Bab 29 Ancaman Nyata
Hari besar itu akhirnya tiba. Luna berdiri di balik panggung megah yang dihiasi lampu warna warni. Event internasional esports dimulai dengan meriah. Ribuan penonton memenuhi arena, kamera televisi internasional menyorot ke setiap sudut, musik pembuka menggelegar hingga lantai bergetar. Jantung Luna berdetak sangat cepat, bukan hanya karena pertandingan yang akan ia hadapi, tapi juga karena semua masalah fitnah yang belum lama ini selesai.
Kevin menghampiri sambil membawa headset baru. Kau siap kan Luna. Hari ini bukan hanya tentang tim lawan, tapi tentang membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya.
Luna tersenyum walau wajahnya pucat. Aku siap, aku harus siap.
Adrian datang mengenakan jas rapi meski ia bukan pemain. Dari jauh ia terlihat seperti tamu kehormatan, bahkan beberapa kamera sempat menyorot wajahnya. Ia mendekat dan berbisik ke Luna. Aku akan duduk di tribun depan, kalau kamu mulai gugup lihat saja ke arahku. Aku janji akan memberi semangat paling keras.
Luna menelan ludah lalu mengangguk. Kehangatan di mata Adrian memberinya rasa aman.
Pertandingan dimulai dengan sorakan ribuan penonton. Tim internasional lawan terlihat sangat percaya diri, bahkan ada satu pemain yang melambaikan tangan seakan mengejek. Luna memasang wajah serius. Jari jarinya menari di atas keyboard dengan cepat. Di ronde pertama ia berhasil melakukan clutch menakjubkan, membuat penonton bersorak histeris.
Namun di tengah keramaian ada seseorang yang memperhatikan dengan tatapan berbeda. Seorang pria berjaket hitam dengan topi menutupi wajahnya. Ia berjalan pelan di antara penonton sambil membawa tas besar. Tidak ada yang curiga karena arena dipenuhi orang. Tapi mata Adrian yang tajam menangkap gerakan itu.
Adrian merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia segera berdiri dan mencoba mendekat ke arah pria itu. Namun petugas keamanan menahan. Maaf Pak, pertandingan sedang berlangsung, tidak boleh jalan ke area penonton lain.
Adrian mencoba menjelaskan. Tolong dengarkan, pria itu mencurigakan, bisa jadi berbahaya.
Petugas ragu, tetapi sebelum bisa mengambil keputusan, pria berjaket hitam itu tiba tiba bergerak lebih cepat menuju pintu belakang panggung. Adrian langsung berlari melewati barisan penonton.
Di balik panggung, Luna baru saja melepas headset untuk beristirahat sejenak di sela ronde. Ia mengambil botol minum dan menghela napas panjang. Tiba tiba pintu kecil terbuka dengan kasar. Pria berjaket hitam itu muncul. Tatapannya tajam menakutkan.
Luna terperanjat. Siapa kamu.
Pria itu mendekat. Aku penggemar sejati, kau harus ikut denganku. Mereka semua tidak pantas memilikimu. Hanya aku yang benar benar mencintaimu.
Luna mundur dengan panik. Hatinya berdegup kencang. Ia tahu ini bukan penggemar biasa. Ini sasaeng yang selama ini mengganggunya.
Pria itu mengulurkan tangan mencoba menarik lengan Luna. Namun sebelum ia sempat menyentuh, Adrian menerjang dari samping. Tubuh mereka berdua jatuh menghantam lantai. Luna berteriak kaget.
Adrian menahan pria itu sambil berteriak ke arah pintu. Pengamanan tolong masuk.
Pria itu meronta dengan kekuatan besar. Ia berteriak histeris. Luna milikku, bukan milikmu politisi busuk.
Luna gemetar melihat adegan itu. Beberapa detik kemudian dua petugas keamanan masuk dan segera membantu Adrian menahan pria itu. Tas yang dibawa terjatuh, isinya berhamburan. Hanya botol minum dan banner lusuh, tidak ada senjata. Namun ancaman tetap terasa nyata.
Penonton yang awalnya tidak tahu kini mulai heboh. Beberapa kamera sempat merekam keributan itu dan langsung viral di media sosial.
Adrian berdiri dengan napas terengah, kemejanya berantakan. Ia menoleh ke Luna yang wajahnya pucat. Kamu tidak apa apa.
Luna mengangguk lemah. Aku kaget sekali. Aku kira hidupku berakhir.
Adrian mendekat lalu memeluk Luna erat. Jangan pernah bilang begitu lagi. Selama aku ada di sini aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu.
Kevin yang baru datang menatap adegan itu dengan bingung. Waduh ini panggung esports atau drama romantis. Aku telat lima menit langsung kelewat adegan pelukan klimaks.
Luna dan Adrian menoleh bersamaan, wajah mereka memerah. Adrian buru buru melepaskan pelukan tapi tangannya masih menahan pundak Luna.
Petugas keamanan membawa pria berjaket hitam itu keluar dengan borgol. Ia masih berteriak. Kalian tidak mengerti, aku satu satunya yang benar benar mencintainya.
Luna memejamkan mata, air matanya menetes. Suara itu begitu menakutkan sekaligus menyedihkan. Adrian mengusap pipinya dengan lembut. Jangan dengarkan kata katanya.
Kevin mencoba mencairkan suasana. Eh Luna, kalau nanti ada yang bilang cintanya tulus, pastikan dulu dia tidak bawa tas misterius ya.
Luna menahan tawa kecil di sela ketakutannya. Entah bagaimana Kevin selalu bisa membuat situasi gila menjadi sedikit lebih ringan.
Setelah keadaan tenang, pertandingan harus dilanjutkan. Banyak orang mendesak agar Luna tidak perlu main lagi karena trauma. Namun Luna menggeleng. Aku sudah sejauh ini, aku tidak boleh berhenti.
Adrian menatapnya ragu. Kamu yakin.
Luna tersenyum tipis. Aku tidak sendirian kan.
Adrian mengangguk lalu mengepalkan tangan. Kamu tidak sendirian.
Ketika Luna kembali ke panggung penonton memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Mereka seolah mendukung keberaniannya. Komentator bahkan berkata dengan suara lantang. Lihatlah semangat Luna, bahkan setelah insiden menakutkan, ia tetap memilih untuk bertanding.
Luna duduk kembali di kursi gamer, mengenakan headset, dan menatap layar monitor dengan tatapan membara. Jari jarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Di ronde berikutnya ia mengeksekusi no scope kill yang membuat arena gempar.
Adrian berdiri di tribun sambil berteriak paling keras. Itu Luna pacarku.
Semua orang menoleh ke arahnya. Kevin yang duduk di samping langsung menutup wajah dengan tangan. Ya ampun bro, seluruh dunia sekarang tahu.
Luna mendengar teriakan itu melalui celah headset. Wajahnya langsung merah padam, hampir kehilangan fokus. Untung ia cepat mengendalikan diri. Dalam hati ia menggerutu. Aku belum resmi bilang pacaran, kenapa dia sudah ngumumin ke dunia.
Namun perasaan hangat itu membuat semangatnya semakin kuat. Ia menutup ronde demi ronde dengan kemenangan telak. Tim lawan yang awalnya arogan kini terlihat frustasi.
Ketika pertandingan berakhir dengan skor kemenangan untuk tim Luna, seluruh arena bergemuruh. Kembang api kertas berhamburan dari langit langit. Kamera menyorot wajah Luna yang berkaca kaca, kali ini bukan karena takut, melainkan karena lega dan bahagia.
Adrian berlari ke arah panggung tanpa peduli protokol. Petugas mencoba menahan tapi ia sudah keburu naik. Luna berdiri mematung ketika Adrian meraih tangannya dan mengangkatnya tinggi di depan ribuan penonton.
Sorakan semakin menggila. Komentator berteriak. Tidak hanya kemenangan di panggung, sepertinya ada kemenangan di hati juga.
Luna ingin marah karena Adrian bertindak impulsif, tapi ia tidak bisa menahan senyum. Saat itu ia sadar, apa pun ancaman yang datang, selama ada Adrian dan orang orang yang ia percaya, ia tidak akan pernah kalah.
Kevin ikut naik panggung sambil membawa papan bertuliskan Sponsor Gratis untuk Tim Kami. Semua orang tertawa. Bahkan Luna yang sedang emosional ikut tertawa keras.
Malam itu meski ada ancaman sasaeng, babak final event internasional itu menjadi titik balik. Bukan hanya tentang kemenangan esport, tapi juga tentang cinta yang semakin jelas.
Kevin menghampiri sambil membawa headset baru. Kau siap kan Luna. Hari ini bukan hanya tentang tim lawan, tapi tentang membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya.
Luna tersenyum walau wajahnya pucat. Aku siap, aku harus siap.
Adrian datang mengenakan jas rapi meski ia bukan pemain. Dari jauh ia terlihat seperti tamu kehormatan, bahkan beberapa kamera sempat menyorot wajahnya. Ia mendekat dan berbisik ke Luna. Aku akan duduk di tribun depan, kalau kamu mulai gugup lihat saja ke arahku. Aku janji akan memberi semangat paling keras.
Luna menelan ludah lalu mengangguk. Kehangatan di mata Adrian memberinya rasa aman.
Pertandingan dimulai dengan sorakan ribuan penonton. Tim internasional lawan terlihat sangat percaya diri, bahkan ada satu pemain yang melambaikan tangan seakan mengejek. Luna memasang wajah serius. Jari jarinya menari di atas keyboard dengan cepat. Di ronde pertama ia berhasil melakukan clutch menakjubkan, membuat penonton bersorak histeris.
Namun di tengah keramaian ada seseorang yang memperhatikan dengan tatapan berbeda. Seorang pria berjaket hitam dengan topi menutupi wajahnya. Ia berjalan pelan di antara penonton sambil membawa tas besar. Tidak ada yang curiga karena arena dipenuhi orang. Tapi mata Adrian yang tajam menangkap gerakan itu.
Adrian merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia segera berdiri dan mencoba mendekat ke arah pria itu. Namun petugas keamanan menahan. Maaf Pak, pertandingan sedang berlangsung, tidak boleh jalan ke area penonton lain.
Adrian mencoba menjelaskan. Tolong dengarkan, pria itu mencurigakan, bisa jadi berbahaya.
Petugas ragu, tetapi sebelum bisa mengambil keputusan, pria berjaket hitam itu tiba tiba bergerak lebih cepat menuju pintu belakang panggung. Adrian langsung berlari melewati barisan penonton.
Di balik panggung, Luna baru saja melepas headset untuk beristirahat sejenak di sela ronde. Ia mengambil botol minum dan menghela napas panjang. Tiba tiba pintu kecil terbuka dengan kasar. Pria berjaket hitam itu muncul. Tatapannya tajam menakutkan.
Luna terperanjat. Siapa kamu.
Pria itu mendekat. Aku penggemar sejati, kau harus ikut denganku. Mereka semua tidak pantas memilikimu. Hanya aku yang benar benar mencintaimu.
Luna mundur dengan panik. Hatinya berdegup kencang. Ia tahu ini bukan penggemar biasa. Ini sasaeng yang selama ini mengganggunya.
Pria itu mengulurkan tangan mencoba menarik lengan Luna. Namun sebelum ia sempat menyentuh, Adrian menerjang dari samping. Tubuh mereka berdua jatuh menghantam lantai. Luna berteriak kaget.
Adrian menahan pria itu sambil berteriak ke arah pintu. Pengamanan tolong masuk.
Pria itu meronta dengan kekuatan besar. Ia berteriak histeris. Luna milikku, bukan milikmu politisi busuk.
Luna gemetar melihat adegan itu. Beberapa detik kemudian dua petugas keamanan masuk dan segera membantu Adrian menahan pria itu. Tas yang dibawa terjatuh, isinya berhamburan. Hanya botol minum dan banner lusuh, tidak ada senjata. Namun ancaman tetap terasa nyata.
Penonton yang awalnya tidak tahu kini mulai heboh. Beberapa kamera sempat merekam keributan itu dan langsung viral di media sosial.
Adrian berdiri dengan napas terengah, kemejanya berantakan. Ia menoleh ke Luna yang wajahnya pucat. Kamu tidak apa apa.
Luna mengangguk lemah. Aku kaget sekali. Aku kira hidupku berakhir.
Adrian mendekat lalu memeluk Luna erat. Jangan pernah bilang begitu lagi. Selama aku ada di sini aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu.
Kevin yang baru datang menatap adegan itu dengan bingung. Waduh ini panggung esports atau drama romantis. Aku telat lima menit langsung kelewat adegan pelukan klimaks.
Luna dan Adrian menoleh bersamaan, wajah mereka memerah. Adrian buru buru melepaskan pelukan tapi tangannya masih menahan pundak Luna.
Petugas keamanan membawa pria berjaket hitam itu keluar dengan borgol. Ia masih berteriak. Kalian tidak mengerti, aku satu satunya yang benar benar mencintainya.
Luna memejamkan mata, air matanya menetes. Suara itu begitu menakutkan sekaligus menyedihkan. Adrian mengusap pipinya dengan lembut. Jangan dengarkan kata katanya.
Kevin mencoba mencairkan suasana. Eh Luna, kalau nanti ada yang bilang cintanya tulus, pastikan dulu dia tidak bawa tas misterius ya.
Luna menahan tawa kecil di sela ketakutannya. Entah bagaimana Kevin selalu bisa membuat situasi gila menjadi sedikit lebih ringan.
Setelah keadaan tenang, pertandingan harus dilanjutkan. Banyak orang mendesak agar Luna tidak perlu main lagi karena trauma. Namun Luna menggeleng. Aku sudah sejauh ini, aku tidak boleh berhenti.
Adrian menatapnya ragu. Kamu yakin.
Luna tersenyum tipis. Aku tidak sendirian kan.
Adrian mengangguk lalu mengepalkan tangan. Kamu tidak sendirian.
Ketika Luna kembali ke panggung penonton memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Mereka seolah mendukung keberaniannya. Komentator bahkan berkata dengan suara lantang. Lihatlah semangat Luna, bahkan setelah insiden menakutkan, ia tetap memilih untuk bertanding.
Luna duduk kembali di kursi gamer, mengenakan headset, dan menatap layar monitor dengan tatapan membara. Jari jarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Di ronde berikutnya ia mengeksekusi no scope kill yang membuat arena gempar.
Adrian berdiri di tribun sambil berteriak paling keras. Itu Luna pacarku.
Semua orang menoleh ke arahnya. Kevin yang duduk di samping langsung menutup wajah dengan tangan. Ya ampun bro, seluruh dunia sekarang tahu.
Luna mendengar teriakan itu melalui celah headset. Wajahnya langsung merah padam, hampir kehilangan fokus. Untung ia cepat mengendalikan diri. Dalam hati ia menggerutu. Aku belum resmi bilang pacaran, kenapa dia sudah ngumumin ke dunia.
Namun perasaan hangat itu membuat semangatnya semakin kuat. Ia menutup ronde demi ronde dengan kemenangan telak. Tim lawan yang awalnya arogan kini terlihat frustasi.
Ketika pertandingan berakhir dengan skor kemenangan untuk tim Luna, seluruh arena bergemuruh. Kembang api kertas berhamburan dari langit langit. Kamera menyorot wajah Luna yang berkaca kaca, kali ini bukan karena takut, melainkan karena lega dan bahagia.
Adrian berlari ke arah panggung tanpa peduli protokol. Petugas mencoba menahan tapi ia sudah keburu naik. Luna berdiri mematung ketika Adrian meraih tangannya dan mengangkatnya tinggi di depan ribuan penonton.
Sorakan semakin menggila. Komentator berteriak. Tidak hanya kemenangan di panggung, sepertinya ada kemenangan di hati juga.
Luna ingin marah karena Adrian bertindak impulsif, tapi ia tidak bisa menahan senyum. Saat itu ia sadar, apa pun ancaman yang datang, selama ada Adrian dan orang orang yang ia percaya, ia tidak akan pernah kalah.
Kevin ikut naik panggung sambil membawa papan bertuliskan Sponsor Gratis untuk Tim Kami. Semua orang tertawa. Bahkan Luna yang sedang emosional ikut tertawa keras.
Malam itu meski ada ancaman sasaeng, babak final event internasional itu menjadi titik balik. Bukan hanya tentang kemenangan esport, tapi juga tentang cinta yang semakin jelas.
Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Tes
tes ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...