Romance Reloaded

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
30
Vote
Report
Romance reloaded
Romance Reloaded
Penulis TJOE 21

Bab 30 Final Headshot (TAMAT)

Hari itu adalah hari terbesar dalam hidup Luna. Turnamen dunia yang sudah lama ia impikan akhirnya tiba. Panggung megah berkilauan dengan lampu raksasa, ribuan penonton dari berbagai negara bersorak, kamera televisi menyorot ke setiap sudut. Suara komentator terdengar penuh semangat, memperkenalkan satu per satu tim yang masuk ke arena.

Luna berjalan ke kursinya dengan langkah mantap, headset tergantung di lehernya. Dari luar ia terlihat percaya diri, tetapi di dalam dadanya jantung berdebar tidak karuan. Ia melirik ke arah tribun dan menemukan Adrian berdiri melambaikan tangan. Senyum kecil itu menenangkan.

Kevin berbisik sebelum pertandingan dimulai. Ingat Luna, tidak peduli seberapa kuat lawan, kamu punya sesuatu yang mereka tidak punya. Kamu punya hati yang keras kepala.

Luna tertawa kecil. Bukan keras kepala, tapi tekad.

Pertandingan dimulai. Lawan mereka adalah tim terbaik dari Eropa yang terkenal dengan strategi rapat dan tembakan presisi. Ronde pertama dimenangkan lawan dengan cepat, membuat penonton bersorak heboh. Ronde kedua Luna membalas dengan kill brilian. Skor berkejaran, membuat semua orang menahan napas di setiap detik.

Di ronde terakhir, situasi mencapai titik paling menegangkan. Semua anggota tim Luna sudah tumbang, hanya ia yang tersisa. Lawan masih ada tiga orang. Penonton berdiri dari kursi, sorakan mengguncang arena. Komentator berteriak. Inilah momen penentuan, Luna sendirian melawan tiga pemain elit.

Luna menarik napas panjang, tangannya gemetar memegang mouse. Suara dalam hatinya berbisik. Jangan takut, ini saatnya.

Ia melompat keluar dari persembunyian, mengarahkan sniper tanpa scope, hanya mengandalkan insting. Dor, headshot pertama. Penonton bersorak. Lawan panik mencoba mengepung. Luna berputar, tembakan kedua dilepaskan. Dor, headshot lagi. Arena meledak histeris. Tinggal satu lawan tersisa.

Detik detik terasa berjalan lambat. Luna berlari ke arah tengah, melompat dari tangga, memutar tubuhnya di udara, lalu melepaskan tembakan no scope terakhir. Dor. Headshot sempurna. Lawan tumbang. Skor kemenangan ditentukan.

Arena bergemuruh. Penonton melompat dari kursi. Komentator berteriak histeris. Itu dia, Luna dengan clutch no scope paling legendaris di panggung dunia.

Luna menjatuhkan headset dan menutup wajah dengan tangan. Air matanya mengalir, tubuhnya gemetar. Ia tidak percaya ia benar benar melakukannya. Timnya berlari memeluknya. Adrian juga berlari naik ke panggung, melewati pengamanan yang kewalahan.

Namun di tengah euforia itu tiba tiba seseorang menerobos dari samping panggung. Seorang pria berjaket hitam. Ya, sasaeng itu lagi. Ia berteriak keras sambil berlari ke arah Adrian. Aku tidak akan biarkan kalian bersama.

Semua orang menjerit. Petugas keamanan berlari, tetapi pria itu lebih cepat. Ia mengangkat sebuah benda dari dalam jaketnya, entah botol atau alat lain, wajahnya penuh amarah.

Adrian berdiri terpaku, tidak sempat menghindar. Namun dalam detik itu Luna bergerak lebih cepat. Ia berlari menubruk Adrian, membuat keduanya jatuh. Benda di tangan sasaeng terlepas dan bergulir di lantai. Petugas keamanan akhirnya berhasil menangkap pria itu. Ia berteriak histeris, meronta, tetapi akhirnya diborgol.

Arena yang tadi penuh sorak berubah jadi penuh teriakan panik. Kamera televisi internasional merekam semuanya. Dunia menyaksikan bagaimana seorang sasaeng mencoba menyerang seorang politisi muda dan gamer juara dunia.

Adrian menoleh ke Luna yang masih menindih tubuhnya di lantai panggung. Kamu gila, kenapa kamu yang pasang badan.

Luna menatapnya dengan mata berkaca kaca. Kalau aku kehilangan kamu, semua ini tidak ada artinya.

Penonton yang tadinya panik kini mulai bersorak lagi. Mereka melihat bukan hanya kemenangan esport, tetapi juga drama cinta yang nyata.

Adrian bangkit perlahan lalu menggenggam tangan Luna. Wajahnya serius, suara gemetar. Luna, aku sudah lama tahu jawabannya, tapi aku ingin seluruh dunia mendengarnya.

Ia berlutut di panggung juara dunia di hadapan ribuan penonton. Dari saku jasnya ia mengeluarkan kotak kecil.

Luna menutup mulut dengan tangan, terkejut setengah mati. Adrian membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin sederhana namun berkilau.

Suara Adrian terdengar jelas karena mikrofon di panggung. Headshot terakhir selalu milik kamu. Aku tidak butuh politik, tidak butuh panggung apa pun, kalau tidak ada kamu di sisiku. Luna, maukah kamu menikah denganku.

Arena mendadak hening sejenak lalu meledak dengan sorakan paling meriah sepanjang malam. Kamera televisi internasional fokus pada wajah Luna yang penuh air mata.

Luna terisak sambil tertawa kecil. Kamu benar benar gila.

Adrian tersenyum. Jadi jawabannya apa.

Luna mengangguk kuat. Ya, aku mau.

Sorakan kembali mengguncang. Konfeti berjatuhan dari langit langit arena. Tim Luna bersorak, Kevin berteriak sambil melompat lompat. Aduh gawat, dunia bukan cuma punya juara baru, tapi juga pasangan baru.

Luna dan Adrian berpelukan di tengah panggung juara dunia, kamera merekam dari segala arah. Malam itu sejarah esports berubah selamanya, bukan hanya karena no scope clutch legendaris, tapi juga karena lamaran paling berani yang pernah terjadi di panggung internasional.

Beberapa tahun kemudian, dunia sudah banyak berubah. Adrian kini bukan lagi sekadar anggota dewan muda. Ia telah naik menjadi kandidat presiden, dikenal dengan gaya lugas dan keberaniannya melawan politik kotor.

Luna juga berubah. Ia tidak lagi pemain aktif, tetapi menjadi legenda esports yang dihormati di seluruh dunia. Banyak pemain muda menjadikannya panutan. Ia menjadi pelatih sekaligus pembicara di berbagai negara.

Namun di balik semua itu, kehidupan mereka tetap sederhana. Mereka tinggal di rumah kecil yang nyaman di pinggiran kota. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya kebahagiaan sederhana.

Suatu sore, mereka duduk di ruang tamu dengan dua laptop terbuka. Luna sibuk menembak musuh di layar, wajahnya fokus. Adrian duduk di sampingnya, matanya menatap layar dengan penuh kebingungan. Tangannya gemetar di atas mouse.

Luna tertawa. Kamu benar benar noob, Adrian. Bahkan anak kecil bisa lebih cepat dari kamu.

Adrian cemberut. Aku sibuk urusan negara, jadi refleksku agak lambat.

Luna mendekat lalu mencium pipinya. Tidak apa apa, headshot terakhir selalu milikmu.

Adrian tersenyum malu. Jangan curang, itu kata kataku dulu.

Mereka berdua tertawa bersama.


Nah, sampai di sini aku ingin bicara langsung denganmu yang membaca. Ya, kamu. Terima kasih sudah menemani Luna dan Adrian sejak awal. Dari turnamen kecil kampus, skandal gosip, ancaman sasaeng, hingga panggung dunia dan lamaran yang bikin satu arena heboh. Perjalanan mereka penuh drama, tawa, air mata, dan tentu saja cinta.

Mungkin ada saat saat kamu merasa ikut tegang ketika Luna hampir kalah, atau ikut kesal ketika gosip jahat menyerang, atau ikut tertawa ketika Adrian ketahuan selalu kalah main game. Itulah tujuan kisah ini, membuatmu merasa bagian dari perjalanan mereka.

Sekarang cerita sudah sampai di akhir. Adrian sibuk dengan politik, Luna sibuk dengan dunia esports, tapi di balik semua itu mereka tetap pasangan yang saling mendukung.

Kamu tahu kan, hidup sering terasa seperti game. Ada level sulit, ada musuh besar, ada saat hampir kalah. Tapi kalau kita punya orang yang tepat di samping kita, apa pun bisa dihadapi.

Dan untukmu yang membaca, semoga kamu juga menemukan seseorang yang akan selalu ada di sampingmu, yang rela pasang badan saat bahaya datang, dan yang tidak pernah bosan bilang bahwa headshot terakhir selalu milikmu.

Terima kasih sudah mengikuti kisah ini dari awal sampai akhir.

TAMAT



Other Stories
Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Download Titik & Koma