Queen, The Last Dance

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 6 Menemukan Jalan Baru

Setelah percakapan dengan ibunya, Queen merasakan gelombang energi baru. Rasa putus asa belum sepenuhnya hilang, tetapi kini ada tujuan baru yang mengambang di atasnya. Ia tidak akan menyerah, tetapi ia tahu tidak bisa kembali ke panggung balet, "Jadi, apa yang bisa ia lakukan?"

Suatu pagi, ia duduk di depan cermin, mengamati dirinya. "Kamu tidak bisa menari dengan kakimu, Queen," gumamnya pada bayangannya sendiri, "tapi kamu masih punya tangan, wajah, dan hatimu."

Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Ia mulai mencoba-coba gerakan. Ia tidak melompat atau berputar, tetapi menggunakan lengannya untuk menciptakan bentuk-bentuk yang ekspresif.

Jemarinya menirukan gerakan sayap, pergelangan tangannya mengayun seperti gelombang. Wajahnya yang selama ini hanya menunjukkan kepedihan, mulai mengekspresikan emosi yang berbeda, yaitu kesedihan, kemarahan, dan harapan.


Cklak!


Ibunya masuk ke kamar dan melihatnya. "Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang?" tanyanya lembut.

"Aku mencoba menari," jawab Queen, merasa canggung, "Dengan cara yang berbeda."

Ibunya mendekat dan mengamatinya, "Itu indah, Nak. Sangat indah."

"Tapi ini bukan balet," kata Queen, matanya kembali berkaca-kaca, "Ini tidak seanggun balet. Ini bukan ..."

"Ini lebih dari balet," potong ibunya dengan tegas, "Ini adalah jiwamu yang menari. Ini adalah kebenaran. Ini adalah dirimu."

Kata-kata itu menyentuh hati Queen. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu terpaku pada kakinya, pada kesempurnaan teknis. Ia lupa bahwa tarian yang paling indah berasal dari jiwa.

Ia mulai belajar seni pantomim dan tari kontemporer yang lebih fokus pada ekspresi tubuh bagian atas dan cerita emosional. Ia menghabiskan berjam-jam di depan cermin mencoba berbagai gerakan, mencari cara untuk menceritakan kisah tanpa kata-kata.

Meskipun rasa sakit fisik dan luka emosional masih ada, Queen menemukan sesuatu yang baru dalam setiap gerakan.

Ia menyadari, sepatu balet pinknya tidak lagi menjadi beban, tetapi sebuah pengingat akan masa lalu yang membuatnya menjadi dirinya saat ini.

Itu adalah simbol dari hasratnya yang tak pernah padam. Ia tidak lagi mengejar kesempurnaan balet, tetapi mengejar kebebasan untuk berekspresi.

Dengan setiap gerakan baru, ia menemukan potongan-potongan jiwanya yang hilang, dan ia mulai merangkai kembali identitasnya sebagai seorang penari.

Di akhir hari, saat ia berbaring di tempat tidur, Queen menatap langit-langit kamarnya yang gelap.

Selama berbulan-bulan, ia merasa seperti hidupnya telah berakhir. Tetapi sekarang, ia merasakan percikan kecil dari harapan.

Ia mungkin tidak akan pernah menjadi balerina lagi, tetapi ia akan selalu menjadi seorang penari. Itu adalah kebenaran yang lebih dalam dari sekadar teknik dan kesempurnaan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus, pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.


Other Stories
Berkemah, Jangan Berlemah!

Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

The Innocent

Rio terbangun di sebuah TKP pembunuhan. Ia menyimpulkan dirinya dan rekanya telah diserang ...

Rei Kazama

Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...

Download Titik & Koma