Bab 17 Badai Netizen
Kemenangan Luna di turnamen malam itu masih jadi topik nomor satu di dunia maya. Timeline penuh cuplikan headshot terakhirnya. Video slow motion dengan musik dramatis beredar, judul judul clickbait muncul di mana mana.
“gadis miskin clutch paling gila di panggung dunia mini”
“no scope save of the year”
“politisi muda muncul di tribun bikin gamer cantik makin semangat”
Komentar netizen terbagi jadi dua.
Ada yang kagum. “Luna queen clutch”
Ada yang sinis. “gamer murahan cari sensasi pake politisi”
Ada juga yang jahil. “wah politisi norak sok sokan ikut dunia gaming”
Timeline berubah jadi medan perang.
Luna menatap layar ponselnya sambil menghela napas. Ia duduk di sofa apartemen kecilnya, hoodie kebesaran menutupi tubuh mungilnya. Pipinya masih sembab karena kelelahan, tapi matanya tetap bersinar.
“kenapa orang orang suka banget bikin drama” gumamnya.
Tiba tiba ada ketukan di pintu.
“hai” kata Luna pelan, membuka pintu.
Adrian berdiri di sana, masih dengan hoodie yang sama semalam. Rambutnya sedikit acak acakan, wajahnya capek tapi senyum tetap ada.
“hai” balas Adrian. “aku boleh masuk? Aku bawa sarapan.”
Luna langsung tersenyum. “boleh banget. Masuk aja.”
Adrian masuk membawa kantong kertas berisi roti hangat dan kopi. Mereka duduk berdampingan di sofa sempit itu, pemandangan yang kontras: seorang politisi muda terkenal duduk di apartemen sederhana bersama gadis gamer viral.
“kamu udah lihat medsos?” tanya Adrian sambil menyerahkan kopi.
“udah. Dan aku pusing. Setengah orang bilang aku keren, setengah lagi bilang aku murahan. Aku bingung harus seneng apa sedih.”
Adrian menatapnya lembut. “menurutku kamu harus fokus sama kenyataannya. Kenyataannya kamu menang. Kamu buktiin kalau kamu jenius. Itu nggak bisa diputar balik sama omongan orang.”
Luna terdiam.
“tapi Adrian, kamu sendiri juga dihina. Netizen bilang kamu norak. Politisi nggak pantas campur urusan gamer. Apa kamu nggak nyesel muncul di tribun kemarin?”
Adrian menghela napas, lalu tersenyum tipis. “kalau aku bisa ulang lagi, aku bakal tetap datang. Karena aku nggak peduli mereka bilang apa. Yang penting aku ada di sana waktu kamu butuh.”
Hati Luna bergetar.
“hai” kata Luna lirih sambil menunduk.
“hai” balas Adrian dengan suara hangat.
“kenapa kamu selalu bisa bikin aku meleleh gini.”
“karena aku serius.” Adrian meraih tangannya. “aku nggak peduli dunia politik, gosip, atau komentar netizen. Yang aku peduliin cuma satu. Kamu.”
Luna terdiam lama. Ia menatap tangannya yang digenggam erat. Rasanya hangat sekali.
“kamu tau nggak, waktu aku hampir kalah, aku bener bener mau nangis. Tapi aku lihat kamu di tribun, aku jadi kuat lagi. Itu gila. Aku pikir aku nggak boleh bergantung sama siapa siapa. Tapi ternyata aku bergantung sama kamu.”
Adrian menatap dalam. “dan aku nggak pernah keberatan jadi tempat kamu bergantung.”
Luna tersenyum kecil, matanya berkaca kaca.
Siang itu, timeline semakin panas. Ada tagar trending: #LunaMurahan dan #AdrianNorak, tapi juga #LunaQueen dan #HeadshotOfLove.
Media gosip menulis artikel kontroversial. Fans esports membuat thread panjang membela Luna. Politisi lawan Adrian memanfaatkan momen untuk menyindir.
Adrian membaca semua itu, lalu menoleh ke Luna. “lihat kan, mereka bisa ngomong apa aja. Tapi kita masih duduk di sini, makan roti, minum kopi, ketawa bareng. Itu realita kita.”
Luna tertawa kecil. “kamu bener juga. Kadang aku lupa kalau dunia maya itu cuma dunia maya. Yang nyata itu sekarang.”
Mereka berdua hening sejenak. Lalu Luna mendekatkan kepala ke bahu Adrian.
“hai” kata Luna dengan suara manja.
Adrian tersenyum. “hai juga.”
“jangan kemana mana ya. Aku takut kalau kamu pergi, aku jatuh.”
Adrian menepuk kepalanya lembut. “aku nggak bakal kemana mana. Aku bakal selalu nangkep kamu.”
Luna memejamkan mata, menikmati ketenangan itu.
Malamnya, Luna memutuskan untuk melakukan livestream. Chat langsung membludak.
“Luna queen ❤️”
“murahan”
“politisi norak wkwk”
“aku dukung kamu”
Luna menatap kamera. “hai semua. Aku tau belakangan banyak gosip soal aku. Ada yang bilang aku keren, ada yang bilang aku murahan. Aku nggak bisa ngontrol apa yang orang pikirin. Tapi aku cuma mau bilang satu hal. Aku main game karena aku cinta. Aku mau jadi juara dunia karena itu mimpi aku. Kalau ada orang yang mau dukung aku, aku terima dengan senang hati. Tapi kalau ada yang benci, nggak apa apa. Aku tetap aku.”
Chat langsung meledak. Banyak yang tersentuh, banyak juga yang makin nyinyir.
Di tengah stream itu, Adrian masuk membawa segelas teh hangat. Kamera menangkapnya. Penonton langsung histeris.
“wah politisi norak nongol”
“uwuw sweet banget”
“headshot of love part 2”
Luna menoleh, wajahnya merah. “hai” kata Luna sambil menahan tawa.
“hai” balas Adrian cuek. “lanjut aja streamnya. Aku cuma numpang jadi cameo.”
Chat makin gila.
Setelah stream selesai, Luna menutup laptop dan langsung menyandarkan kepala ke dada Adrian.
“aku capek. Netizen nggak ada habisnya.”
Adrian membelai rambutnya. “kamu nggak sendiri. Kita hadapi bareng bareng.”
“kamu yakin? Karena gosipnya makin gila. Bisa aja karier politik kamu hancur.”
Adrian tersenyum. “kalau pilihan aku cuma karier atau kamu, aku pilih kamu.”
Luna terdiam. Kata kata itu menusuk dalam sekaligus manis.
“kamu tau nggak, kamu bikin aku makin jatuh.”
Adrian mendekat, menempelkan keningnya ke kening Luna. “dan aku nggak akan biarin kamu jatuh sendirian.”
Luna menutup mata, menikmati detik detik itu. “hai” kata Luna pelan.
“hai” jawab Adrian dengan senyum penuh cinta.
Momen itu sederhana tapi terasa besar. Di luar sana dunia maya ribut, gosip terus berputar. Tapi di dalam kamar kecil itu, dua hati bertemu tanpa peduli apa kata orang.
Dan mungkin, justru badai netizen itulah yang makin menguatkan ikatan mereka. Karena semakin keras dunia berusaha memisahkan, semakin erat mereka berpegangan.
“gadis miskin clutch paling gila di panggung dunia mini”
“no scope save of the year”
“politisi muda muncul di tribun bikin gamer cantik makin semangat”
Komentar netizen terbagi jadi dua.
Ada yang kagum. “Luna queen clutch”
Ada yang sinis. “gamer murahan cari sensasi pake politisi”
Ada juga yang jahil. “wah politisi norak sok sokan ikut dunia gaming”
Timeline berubah jadi medan perang.
Luna menatap layar ponselnya sambil menghela napas. Ia duduk di sofa apartemen kecilnya, hoodie kebesaran menutupi tubuh mungilnya. Pipinya masih sembab karena kelelahan, tapi matanya tetap bersinar.
“kenapa orang orang suka banget bikin drama” gumamnya.
Tiba tiba ada ketukan di pintu.
“hai” kata Luna pelan, membuka pintu.
Adrian berdiri di sana, masih dengan hoodie yang sama semalam. Rambutnya sedikit acak acakan, wajahnya capek tapi senyum tetap ada.
“hai” balas Adrian. “aku boleh masuk? Aku bawa sarapan.”
Luna langsung tersenyum. “boleh banget. Masuk aja.”
Adrian masuk membawa kantong kertas berisi roti hangat dan kopi. Mereka duduk berdampingan di sofa sempit itu, pemandangan yang kontras: seorang politisi muda terkenal duduk di apartemen sederhana bersama gadis gamer viral.
“kamu udah lihat medsos?” tanya Adrian sambil menyerahkan kopi.
“udah. Dan aku pusing. Setengah orang bilang aku keren, setengah lagi bilang aku murahan. Aku bingung harus seneng apa sedih.”
Adrian menatapnya lembut. “menurutku kamu harus fokus sama kenyataannya. Kenyataannya kamu menang. Kamu buktiin kalau kamu jenius. Itu nggak bisa diputar balik sama omongan orang.”
Luna terdiam.
“tapi Adrian, kamu sendiri juga dihina. Netizen bilang kamu norak. Politisi nggak pantas campur urusan gamer. Apa kamu nggak nyesel muncul di tribun kemarin?”
Adrian menghela napas, lalu tersenyum tipis. “kalau aku bisa ulang lagi, aku bakal tetap datang. Karena aku nggak peduli mereka bilang apa. Yang penting aku ada di sana waktu kamu butuh.”
Hati Luna bergetar.
“hai” kata Luna lirih sambil menunduk.
“hai” balas Adrian dengan suara hangat.
“kenapa kamu selalu bisa bikin aku meleleh gini.”
“karena aku serius.” Adrian meraih tangannya. “aku nggak peduli dunia politik, gosip, atau komentar netizen. Yang aku peduliin cuma satu. Kamu.”
Luna terdiam lama. Ia menatap tangannya yang digenggam erat. Rasanya hangat sekali.
“kamu tau nggak, waktu aku hampir kalah, aku bener bener mau nangis. Tapi aku lihat kamu di tribun, aku jadi kuat lagi. Itu gila. Aku pikir aku nggak boleh bergantung sama siapa siapa. Tapi ternyata aku bergantung sama kamu.”
Adrian menatap dalam. “dan aku nggak pernah keberatan jadi tempat kamu bergantung.”
Luna tersenyum kecil, matanya berkaca kaca.
Siang itu, timeline semakin panas. Ada tagar trending: #LunaMurahan dan #AdrianNorak, tapi juga #LunaQueen dan #HeadshotOfLove.
Media gosip menulis artikel kontroversial. Fans esports membuat thread panjang membela Luna. Politisi lawan Adrian memanfaatkan momen untuk menyindir.
Adrian membaca semua itu, lalu menoleh ke Luna. “lihat kan, mereka bisa ngomong apa aja. Tapi kita masih duduk di sini, makan roti, minum kopi, ketawa bareng. Itu realita kita.”
Luna tertawa kecil. “kamu bener juga. Kadang aku lupa kalau dunia maya itu cuma dunia maya. Yang nyata itu sekarang.”
Mereka berdua hening sejenak. Lalu Luna mendekatkan kepala ke bahu Adrian.
“hai” kata Luna dengan suara manja.
Adrian tersenyum. “hai juga.”
“jangan kemana mana ya. Aku takut kalau kamu pergi, aku jatuh.”
Adrian menepuk kepalanya lembut. “aku nggak bakal kemana mana. Aku bakal selalu nangkep kamu.”
Luna memejamkan mata, menikmati ketenangan itu.
Malamnya, Luna memutuskan untuk melakukan livestream. Chat langsung membludak.
“Luna queen ❤️”
“murahan”
“politisi norak wkwk”
“aku dukung kamu”
Luna menatap kamera. “hai semua. Aku tau belakangan banyak gosip soal aku. Ada yang bilang aku keren, ada yang bilang aku murahan. Aku nggak bisa ngontrol apa yang orang pikirin. Tapi aku cuma mau bilang satu hal. Aku main game karena aku cinta. Aku mau jadi juara dunia karena itu mimpi aku. Kalau ada orang yang mau dukung aku, aku terima dengan senang hati. Tapi kalau ada yang benci, nggak apa apa. Aku tetap aku.”
Chat langsung meledak. Banyak yang tersentuh, banyak juga yang makin nyinyir.
Di tengah stream itu, Adrian masuk membawa segelas teh hangat. Kamera menangkapnya. Penonton langsung histeris.
“wah politisi norak nongol”
“uwuw sweet banget”
“headshot of love part 2”
Luna menoleh, wajahnya merah. “hai” kata Luna sambil menahan tawa.
“hai” balas Adrian cuek. “lanjut aja streamnya. Aku cuma numpang jadi cameo.”
Chat makin gila.
Setelah stream selesai, Luna menutup laptop dan langsung menyandarkan kepala ke dada Adrian.
“aku capek. Netizen nggak ada habisnya.”
Adrian membelai rambutnya. “kamu nggak sendiri. Kita hadapi bareng bareng.”
“kamu yakin? Karena gosipnya makin gila. Bisa aja karier politik kamu hancur.”
Adrian tersenyum. “kalau pilihan aku cuma karier atau kamu, aku pilih kamu.”
Luna terdiam. Kata kata itu menusuk dalam sekaligus manis.
“kamu tau nggak, kamu bikin aku makin jatuh.”
Adrian mendekat, menempelkan keningnya ke kening Luna. “dan aku nggak akan biarin kamu jatuh sendirian.”
Luna menutup mata, menikmati detik detik itu. “hai” kata Luna pelan.
“hai” jawab Adrian dengan senyum penuh cinta.
Momen itu sederhana tapi terasa besar. Di luar sana dunia maya ribut, gosip terus berputar. Tapi di dalam kamar kecil itu, dua hati bertemu tanpa peduli apa kata orang.
Dan mungkin, justru badai netizen itulah yang makin menguatkan ikatan mereka. Karena semakin keras dunia berusaha memisahkan, semakin erat mereka berpegangan.
Other Stories
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...