Chapter 9 Kesempatan Emas
Berbulan-bulan berlalu. Di bawah bimbingan Madame Isabella, Queen menemukan kekuatan baru dalam setiap gerakannya. Tubuhnya, yang dulu ia benci karena telah mengkhianatinya, kini menjadi alat untuk mengekspresikan kedalaman emosinya. Suatu sore, Madame Isabella memanggilnya ke ruang latihan. Wajahnya serius, tetapi matanya bersinar.
"Queen," katanya, "Aku punya kabar untukmu. Aku diundang untuk menjadi koreografer tamu di Teater Bolshoi untuk sebuah pertunjukan khusus. Mereka sedang mencari penari untuk sebuah tarian kontemporer yang fokus pada ekspresi dan cerita. Bukan balet."
Jantung Queen berdebar kencang. Bolshoi. Nama itu masih membawa luka, tetapi kini juga memicu harapan. "Bolshoi? Tapi, aku tidak bisa menari balet di sana," bisiknya, suaranya dipenuhi campuran antara mimpi dan ketakutan.
"Aku tahu," kata Madame Isabella. "Dan kamu tidak akan melakukannya. Mereka melihat karyamu. Mereka melihat jiwa dalam tarianmu, Queen. Aku menceritakan kisahmu, dan mereka ingin memberimu kesempatan."
Air mata Queen mengalir. Ini adalah kesempatan yang ia impikan sejak lama. Namun, ada keraguan yang menyakitkan. "Apakah aku bisa melakukannya? Aku takut, Madame. Aku takut mengecewakanmu, dan juga diriku sendiri."
Madame Isabella mendekat, memegang kedua tangan Queen dengan erat, "Dengarkan aku baik-baik. Ada satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun, yaitu kejujuran. Dan tarianmu, Queen, adalah yang paling jujur yang pernah aku lihat. Mereka tidak mencari balerina yang sempurna. Mereka mencari seorang seniman yang bisa menceritakan kisah. Dan ceritamu, Nak, adalah yang paling kuat."
Air mata Queen membanjiri pipinya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia memeluk Madame Isabella dengan erat sambil terisak, "Terima kasih, Madame. Terima kasih."
Madame Isabella membalas pelukannya, "Jangan berterima kasih padaku. Terima kasih pada dirimu sendiri, karena kamu tidak menyerah."
Meskipun perannya bukan sebagai balerina seperti yang ia impikan, Queen menerima tawaran itu. Ia tahu ini adalah panggung impiannya.
Bukan untuk membuktikan bahwa ia bisa menari balet, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang penari sejati, terlepas dari keterbatasan fisiknya. Ini adalah kesempatan untuk menulis ulang lembaran terakhir dari kisah hidupnya, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Keesokan harinya, Queen kembali ke ruang latihan. Namun kali ini, ia tidak lagi merasa tertekan oleh bayangan masa lalunya. Setiap gerakan yang ia lakukan kini terasa seperti sebuah pernyataan bahwa ia masih ada, dan berekspresi.
Ia berlatih dengan lebih keras dari sebelumnya, tidak untuk mencapai kesempurnaan, tetapi untuk memberikan persembahan yang tulus dari jiwanya.
Ia bahkan mencoba beberapa gerakan yang dulu mustahil, menemukan cara baru untuk menyeimbangkan tubuhnya tanpa membebani kakinya yang terluka.
Di bawah pengawasan ketat Madame Isabella, ia menyusun sebuah tarian yang menceritakan perjalanannya—dari keputusasaan hingga harapan. Tarian ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang setiap orang yang pernah jatuh dan menemukan kekuatan untuk bangkit kembali.
"Queen," katanya, "Aku punya kabar untukmu. Aku diundang untuk menjadi koreografer tamu di Teater Bolshoi untuk sebuah pertunjukan khusus. Mereka sedang mencari penari untuk sebuah tarian kontemporer yang fokus pada ekspresi dan cerita. Bukan balet."
Jantung Queen berdebar kencang. Bolshoi. Nama itu masih membawa luka, tetapi kini juga memicu harapan. "Bolshoi? Tapi, aku tidak bisa menari balet di sana," bisiknya, suaranya dipenuhi campuran antara mimpi dan ketakutan.
"Aku tahu," kata Madame Isabella. "Dan kamu tidak akan melakukannya. Mereka melihat karyamu. Mereka melihat jiwa dalam tarianmu, Queen. Aku menceritakan kisahmu, dan mereka ingin memberimu kesempatan."
Air mata Queen mengalir. Ini adalah kesempatan yang ia impikan sejak lama. Namun, ada keraguan yang menyakitkan. "Apakah aku bisa melakukannya? Aku takut, Madame. Aku takut mengecewakanmu, dan juga diriku sendiri."
Madame Isabella mendekat, memegang kedua tangan Queen dengan erat, "Dengarkan aku baik-baik. Ada satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun, yaitu kejujuran. Dan tarianmu, Queen, adalah yang paling jujur yang pernah aku lihat. Mereka tidak mencari balerina yang sempurna. Mereka mencari seorang seniman yang bisa menceritakan kisah. Dan ceritamu, Nak, adalah yang paling kuat."
Air mata Queen membanjiri pipinya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia memeluk Madame Isabella dengan erat sambil terisak, "Terima kasih, Madame. Terima kasih."
Madame Isabella membalas pelukannya, "Jangan berterima kasih padaku. Terima kasih pada dirimu sendiri, karena kamu tidak menyerah."
Meskipun perannya bukan sebagai balerina seperti yang ia impikan, Queen menerima tawaran itu. Ia tahu ini adalah panggung impiannya.
Bukan untuk membuktikan bahwa ia bisa menari balet, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang penari sejati, terlepas dari keterbatasan fisiknya. Ini adalah kesempatan untuk menulis ulang lembaran terakhir dari kisah hidupnya, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Keesokan harinya, Queen kembali ke ruang latihan. Namun kali ini, ia tidak lagi merasa tertekan oleh bayangan masa lalunya. Setiap gerakan yang ia lakukan kini terasa seperti sebuah pernyataan bahwa ia masih ada, dan berekspresi.
Ia berlatih dengan lebih keras dari sebelumnya, tidak untuk mencapai kesempurnaan, tetapi untuk memberikan persembahan yang tulus dari jiwanya.
Ia bahkan mencoba beberapa gerakan yang dulu mustahil, menemukan cara baru untuk menyeimbangkan tubuhnya tanpa membebani kakinya yang terluka.
Di bawah pengawasan ketat Madame Isabella, ia menyusun sebuah tarian yang menceritakan perjalanannya—dari keputusasaan hingga harapan. Tarian ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang setiap orang yang pernah jatuh dan menemukan kekuatan untuk bangkit kembali.
Other Stories
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...