Romance Reloaded

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
30
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bab 24 Ciuman Salah Timing

Hari hari setelah konflik dengan tim terasa penuh ketegangan untuk Luna. Ia berusaha keras menjaga fokus di latihan tetapi tatapan Riko yang dingin dan sikap dingin Tasha membuatnya terus merasa bersalah. Kevin masih mencoba bersikap biasa saja namun jelas ia juga ikut tertekan. Bagas bahkan memilih banyak diam. Luna sadar betul semua ini karena kehadiran Adrian yang membuat suasana berubah.

Namun anehnya semakin tim menolak kehadiran Adrian semakin ia merasa membutuhkannya. Setiap kali Adrian datang membawakan makanan atau sekadar duduk diam menemaninya hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ada rasa nyaman yang tidak bisa ia tolak.

Hari itu latihan selesai lebih cepat dari biasanya karena suasana benar benar tidak kondusif. Riko memutuskan bubar lebih dulu dengan wajah kesal. Tasha hanya mengucapkan selamat tinggal singkat. Kevin menepuk bahu Luna sambil berbisik semangat terus. Bagas melambaikan tangan lalu pergi.

Luna masih duduk di kursi sambil menatap layar monitor yang sudah mati. Adrian yang sejak tadi menunggu di luar masuk pelan pelan. Wajahnya terlihat ragu apakah harus mendekat atau tidak. Kamu baik baik saja tanya Adrian. Luna hanya mengangguk pelan. Tidak apa apa jawabnya meski jelas ia tidak baik baik saja.

Adrian duduk di sebelahnya lalu membuka botol minum. Ia memberikan pada Luna. Minum dulu biar segar katanya. Luna menerimanya dan meneguk sedikit. Setelah itu ia menatap Adrian dengan mata lelah.

Kadang aku ingin kabur saja dari semua ini ucapnya. Adrian menatapnya lama. Kalau kamu mau aku bisa ikut kabur. Kita pergi ke tempat sepi main game berdua tanpa kamera tanpa gosip tanpa politik.

Luna terdiam lalu tersenyum kecil. Ide itu kedengarannya bodoh tapi manis. Kamu tidak bisa begitu. Dunia tidak akan berhenti hanya karena kita ingin kabur.

Adrian mengangkat bahu. Dunia memang tidak berhenti tapi tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk bernapas.

Kalimat itu membuat Luna merasa hangat. Ia menatap wajah Adrian yang terlihat serius tapi ada kelembutan di matanya. Untuk beberapa detik dunia seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Entah siapa yang mulai duluan tapi jarak wajah mereka semakin dekat. Jantung Luna berdebar keras. Bibir mereka hampir bersentuhan. Ia bisa merasakan hangat napas Adrian.

Namun tepat pada saat itu pintu ruangan terbuka. Suara keras membuat keduanya tersentak. Riko berdiri di pintu dengan wajah datar sambil memegang charger yang ternyata tertinggal. Matanya langsung melebar melihat posisi Luna dan Adrian yang begitu dekat.

Suasana membeku. Luna buru buru menjauh dengan wajah merah padam. Adrian cepat cepat berdiri sambil batuk pura pura. Riko hanya mengangkat alis. Maaf aku salah masuk katanya datar lalu mengambil chargernya. Sebelum keluar ia sempat melirik mereka dengan tatapan penuh arti.

Begitu pintu tertutup Luna menutupi wajah dengan kedua tangan. Ya Tuhan kenapa harus sekarang. Adrian mencoba menahan tawa tapi akhirnya malah tertawa keras. Luna memukul lengannya kesal. Jangan ketawa ini memalukan.

Adrian masih tertawa. Maaf tapi wajahmu barusan benar benar lucu. Merah seperti tomat. Luna semakin malu. Kamu pikir ini lucu. Nanti gosipnya makin gila.

Adrian menghela napas lalu menatap Luna. Gosip bisa kita hadapi. Yang penting jangan menyesal karena momen tadi gagal.

Luna menoleh cepat. Kamu bicara apa. Adrian tersenyum nakal. Aku bicara tentang ciuman yang hampir terjadi.

Pipi Luna makin panas. Ia mengambil bantal kursi lalu melemparkannya ke wajah Adrian. Diam jangan ngomong sembarangan. Adrian menyingkirkan bantal itu sambil terus tersenyum. Aku hanya bilang hampir. Itu fakta.

Luna berdiri lalu berjalan cepat keluar ruangan. Adrian mengejarnya sambil tertawa. Mereka berdua akhirnya keluar gedung latihan sambil masih saling goda.

Di luar udara sore terasa sejuk. Luna berjalan cepat dengan wajah merah sedangkan Adrian berjalan santai di sampingnya. Aku tidak percaya kamu bisa setenang itu setelah hampir ketahuan kata Luna. Adrian menjawab ringan. Aku sudah sering ketahuan hal hal lebih parah di dunia politik. Ini kecil.

Luna mendengus. Perbandingan macam apa itu. Adrian tertawa lagi. Kalau dipikir pikir mungkin ini pertama kali aku merasa ketahuan justru menyenangkan.

Luna berhenti melangkah dan menatapnya. Kamu aneh. Adrian balas menatapnya. Aku memang aneh tapi anehku selalu untukmu.

Hening sesaat membuat hati Luna berdebar lagi. Untung ada pedagang gorengan lewat sambil berteriak tahu tahu panas. Suasana canggung pecah. Luna langsung membeli tahu isi dua bungkus untuk mengalihkan perasaan. Adrian ikut membeli bakwan.

Mereka duduk di bangku pinggir jalan sambil makan gorengan. Luna menggigit tahu isi terlalu cepat sehingga mulutnya kepanasan. Ia bersuara ah panas panas sambil mengibaskan tangan. Adrian cepat cepat memberikan botol minumnya.

Minum dulu katanya. Luna meneguk dengan cepat lalu menatapnya. Kamu ini bikin malu saja orang lain lihat kita pasti kira pasangan aneh.

Adrian tersenyum. Kalau mereka kira kita pasangan ya biarkan saja. Aku tidak keberatan.

Luna nyaris tersedak lagi. Ia menepuk dadanya lalu memalingkan wajah. Kamu benar benar tidak punya filter.

Malamnya setelah Adrian mengantar pulang Luna masuk ke kamar dengan pikiran penuh. Bayangan hampir ciuman tadi terus muncul di kepalanya. Ia menutup wajah dengan bantal sambil berteriak pelan. Kenapa harus kepergok.

Namun di balik rasa malu ada rasa hangat yang tidak bisa ia pungkiri. Ia sadar perasaannya pada Adrian semakin kuat. Meski dunia luar penuh gosip meski timnya marah besar ada bagian dari dirinya yang tidak ingin melepaskan pria itu.

Sementara di mobil Adrian masih tersenyum sendiri. Hampir bukan berarti gagal pikirnya. Akan ada waktu lain yang lebih tepat.

Malam itu keduanya tidur dengan hati yang sama sama berdebar. Bukan karena ancaman sasaeng bukan karena gosip media melainkan karena sesuatu yang jauh lebih sederhana. Rasa suka yang tumbuh di antara mereka meski selalu muncul di saat yang salah.





Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Download Titik & Koma