenyum, menatap langit malam.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua gosip, semua hujatan, semua tekanan, Luna merasa benar-benar tenang.
“Politisi Muda Main Hati dengan Gamer Cantik”
“Skandal Live Stream: Cinta atau Settingan?”
“Luna Naik Daun Karena Adrian?”
Semua itu menghantam Luna tanpa ampun. Ia membaca judul-judul berita itu sambil memeluk lutut di sofa. Rasanya seperti setiap kalimat adalah jarum menusuk.
Sementara di seberang ruangan, Adrian sibuk menjawab telepon. Suaranya terdengar tegas, keras, penuh wibawa. “tidak, itu framing. Luna tidak ada hubungannya dengan keputusan partai. Jangan coba-coba pakai namanya buat isu murahan. Kalau kalian berani tayangin lagi tanpa bukti, saya tuntut.”
Luna melirik sekilas. Hatinya campur aduk. Ada rasa terharu karena Adrian membela habis-habisan, tapi juga takut. Takut kalau semakin ia dibela, makin banyak yang bilang ia hanya bayangan Adrian.
“hai” kata Luna pelan begitu Adrian menutup telepon.
Adrian menoleh. “hai.”
“kenapa kamu repot banget ngurusin aku. Kamu kan punya karier politik sendiri.”
Adrian berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. “karier bisa jatuh bangun, Luna. Tapi kalau orang yang aku peduliin diinjak-injak, aku nggak bisa diam.”
Luna menunduk. “tapi semua orang mikir aku cuma nempel di kamu.”
Adrian tersenyum tipis. “biar mereka mikir. Tugas kita bukan ngatur pikiran semua orang. Tugas kita nunjukin siapa kita sebenarnya.”
Luna menatapnya. Pandangannya dalam, seolah mencari jawaban di wajah Adrian. “kamu nggak capek? Dihujat, difitnah, dituduh macem-macem.”
“capek” jawab Adrian jujur. “tapi aku lebih capek kalau lihat kamu terluka sendirian.”
Kalimat itu membuat pipi Luna merona. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. “duh kenapa kamu ngomong gitu sih… bikin aku nggak bisa marah lagi.”
Adrian terkekeh pelan. “ya bagus dong. Berarti aku efektif.”
Keesokan harinya, Adrian benar-benar melancarkan misi pembersihan nama. Ia menggelar konferensi pers. Kamera media berderet, kilatan lampu tak henti-henti.
“isu yang beredar beberapa minggu terakhir mengenai saya dan Luna adalah fitnah” kata Adrian dengan suara tegas. “Luna adalah seorang gamer berbakat, mandiri, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Dia bukan alat politik saya, bukan tameng citra saya. Jika ada pihak yang terus memelintir fakta, kami akan menempuh jalur hukum.”
Di belakang panggung, Luna menonton sambil menggenggam tangannya sendiri. Ia bisa melihat aura Adrian yang berbeda. Laki-laki itu benar-benar sosok pemimpin, bukan hanya pria konyol yang gagal headshot di game. Dan entah kenapa, hatinya bergetar melihat Adrian berani menghadapi dunia demi dirinya.
Setelah acara selesai, Adrian turun dari panggung. Ia langsung menghampiri Luna.
“hai” kata Luna, tersenyum kecil.
“hai” balas Adrian, wajahnya masih berkeringat tapi matanya berbinar. “aku tadi keren nggak.”
Luna mengangkat alis. “sedikit.”
“sedikit aja?” Adrian pura-pura kecewa.
Luna terkikik. “ya… mungkin lebih dari sedikit.”
Adrian menatapnya dalam. “aku nggak peduli kalau reputasiku dipertaruhkan. Yang penting kamu bisa bebas main game tanpa bayangan gosip murahan itu.”
“tapi Adrian…” Luna menggigit bibir. “kalau karier politikmu jatuh gara-gara aku gimana?”
“kalau jatuh, aku bangun lagi. Tapi kalau aku kehilangan kamu, aku nggak yakin bisa nemuin lagi.”
Luna membeku. Kata-kata itu menusuk langsung ke hati. Ia mencoba menyembunyikan wajah yang memerah, tapi Adrian sudah melihat.
“kamu jahat” gumam Luna.
“kenapa.”
“karena kamu bikin aku meleleh tiap ngomong kayak gitu.”
Adrian tersenyum lembut lalu meraih tangannya. “kalau meleleh, biar aku yang jagain serpihannya.”
Luna spontan menutup wajah dengan tangan satunya. “ya ampun… gombalnya over banget.”
Tapi senyumnya jelas tak bisa disembunyikan.
Beberapa hari kemudian, hasil misi pembersihan nama mulai terlihat. Artikel-artikel gosip menghilang satu per satu. Media besar mulai menulis narasi berbeda: “Adrian Tegaskan Dukungan untuk Gamer Lokal” atau “Luna, Talenta Baru Esports yang Patut Diikuti.”
Fans pun ikut berbalik arah. Banyak yang menulis di chat saat Luna live:
“maaf ya kemarin aku salah sangka. Kamu emang keren banget”
“semangat kak Luna, kami percaya sama kamu.”
Luna membaca komentar itu dengan mata berkaca-kaca. Rasanya seperti beban berat terangkat dari pundaknya.
Saat ia mematikan stream, Adrian muncul dari balik pintu dengan wajah lega.
“lihat, aku bilang juga apa. Orang akan lihat siapa kamu sebenarnya.”
“hai” kata Luna sambil tersenyum manis.
“hai.”
“makasih ya Adrian. Kalau nggak ada kamu, aku mungkin udah nyerah.”
Adrian menggeleng. “kamu nggak akan nyerah. Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir. Aku cuma dorong dikit.”
Luna mendekat, jaraknya hanya sejengkal dari Adrian. Jantungnya berdegup cepat. “kamu tau nggak… kamu bikin aku bingung. Antara mau marah sama kamu atau malah…”
“malah apa.”
“malah jatuh hati.”
Adrian terdiam sejenak. Senyum perlahan terukir di wajahnya. Ia mendekat sedikit, jaraknya makin tipis. “kalau gitu… jangan bingung. Jatuh hati aja sekalian.”
Luna menatapnya dengan wajah merah padam. “kamu bikin aku malu.”
“nggak apa-apa. Malu itu tanda hati kamu lagi jujur.”
Mereka berdua tertawa kecil, lalu terjebak dalam tatapan yang panjang. Udara di antara mereka hangat, penuh sesuatu yang tak terucap tapi terasa jelas.
Malam itu, di balkon apartemen, mereka duduk berdua menatap langit. Kota di bawah terlihat penuh cahaya.
“aku dulu cuma gadis miskin yang main game buat kabur dari kenyataan” kata Luna lirih. “aku nggak pernah nyangka hidupku bisa seribet ini. Tapi juga… seindah ini.”
Adrian menoleh. “aku dulu cuma anak muda ambisius yang mikir politik itu satu-satunya jalan buat berarti. Tapi setelah ketemu kamu, aku baru sadar… arti itu bisa datang dari orang yang kita sayang.”
Luna terdiam. Lalu pelan-pelan, ia menyandarkan kepala di bahu Adrian.
“hai” bisiknya.
“hai” jawab Adrian sambil tersenyum, menatap langit malam.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua gosip, semua hujatan, semua tekanan, Luna merasa benar-benar tenang.
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...