Maba
Matahari bersinar cerah. Kursi-kursi berjajar rapi di lapangan sekolah. Bendera berkibar malas, diiringi suara MC menyebut nama siswa satu per satu. Kamera orangtua sibuk merekam, bunga dan boneka wisuda bergantian diserahkan.
Stella berdiri anggun dengan baju kebaya berwarna krem. Riasan sederhana menghiasi wajahnya. Hari ini semua yang hadir di acara itu tampak bahagia. Senyuman tak henti menghiasi wajah mereka.
Ponsel Stella bergetar kecil. Notifikasi kalender muncul:
> “Hari Jadian – jam 10.00 WIB. Lapangan basket. – dari Okan”
Stella menghela nafas panjang. Teringat percakapan mereka dahulu.
Jam 10.00. Stella berdiri sendirian di tepi lapangan basket. Tangan menggenggam buket bunga, ponsel di tangan satunya.
Okan tidak muncul. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan. Seolah menguap. Stella menarik napas pelan. Ia tidak menangis. Tidak juga marah. Tapi diamnya terlalu panjang untuk disebut biasa.
"Ngapain sih aku, udah kayak orang bego aja", gumamnya pelan.
Menjelang siang, acara pelepasan siswa selesai. Hampir semua siswa yang lulus hari ini sibuk dengan foto-foto mereka. Orang tua, sahabat dan semua yang hadir memasang senyum terbaik mereka di depan kamera.
Stella berdiri diantara teman-temannya yang sedang mengambil foto mereka.
"La!", teriak seorang lelaki.
Stella menoleh, menghampiri si pemilik suara itu.
"Roni..", katanya sambil menghampiri lelaki berambut sedikit acak-acakan dengan kemeja flanel bermotif kotak-kotak itu.
"Hey, congratulations", ucap Roni seraya memberikan sebuah bucket bunga dengan boneka kecil di tengahnya.
"Ya ampun, makasih lho. Repot-repot banget sih sampe disamperin ke sini", Stella menerima bucket bunga itu dengan senyum manis di bibirnya.
"La, aku mau ngomong sesuatu boleh?"
"Boleh lah. Bilang aja", Stella menatap Roni yang tampak gelisah.
"Kamu tau kan? Maksud aku, selama ini kita cukup deket kan?"
Stella tidak menjawab pertanyaan itu.
"Sorry, selama ini aku ngerasa gak perlu jelasin perasaan aku ke kamu. Buat aku, yang penting aku selalu ada untuk kamu. Tapi kayaknya hari ini aku harus bilang, kalau aku sayang sama kamu. Aku pengen kita lebih dari sekedar temen band, atau sahabat. Aku pengennya kita resmi..., yah kamu ngerti kan maksud aku?"
Stella hanya tersenyum, nyaris tertawa melihat tingkah Roni. Sang penggebuk drum yang selama ini terlihat keren di atas panggung atau di studio itu tampak begitu gugup dan salah tingkah.
"Resmi? Maksudnya resmi jadian?", kali ini Stella berbalik bertanya sambil tertawa.
"Nah itu maksud aku"
"Apa sih Ron kamu tuh lucu banget deh"
"Jadi gimana?"
"Emm, kalau aku gak mau gimana?", goda Stella.
"Aku gak ada plan lain sih, La. Jadi terima aja ya, please", Roni memohon sambil menangkupkan telapak tangannya.
Sementara itu Stella masih tersenyum dan gemas dengan kelakuan lelaki di depannya itu. Teringat semua yang sudah dilakukannya untuk dekat dengannya. Mulai dari mengirim makanan, menyemangati belajar, bahkan hampir setiap hari menanyakan progress belajarnya untuk mengikuti UTBK.
"Iya. Aku juga mau", ucap Stella dengan senyumnya.
"Beneran? Berarti hari ini kita resmi jadian?"
"Iya"
"Yes! Makasih ya, La"
"Woy, Ron!", teriak Raka yang mengenakan setelan jas dengan bucket bunga di tangannya.
"Heh, bro. Congrats ya, udah bukan anak SMA lagi sekarang. Mana udah jadi calon maba UNY", ujar Roni sambil menepuk bahu temannya itu.
"Thanks ya"
"Kasih selamat juga dong ke kita", tambah Roni.
"Selamat apa nih?"
"Hari ini aku sama Stella resmi jadian. Haha"
"Widih.. Selamat, akhirnya yaa"
Ketiga orang itu tertawa bersama.
--
GRHA SHABA PRAMANA – PAGI HARI
Langit mendung menggantung di atas bangunan megah berkubah merah. Spanduk bertuliskan "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di gerbang depan. Deretan mahasiswa baru berjaket almamater kuning gading berjalan berbaris rapi. Salah satunya adalah Stella, membawa tote bag, wajah tegang tapi tetap anggun.
Suara panitia terdengar dari pengeras suara:
“Silakan masuk barisan sesuai kelompok, jangan lupa cek nametag masing-masing!”
“Sumpah ya, aku pikir ospek bakal horor. Tapi ternyata lebih serem ngantuknya", ujar seorang gadis cantik di sebelah Stella.
“Iya. Aku aja sampe lupa kalau tadi pagi belum sarapan”, sahut Stella.
"By the way, aku Niken. Kedokteran gigi juga", ujarnya sambil mengulurkan tangannya seraya melirik ke nametag Stella.
"Aku Stella. Kamu asli Jogja?"
"Iya, aku dari SMA 45. Kalau kamu?"
"Sama, Jogja juga. SMA Cakrawala", jawab Stella sambil tertawa kecil.
"Ikutan kenalan juga dong. Felix, PDG juga. Asli Suroboyo", kata seorang lelaki bermata sipit di belakang mereka dengan logat khas Jawa Timurnya.
"Hahaha. Aku Niken"
"Stella"
"Lumayan, udah dapet kenalan yang satu prodi di kelompok"
---
Langit mulai keemasan. Mahasiswa baru berbondong keluar dari aula, sebagian langsung disambut keluarga, lainnya memesan ojek online. Suasana ramai tapi terasa lega setelah seharian duduk dan mendengarkan sambutan formal. Stella mengecek ponselnya. Ada notifikasi pesan dari Roni.
Roni: Jangan lupa aku jemput pulangnya ya
Stella: Siap bos
Stella melanjutkan langkahnya ke pinggir lapangan. Tiba-tiba seorang lelaki memangilnya dari belakang. Suara itu terdengar sangat familiar bagi Stella. Stella belum menoleh, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia lah yang dipanggil.
"Stella!", lelaki itu berlari kecil menghampiri Stella.
Wajah Stella tampak lesu melihat lelaki itu. Antara terkejut, marah dan entah perasaan apalagi yang ada padanya.
"Okan?"
"Hai, Stel", Okan tersenyum. Tampak lega ketika ia berhasil mengejar gadis itu.
Stella tidak menjawab. Hanya melirik nametag yang terpasang di dada Okan. Okan, Kelompok 3, Pendidikan Dokter Gigi.
"Apa kabar?", tanya Okan.
"Baik", jawab Stella datar.
Di dalam mobil sedan berwarna putih, Roni mengamati dari dalam seseorang yang ditunggunya. Sementara itu Raka duduk di jok belakang, mengenakan kemeja putih yang dibalut jas almamater berwarna biru tua. Raka melihat Stella sedang berbincang dengan seseorang yang tak asing baginya.
"Bro bro! Telponen cepet, telpon Stella!", bujuk Raka sambil menepuk-nepuk bahu Roni.
"Iya ini", Roni pun menuruti saran temannya itu.
Ponsel Stella berdering. Panggilan dari Roni. Ia segera mengangkatnya. Mengabaikan Okan yang berada di depannya.
"Hey, aku udah sampai. Arah jam 1 ya", ucap Roni di ujung telepon.
"Oke", Stella menoleh ke arah jam 1 dan melihat Roni di samping sedan putihnya sambil melambaikan tangan.
"Aku duluan ya", ucap Stella pada Okan. Tak sedikit pun senyum mengembang di wajahnya.
Okan hanya termenung melihat Stella melangkah meninggalkannya menuju ke mobil sedan putih di depan sana. Seorang lelaki muda tampak tersenyum menunggu Stella menghampirinya. Okan tahu persis, senyuman itu bukan senyum biasa.
Kembali hatinya berdebar. Entah rasa apa yang ada padanya saat ini. Senang karena bertemu Stella, rasa bersalah masih ada, ditambah rasa cemburu yang menghantui melihat Stella bersama orang lain.
Roni membukakan pintu mobilnya untuk Stella, ia kemudian berlari kecil untuk masuk ke mobil. Sementara itu Stella terkejut ketika menoleh ke kursi belakang. Raka duduk di sana mengenakan helm full face berwarna hitam.
"Hai!", goda Raka sambil melambaikan tangan.
"Woylah! Ngapain kamu di sini?!", seru Stella yang masih setengah terkejut.
"Gak papa kan. Sekalian babang Roni jemput aku. Kampus kita kan deketan"
"Mana pake helm lagi di mobil!", ucap Stella kesal setengah geli dengan kelakuan temannya itu.
"Safety nih!"
Sementara Roni hanya tertawa melihat mereka berdua. Ia segera menyalakan mobilnya meninggalkan area kampus UGM yang paling penuh dengan manusia hari ini.
--
Hari terakhir orientasi. Seperti sebelumnya, GSP dipenuhi mahasiswa baru dan panitia orientasi kampus. Hari ini agenda orientasi jauh lebih santai dari hari hari sebelumnya. Stella duduk di lapangan diantara teman-temannya sesama mahasiswa baru bernama Niken dan juga Felix ketika seseorang menyapa mereka.
"Hai, aku boleh gabung di sini? Kalian sama-sama dari PDG juga kan?", sapanya.
"Eh hai. Iya, aku Niken", Stella menoleh ke arah suara yang sangat familiar itu ketika temannya memperkenalkan diri.
"Aku Okan", sapa Okan.
"Aku Felix mas. Asli Suroboyo", giliran Felix yang menyapa Okan. Okan tersenyum.
"Okan", katanya sambil menjabat tangan Felix.
"Stel!", Niken mencolek Stella yang diam saja tidak ikut menyapa Okan.
"Eh iya. Kita udah kenal kok", kata Stella datar. Sementara Okan hanya tersenyum kecut.
"Kalian satu SMA?", tanya Niken sambil melirik ke Stella dan Okan. Stella enggan menjawab pertanyaan itu. Beruntung saat itu suara microphone di panggung depan mengalihkan perhatian mereka. Seorang senior sedang bersiap bersama band pengiring untuk menampilkan lagu. Laki-laki yang sangat Stella kenal. Reiza.
Bersama band yang mengiringinya Reiza menyanyikan dua lagu yang tampak dinikmati oleh seluruh peserta orientasi siang itu. Selesai menyanyikan lagu Reiza menyapa seluruh maba.
"So guys, welcome to UGM. Pilihan yang gak akan kalian sesali seumur hidup kalian. Anyway, aku mau manggil seseorang juga nih yang juga berbakat buat naik ke sini. Stellananda, kelompok 7 dari kedokteran gigi!", seru Reiza. Dalam hati ia sangat senang berhasil mengerjai temannya itu.
"What? Ngapain dia panggil aku?!" Stella kaget dan panik.
"Wait, bukannya itu pacarmu ya Stel, yang sering jemput kamu?", tanya Niken sambil memperhatikan Reiza.
"Ih bukan! Ada dua mereka", jawab Stella.
"Hah? Pacarmu dua?", kali ini Felix yang bertanya.
"Bukan, mereka kembar. Cuma yang ini emang agak gesrek otaknya", ucap Stella kesal.
Seluruh peserta orientasi bersorak memanggil Stella untuk maju. Dengan muka manyun dan terpaksa ia maju ke panggung. Seperti yang Reiza katakan, Stella akhirnya membuka suara, menyanyikan lagu dengan suaranya yang ternyata tidak terlalu buruk.
“Awas, kamu Syahreiza”, gumam Stella.
--
Esok harinya Stella datang ke studio tempat band mereka, Skylight biasa berkumpul. Ia datang bersama Roni. Stella masih kesal dengan kelakuan Reiza di kampus kemarin.
"Reizaaa!!", teriak Stella begitu ia tahu ada Reiza di sana. Sementara Reiza tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalian harus liat sih muka Stella pas di panggung kemarin”, ucapnya masih dengan tawanya yang khas.
Stella mendatangi Reiza yang sedang duduk di sofa dalam studio itu. Ia mengambil bantal untuk dipukulkan ke Reiza.
"Rese banget ya jadi orang! Bikin malu tau gak!", Stella dengan semangat memukuli Reiza. Reiza menjatuhkan diri ke samping, masih di atas sofa. Stella tidak berhenti. Ia membungkam wajah Reiza dengan bantal itu sekuat tenaga sampai suara Reiza terdengar pelan. Setelah puas baru Stella melepaskannya.
"Buset kuat banget nih cewek. Bengek nih", keluh Reiza yang bangkit dari sofa itu.
"Siapa suruh macem-macem!" ucap Stella masih dengan nada kesal.
"Cocok banget emang namamu Stella. Stengah laki!", ucap Reiza kemudian disusul tawa teman-teman satu bandnya.
--
Langit Jogja pagi itu tampak biasa saja—biru muda dengan awan-awan tipis yang menggantung ragu. Tapi dada Stella justru bergemuruh. Tangannya berkeringat meski AC mobil Papa menyala. Ini hari pertamanya di Fakultas Kedokteran Gigi. Hari di mana dunia barunya dimulai.
“Udah siap?” tanya Papa sambil tersenyum dari balik kemudi.
Stella mengangguk. “Siap, Pa.”
Padahal, hatinya sama sekali tidak siap. Terbayang kehidupan baru di kampus yang akan dihadapinya. Mungkin materi kuliah atau praktium yang sulit, pertemanan baru yang mungkin akan menguras energinya, ya, bagi Stella memulai perkenalan baru adalah hal yang cukup menguras energi. Dan satu lagi. Ia harus bertemu lagi dengan Okan, masa lalunya yang belum sempat dimulai. Sedang saat ini ia sudah bersama orang lain.
Di depan gedung kuliah, Stella menarik napas panjang sebelum melangkah. Baju putih praktikum yang masih kaku, sepatu yang masih baru, dan tote bag berisi modul—semuanya terasa terlalu bersih untuk dunia yang katanya keras ini.
Hingga...
“Stella?”
Stella menoleh. Suara itu, meski agak berubah, langsung menggetarkan sesuatu di dalam dirinya. Di sana, berdiri seorang lelaki tinggi dengan rambut yang kini lebih pendek, jaket kampus disampirkan di tangan. Okan.
“Okan?” suaranya hampir tak keluar
Lelaki itu tersenyum, tenang seperti dulu, tapi ada sedikit rasa kikuk di ujung tatapannya. “Ternyata kamu beneran masuk FKG.”
“Dan kamu juga,” balas Stella, setengah sinis. Luka masa lalu itu belum benar-benar sembuh rupanya.
Mereka terdiam beberapa detik. Untungnya, datanglah penyelamat.
“Hei, guys!” Seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu. Senyumnya lebar, ramah.
“Wah, akhirnya ketemu teman. Itu tuh,” Niken menunjuk ke arah seorang cowok berbadan tinggi yang sedang ribut sendiri dengan brosur. “Udah heboh sendiri dari tadi.”
Tak lama, muncul satu lagi. Seorang cowok jangkung dengan wajah polos dan suara nyaring, berlari sambil menjinjing kotak bekal. “Woy, kalian anak FKG kan? Jangan sampai terlambat, katanya dosennya killer banget!”
“Ini Kresna,” ujar Niken sambil tertawa. “Jangan terlalu diambil serius. Dia kadang hidup di dunia lain.”
Stella tersenyum. Mungkin… akan ada hari-hari yang menyenangkan di sini.
Okan masih berdiri di dekatnya, seperti ragu mau lanjut bicara atau tidak. Tapi Stella sudah melangkah pergi bersama Niken dan Felix. Entah kenapa, langkah itu terasa seperti pembuktian kecil: bahwa ia bisa baik-baik saja. Bahwa masa lalu memang belum lupa, tapi tak harus selalu mengikat. Namun sebelum benar-benar jauh, ia sempat melirik ke belakang. Okan masih memandanginya.
--
Siang itu mereka istirahat di lorong lantai dua. Niken sedang sibuk menyusun flashcard anatomi, Felix main game di HP, dan Kresna—seperti biasa—melakukan hal yang tak wajar: mencoba menempelkan kawat gigi ke model gigi dummy sambil nyanyi lagu dangdut.
“Kres, itu bukan buat ditatoin ya,” kata Stella sambil menggeleng.
“Tenang, ini bagian dari seni kontemporer gigi,” kata Kresna dramatis. “Aku menyebutnya... ortho-punk.”
Niken tertawa sampai flashcard-nya jatuh semua. “Punk dari mana? Modelnya aja ketawa tuh.”
Okan datang dari ujung lorong, membawa dua cup teh tarik.
“Buat siapa tuh, Kan?” tanya Felix curiga.
“Buat Stella,” kata Okan santai. “Dia tadi ngeluh pusing gara-gara dokter Andhika jelasin syaraf trigeminus kayak ngaji.”
Stella melongo. “Hah? Kok inget sih…”
Okan duduk di sampingnya dan menyerahkan teh tarik. “Tadi kamu pegang kepala terus. Aku mikir kayaknya teh manis bisa bantu.”
Felix melirik ke Niken. Niken sudah menatap Stella seperti menyimpan banyak pertanyaan.
“Eh, kamu apal ya keluhan Stella tadi?” cibir Niken pelan.
“Namanya juga... temen seangkatan,” jawab Okan cepat. Tapi pipinya sedikit merah.
“Temen katanya…” bisik Kresna lirih, “Tapi gerakannya tuh... macem udah terlatih.”
Semua tertawa. Termasuk Stella, walau ia menyembunyikan senyumnya di balik cup teh Tarik.Setelah tawa mereda, mereka pindah ke taman kampus belakang untuk makan siang bareng. Sambil makan nasi rames bungkus, mereka mulai saling cerita tentang motivasi masuk FKG.
“Aku dulu pengen masuk arsitektur, tapi Mamiku mintanya kedokteran. Mana gak keterima di Airlangga, jadi deh merantau ke Jogja”, celetuk Felix
“Sama. Aku tuh jujur awalnya salah isi pilihan. Tapi ya udah, takdir”, tambah Kresna.
“Aku suka banget anatomi, terutama otot-otot wajah. Lucu!”, kata Niken.
Okan diam sebentar. “Aku, pengin bantu orang, tapi bukan di ruang operasi... Aku pilih FKG karena kita bisa bantu orang tetap senyum.”
Semua terdiam sesaat. Stella menatap Okan, teringat lagi bagaimana dulu cowok ini sempat menghilang. Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya. Belum waktunya.
“Wah... keren sih. Tapi kenapa nggak kamu ceritain waktu orientasi dulu?” tanya Felix.
Okan tersenyum, tenang. “Belum pengin aja.”
“Kalau kamu, Stel?”,tanya Kresna.
“Aku karena emang pengen jadi dokter sih. Tapi aku takut, gak kuat mental kalau harus nanganin pasien yang sakit parah apalagi sampai meninggal. Makanya pilih KG” jawab Stella dengan ketawa kecilnya.
“Agak..mirip ya sama alasannya Okan tadi”, sindir Niken.
“Apa deh Ken”, ucap Stella sinis.
Stella mulai lebih nyaman berada di antara teman-temannya, termasuk Okan. Meski ia sedikit sensitif ketika mendengar kata “SMA”. Baginya, masa-masa itu tidak akan terlepas dari kenangannya bersama Okan. Akan tetapi kenangan itu bukanlah hal yang harus ia ceritakan bahkan ia bangkitkan melainkan disimpan saja.
Stella berdiri anggun dengan baju kebaya berwarna krem. Riasan sederhana menghiasi wajahnya. Hari ini semua yang hadir di acara itu tampak bahagia. Senyuman tak henti menghiasi wajah mereka.
Ponsel Stella bergetar kecil. Notifikasi kalender muncul:
> “Hari Jadian – jam 10.00 WIB. Lapangan basket. – dari Okan”
Stella menghela nafas panjang. Teringat percakapan mereka dahulu.
Jam 10.00. Stella berdiri sendirian di tepi lapangan basket. Tangan menggenggam buket bunga, ponsel di tangan satunya.
Okan tidak muncul. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan. Seolah menguap. Stella menarik napas pelan. Ia tidak menangis. Tidak juga marah. Tapi diamnya terlalu panjang untuk disebut biasa.
"Ngapain sih aku, udah kayak orang bego aja", gumamnya pelan.
Menjelang siang, acara pelepasan siswa selesai. Hampir semua siswa yang lulus hari ini sibuk dengan foto-foto mereka. Orang tua, sahabat dan semua yang hadir memasang senyum terbaik mereka di depan kamera.
Stella berdiri diantara teman-temannya yang sedang mengambil foto mereka.
"La!", teriak seorang lelaki.
Stella menoleh, menghampiri si pemilik suara itu.
"Roni..", katanya sambil menghampiri lelaki berambut sedikit acak-acakan dengan kemeja flanel bermotif kotak-kotak itu.
"Hey, congratulations", ucap Roni seraya memberikan sebuah bucket bunga dengan boneka kecil di tengahnya.
"Ya ampun, makasih lho. Repot-repot banget sih sampe disamperin ke sini", Stella menerima bucket bunga itu dengan senyum manis di bibirnya.
"La, aku mau ngomong sesuatu boleh?"
"Boleh lah. Bilang aja", Stella menatap Roni yang tampak gelisah.
"Kamu tau kan? Maksud aku, selama ini kita cukup deket kan?"
Stella tidak menjawab pertanyaan itu.
"Sorry, selama ini aku ngerasa gak perlu jelasin perasaan aku ke kamu. Buat aku, yang penting aku selalu ada untuk kamu. Tapi kayaknya hari ini aku harus bilang, kalau aku sayang sama kamu. Aku pengen kita lebih dari sekedar temen band, atau sahabat. Aku pengennya kita resmi..., yah kamu ngerti kan maksud aku?"
Stella hanya tersenyum, nyaris tertawa melihat tingkah Roni. Sang penggebuk drum yang selama ini terlihat keren di atas panggung atau di studio itu tampak begitu gugup dan salah tingkah.
"Resmi? Maksudnya resmi jadian?", kali ini Stella berbalik bertanya sambil tertawa.
"Nah itu maksud aku"
"Apa sih Ron kamu tuh lucu banget deh"
"Jadi gimana?"
"Emm, kalau aku gak mau gimana?", goda Stella.
"Aku gak ada plan lain sih, La. Jadi terima aja ya, please", Roni memohon sambil menangkupkan telapak tangannya.
Sementara itu Stella masih tersenyum dan gemas dengan kelakuan lelaki di depannya itu. Teringat semua yang sudah dilakukannya untuk dekat dengannya. Mulai dari mengirim makanan, menyemangati belajar, bahkan hampir setiap hari menanyakan progress belajarnya untuk mengikuti UTBK.
"Iya. Aku juga mau", ucap Stella dengan senyumnya.
"Beneran? Berarti hari ini kita resmi jadian?"
"Iya"
"Yes! Makasih ya, La"
"Woy, Ron!", teriak Raka yang mengenakan setelan jas dengan bucket bunga di tangannya.
"Heh, bro. Congrats ya, udah bukan anak SMA lagi sekarang. Mana udah jadi calon maba UNY", ujar Roni sambil menepuk bahu temannya itu.
"Thanks ya"
"Kasih selamat juga dong ke kita", tambah Roni.
"Selamat apa nih?"
"Hari ini aku sama Stella resmi jadian. Haha"
"Widih.. Selamat, akhirnya yaa"
Ketiga orang itu tertawa bersama.
--
GRHA SHABA PRAMANA – PAGI HARI
Langit mendung menggantung di atas bangunan megah berkubah merah. Spanduk bertuliskan "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di gerbang depan. Deretan mahasiswa baru berjaket almamater kuning gading berjalan berbaris rapi. Salah satunya adalah Stella, membawa tote bag, wajah tegang tapi tetap anggun.
Suara panitia terdengar dari pengeras suara:
“Silakan masuk barisan sesuai kelompok, jangan lupa cek nametag masing-masing!”
“Sumpah ya, aku pikir ospek bakal horor. Tapi ternyata lebih serem ngantuknya", ujar seorang gadis cantik di sebelah Stella.
“Iya. Aku aja sampe lupa kalau tadi pagi belum sarapan”, sahut Stella.
"By the way, aku Niken. Kedokteran gigi juga", ujarnya sambil mengulurkan tangannya seraya melirik ke nametag Stella.
"Aku Stella. Kamu asli Jogja?"
"Iya, aku dari SMA 45. Kalau kamu?"
"Sama, Jogja juga. SMA Cakrawala", jawab Stella sambil tertawa kecil.
"Ikutan kenalan juga dong. Felix, PDG juga. Asli Suroboyo", kata seorang lelaki bermata sipit di belakang mereka dengan logat khas Jawa Timurnya.
"Hahaha. Aku Niken"
"Stella"
"Lumayan, udah dapet kenalan yang satu prodi di kelompok"
---
Langit mulai keemasan. Mahasiswa baru berbondong keluar dari aula, sebagian langsung disambut keluarga, lainnya memesan ojek online. Suasana ramai tapi terasa lega setelah seharian duduk dan mendengarkan sambutan formal. Stella mengecek ponselnya. Ada notifikasi pesan dari Roni.
Roni: Jangan lupa aku jemput pulangnya ya
Stella: Siap bos
Stella melanjutkan langkahnya ke pinggir lapangan. Tiba-tiba seorang lelaki memangilnya dari belakang. Suara itu terdengar sangat familiar bagi Stella. Stella belum menoleh, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia lah yang dipanggil.
"Stella!", lelaki itu berlari kecil menghampiri Stella.
Wajah Stella tampak lesu melihat lelaki itu. Antara terkejut, marah dan entah perasaan apalagi yang ada padanya.
"Okan?"
"Hai, Stel", Okan tersenyum. Tampak lega ketika ia berhasil mengejar gadis itu.
Stella tidak menjawab. Hanya melirik nametag yang terpasang di dada Okan. Okan, Kelompok 3, Pendidikan Dokter Gigi.
"Apa kabar?", tanya Okan.
"Baik", jawab Stella datar.
Di dalam mobil sedan berwarna putih, Roni mengamati dari dalam seseorang yang ditunggunya. Sementara itu Raka duduk di jok belakang, mengenakan kemeja putih yang dibalut jas almamater berwarna biru tua. Raka melihat Stella sedang berbincang dengan seseorang yang tak asing baginya.
"Bro bro! Telponen cepet, telpon Stella!", bujuk Raka sambil menepuk-nepuk bahu Roni.
"Iya ini", Roni pun menuruti saran temannya itu.
Ponsel Stella berdering. Panggilan dari Roni. Ia segera mengangkatnya. Mengabaikan Okan yang berada di depannya.
"Hey, aku udah sampai. Arah jam 1 ya", ucap Roni di ujung telepon.
"Oke", Stella menoleh ke arah jam 1 dan melihat Roni di samping sedan putihnya sambil melambaikan tangan.
"Aku duluan ya", ucap Stella pada Okan. Tak sedikit pun senyum mengembang di wajahnya.
Okan hanya termenung melihat Stella melangkah meninggalkannya menuju ke mobil sedan putih di depan sana. Seorang lelaki muda tampak tersenyum menunggu Stella menghampirinya. Okan tahu persis, senyuman itu bukan senyum biasa.
Kembali hatinya berdebar. Entah rasa apa yang ada padanya saat ini. Senang karena bertemu Stella, rasa bersalah masih ada, ditambah rasa cemburu yang menghantui melihat Stella bersama orang lain.
Roni membukakan pintu mobilnya untuk Stella, ia kemudian berlari kecil untuk masuk ke mobil. Sementara itu Stella terkejut ketika menoleh ke kursi belakang. Raka duduk di sana mengenakan helm full face berwarna hitam.
"Hai!", goda Raka sambil melambaikan tangan.
"Woylah! Ngapain kamu di sini?!", seru Stella yang masih setengah terkejut.
"Gak papa kan. Sekalian babang Roni jemput aku. Kampus kita kan deketan"
"Mana pake helm lagi di mobil!", ucap Stella kesal setengah geli dengan kelakuan temannya itu.
"Safety nih!"
Sementara Roni hanya tertawa melihat mereka berdua. Ia segera menyalakan mobilnya meninggalkan area kampus UGM yang paling penuh dengan manusia hari ini.
--
Hari terakhir orientasi. Seperti sebelumnya, GSP dipenuhi mahasiswa baru dan panitia orientasi kampus. Hari ini agenda orientasi jauh lebih santai dari hari hari sebelumnya. Stella duduk di lapangan diantara teman-temannya sesama mahasiswa baru bernama Niken dan juga Felix ketika seseorang menyapa mereka.
"Hai, aku boleh gabung di sini? Kalian sama-sama dari PDG juga kan?", sapanya.
"Eh hai. Iya, aku Niken", Stella menoleh ke arah suara yang sangat familiar itu ketika temannya memperkenalkan diri.
"Aku Okan", sapa Okan.
"Aku Felix mas. Asli Suroboyo", giliran Felix yang menyapa Okan. Okan tersenyum.
"Okan", katanya sambil menjabat tangan Felix.
"Stel!", Niken mencolek Stella yang diam saja tidak ikut menyapa Okan.
"Eh iya. Kita udah kenal kok", kata Stella datar. Sementara Okan hanya tersenyum kecut.
"Kalian satu SMA?", tanya Niken sambil melirik ke Stella dan Okan. Stella enggan menjawab pertanyaan itu. Beruntung saat itu suara microphone di panggung depan mengalihkan perhatian mereka. Seorang senior sedang bersiap bersama band pengiring untuk menampilkan lagu. Laki-laki yang sangat Stella kenal. Reiza.
Bersama band yang mengiringinya Reiza menyanyikan dua lagu yang tampak dinikmati oleh seluruh peserta orientasi siang itu. Selesai menyanyikan lagu Reiza menyapa seluruh maba.
"So guys, welcome to UGM. Pilihan yang gak akan kalian sesali seumur hidup kalian. Anyway, aku mau manggil seseorang juga nih yang juga berbakat buat naik ke sini. Stellananda, kelompok 7 dari kedokteran gigi!", seru Reiza. Dalam hati ia sangat senang berhasil mengerjai temannya itu.
"What? Ngapain dia panggil aku?!" Stella kaget dan panik.
"Wait, bukannya itu pacarmu ya Stel, yang sering jemput kamu?", tanya Niken sambil memperhatikan Reiza.
"Ih bukan! Ada dua mereka", jawab Stella.
"Hah? Pacarmu dua?", kali ini Felix yang bertanya.
"Bukan, mereka kembar. Cuma yang ini emang agak gesrek otaknya", ucap Stella kesal.
Seluruh peserta orientasi bersorak memanggil Stella untuk maju. Dengan muka manyun dan terpaksa ia maju ke panggung. Seperti yang Reiza katakan, Stella akhirnya membuka suara, menyanyikan lagu dengan suaranya yang ternyata tidak terlalu buruk.
“Awas, kamu Syahreiza”, gumam Stella.
--
Esok harinya Stella datang ke studio tempat band mereka, Skylight biasa berkumpul. Ia datang bersama Roni. Stella masih kesal dengan kelakuan Reiza di kampus kemarin.
"Reizaaa!!", teriak Stella begitu ia tahu ada Reiza di sana. Sementara Reiza tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalian harus liat sih muka Stella pas di panggung kemarin”, ucapnya masih dengan tawanya yang khas.
Stella mendatangi Reiza yang sedang duduk di sofa dalam studio itu. Ia mengambil bantal untuk dipukulkan ke Reiza.
"Rese banget ya jadi orang! Bikin malu tau gak!", Stella dengan semangat memukuli Reiza. Reiza menjatuhkan diri ke samping, masih di atas sofa. Stella tidak berhenti. Ia membungkam wajah Reiza dengan bantal itu sekuat tenaga sampai suara Reiza terdengar pelan. Setelah puas baru Stella melepaskannya.
"Buset kuat banget nih cewek. Bengek nih", keluh Reiza yang bangkit dari sofa itu.
"Siapa suruh macem-macem!" ucap Stella masih dengan nada kesal.
"Cocok banget emang namamu Stella. Stengah laki!", ucap Reiza kemudian disusul tawa teman-teman satu bandnya.
--
Langit Jogja pagi itu tampak biasa saja—biru muda dengan awan-awan tipis yang menggantung ragu. Tapi dada Stella justru bergemuruh. Tangannya berkeringat meski AC mobil Papa menyala. Ini hari pertamanya di Fakultas Kedokteran Gigi. Hari di mana dunia barunya dimulai.
“Udah siap?” tanya Papa sambil tersenyum dari balik kemudi.
Stella mengangguk. “Siap, Pa.”
Padahal, hatinya sama sekali tidak siap. Terbayang kehidupan baru di kampus yang akan dihadapinya. Mungkin materi kuliah atau praktium yang sulit, pertemanan baru yang mungkin akan menguras energinya, ya, bagi Stella memulai perkenalan baru adalah hal yang cukup menguras energi. Dan satu lagi. Ia harus bertemu lagi dengan Okan, masa lalunya yang belum sempat dimulai. Sedang saat ini ia sudah bersama orang lain.
Di depan gedung kuliah, Stella menarik napas panjang sebelum melangkah. Baju putih praktikum yang masih kaku, sepatu yang masih baru, dan tote bag berisi modul—semuanya terasa terlalu bersih untuk dunia yang katanya keras ini.
Hingga...
“Stella?”
Stella menoleh. Suara itu, meski agak berubah, langsung menggetarkan sesuatu di dalam dirinya. Di sana, berdiri seorang lelaki tinggi dengan rambut yang kini lebih pendek, jaket kampus disampirkan di tangan. Okan.
“Okan?” suaranya hampir tak keluar
Lelaki itu tersenyum, tenang seperti dulu, tapi ada sedikit rasa kikuk di ujung tatapannya. “Ternyata kamu beneran masuk FKG.”
“Dan kamu juga,” balas Stella, setengah sinis. Luka masa lalu itu belum benar-benar sembuh rupanya.
Mereka terdiam beberapa detik. Untungnya, datanglah penyelamat.
“Hei, guys!” Seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu. Senyumnya lebar, ramah.
“Wah, akhirnya ketemu teman. Itu tuh,” Niken menunjuk ke arah seorang cowok berbadan tinggi yang sedang ribut sendiri dengan brosur. “Udah heboh sendiri dari tadi.”
Tak lama, muncul satu lagi. Seorang cowok jangkung dengan wajah polos dan suara nyaring, berlari sambil menjinjing kotak bekal. “Woy, kalian anak FKG kan? Jangan sampai terlambat, katanya dosennya killer banget!”
“Ini Kresna,” ujar Niken sambil tertawa. “Jangan terlalu diambil serius. Dia kadang hidup di dunia lain.”
Stella tersenyum. Mungkin… akan ada hari-hari yang menyenangkan di sini.
Okan masih berdiri di dekatnya, seperti ragu mau lanjut bicara atau tidak. Tapi Stella sudah melangkah pergi bersama Niken dan Felix. Entah kenapa, langkah itu terasa seperti pembuktian kecil: bahwa ia bisa baik-baik saja. Bahwa masa lalu memang belum lupa, tapi tak harus selalu mengikat. Namun sebelum benar-benar jauh, ia sempat melirik ke belakang. Okan masih memandanginya.
--
Siang itu mereka istirahat di lorong lantai dua. Niken sedang sibuk menyusun flashcard anatomi, Felix main game di HP, dan Kresna—seperti biasa—melakukan hal yang tak wajar: mencoba menempelkan kawat gigi ke model gigi dummy sambil nyanyi lagu dangdut.
“Kres, itu bukan buat ditatoin ya,” kata Stella sambil menggeleng.
“Tenang, ini bagian dari seni kontemporer gigi,” kata Kresna dramatis. “Aku menyebutnya... ortho-punk.”
Niken tertawa sampai flashcard-nya jatuh semua. “Punk dari mana? Modelnya aja ketawa tuh.”
Okan datang dari ujung lorong, membawa dua cup teh tarik.
“Buat siapa tuh, Kan?” tanya Felix curiga.
“Buat Stella,” kata Okan santai. “Dia tadi ngeluh pusing gara-gara dokter Andhika jelasin syaraf trigeminus kayak ngaji.”
Stella melongo. “Hah? Kok inget sih…”
Okan duduk di sampingnya dan menyerahkan teh tarik. “Tadi kamu pegang kepala terus. Aku mikir kayaknya teh manis bisa bantu.”
Felix melirik ke Niken. Niken sudah menatap Stella seperti menyimpan banyak pertanyaan.
“Eh, kamu apal ya keluhan Stella tadi?” cibir Niken pelan.
“Namanya juga... temen seangkatan,” jawab Okan cepat. Tapi pipinya sedikit merah.
“Temen katanya…” bisik Kresna lirih, “Tapi gerakannya tuh... macem udah terlatih.”
Semua tertawa. Termasuk Stella, walau ia menyembunyikan senyumnya di balik cup teh Tarik.Setelah tawa mereda, mereka pindah ke taman kampus belakang untuk makan siang bareng. Sambil makan nasi rames bungkus, mereka mulai saling cerita tentang motivasi masuk FKG.
“Aku dulu pengen masuk arsitektur, tapi Mamiku mintanya kedokteran. Mana gak keterima di Airlangga, jadi deh merantau ke Jogja”, celetuk Felix
“Sama. Aku tuh jujur awalnya salah isi pilihan. Tapi ya udah, takdir”, tambah Kresna.
“Aku suka banget anatomi, terutama otot-otot wajah. Lucu!”, kata Niken.
Okan diam sebentar. “Aku, pengin bantu orang, tapi bukan di ruang operasi... Aku pilih FKG karena kita bisa bantu orang tetap senyum.”
Semua terdiam sesaat. Stella menatap Okan, teringat lagi bagaimana dulu cowok ini sempat menghilang. Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya. Belum waktunya.
“Wah... keren sih. Tapi kenapa nggak kamu ceritain waktu orientasi dulu?” tanya Felix.
Okan tersenyum, tenang. “Belum pengin aja.”
“Kalau kamu, Stel?”,tanya Kresna.
“Aku karena emang pengen jadi dokter sih. Tapi aku takut, gak kuat mental kalau harus nanganin pasien yang sakit parah apalagi sampai meninggal. Makanya pilih KG” jawab Stella dengan ketawa kecilnya.
“Agak..mirip ya sama alasannya Okan tadi”, sindir Niken.
“Apa deh Ken”, ucap Stella sinis.
Stella mulai lebih nyaman berada di antara teman-temannya, termasuk Okan. Meski ia sedikit sensitif ketika mendengar kata “SMA”. Baginya, masa-masa itu tidak akan terlepas dari kenangannya bersama Okan. Akan tetapi kenangan itu bukanlah hal yang harus ia ceritakan bahkan ia bangkitkan melainkan disimpan saja.
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...