Bab 22 Romantis Tak Terduga
Hari berganti dengan cepat. Setelah kejadian paket aneh itu Luna mencoba menjalani aktivitas seperti biasa. Ia tetap melakukan streaming di kamar kecilnya dengan komputer rakitan yang sering ngadat. Wajahnya tetap menampilkan senyum untuk para penonton tapi di balik layar pikirannya penuh bayangan boneka tusuk jarum yang kemarin dikirim.
Adrian sempat mampir sore hari membawa beberapa makanan. Katanya ia hanya ingin memastikan Luna makan dengan benar karena ia tahu Luna sering lupa makan saat sibuk streaming. Luna awalnya menolak karena merasa direcoki tapi akhirnya menerima juga sambil menggerutu.
Ketika kamera sudah mati dan stream selesai Luna duduk diam menatap layar monitor yang sudah gelap. Kepalanya terasa berat. Ia ingin menangis tapi menahan diri. Selama ini ia dikenal sebagai gadis tangguh yang bisa menghadapi komentar netizen pedas. Namun ancaman sasaeng kali ini benar benar membuatnya merasa kecil dan sendirian.
Adrian duduk tidak jauh darinya sambil membuka bungkus makanan. Ia tidak banyak bicara hanya sesekali melirik Luna. Lama kelamaan ia menyadari kalau Luna menunduk terlalu lama. Bahunya bergetar pelan. Adrian tahu itu tanda ia menahan tangis.
Luna kamu baik baik saja tanyanya pelan. Luna tidak menjawab. Air matanya akhirnya keluar begitu saja. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Aku capek bisiknya nyaris tak terdengar. Aku tidak mau kalah aku ingin terus main aku ingin jadi juara dunia tapi aku capek.
Adrian terdiam beberapa detik lalu berdiri dan mendekat. Ia tidak tahu harus bicara apa. Dunia politik yang ia jalani selama ini penuh debat dan kata kata pintar. Tapi melihat Luna menangis ia sadar tidak ada kalimat manis yang bisa membantu. Ia hanya bisa memeluknya.
Luna awalnya kaget ketika tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat Adrian. Ia sempat ingin menolak tapi pelukan itu membuatnya merasa aman. Dadanya yang sesak sedikit demi sedikit terasa lega. Adrian tidak banyak bicara hanya menepuk bahunya pelan seperti menenangkan anak kecil.
Tangisku jelek banget gumam Luna dengan suara serak. Adrian tersenyum tipis. Menurutku kamu tetap terlihat kuat bahkan ketika menangis.
Luna mendorong pelan dada Adrian. Kamu bohong. Adrian menggeleng. Tidak aku serius. Aku sudah lihat banyak orang menangis di ruang rapat dewan. Tangisan mereka penuh kepura puraan untuk cari simpati. Tangisanmu berbeda. Tangisanmu nyata. Itu yang membuatku kagum.
Luna memalingkan wajahnya malu. Pipi terasa panas. Ia berusaha menutupinya dengan bantal tapi Adrian menarik bantal itu lalu menaruhnya di samping. Jangan sembunyi. Aku ingin melihatmu apa adanya.
Momen itu membuat suasana jadi canggung sekaligus manis. Keduanya terdiam cukup lama. Di luar terdengar suara jangkrik dari gang kecil. Lampu rumah yang redup membuat bayangan wajah mereka terlihat lebih dekat.
Untuk menghilangkan ketegangan Adrian mencoba bercanda. Kalau kamu capek mungkin kamu perlu cuti dari main game. Aku bisa gantikanmu jadi bintang streaming. Luna langsung menatapnya sinis lalu tertawa di sela tangisnya. Kamu main lima menit saja sudah bikin netizen ngamuk. Mau jadi bintang darimana.
Adrian pura pura tersinggung. Jangan salah aku bisa jadi bintang politik dan bintang komedi sekaligus. Luna menggeleng sambil tersenyum kecil. Bintang gagal mungkin.
Tawa itu meski singkat berhasil membuat Luna merasa lebih baik. Air mata masih menetes tapi dadanya sudah tidak sesakit tadi. Ia menyandarkan kepala di bahu Adrian. Untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya lemah di depan orang lain.
Aku tidak pernah cerita pada siapa siapa tentang perasaan ini kata Luna pelan. Semua orang pikir aku selalu kuat padahal aku sering takut. Adrian menjawab dengan suara rendah. Semua orang berhak merasa takut. Bahkan aku yang terlihat percaya diri di panggung politik sering merasa takut. Bedanya aku pandai menyembunyikannya.
Luna menatapnya. Lalu kenapa kamu tidak sembunyikan sekarang. Adrian tersenyum. Karena di depanmu aku ingin jujur.
Kalimat itu membuat jantung Luna berdebar. Ia cepat cepat mengalihkan pandangan. Untuk menutupi rasa gugupnya ia pura pura mengeluh. Aduh bahumu keras sekali tidak empuk buat sandaran. Adrian langsung menanggapi. Kalau mau empuk kamu bisa pakai perutku. Sedikit lebih nyaman tapi jangan ketawa kalau kedengaran bunyi aneh.
Luna spontan tertawa keras. Dasar politisi aneh. Adrian ikut tertawa dan suasana yang tadinya sendu berubah jadi hangat.
Setelah beberapa saat Luna berdiri lalu berjalan ke dapur mengambil segelas air. Ia mencoba menata perasaan. Adrian masih duduk sambil menatapnya dengan tatapan lembut.
Kamu kenapa sering banget datang ke rumahku tanya Luna sambil minum. Adrian menjawab cepat. Karena aku khawatir. Karena aku peduli. Luna hampir tersedak mendengarnya. Ia batuk batuk lalu meletakkan gelas dengan wajah merah. Kamu tidak bisa bicara begitu saja tanpa aba aba katanya. Adrian malah tertawa kecil. Maaf reflek.
Luna duduk lagi dengan wajah masih merah. Ia ingin menyangkal perasaannya tapi sulit. Kehadiran Adrian membuatnya merasa lebih ringan. Bahkan ancaman sasaeng yang menakutkan itu terasa tidak begitu mencekam ketika ia tidak sendirian.
Malam semakin larut. Adrian akhirnya pamit pulang. Sebelum pergi ia menatap Luna sekali lagi. Jangan lupa kamu tidak sendiri. Kalau ada apa apa panggil aku.
Luna mengangguk. Setelah pintu tertutup ia berdiri lama di ruang tamu. Perasaan hangat tadi masih melekat di hatinya. Ia sadar ada sesuatu yang berubah. Adrian bukan hanya sekadar sponsor atau politisi yang suka bikin gosip. Adrian mulai masuk ke dalam hidupnya dengan cara yang tidak bisa ia tolak.
Di kamar sebelum tidur Luna membuka ponsel. Banyak pesan dari fans yang menyemangati. Tapi matanya justru tertuju pada chat dari Adrian yang singkat saja. Jangan lupa tidur nyenyak besok aku bawakan sarapan.
Luna menatap layar lama lalu tersenyum kecil. Ia memeluk bantal dan bergumam. Dasar politisi bodoh. Tapi bodoh yang membuatku merasa aman.
Sementara itu Adrian di dalam mobil dalam perjalanan pulang menatap jalanan malam. Wajahnya masih terbayang Luna yang menangis di pelukannya. Ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar simpati bukan sekadar rasa peduli. Ada sesuatu yang lebih dalam. Ia tersenyum tipis lalu menatap langit gelap penuh bintang.
Mungkin ini awal dari sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.
Adrian sempat mampir sore hari membawa beberapa makanan. Katanya ia hanya ingin memastikan Luna makan dengan benar karena ia tahu Luna sering lupa makan saat sibuk streaming. Luna awalnya menolak karena merasa direcoki tapi akhirnya menerima juga sambil menggerutu.
Ketika kamera sudah mati dan stream selesai Luna duduk diam menatap layar monitor yang sudah gelap. Kepalanya terasa berat. Ia ingin menangis tapi menahan diri. Selama ini ia dikenal sebagai gadis tangguh yang bisa menghadapi komentar netizen pedas. Namun ancaman sasaeng kali ini benar benar membuatnya merasa kecil dan sendirian.
Adrian duduk tidak jauh darinya sambil membuka bungkus makanan. Ia tidak banyak bicara hanya sesekali melirik Luna. Lama kelamaan ia menyadari kalau Luna menunduk terlalu lama. Bahunya bergetar pelan. Adrian tahu itu tanda ia menahan tangis.
Luna kamu baik baik saja tanyanya pelan. Luna tidak menjawab. Air matanya akhirnya keluar begitu saja. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Aku capek bisiknya nyaris tak terdengar. Aku tidak mau kalah aku ingin terus main aku ingin jadi juara dunia tapi aku capek.
Adrian terdiam beberapa detik lalu berdiri dan mendekat. Ia tidak tahu harus bicara apa. Dunia politik yang ia jalani selama ini penuh debat dan kata kata pintar. Tapi melihat Luna menangis ia sadar tidak ada kalimat manis yang bisa membantu. Ia hanya bisa memeluknya.
Luna awalnya kaget ketika tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat Adrian. Ia sempat ingin menolak tapi pelukan itu membuatnya merasa aman. Dadanya yang sesak sedikit demi sedikit terasa lega. Adrian tidak banyak bicara hanya menepuk bahunya pelan seperti menenangkan anak kecil.
Tangisku jelek banget gumam Luna dengan suara serak. Adrian tersenyum tipis. Menurutku kamu tetap terlihat kuat bahkan ketika menangis.
Luna mendorong pelan dada Adrian. Kamu bohong. Adrian menggeleng. Tidak aku serius. Aku sudah lihat banyak orang menangis di ruang rapat dewan. Tangisan mereka penuh kepura puraan untuk cari simpati. Tangisanmu berbeda. Tangisanmu nyata. Itu yang membuatku kagum.
Luna memalingkan wajahnya malu. Pipi terasa panas. Ia berusaha menutupinya dengan bantal tapi Adrian menarik bantal itu lalu menaruhnya di samping. Jangan sembunyi. Aku ingin melihatmu apa adanya.
Momen itu membuat suasana jadi canggung sekaligus manis. Keduanya terdiam cukup lama. Di luar terdengar suara jangkrik dari gang kecil. Lampu rumah yang redup membuat bayangan wajah mereka terlihat lebih dekat.
Untuk menghilangkan ketegangan Adrian mencoba bercanda. Kalau kamu capek mungkin kamu perlu cuti dari main game. Aku bisa gantikanmu jadi bintang streaming. Luna langsung menatapnya sinis lalu tertawa di sela tangisnya. Kamu main lima menit saja sudah bikin netizen ngamuk. Mau jadi bintang darimana.
Adrian pura pura tersinggung. Jangan salah aku bisa jadi bintang politik dan bintang komedi sekaligus. Luna menggeleng sambil tersenyum kecil. Bintang gagal mungkin.
Tawa itu meski singkat berhasil membuat Luna merasa lebih baik. Air mata masih menetes tapi dadanya sudah tidak sesakit tadi. Ia menyandarkan kepala di bahu Adrian. Untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya lemah di depan orang lain.
Aku tidak pernah cerita pada siapa siapa tentang perasaan ini kata Luna pelan. Semua orang pikir aku selalu kuat padahal aku sering takut. Adrian menjawab dengan suara rendah. Semua orang berhak merasa takut. Bahkan aku yang terlihat percaya diri di panggung politik sering merasa takut. Bedanya aku pandai menyembunyikannya.
Luna menatapnya. Lalu kenapa kamu tidak sembunyikan sekarang. Adrian tersenyum. Karena di depanmu aku ingin jujur.
Kalimat itu membuat jantung Luna berdebar. Ia cepat cepat mengalihkan pandangan. Untuk menutupi rasa gugupnya ia pura pura mengeluh. Aduh bahumu keras sekali tidak empuk buat sandaran. Adrian langsung menanggapi. Kalau mau empuk kamu bisa pakai perutku. Sedikit lebih nyaman tapi jangan ketawa kalau kedengaran bunyi aneh.
Luna spontan tertawa keras. Dasar politisi aneh. Adrian ikut tertawa dan suasana yang tadinya sendu berubah jadi hangat.
Setelah beberapa saat Luna berdiri lalu berjalan ke dapur mengambil segelas air. Ia mencoba menata perasaan. Adrian masih duduk sambil menatapnya dengan tatapan lembut.
Kamu kenapa sering banget datang ke rumahku tanya Luna sambil minum. Adrian menjawab cepat. Karena aku khawatir. Karena aku peduli. Luna hampir tersedak mendengarnya. Ia batuk batuk lalu meletakkan gelas dengan wajah merah. Kamu tidak bisa bicara begitu saja tanpa aba aba katanya. Adrian malah tertawa kecil. Maaf reflek.
Luna duduk lagi dengan wajah masih merah. Ia ingin menyangkal perasaannya tapi sulit. Kehadiran Adrian membuatnya merasa lebih ringan. Bahkan ancaman sasaeng yang menakutkan itu terasa tidak begitu mencekam ketika ia tidak sendirian.
Malam semakin larut. Adrian akhirnya pamit pulang. Sebelum pergi ia menatap Luna sekali lagi. Jangan lupa kamu tidak sendiri. Kalau ada apa apa panggil aku.
Luna mengangguk. Setelah pintu tertutup ia berdiri lama di ruang tamu. Perasaan hangat tadi masih melekat di hatinya. Ia sadar ada sesuatu yang berubah. Adrian bukan hanya sekadar sponsor atau politisi yang suka bikin gosip. Adrian mulai masuk ke dalam hidupnya dengan cara yang tidak bisa ia tolak.
Di kamar sebelum tidur Luna membuka ponsel. Banyak pesan dari fans yang menyemangati. Tapi matanya justru tertuju pada chat dari Adrian yang singkat saja. Jangan lupa tidur nyenyak besok aku bawakan sarapan.
Luna menatap layar lama lalu tersenyum kecil. Ia memeluk bantal dan bergumam. Dasar politisi bodoh. Tapi bodoh yang membuatku merasa aman.
Sementara itu Adrian di dalam mobil dalam perjalanan pulang menatap jalanan malam. Wajahnya masih terbayang Luna yang menangis di pelukannya. Ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar simpati bukan sekadar rasa peduli. Ada sesuatu yang lebih dalam. Ia tersenyum tipis lalu menatap langit gelap penuh bintang.
Mungkin ini awal dari sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...