Romance Reloaded

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
30
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bab 23 Konflik Internal

Hari berikutnya terasa berbeda bagi Luna. Ia bangun dengan semangat baru karena merasa lebih tenang setelah semalam curhat dan dipeluk Adrian. Walau masih ada rasa malu setiap kali mengingat momen itu tapi ia tidak bisa menutupi kenyataan bahwa hatinya sedikit lebih ringan. Pagi ini Adrian benar benar menepati janjinya. Ia datang membawa sarapan sederhana nasi uduk lengkap dengan telur dadar dan sambal kacang.

Luna tertawa ketika melihat Adrian datang dengan plastik besar. Kamu kira aku punya keluarga besar berapa orang sampai bawa segini banyak katanya sambil menunjuk plastik itu. Adrian hanya nyengir lalu duduk di kursi kayu yang bunyinya berderit. Aku tidak tahu porsi makan gamer katanya. Kalau main game bisa sampai delapan jam siapa tahu butuh tenaga ekstra.

Mereka makan sambil bercanda kecil. Namun kebahagiaan singkat itu tidak bertahan lama. Siang harinya Luna harus bertemu dengan timnya untuk sesi latihan bersama. Tim ini terdiri dari empat orang lain yang sudah lama mengenalnya. Mereka adalah Riko sang kapten yang tegas tapi sering marah marah Tasha support yang cerewet Bagas sniper cadangan yang suka bercanda dan Kevin rusher yang selalu penuh energi.

Luna datang sedikit terlambat karena Adrian mengantarnya dengan mobil. Begitu masuk ke ruang latihan semua mata langsung tertuju pada Adrian yang berjalan di belakangnya sambil membawa minuman botol. Riko menatap tajam lalu bersuara dingin. Jadi sekarang kita latihan ditemani politisi ya.

Luna langsung merasa suasana jadi kaku. Ia mencoba menenangkan. Tenang Adrian hanya mengantar saja kok. Tapi Adrian malah nyelonong ke dalam dan meletakkan minuman di meja. Aku hanya ingin memastikan kalian semua tetap segar katanya santai.

Tasha melipat tangan di dada. Bukannya kita butuh manajer profesional bukan politisi iseng. Kevin ikut menimpali. Benar lagian kalau gosip makin banyak bukannya nama tim jadi rusak. Bagas yang biasanya santai pun menambahkan. Jujur saja kehadiran dia bikin fokus kita pecah.

Luna terdiam merasa serba salah. Adrian masih berdiri dengan wajah datar mencoba menjaga wibawa. Tapi jelas ia tidak nyaman. Riko lalu menatap Luna. Kamu kapten kedua di tim ini tapi akhir akhir ini kamu lebih sering bersama dia daripada bersama kami. Kamu sadar tidak latihan kita jadi berantakan.

Luna ingin membantah tapi lidahnya kelu. Ia tahu memang akhir akhir ini pikirannya terbagi. Ia sibuk dengan gosip media ancaman sasaeng dan tentu saja kehadiran Adrian. Semua bercampur jadi satu.

Adrian akhirnya membuka suara. Aku tidak berniat mengganggu. Aku hanya ingin membantu semampuku. Kalau kalian merasa tidak nyaman aku bisa menjauh.

Namun Riko tidak puas. Masalahnya bukan cuma nyaman atau tidak. Masalahnya ini dunia kompetitif. Satu gosip bisa merusak reputasi tim. Kalau kamu gagal jaga jarak semua kerja keras kita bisa sia sia.

Ucapan itu menusuk hati Luna. Ia merasa disalahkan padahal ia tidak berniat merusak tim. Adrian menatapnya sekilas seolah meminta izin untuk bicara lebih lanjut tapi Luna menunduk. Ia tidak ingin Adrian jadi sasaran lebih banyak.

Suasana makin panas ketika Tasha bersuara lagi. Luna kamu harus pilih. Fokus sama tim atau terus biarkan politisi ini ikut campur.

Ruangan menjadi hening. Semua menunggu jawaban Luna. Hatinya berdebar kencang. Ia ingin membela Adrian tapi ia juga tahu timnya benar. Jika reputasi hancur bukan hanya dirinya yang rugi tapi juga empat orang lain yang sudah percaya padanya.

Akhirnya Luna berkata dengan suara pelan. Aku tidak pernah berniat mengabaikan tim. Aku hanya merasa aman ketika ada Adrian. Aku tahu kalian tidak suka tapi aku juga tidak bisa pura pura kalau aku sedang butuh seseorang di sisiku.

Riko menghela napas keras. Jadi itu jawabanmu. Kalau begitu jangan salahkan kami kalau chemistry tim terganggu.

Latihan pun berjalan dengan tegang. Komunikasi tidak lancar. Riko sering menyalahkan Luna atas kesalahan kecil. Tasha terlihat malas bicara. Kevin mencoba mencairkan suasana tapi gagal. Bagas malah sibuk memainkan ponsel.

Adrian yang duduk di pojok hanya bisa menonton dengan wajah gelisah. Ia merasa jadi penyebab keretakan tim. Saat istirahat ia menghampiri Luna yang duduk termenung. Maaf karena aku semua jadi kacau katanya lirih. Luna menoleh. Jangan minta maaf. Kamu tidak salah. Aku hanya belum bisa menyeimbangkan semuanya.

Adrian mencoba bercanda. Kalau begitu aku harus daftar jadi anggota tim saja biar dianggap bagian resmi. Luna menatapnya dengan wajah antara ingin tertawa dan ingin marah. Jangan bikin tambah kacau. Kalau kamu gabung tim mungkin kita kalah sebelum bertanding.

Keduanya tertawa kecil. Namun tawa itu tidak cukup menutup rasa bersalah yang terus menghantui.

Malamnya setelah latihan selesai Riko memanggil Luna untuk bicara empat mata. Aku tahu kamu jago aku tahu kamu punya mimpi besar tapi kalau terus begini aku khawatir tim hancur. Kamu harus ingat e sport itu bukan hanya soal skill individu tapi soal kekompakan.

Luna mengangguk pelan. Ia tidak bisa menyangkal. Setelah itu ia pulang bersama Adrian yang tetap menunggu di luar. Di dalam mobil Luna terdiam lama. Adrian menatapnya lalu berkata. Aku bisa menjauh kalau itu yang terbaik. Aku tidak ingin jadi alasan kamu kehilangan tim.

Luna cepat cepat menggeleng. Jangan. Aku hanya perlu cari cara agar mereka mengerti. Aku butuh kamu tapi aku juga butuh tim.

Adrian tersenyum samar. Kamu selalu bilang tidak mau kalah. Mungkin ini saatnya buktikan kalau kamu bisa menang bukan hanya di game tapi juga dalam menjaga hubungan dengan orang orang di sekitarmu.

Ucapan itu membuat Luna sedikit tersenyum. Kamu benar. Tapi kalau aku gagal bagaimana. Adrian menoleh serius. Kalau kamu gagal aku akan tetap ada.

Hening sejenak mengisi mobil. Luna menatap keluar jendela tapi matanya berkaca kaca. Ia tidak pernah merasa segalau ini. Namun di balik semua kebingungan ia tahu satu hal. Kehadiran Adrian membuatnya lebih kuat.

Sesampainya di rumah Luna duduk di kursi sambil menutup wajah dengan tangan. Hari itu melelahkan secara mental. Ia ingin berteriak ingin marah ingin menangis tapi tidak bisa. Adrian berdiri di dekat pintu menatapnya lama.

Kalau kamu mau aku bisa jadi samsak pukul. Pukul saja aku sampai lega katanya tiba tiba. Luna spontan tertawa di sela air mata. Dasar gila.

Tapi tawanya kemudian berubah jadi tangisan kecil. Adrian mendekat lagi dan tanpa banyak bicara memegang tangannya. Kamu tidak sendiri. Ingat itu.

Luna menatap wajah Adrian. Ada rasa hangat yang membuatnya ingin percaya. Meski timnya marah meski gosip bertebaran meski ancaman sasaeng makin menakutkan ada seseorang yang tidak pergi. Dan itu cukup untuk memberinya kekuatan bertahan.

Malam itu Luna menulis catatan kecil di buku harian yang jarang ia sentuh. Hari ini tim marah padaku. Aku bingung. Tapi aku juga merasa ada cahaya baru. Mungkin aku bisa menghadapi semuanya selama aku tidak sendirian.

Other Stories
Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Download Titik & Koma