Romance Reloaded

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
30
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bab 16 No Scope Save

Arena turnamen dipenuhi ribuan penonton. Lampu neon berkedip, layar raksasa menampilkan nama nama tim, dan sorakan penonton membuat dinding bergetar. Luna duduk di kursinya, headset menutupi telinga, jari jari lentiknya sudah siap di atas keyboard dan mouse. Tapi entah kenapa, malam ini hatinya gelisah.

Tim lawan terlalu licik. Ada rumor mereka menyuap teknisi agar setting game sedikit delay di komputer Luna. Dan benar saja, beberapa ronde pertama terasa aneh. Crosshair Luna meleset setengah detik, pergerakannya tak sehalus biasanya.

“kenapa aim aku kayak nggak nyambung gini” bisik Luna dengan suara panik.

Rekan setimnya mencoba menenangkan. “fokus aja, Luna. Kita masih bisa menang.”

Tapi ronde demi ronde berjalan, tim mereka tertinggal jauh. Chat penonton mulai panas. Ada yang mendukung, ada yang menghujat.

Luna menggigit bibirnya. “aku nggak boleh kalah… bukan sekarang.”

Layar besar menyorot wajahnya. Wajah cantik itu terlihat tegang, mata tajam tapi ada kegelisahan yang sulit disembunyikan.

Dan tiba tiba sorakan penonton berubah.

Luna menoleh ke tribun. Jantungnya hampir berhenti ketika melihat Adrian masuk. Dia tidak memakai jas politik, hanya hoodie sederhana, tapi tubuh atletis dan aura percaya dirinya langsung mencuri perhatian. Adrian melambaikan tangan, senyumnya diarahkan hanya pada satu orang: Luna.

“hai” kata Luna lirih di balik mic, meski Adrian jelas tidak bisa mendengarnya.

Adrian tersenyum, seolah bisa membaca bibirnya. Dia mengangkat tangannya, mengepalkan tinju lalu menepuk dadanya, tanda dukungan penuh.

Hati Luna tiba tiba hangat. Semua rasa gelisah mendadak runtuh.

Ronde berikutnya dimulai. Tim lawan mencoba menekan. Luna masih merasa ada delay, tapi kini ia fokus pada satu hal tatapan Adrian dari tribun.

“aku harus menang. Aku harus buktiin kalau aku bukan alat siapa siapa. Aku adalah aku.”

Tangannya menari di atas keyboard. Satu musuh tumbang, dua musuh tumbang. Penonton bersorak keras. Layar menyorot Luna, wajahnya kini berubah dari tegang jadi percaya diri.

“nice shot Luna!” teriak temannya.

Luna hanya tersenyum. Dalam hati, ia berkata, “terima kasih Adrian.”

Skor akhirnya imbang. Semua bergantung pada ronde terakhir. Situasi 1 vs 4. Hanya Luna yang tersisa di timnya.

“wah ini mustahil” komentar caster di layar. “nggak mungkin Luna bisa clutch sendirian.”

Tapi sorot kamera menangkap sesuatu—Adrian berdiri di tribun, kedua tangannya membentuk simbol hati. Penonton teriak histeris.

Luna melihat itu. Pipi merahnya terlihat jelas di layar besar.

“hai” kata Luna pelan sambil tersenyum.

Jari jarinya kembali menari.

Musuh pertama datang dari sisi kiri no scope. Headshot. Penonton berdiri.

Musuh kedua coba flank dari kanan Luna refleks lompat, no scope lagi. Headshot. Arena meledak oleh sorakan.

Musuh ketiga berusaha pasang bom—Luna melempar granat tepat di kakinya. Boom.

Kini tinggal satu.

Jantung Luna berdegup kencang. Waktu hampir habis. Delay masih ada, tapi entah kenapa matanya terasa lebih tajam. Seakan dunia melambat.

Dia menarik napas dalam dalam. “ini untuk aku dan untuk dia.”

Klik. Satu tembakan terakhir. No scope sempurna.

Headshot.

Arena pecah oleh teriakan. Penonton melompat, berteriak histeris. Layar besar menampilkan “VICTORY LUNA MVP”.

Luna melepaskan headset, napasnya terengah. Matanya langsung mencari satu sosok di tribun.

Adrian berdiri, tepuk tangan keras, matanya penuh kebanggaan.

Luna tidak tahan lagi. Ia berlari turun dari panggung, menembus kerumunan, lalu berhenti tepat di depannya.

“hai” kata Luna sambil tersenyum lebar, pipinya masih merah.

“hai” balas Adrian, suaranya serak karena berteriak.

“kamu lihat kan? Aku bisa menang.”

“aku bukan cuma lihat. Aku bangga banget.”

Penonton bersorak melihat adegan itu. Kamera TV menangkap momen keduanya berdiri berhadapan, seperti adegan drama romantis di tengah turnamen.

Adrian mendekat, suaranya rendah hanya untuk Luna. “aku tau kamu kuat. Tapi kamu bikin aku jatuh cinta tiap kali kamu buktiin lagi.”

Luna terdiam, jantungnya seperti meledak.

“jangan ngomong gitu di depan kamera dong. Aku bisa pingsan.”

Adrian tertawa kecil. “kalau kamu pingsan, aku yang gendong.”

“kamu gila.”

“gila sama kamu.”

Luna menutup wajahnya dengan tangan. “aduh please stop, aku bisa mati malu.”

Tapi Adrian menarik tangannya perlahan. “jangan tutup wajahmu. Senyummu terlalu berharga buat disembunyiin.”

Penonton histeris, seakan tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar turnamen.

Setelah acara selesai, Luna dan Adrian duduk berdua di ruang belakang. Suasana lebih tenang.

“aku masih nggak percaya kamu beneran datang” kata Luna sambil menyeruput air mineral.

“aku janji bakal selalu ada buat kamu, kan.”

“kamu tau nggak, pas aku lihat kamu di tribun, delay komputerku kayak hilang. Aku jadi bisa fokus lagi.”

Adrian tersenyum. “jadi aku cheat code kamu, ya.”

Luna tertawa. “lebih kayak buff permanen.”

“aku suka itu. Berarti aku harus terus di samping kamu biar buff nya nggak hilang.”

Luna memutar mata, tapi pipinya merah. “kamu tuh suka banget bikin aku deg degan.”

“dan kamu suka itu.”

“ya mungkin.”

Mereka terdiam sebentar. Adrian mendekat, jarak hanya sejengkal.

“Luna” bisiknya.

“hai” kata Luna, suara lirih tapi manis.

“aku nggak peduli politik, gosip, atau apa pun. Malam ini aku cuma liat kamu. Dan aku sadar, aku nggak bisa berhenti.”

Luna menatap matanya. Hatinya penuh.

“aku bimbang, Adrian. Tapi kalau aku jatuh… jangan biarin aku jatuh sendirian.”

Adrian menggenggam tangannya erat. “aku janji. Aku akan selalu nangkep kamu.”

Luna tersenyum, mata berkaca kaca. “kamu tau nggak, kamu bikin aku makin sayang.”

Adrian menunduk, menyentuh keningnya ke kening Luna. “dan kamu bikin aku nggak bisa balik lagi. Aku udah terlalu dalam.”

Momen itu berlangsung lama. Sweet, lembut, uwuw banget. Dunia seakan hilang, hanya ada mereka berdua.

Dan di luar, meski sorakan penonton sudah reda, gema kemenangan Luna masih terasa. Bukan hanya kemenangan di turnamen, tapi juga kemenangan hatinya sendiri.

Other Stories
Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Download Titik & Koma