Bab 15 Pertama Kali Bimbang
Malam di kota itu terasa lebih dingin dari biasanya. Luna duduk di balkon apartemennya, hoodie kebesaran menutupi tubuh mungilnya. Tangannya menggenggam cangkir cokelat panas, tapi hati tetap gelisah. Sejak rapat dewan kemarin, wajah Adrian tak pernah keluar dari pikirannya. Bukan wajah Adrian yang selalu terlihat tegas di depan kamera, melainkan sekilas sorot matanya yang lelah saat lampu sorot padam.
Ia selalu tampil kuat, seakan dunia tidak pernah bisa menjatuhkannya. Tapi Luna sempat melihat sesuatu… retakan kecil di balik dinding baja itu. Dan entah kenapa, hal itu membuat Luna bimbang.
Pintu apartemen diketuk.
“hai” kata Luna begitu membukanya.
“hai” jawab Adrian, kali ini dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Di tangannya ada map berisi dokumen. Matanya terlihat merah, mungkin karena kurang tidur.
“kamu kerja terus? Pulang jam segini? Jam udah lewat tengah malam, Adrian.”
Adrian hanya mengangkat bahu. “urusan dewan makin gila. Mereka nggak berhenti nyerang. Aku nggak bisa tidur kalau belum siapin jawaban.”
Luna menghela napas. “masuk dulu. Duduk. Aku bikinin teh.”
Adrian menurut, duduk di sofa kecil. Map dibuka, kertas kertas berserakan. Luna menatapinya sambil menyeduh teh. Dari jauh ia melihat Adrian mengusap wajah dengan kedua tangan, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan di depan publik.
“kamu kelihatan capek banget” kata Luna sambil meletakkan teh di meja.
Adrian tersenyum kecut. “capek itu nama tengahku sekarang.”
“kamu boleh berhenti sebentar, tau.”
“nggak bisa. Kalau aku berhenti, mereka menang. Dan kalau mereka menang, nama kamu juga ikut diinjak.”
Luna terdiam. Lagi lagi ia merasa bersalah.
Ia duduk di sampingnya. “aku beneran nggak enak. Semua ini gara gara aku.”
Adrian menoleh cepat. “jangan pernah bilang gitu. Kamu bukan penyebab, kamu alasan aku bertahan.”
Luna terdiam. Dadanya hangat, tapi juga bingung. Kenapa kalimat sederhana darinya bisa begitu menggetarkan hati?
Jam sudah hampir satu dini hari. Adrian akhirnya merebahkan tubuh di sofa, map dibiarkan terbuka. Luna berdiri di samping, menatapnya. Untuk pertama kalinya ia melihat Adrian tertidur tanpa masker kekuatan itu. Napasnya berat, alis sedikit mengerut, seperti menanggung beban yang terlalu besar.
Luna berjongkok di samping sofa. Tangannya hampir menyentuh wajah Adrian tapi ia buru buru menarik kembali.
“kenapa kamu bikin aku bingung banget sih” bisiknya lirih. “kamu bikin aku kagum. Tapi juga takut.”
Mata Adrian perlahan terbuka. “aku kedengeran tadi.”
Luna terlonjak. “hah? Aku ngomong ya?”
Adrian tersenyum samar, masih setengah mengantuk. “iya. Kamu bilang kamu kagum sama aku.”
Pipi Luna langsung merah. “kamu pura pura tidur ya.”
“enggak. Tapi kata katanya bikin aku pengen bangun.”
“kamu jahat.”
“kenapa.”
“karena bikin aku malu.”
Adrian tertawa kecil, lalu bangkit duduk. “Luna, aku bukan superman. Aku juga bisa capek, bisa jatuh. Aku cuma… pengen kamu tau aku nggak selalu kuat.”
Luna menatapnya. Sorot mata itu begitu jujur, rapuh tapi hangat. Untuk pertama kalinya, ia melihat Adrian sebagai manusia biasa, bukan politisi sempurna. Dan justru itulah yang membuat Luna kagum.
“hai” kata Luna pelan.
“hai” balas Adrian lembut.
“kalau kamu capek, sandar aja. Aku bisa jadi tempat kamu istirahat.”
Adrian terdiam sejenak, lalu senyum tipis menghiasi wajahnya. “boleh ya.”
Luna mengangguk, lalu dengan hati hati Adrian menyandarkan kepala di bahu Luna.
Jantung Luna berdegup kencang. Rasanya seperti dunia berhenti berputar.
Beberapa menit mereka hanya diam, mendengar detak jantung masing masing. Luna berusaha tidak bergerak, takut momen itu hilang.
“aku harusnya malu, kan? Politisi muda tidur di bahu gamer imut.” Adrian bergumam.
“lebih malu lagi kalau gamer imutnya malah senyum senyum sendiri.” Luna membalas cepat.
Adrian mendongak. “jadi kamu senyum?”
“ah, nggak usah kepo.” Luna buru buru menoleh ke arah lain, pipinya merah.
Adrian terkekeh. “aku seneng. Aku pengen kamu senyum terus.”
“kamu tuh… bisa nggak sih sekali aja nggak bikin aku deg degan.”
“nggak bisa.”
Luna mendesah, lalu menatapnya lagi. “aku jadi bimbang, Adrian. Antara aku harus jaga jarak biar karierku aman, atau aku… biarin diriku jatuh.”
Adrian menggenggam tangannya erat. “kalau kamu jatuh, aku janji aku bakal nangkep.”
Kata kata itu sederhana, tapi rasanya seperti janji terbesar di dunia.
Keesokan paginya, Luna terbangun lebih dulu. Adrian masih tidur di sofa, wajahnya lebih tenang. Luna menatapnya lama.
“kamu ternyata rapuh juga ya” gumamnya sambil tersenyum kecil. “dan entah kenapa, aku suka lihat sisi ini.”
Adrian tiba tiba membuka mata. “aku masih bisa denger, tau.”
“hah?! Kamu lagi lagi pura pura tidur?!”
Adrian tertawa pelan. “aku nggak pura pura. Aku cuma pengen denger kamu jujur.”
Luna melempar bantal kecil ke arahnya. “kamu menyebalkan!”
Adrian menangkap bantal itu sambil tertawa. “tapi kamu suka, kan?”
Luna menunduk, wajahnya merah padam. “aku… aku nggak jawab.”
Adrian mendekat, jaraknya tinggal sejengkal. “jawaban kamu udah kelihatan dari wajahmu.”
Luna menutup wajah dengan kedua tangan. “aduh aku nyesel ngomong apapun tadi malam.”
Adrian menarik perlahan tangannya dari wajahnya. “jangan nyesel. Karena buat aku, itu momen paling jujur yang pernah ada.”
Luna menatapnya lama. Ia masih bimbang, tapi rasa kagum dan sayang itu semakin sulit dibendung.
“hai” bisik Luna.
“hai” jawab Adrian, senyumnya hangat.
Mereka terdiam, saling menatap, seolah dunia luar tidak ada. Dan untuk pertama kalinya, Luna sadar kebimbangannya bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa hatinya benar benar sedang jatuh.
Ia selalu tampil kuat, seakan dunia tidak pernah bisa menjatuhkannya. Tapi Luna sempat melihat sesuatu… retakan kecil di balik dinding baja itu. Dan entah kenapa, hal itu membuat Luna bimbang.
Pintu apartemen diketuk.
“hai” kata Luna begitu membukanya.
“hai” jawab Adrian, kali ini dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Di tangannya ada map berisi dokumen. Matanya terlihat merah, mungkin karena kurang tidur.
“kamu kerja terus? Pulang jam segini? Jam udah lewat tengah malam, Adrian.”
Adrian hanya mengangkat bahu. “urusan dewan makin gila. Mereka nggak berhenti nyerang. Aku nggak bisa tidur kalau belum siapin jawaban.”
Luna menghela napas. “masuk dulu. Duduk. Aku bikinin teh.”
Adrian menurut, duduk di sofa kecil. Map dibuka, kertas kertas berserakan. Luna menatapinya sambil menyeduh teh. Dari jauh ia melihat Adrian mengusap wajah dengan kedua tangan, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan di depan publik.
“kamu kelihatan capek banget” kata Luna sambil meletakkan teh di meja.
Adrian tersenyum kecut. “capek itu nama tengahku sekarang.”
“kamu boleh berhenti sebentar, tau.”
“nggak bisa. Kalau aku berhenti, mereka menang. Dan kalau mereka menang, nama kamu juga ikut diinjak.”
Luna terdiam. Lagi lagi ia merasa bersalah.
Ia duduk di sampingnya. “aku beneran nggak enak. Semua ini gara gara aku.”
Adrian menoleh cepat. “jangan pernah bilang gitu. Kamu bukan penyebab, kamu alasan aku bertahan.”
Luna terdiam. Dadanya hangat, tapi juga bingung. Kenapa kalimat sederhana darinya bisa begitu menggetarkan hati?
Jam sudah hampir satu dini hari. Adrian akhirnya merebahkan tubuh di sofa, map dibiarkan terbuka. Luna berdiri di samping, menatapnya. Untuk pertama kalinya ia melihat Adrian tertidur tanpa masker kekuatan itu. Napasnya berat, alis sedikit mengerut, seperti menanggung beban yang terlalu besar.
Luna berjongkok di samping sofa. Tangannya hampir menyentuh wajah Adrian tapi ia buru buru menarik kembali.
“kenapa kamu bikin aku bingung banget sih” bisiknya lirih. “kamu bikin aku kagum. Tapi juga takut.”
Mata Adrian perlahan terbuka. “aku kedengeran tadi.”
Luna terlonjak. “hah? Aku ngomong ya?”
Adrian tersenyum samar, masih setengah mengantuk. “iya. Kamu bilang kamu kagum sama aku.”
Pipi Luna langsung merah. “kamu pura pura tidur ya.”
“enggak. Tapi kata katanya bikin aku pengen bangun.”
“kamu jahat.”
“kenapa.”
“karena bikin aku malu.”
Adrian tertawa kecil, lalu bangkit duduk. “Luna, aku bukan superman. Aku juga bisa capek, bisa jatuh. Aku cuma… pengen kamu tau aku nggak selalu kuat.”
Luna menatapnya. Sorot mata itu begitu jujur, rapuh tapi hangat. Untuk pertama kalinya, ia melihat Adrian sebagai manusia biasa, bukan politisi sempurna. Dan justru itulah yang membuat Luna kagum.
“hai” kata Luna pelan.
“hai” balas Adrian lembut.
“kalau kamu capek, sandar aja. Aku bisa jadi tempat kamu istirahat.”
Adrian terdiam sejenak, lalu senyum tipis menghiasi wajahnya. “boleh ya.”
Luna mengangguk, lalu dengan hati hati Adrian menyandarkan kepala di bahu Luna.
Jantung Luna berdegup kencang. Rasanya seperti dunia berhenti berputar.
Beberapa menit mereka hanya diam, mendengar detak jantung masing masing. Luna berusaha tidak bergerak, takut momen itu hilang.
“aku harusnya malu, kan? Politisi muda tidur di bahu gamer imut.” Adrian bergumam.
“lebih malu lagi kalau gamer imutnya malah senyum senyum sendiri.” Luna membalas cepat.
Adrian mendongak. “jadi kamu senyum?”
“ah, nggak usah kepo.” Luna buru buru menoleh ke arah lain, pipinya merah.
Adrian terkekeh. “aku seneng. Aku pengen kamu senyum terus.”
“kamu tuh… bisa nggak sih sekali aja nggak bikin aku deg degan.”
“nggak bisa.”
Luna mendesah, lalu menatapnya lagi. “aku jadi bimbang, Adrian. Antara aku harus jaga jarak biar karierku aman, atau aku… biarin diriku jatuh.”
Adrian menggenggam tangannya erat. “kalau kamu jatuh, aku janji aku bakal nangkep.”
Kata kata itu sederhana, tapi rasanya seperti janji terbesar di dunia.
Keesokan paginya, Luna terbangun lebih dulu. Adrian masih tidur di sofa, wajahnya lebih tenang. Luna menatapnya lama.
“kamu ternyata rapuh juga ya” gumamnya sambil tersenyum kecil. “dan entah kenapa, aku suka lihat sisi ini.”
Adrian tiba tiba membuka mata. “aku masih bisa denger, tau.”
“hah?! Kamu lagi lagi pura pura tidur?!”
Adrian tertawa pelan. “aku nggak pura pura. Aku cuma pengen denger kamu jujur.”
Luna melempar bantal kecil ke arahnya. “kamu menyebalkan!”
Adrian menangkap bantal itu sambil tertawa. “tapi kamu suka, kan?”
Luna menunduk, wajahnya merah padam. “aku… aku nggak jawab.”
Adrian mendekat, jaraknya tinggal sejengkal. “jawaban kamu udah kelihatan dari wajahmu.”
Luna menutup wajah dengan kedua tangan. “aduh aku nyesel ngomong apapun tadi malam.”
Adrian menarik perlahan tangannya dari wajahnya. “jangan nyesel. Karena buat aku, itu momen paling jujur yang pernah ada.”
Luna menatapnya lama. Ia masih bimbang, tapi rasa kagum dan sayang itu semakin sulit dibendung.
“hai” bisik Luna.
“hai” jawab Adrian, senyumnya hangat.
Mereka terdiam, saling menatap, seolah dunia luar tidak ada. Dan untuk pertama kalinya, Luna sadar kebimbangannya bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa hatinya benar benar sedang jatuh.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...