Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

Mas Asdos

Minggu-minggu ujian akhir semester telah berhasil Stella dan kawan-kawannya lalui. Liburan yang sebagian besar diisi dengan latihan band dan tampil di panggung bersama teman bandnya atau hari-hari yang Stella habiskan di restaurant milik keluarganya demi mendapatkan uang jajan segera berlalu. Dan penghujung liburan kali ini akan ia lewatkan dengan hadir di wisuda si kembar.
Graha Shaba Pramana tampak lebih ramai dari biasanya. Balon-balon warna-warni mengambang di langit-langit tenda putih yang didirikan di halaman utama. Para wisudawan berseliweran dengan toga dan selempang emas yang menyilaukan mata di bawah matahari pagi. Di tengah keramaian itu, Stella berdiri memeluk buket bunga matahari yang dibelinya semalam, menatap ke arah gedung dengan senyum tipis.
“Beb!” suara Roni memanggil dari kejauhan.
Stella menoleh dan langsung tertawa kecil melihat Roni yang berusaha lari kecil dengan jubah wisuda berkibar seperti superhero kesiangan. Di sampingnya, Reiza berjalan lebih tenang, wajah cool-nya tak berubah, meski toga membuatnya terlihat... sedikit konyol.
“Akhirnya Upin Ipin jadi sarjana”, ledek Raka yang disusul tawa teman-temannya.
“Lihat nih,” ujar Roni bangga, menepuk-nepuk medali di dadanya. “Drummer kita resmi sarjana arsitektur.”
“Dan si kakak otw jadi dokter!” timpal Stella, menyerahkan bunga ke Reiza yang hanya mengangguk singkat tapi wajahnya sedikit memerah.
Raka datang dengan kamera digantung di leher, Bayu dan Ria masing-masing membawa goodie bag kecil.
“Lihat kalian berdua kayak jadi brand ambassador kampus,” canda Raka. “Satu serius, satu kayak mau kabur dari pelaminan.”
Roni mencibir. “Aku keren, makanya.”
“Beda tipis sama badut sirkus,” timpal Bayu, membuat semua tertawa.
Mereka kemudian berfoto bersama di bawah spanduk besar bertuliskan Selamat Wisuda. Stella berdiri di samping Roni, sedikit memiringkan kepala ke arahnya.
“Kamu bangga?” tanya Roni tiba-tiba saat mereka sudah duduk di rerumputan setelah semua acara formal selesai.
“Bangga banget,” jawab Stella jujur.
“Besok giliran kamu, ya. Aku mau jadi orang pertama yang kasih bunga ke kamu.”
“Kalau aku yang wisuda dokter gigi, bunganya harus yang tahan lama. Soalnya kamu bakal nunggu lama banget,” ledek Stella.
Roni tertawa. “Aku tahan. Asal kamu nggak kabur sama cowok lain sebelum itu.”
Stella hanya mencibir. “Emangnya siapa yang mau?”
Roni hanya tertawa.
“Abis ini apa rencanamu, Beb?”
“Ngelamar kamu aja gimana?”, goda Roni.
“Boleh. Ayo gas ketemu Papa”, Stella balik menggoda Roni yang ditanggapi dengan tawa Roni.
Reiza yang entah dari mana tiba-tiba muncul mendekati Stella dan Roni. Di sampingnya ada seorang gadis cantik yang bersamanya.
“Guys, kenalin ini Dewi. Pacar aku”
Stella hanya melongo. Sampai akhirnya menerima jabatan tangan perempuan bernama Dewi tersebut.
“Hai, aku Stella. Buset, cocok banget sih namamu Dewi. Emang secantik Dewi”
“Hahaha, bisa aja kamu Stel. By the way aku ngefans kamu, keren banget kalau lagi main biola”
“Jangan gitu sayang, ntar gede kepala dia”, cibir Reiza.
“Dih, emang aku keren kali. Ya kan, beb?”, Stella melirik ke arah Roni.
“Kapan-kapan kita harus agendain double date nih”, usul Roni.
“Asal si bapak vokalis ini gak sibuk sih ya”, sindir Stella.
Reiza dan Dewi akhirnya pergi meninggalkan Roni dan Stella untuk melanjutkan sesi foto.
“Kira-kira yang ini tahan berapa lama ya, beb?”, tanya Stella.
“Haha gak tau lah beb. Tau sendiri Reiza. Tapi semoga awet sih yang ini”


Sudah satu pekan perkuliahan di semester lima dimulai. Hari ini Stella seharusnya pergi ke kampus untuk kelas pagi. Tetapi ternyata badannya terasa sangat tidak nyaman. Ia masih berbaring di kasurnya.
“La, kok belum siap-siap ke kampus?”, Mama memanggil Stella dengan nada sedikit berteriak.
“Iya Mah ini siap-siap”, jawab Stella dengan malas.
Beberapa saat kemudian Stella keluar kamar sudah dengan baju rapi siap pergi.
“Mangkanya, La. Kamu udah dulu lah ikutan manggung. Kan udah mulai masuk kuliah”, ujar Mama.
“Iya, La. Semalem kamu pulang jam berapa coba. Papa sampai telponin itu Roni sama Reiza”, kali ini Papa ikut berbicara sambil menikmati tehnya di meja makan.
“Dengerin tuh, Kak”, Tama, adik Stella satu-satunya ikut menimpali.
“Hah, iya iya. Besok-besok udah gak bakalan sibuk manggung lagi kok kalau gak hari libur”.
Stella kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Gak sarapan dulu?”, tanya Mama.
“Gak napsu makan”
Stella pergi, ke luar rumah. Di depan rumahnya sudah ada taksi online yang menunggu. Stella masuk ke mobil itu.
“Ke bengkel Purnama ya mbak?”
“Iya, Pak”, jawab Stella dengan nada malas.
Mobil melaju dan akhirnya berhenti, bukan di kampus melainkan di bengkel dimana studio tempat Skylight biasa berkumpul. Stella naik ke lantai atas dan melihat Roni sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.
“Lho, Beb. Kamu gak kuliah?”, tanya Roni.
“Gak beb. Gak enak badan aku. Tapi kalau di rumah ntar diomelin seisi rumah kalau gak berangkat ke kampus. Tadi aja udah pada ngomel”, ucap Stella sambil menjatuhkan dirinya ke sofa di belakang punggung Roni.
“Gara-gara kemaleman ya tadi malem manggungnya?”, tanya Roni sambil menyelimuti Stella dengan jaketnya.
“Gak. Emang lagi gak sehat aja aku”
“Ya udah. Istirahat dulu aja ya. Udah makan?”
“Belum. Gak napsu makan sih”
“Nanti aku beliin bubur di depan ya”
“Hmm”
“Eh ada orang bolos kuliah nih. Kenapa Suketi?”, tanya Reiza yang tiba-tiba muncul.
“Brisik banget sih pengangguran satu nih”, ucap Stella masih sambil memejamkan matanya.
“Euluh euluh.. Kasian banget lagi sakit. Sini pak dokter periksa”, goda Reiza.
“Najis! Beb, takut banget. Suruh diem itu anomali satu!”, keluh Stella sambil pura-pura menangis.
Roni tertawa, “Za, serem sih woy!”, ucapnya.
Reiza tertawa terkekeh sebelum akhirnya meninggalkan mereka kembali.
----
Langit pagi itu masih menampung sisa gerimis ketika Stella nyaris terengah memasuki ruang kuliah. Napasnya belum sepenuhnya teratur, tas selempangnya nyaris terlepas, dan map laporan praktikum yang sudah di-staples rapi tadi pagi kini sedikit lecek di ujung.
"Stell! Cepet! Udah mulai!" bisik Niken panik dari bangku ketiga.
Stella mengangguk, buru-buru duduk di sebelah Okan yang langsung menggeser tempat duduk tanpa protes. Di depan kelas, bukan sosok berkacamata dan berambut tipis bernama drg. Ali yang biasanya mengajar mata kuliah Pengendalian Infeksi hari Rabu. Yang berdiri sekarang adalah seseorang yang asing. Tinggi, berkulit cerah. Rambutnya rapi, ekspresi wajahnya serius.
“Selamat pagi,” katanya tenang. Suaranya berat, tapi tidak dingin.
Stella merapatkan jaketnya.
“Itu siapa?”, bisiknya pada Niken.
“Fandi. Asistennya dokter Ali. Cakep ya?”
“Oh”, ucap Stella datar.
“Okay, guys. Saya sudah periksa laporan praktikum kalian. Tapi ada satu yang gak layak.”, ucap sang asdos yang bernama Fandi itu.sambil mengamati isi kelas “Stellananda. Mana orangnya?, lanjutnya.
Mata Stella terbelalak ketika namanya disebut.
“Saya, Mas!” ucap Stella sambil mengangkat tangan kanannya. Perlahan ia berdiri dan maju ke menghampiri Fandi
Fandi menatapnya sekilas. Hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat Stella merasa diperiksa dari ujung kepala hingga kaki bukan secara kasar, tapi cukup membuatnya tak nyaman.
“Kamu niat gak bikin laporan praktikum?” tanyanya dengan nada naik.
“Maaf, Mas kemarin bikinnya keburu-buru jadi lecek kertasnya” jawab Stella, berusaha terdengar netral.
“Gak cuma lecek. Tapi isinya juga ngawur! Kalau Cuma sibuk semua juga sibuk, tapi kamu bikin laporan asal kayak gini tandanya gak bias manage waktu kamu dengan baik!”, ucap Fandi masih dengan nada meninggi.
Stella hanya terdiam. Menunduk.
“Sibuk manggung tuh!” ucap Kresna di bangku belakang diikuti tawa pelan teman-teman laki-lakinya.
Stella menoleh ke Kresna dan menatap nyaris melotot ke arahnya. Kresna masih tertawa iseng.
“Kalau kamu nyepelein bikin laporan kayak gini gimana nanti kalau udah jadi dokter? Mau sembarangan juga sama pasien?”
Stella masih tak menjawab.
“Saya gak mau tahu. Kamu ulangi ini laporannya. Kasih ke saya secepatnya”, lanjut Fandi.
Kepala Stella mulai panas. Ia tahu dia melewatkan itu karena sakit, karena buru-buru menyelesaikan laporan. Tapi tidak harus dipermalukan seperti ini di depan kelas. Suara tawa kecil terdengar dari pojok belakang. Teman-teman wanitanya justru masih sibuk saling mencolek dan berbisik-bisik. Salah satu dari mereka bahkan sempat berbisik, “Ganteng banget, ya ampun.”
Saat kelas berakhir, dan Stella menutup mapnya dengan sedikit kasar, ia berkata lirih ke Niken, “Duh, aku nyesel banget masuk hari ini.”
Niken tergelak. “Dia nyebelin sih, tapi sumpah, tatapannya kayak tokoh-tokoh drama Korea.”
“Tatapan yang nyuruh kamu revisi laporan di depan umum?” kata Stella sinis.
---
Stella duduk di bangku yang ada di halaman FKG. Ada Niken, Okan, Felix, Kresna dan dua orang teman perempuan lainnya yang ikut duduk melingkar dengannya.
“Harus banget ya marah-marah bikin malu di depan kelas kayak gitu?”, keluh Stella.
“Tapi gak biasanya sih Stel kamu bikin laporan ngasal gini. Ada benernya juga kamu harus bisa manage waktu”, ucap Okan.
“Iya siap salah”, kata Stella pasrah.
“Tapi aku jadi semangat deh kalau Mas Fandi yang ngajar. Kek ada penyegaran gitu di kelas”, ucap Melita, teman Stella dengan nada centil.
Stella hanya memiringkan bibirnya.
“Dia siapa sih? Kakak tingkat? Kok gak pernah liat”, tanya Stella penasaran.
“Kemarin dokter Ali cerita kalau Fandi tuh keponakannya. Baru lulus kedokteran. Lagi nunggu buat co-ass mangkanya bantuin Pakdenya”, terang Niken.
“Wait, FK? Ngapain anak kedokteran nyasar di sini? Kek gak ada orang lain aja”, protes Stella.
“Dulu katanya pernah kuliah KG setahun terus pindah”, lanjut Niken.
“Hah apa sih. Nepo baby gitu yah ceritanya?”
“Gak papa sih yang penting ganteng. Jelasinnya juga kek lancar banget kok”, ucap Melita lagi.
“Anak kedokteran abis lulus mau co-ass. Berarti seangkatan sama Reiza dong”, ucap Stella sambil meraih ponselnya. Berencana menghubungi Reiza.
“Ah besok aja deh kalau ke studio ketemu langsung bakal kucari tahu siapa nih orang”, Stella meletakkan ponselnya di meja. Mengurungkan niatnya.
---
Reiza sedang sibuk dengan laptopnya di studio band. Beberapa teman kuliahnya ada bersamanya .
“Ini Stella kan, Za?”, Fandi yang baru kali ini diajak Reiza ke studionya bertanya setelah mengamati kumpulan foto yang tertempel di dinding. Berbagai foto dari foto konser hingga foto konyol yang dicetak dengan kamera polaroid tertempel di sana.
“Iya. Yang main biola. Tuh pacarnya Roni. Udah ditaksir dari jaman SD”, jawab Reiza santai.
“Baru ngeh gue. Kemarin ketemu di kelas. Di KG”
“Oh iya. Anak KG dia”
Sementara itu Stella menyeka keringat di pelipis, baru saja turun dari mobil. Sore itu, cuaca panas Jogja terasa berlipat dalam ruang sempit studio band mereka. Suara tawa terdengar samar dari lantai atas, diselingi dentingan gitar dan sesekali bunyi kaleng jatuh.
Stella sedikit ragu saat menaiki tangga kayu menuju lantai atas studio. Di tangan kirinya, sebuah kotak kue kecil dari toko milik Mama Stella, favorit Reiza, yang katanya “jangan lupa bawa kalau kamu mau ngobrol serius.” Stella mengerutkan kening, mencoba merapikan napas yang sempat tercekat. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan tentang Fandi.
Stella berjalan pelan, sedikit antusias setelah ide iseng muncul di kepalanya.
“Selamat sore, orgil orgil….”, sapa Stella iseng. Tiba-tiba terhenti setelah pandangannya berpapasan dengan seseorang yang belum pernah ia temui di tempat ini namun sudah tidak asing baginya.
Fandi.
Berdiri di depan diding dekat pintu. Seperti mengamati sesuatu yang tertempel di dinding itu. Tubuhnya rileks, tapi begitu Stella masuk, kepala Fandi terangkat. Tatapan mereka bertemu.
"Akhirnya dateng juga," sapa Reiza dari dalam, santai. Tapi suara itu justru membuat langkah Stella terhenti di ambang pintu.
Hening.
Hanya sebentar, tapi cukup membuat Stella menahan napas.
Fandi tampak kaget. Namun ia tidak bergerak, hanya memandangi Stella dengan wajah netral, tidak sombong, tidak juga ramah. Hanya datar dan entah kenapa, membuat perut Stella terasa aneh.
Stella mengalihkan pandang. "Ini kuenya," ujarnya pelan, melemparkan kotak kecil itu ke Reiza yang menangkapnya dengan reflek sambil tertawa.
"Eh, bentar. Mau nanya apaan tadi katanya?" tanya Reiza, sudah bersiap membuka box itu.
"Nggak jadi," ucap Stella cepat, masih enggan memandang siapa pun. Terutama Fandi.
"Ngapain buru-buru banget sih?"
"Ada urusan," jawab Stella seadanya, lalu menuruni tangga cepat-cepat, hampir tersandung di anak tangga ketiga. Hatinya berdebar aneh. Ia merasa dilihat, tapi enggan memastikan. Apa Fandi masih memandanginya?
Entahlah. Ia tak ingin tahu.
Sesampainya di luar, Stella menarik napas panjang.
"Parah banget sih Reiza. Malah diajakin ke sini" gumamnya sendiri. Tangannya mengepal kecil, menahan rasa jengkel yang bahkan tak tahu pasti pada siapa.
Stella turun ke lantai bawah. Menghampiri Roni yang sedang di ruang administrasi bengkel, mengerjakan sesuatu di depan komputer. Hanya ada seorang karyawan di ruangan tersebut.
“Udah ketemu Reiza?” tanya Roni.
“Belum, lagi sama temen-temen kampusnya. Kirain anak-anak Skylight”, ucap Stella, masih dengan nada sedikit kesal.
“Tuh udah pada bubar”, ucap Roni sambil menunjuk kea rah teman-teman Reiza yang terlihat dari pintu kaca ruangan itu.
Stella ikut mengamati mereka. Tampak empat orang teman Reiza masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan bengkel. Setelah yakin Reiza tinggal sendiri, Stella mendekatinya. Roni menyusul di belakang.
Reiza duduk di bangku dengan meja panjang di depannya. Tempat anak-anak Skylight berkumpul jika belum naik ke studio.
“Rei. Tadi aku tuh mau nanya”, ucap Stella yang sudah duduk di samping Roni, seberang Reiza.
“Nanya apaan woy. Daritadi katanya mau nanya gak jadi-jadi malah ngacir”, cibir Reiza.
“Soal temenmu itu. Si Fandi. Baru mau tanya kenal gak. Malah dibawa ke sini”
“Oh si Fandi. Ngajar di tempatmu ya dia”, ucap Reiza santai.
“Iya aneh banget anak KU nyasar di tempatku. Dan tau gak? Hari pertama ngajar udah bikin aku jengkel. Dibikin mau depan kelas gegara laprakku. Padahal dokter Ali yang dosenku itu ampun baik banget. So humble, so funny. Ini asdos doang gayanya udah kayak yang punya saham rumah sakit aja!”, terocos Stella.
Roni hanya terdiam sambil mengernyitkan dahinya memperhatikan cerita Stella.
“Hahahha. Tapi emang bener tau! Dia punya saham rumah sakit”, ucap Reiza dengan tawanya yang khas.
“Hah? Maksudnya?”, tanya Stella.
“Iya. Bapak maknya Fandi tuh tajir melintir. Dua-duanya dokter. Pure blood lah dia. Punya Rumah Sakit di Jakarta. Pernah nih kita liburan diajak ke rumahnya.. buset tuh rumah gede banget. Mana ketemu ortunya langsung ditawarin kerja di sana kalau udah lulus”, terang Reiza.
“Dih pantesan songong amat tuh orang”, ujar Stella masih dengan muka kesalnya.
“Tapi Fandi tuh orangnya humble sih Stel. Maksudnya dengan background dia yang kayak gitu gak yang petentang-petenteng. Lulusan terbaik pula dia kemarin se-FK”, lanjut Reiza.
“Tuh, Beb. Kamu Cuma belum kenal aja mangkanya kesel gitu”, ucap Roni mencoba menenangkan Stella.
“Ih gak sih”
“Sini HP mu kalau mau tau lebih lanjut”, pinta Reiza sambil meminta ponsel Stella.
“Ngapain? Pakai HP kamu sendiri lah”, tolak Stella.
“Ketinggalan di atas. Sini lah”
Stella dengan terpaksa memberikan ponselnya pada Reiza. Reiza kemudian membuka aplikasi Instagram dan mengetikkan username Fandi.
fandikrhst
Tanpa sepengetahuan Stella ia memencet tombol follow.
“Nih akunnya. Ada foto sama keluarganya”, Reiza mengembalikan ponsel itu pada Stella.
Stella melihat profil yang ditujukan oleh Reiza. Hanya ada beberapa foto yang diunggah. Ada foto keluarga. Foto Fandi sendiri dengan jas lab. Dan terakhir Fandi dengan toga dengan slempang cumlaude. Ditengah aktivitas scrollingnya Stella menerima notifikasi.
fandikrhst started following you
Saat itu Stella baru sadar kalau Reiza sudah iseng dengan akunnya.
“SYAHREIZA!!! KAMU FOLLOW PAKE AKUNKU TADI?!”, amuk Stella yang hanya disusul dengan tawa Reiza yang sangat puas.
“Gila ya! Harga diriku OMG! Mana di follback pula”, Stella mengacak acak rambutnya sendiri.
“Hahahhaa. Difollback?” Reiza kembali terkekeh.
Sementara Roni di samping Stella hanya menggelengkan kepala. Sudah terbiasa melihat keributan antara saudara kembar dengan pacarnya itu.
“Eits gak usah diunfoll. Udah terlanjur juga. Gak papa ntar juga kan temenan lho” cegah Reiza ketika melihat Stella hendak memencet tombol unfollow.
Stella membatalkan rencananya. Menuruti perkataan Reiza walau dengan wajah yang cemeberut.
“Coba kamu liat di followersnya. Namanya Jennaira. Mantannya Fandi tuh. Eh apa masih pacar ya”, ucap Reiza ragu.
Stella yang penasaran, segera melakukan instruksi Reiza.
“Yang ini?” ucap Stella sambil menunjukkan sebuah profil Instagram
“Buset cakep banget. Mantan Diajeng Jogja. Anak KU juga. Cantik banget ya Beb?”, tanya Stella menunjukkan ponselnya pada Roni.
“Apaan judes gitu mukanya. Cantikkan kamu”, jawab Roni datar.
Stella hanya tersenyum.
“Dih sama Stella juga judesan Stella kali Ron. Udah kecintaan banget emang gini nih”, ejek Reiza.
Stella masih melanjutkan aktivitas scrollingnya. Hingga berhenti pada suatu foto. Jenna bersama Fandi sedang duduk bersebelahan di sebuah restaurant mewah.
“Mereka masih pacaran, Rei?”, tanya Stella lagi.
“Gak tau. Putus nyambung seribu kali mereka. Cuma terakhir Fandi bilang udah capek banget katanya”, jelas Reiza.
“Cocok banget sih mereka. Judes sama judes. Fix jodoh sih kataku. Temen-temenku yang ngefans Fandi pasti bakalan patah hati”, ucap Stella sambil tertawa lalu menaruh ponselnya di meja.
“Tertarik kamu, Beb?”,tanya Roni sambil melirik Stella.
“Iya. Sama saham rumah sakitnya. Sama Fandinya enggak”, Stella menatap sinis Roni.
--
Hujan turun pelan di luar jendela kamar Fandi. Bukan hujan deras, hanya rintik-rintik malas yang menemani suara laptop yang baru saja ia tutup. Tumpukan kertas hasil revisi mahasiswa tergeletak di samping tempat tidur, sebagian belum disentuh.
Ia meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di meja. Membuka kunci layar, berniat hanya memeriksa jam.
Satu notifikasi Instagram muncul di atas layar.
stellananda.p just followed you.
Fandi mematung sejenak.
Stella?
Ia mengetuk notifikasi itu tanpa sadar, langsung masuk ke profil Stella. Foto profilnya sederhana—wajah setengah tertawa dengan latar pantai. Di bio tertulis singkat: “Senyum itu setengah penyembuhan.” Diselingi emoji matahari kecil.
Feed-nya penuh warna. Ada foto Stella tertawa bersama teman-temannya, video lucu saat praktik preklinik, dan di antara itu semua, beberapa foto candid yang entah kenapa terasa jujur. Natural.
Jarinya berhenti di satu foto yang memperlihatkan Stella bersama Roni. Saudara kembar Reiza, temannya. Yang sudah lebih dahulu ia kenal bahkan sebelum bertemu Stella. Ada perasaan aneh, tidak nyaman dalam dadanya ketika melihat foto itu.
Fandi menggulir pelan. Di salah satu video singkat, terlihat Stella tertawa sambil mengelap wajahnya yang terkena semprotan air, kemungkinan efek keusilan teman-temannya. Komentar-komentar bernada hangat membanjiri kolom. Ia membaca satu-dua dengan acuh.
Entah kenapa, Fandi tersenyum kecil. Tidak lebar. Hanya sedikit mengendurkan wajahnya yang biasanya kaku.
Ia kembali ke bagian atas profil, menatap tombol biru itu beberapa detik.
Follow Back
Jempolnya melayang, ragu sepersekian detik. Lalu akhirnya menekan.
Tak ada niat khusus. Setidaknya itu yang ia yakini. Tapi malam itu, di antara tumpukan revisi dan hujan yang makin deras, akun Instagram bernama stellananda.p bertambah dalam daftar kecil orang yang ia perhatikan lebih dari sekadar formalitas.
--


Other Stories
Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Ophelia

Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...

Download Titik & Koma