Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

Pohon Trembesi Sang Saksi

Pagi itu Stella berjalan ke arah kelasnya di lantai empat. Sedikit terburu-buru. Sampai di depan lift ia melihat sesosok yang dikenalnya.
Erwin. Seorang asisten dosen yang terkenal akrab dengan mahasiswa. Termasuk Stella.
“ Bang, tungguin!”, teriak Stella berusaha mengejar Erwin. Stella memang sudah akrab dengan Erwin. Kadang ia memanggilnya Mas, Bang, Kak, Pak bahkan Om.
Erwin berhenti, berusaha menahan lift.
“Ye. Buruan!”
Stella dengan wajah senang menyusul Erwin masuk lift yang sebenarnya hanya boleh digunakan oleh dosen itu. Tapi tak disangka, di dalam lift ada seseorang yang sangat tidak diharapkan Stella untuk bertemu. Fandi.
Seketika senyum Stella pudar. Mendadak canggung. Fandi pun tampak sedikit kaget dan juga canggung. Untung Erwin segera menyapanya.
“Mau ke lantai empat, bro?”, tanya Erwin sambil tersenyum ramah ke Fandi.
“Iya nih”, jawab Fandi dengan senyum seadanya.
Lift sampai di lantai tiga. Pintu terbuka dan Erwin melangkah ke luar meninggalkan Stella dan Fandi di dalam lift. Stella hanya tersenyum sedikit ke Fandi tadi. Tapi kali ini suasana menjadi sangat canggung. Terlebih ketika Stella teringat kejadian kemarin soal Instagram.
Pintu lift terbuka di lantai empat. Stella menoleh ke belakang ke arah Fandi dengan ragu-ragu dan senyum yang dipaksakan.
“Mas, sorry kemarin dibajak Reiza”, ucap Stella pelan.
“Oh, iya”, Fandi hanya menanggapi dengan nada dan tentu saja wajah datar.
Stella berlari meninggalkan lift dan Fandi di belakangnya.
“Stella!”, teriak Fandi.
Stella berhenti dan menoleh.
“Revisi laporan jangan lupa!”, lanjut Fandi.
“Iya siap”, ucap Stella kemudian kembali berlari menuju kelasnya.
Ada senyum di bibir Fandi melihat tingkah gadis itu.
“Lucu”, pikirnya.
--
Siang itu kelas pertama Stella dan teman-temannya selesai. Niken masih sibuk dengan catatannya ketika Stella mendekatinya.
“Ken, anterin yuk”, ucap Stella.
“Kemana?”, tanya Niken dengan nada malas.
“Kasih revisi laprak ke Fandi”
“Iya tungguin bentar”.
Stella melangkah ragu ketika sampai di depan laboratorium Mikrobiologi.
“Buruan sana!”, bisik Niken.
“Duh kena omel lagi gak ya?”, Stella menatap Niken.
“Gak nanggung sih”
“Temenin ke dalem yuk. Ntar kalau kena semprot ada yang pegangin”, bujuk Stella.
“Dih apaan yang mau dipegang? Buruan gih”
Stella mengipaskan kertas laporan praktikumnya.
“Duh, gini yah jadi orang dewasa tuh. Harus melakukan sesuatu yang gak disukain soalnya harus”, ucapnya sebelum melangkah ke depan pintu laboratorium. Di dalam tampak Fandi yang masih mengenakan jas putih, tampak sedang sibuk dengan tumpukan kertas.
“Assalamualaikum, permisi”, Stella mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam”, jawab Fandi. Matanya hanya melirik sedikit ke Stella sebelum kembali sibuk dengan kertas di hadapannya.
“Permisi, Mas. Mau kumpulin revisi laprak kemarin”, ucap Stella ragu. Sesekali tersenyum kaku.
“Iya, taruh meja aja”, ucap Fandi datar.
“Oke. Makasih Mas. Saya permisi”, Stella membalikkan badannya perlahan.
“Stella!”, panggil Fandi.
“Iya, Mas”, Stella langsung menoleh.
“Jangan diulangi lagi bikin laporan kayak kemarin”, ucap Fandi serius.
“Oh iya, Mas”
Stella langsung berjalan cepat meninggalkan laboratorium itu. Menghampiri Niken yang menunggu di depan pintu.
--
Sore itu di halaman kampus FKG. Di bawah pohon, pada bangku melingkar dengan meja di tengahnya, Stella sedang duduk bersama Niken, Felix, Okan. Ada Melita dan Kresna juga di sana. Stella sedang sibuk mengerjakan tugas kelompoknya yang harus maju untuk presentasi besok pagi. Seharusnya hanya ada Niken dan Felix di sana. Tetapi, ketiga orang temannya terlalu malas untuk segera pulang dan memilih untuk bergabung dengan Stella dan teman-temannya.
“Bagianmu udah belum,Lix?”, tanya Stella sambil melirik laptop Felix.
“Dikit lagi. Ntar kirim aja semuanya ke aku”, jawab Felix sambil melotot ke layer laptopnya sambil sesekali membetulkan posisi kacamatanya.
“Okay, done”, ujar Niken penuh semangat.
Pandangan Stella mengarah ke lorong di seberang sana. Seorang lelaki dengan wajah serius, membawa map berisi kertas. Tas selempangnya menggantung di pundaknya.
Fandi.
Beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya menyapanya. Fandi membalas dengan senyum seadanya lalu wajahnya kembali ke setelan awal. Mata Fandi menoleh ke arah Stella, pandangan mereka bertemu sebentar lalu Stella segera berpaling. Kembali berbincang dengan teman-temannya.
“Widih.. Lord Fandi tuh. Pujaan hatinya Melita”, sindir Stella sambil tersenyum jahil melirik ke Melita lalu melihat ke arah Fandi lagi.
“Mana eh?”, tanya Melita yang juga iseng. Sementara yang lain hanya tertawa.
“Lord Fandi dia bilang”, Niken berdecak, menggelangkan kepalanya sambil melihat Stella.
“By the way, tau gak aku kemarin ketemu Fandi di studio. Niatnya mau tanya ke Reiza eh malah tuh orang pas banget dibawa Reiza ke studio”, ucap Stella antusias.
“Oh ya? Temen deketnya Reiza?”, tanya Melita.
“Iya. Besok sekelompok co-ass sama Reiza. Dan, emang dasar otaknya Reiza tuh gesrek ya, kemarin dia pakai Instagramku buat follow Fandi. Gilak banget kan. Harga diriku langsung turun drastis”, terang Stella, kali ini dengan nada kesal.
Niken dan Melita terkekeh mendengar cerita Stella.
“Trus masih kamu follow gitu Stel?”, tanya Felix.
“Iyalah. Orang keburu difollback. Sumpah mau nangis hamba rasanya!”
“Sumpah difollback?”, Niken bertanya dengan antusias.
“Iya. Ngapain sih. Tadinya mau aku unfoll tapi kata Reiza gak usah ntar bisa temenan. Begonya aku nurut aja lagi”
“Eh iya gak usah diunfoll, Stell. Kan bisa numpang kepoin kita”, bujuk Melita.
“Terus dapet info apa lagi dari Reiza?”, Niken kembali bertanya.
“Nih. Akunnya”, Stella memmbuka ponselnya “Kata Reiza ortu Fandi tajir melintir, punya rumah sakit di Jakarta. Pure blood, bapak emaknya dokter. Trus apa lagi ya… oh ya punya mantan eh gak tau mantan apa masih pacar gitu, nih akunnya”, Stella kembali menunjukkan ponselnya yang membuka akun seorang bernama Jenaira.
“Dasar cewek ya kalau udah kepoin orang bisa ngalahin detektif”, cibir Kresna.
“Ti ati ntar kamu malah naksir, Stell”, ucap Okan sambil melirik Stella.
Felix melirik Okan dengan senyum misteriusnya.
“Ya gak lah, Kan! Males banget” ucap Stella kemudian.
--
Ruang kelas itu dingin, lampunya terang tapi tak membuat suasana lebih hidup. Mahasiswa-mahasiswa duduk dengan wajah setengah tegang, sebagian sibuk membuka file, sisanya menatap layar proyektor yang kosong.
Hari itu giliran Stella, Niken, dan Felix untuk presentasi mata kuliah Pencegahan Infeksi. Tapi sejak sepuluh menit lalu, laptop mereka menolak bersahabat.
"Kenapa tiba-tiba nge-hang, sih?" bisik Niken panik, jarinya sibuk menekan-nekan touchpad.
"Lix, kamu udah coba copy ulang file-nya?" tanya Stella, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdetak cepat.
Felix mengangguk cepat. “Udah, tapi nggak bisa detect USB-nya.”
Suara pintu terbuka menghentikan kepanikan kecil mereka. Seorang pria dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku dan tas selempang hitam masuk ke dalam kelas. Wajahnya tegas, dengan alis yang sedikit bertaut seperti sudah jenuh sebelum duduk.
Fandi.
“Kelompok Stella, Niken, dan Felix?” tanyanya sambil menatap ke arah mereka.
“Iya, Mas,” jawab Stella, berdiri ragu.
Fandi melirik layar yang masih kosong, lalu tatapannya beralih ke laptop yang sedang dikelilingi oleh ketiganya.
“Slide belum siap?” suaranya datar, tapi cukup tajam untuk membuat satu kelas diam.
“Maaf, Mas, ada masalah teknis”
“Sudah diberi waktu seminggu, dan kalian tidak siap?” potong Fandi.
Felix menggaruk belakang kepala. Niken menunduk. Stella menarik napas.
“Kalau kalian tidak bisa atasi hal sesederhana ini, bagaimana nanti saat di klinik? Pasien gak akan nunggu kalian menyambung kabel.”
Beberapa mahasiswa mulai berbisik-bisik. Wajah Stella memanas, tapi ia tahu protes hanya akan membuat segalanya makin buruk.
Ia melangkah maju, menatap Fandi tenang. “Saya presentasi sekarang, tanpa slide.”
Fandi menaikkan satu alis. “Silakan.”
Tanpa ragu, Stella berdiri di depan kelas. Suaranya bening, artikulasinya jelas. Ia menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, prinsip-prinsip pencegahan silang, hingga protokol sterilisasi dengan percaya diri dan runtut. Bahkan tanpa bantuan visual, cara bicaranya memikat. Mahasiswa lain ikut terdiam, memperhatikan dengan saksama.
Beberapa menit kemudian, Felix akhirnya berhasil menghubungkan laptop ke proyektor. Slide muncul dengan animasi pembuka yang langsung Stella lewati tanpa basa-basi.
“Baik, kami lanjutkan dengan penjelasan visual,” katanya.
Presentasi berlangsung lancar. Niken menambahkan data statistik, Felix menjelaskan studi kasus. Ketiganya bekerja kompak, menutup kekacauan di awal dengan presentasi yang nyaris sempurna.
Selesai.
Stella menatap Fandi, sedikit berharap ada apresiasi, meski kecil.
Fandi mengangguk pelan. “Lumayan.”
Hanya itu. Lalu ia membalikkan badan, mencatat sesuatu di laptopnya tanpa ekspresi.
Stella mematung sejenak. Niken menyikutnya pelan, mencoba menyembunyikan tawa.
“Lumayan, katanya,” gumam Felix saat mereka kembali ke bangku. “Padahal tadi udah kayak TED Talk.”
Stella hanya menghela napas, lalu tersenyum masam. Dalam hati, ia mencatat satu hal: Fandi, si asisten dosen berhati es, resmi masuk daftar orang paling menyebalkan minggu ini. Lagi.
Ruang kelas perlahan sepi. Satu per satu mahasiswa keluar sambil mengobrol ringan, sebagian masih membahas presentasi kelompok Stella. Tapi Fandi tetap duduk di kursinya, menatap layar laptop yang sebenarnya sudah tak ada yang perlu ditulis lagi.
“Lumayan,” gumamnya pelan, mengulang kata yang tadi ia ucapkan di depan kelas. Bibirnya bergerak, tapi tak ada senyum.
Padahal kalau boleh jujur, presentasi tanpa slide itu,bagian Stella bagus. Di luar ekspektasinya. Gadis itu berbicara dengan percaya diri, tidak sekadar hafalan, tapi paham. Dan itu langka.
Tapi Fandi tidak suka kejutan. Apalagi dari mahasiswa yang telat siap.
Ketika Stella dan dua temannya berjalan melewatinya menuju pintu, Fandi sempat melirik cepat. Gadis itu tertawa kecil sambil menepuk pundak Felix, seolah tekanan barusan tak meninggalkan jejak apa pun. Ia tangguh, pikir Fandi, dan sedikit menyebalkan.
--
Di kantin belakang kampus, Stella duduk menyandar di kursi plastik oranye, membuka kotak nasi yang baru dibelinya sambil menghela napas panjang.
“Aku masih kesal, sumpah,” katanya sambil menancapkan garpu ke dalam nasi goreng.
Felix yang duduk di seberangnya langsung tertawa. “Kenapa? Presentasi kita sukses, lho. Bahkan tanpa slide awalnya!”
“Sukses apanya? Dibilangnya cuma lumayan,” gerutu Stella, menirukan nada Fandi dengan suara dibuat datar. “Lumayan, katanya, kayak kita baru belajar alfabet.”
Niken ikut menimpali sambil menyeruput es teh manisnya. “Itu kayak dosen-dosen Korea di drama yang nggak bisa bilang ‘keren’ meskipun udah terharu. Sumpah, ekspresinya nggak berubah sama sekali.”
“Kayak robot,” tambah Felix cepat. “ASDOS MODEL T800.”
Stella tertawa pelan, lalu menunduk ke makanan di depannya. “Padahal aku udah setengah mati tadi, presentasi pakai mulut doang, nggak ada bantuan visual. Deg-degannya dua kali lipat.”
“Eh, tapi jujur, Stell,” kata Niken sambil menyuap gorengannya, “kamu tadi keren banget. Serius deh. Aku yang lihat dari samping aja berasa kayak lagi nonton TED Talk.”
Felix mengangguk dramatis. “Kamu bukan cuma Stella, kamu Stellar.”
Stella mendengus. “Udah, jangan ngegombal.”
“Tapi… kamu emang keren tadi,” lanjut Niken, kali ini lebih serius. “Dan itu si Fandi, nggak ngasih sedikit pun pujian.”
“Ya emang dia gitu kali,” kata Stella pelan. “Dingin. Kaku. Sok profesional.”
Tapi diam-diam, di balik keluhannya, ada rasa penasaran kecil yang mulai tumbuh. Bukankah sejak awal semester ini Fandi nyaris tak terlihat emosinya? Tapi tadi, sejenak, Stella merasa… seperti diperhatikan. Atau mungkin itu cuma perasaannya?
Ia menggeleng pelan, mengusir pikiran itu.
“Next time, kita siapin dua backup file,” gumamnya sambil mengunyah. “Dan bawa flashdisk, harddisk, dan mungkin satu cloud cadangan. Biar nggak bisa disalahin lagi.”
Felix mengangkat jempol. “Dan kalau bisa, bawa juga bantal buat Stella kalau dia stres.”
“Nah itu aku suka! Parah sih kuliah lagi pusing-pusingnya malah ketemu asdos spek begini”, gumam Stella.
“Kalau bisa sih,” sahut Niken cepat, “bawa juga senyum si Mas Asdos. Mungkin susah, sih.”
Ketiganya tertawa.
--
Ruang praktikum sore itu dipenuhi suara alat, bau bahan kimia ringan, dan dengungan percakapan mahasiswa. Stella sedang sibuk dengan manekin di depannya, mengenakan sarung tangan dan masker. Konsentrasinya tertuju pada gerakan tangan, mencoba menyesuaikan tekanan sesuai instruksi.
Di sebelahnya, Niken juga sedang fokus meski sempat melirik ke arah Felix di seberang, yang entah kenapa selalu lebih ribut daripada kelompok lain.
“Stel,” suara laki-laki tiba-tiba terdengar dari belakang Stella, tenang tapi cukup dekat. “Itu posisimu kurang stabil. Angle-nya miring.”
Tanpa menoleh, Stella langsung menjawab cepat, “Iya, udah tahu kok.”
Nada suaranya setengah malas. Setengah… menyebalkan.
Niken langsung menyikut lengannya pelan.
Stella refleks menoleh ke arah suara tadi dan jantungnya nyaris lompat.
Fandi.
Berdiri tepat di belakangnya, dengan clipboard di tangan dan ekspresi datar khasnya. Ia jelas mendengar balasan tadi.
“Oh my God…” gumam Stella pelan. “Maaf, Mas… Aku kira itu Kresna.”
Ada jeda. Fandi menatapnya beberapa detik, matanya tenang, sedikit sulit ditebak. “Kalau tahu, harusnya sudah benar.”
Stella mengangguk cepat, wajahnya mulai memerah di balik masker.
“Maaf… serius. Kupikir itu suara Kresna. Biasanya dia yang… suka sok-sok ngomentarin posisi orang,” ujarnya terbata, berusaha menjelaskan. “Bukan berarti aku,uh aku bukan maksud…”
“Fokus aja,” potong Fandi, tanpa nada marah. Ia lalu melirik ke manekin Stella sebentar. “Perbaikannya masih bisa dikejar.”
Dan ia pun berlalu, berpindah ke kelompok lain.
Begitu Fandi menjauh, Niken langsung menahan tawa. “Kukira kamu barusan nyamber asdos. Aku sampe keringetan.”
Stella memejamkan mata sejenak. “Mampus aku. Dia pasti tambah mikir aku mahasiswa paling songong satu angkatan.”
“Tenang, Stel. Justru itu yang bikin kamu menarik perhatian.”
“Menarik perhatian buat dikeluarin?,” gumam Stella.
--

Sore di bawah pohon trembesi kampus selalu jadi tempat ideal untuk diskusi atau sekadar kabur dari panasnya kelas. Di sana, Stella sudah duduk sendirian. Kepala bersandar di meja kayu panjang, rambutnya tergerai sedikit berantakan, matanya terpejam. Lelah. Ia menunggu Niken, Felix, Okan dan Kresna yang berjanji akan kumpul untuk bahas laporan praktikum yang bikin puyeng itu.
Dari kejauhan, Okan datang dengan dua gelas kopi plastik di tangan. Ia melihat Stella tertidur dan ragu-ragu sejenak. Tapi akhirnya, dengan pelan, ia duduk di samping Stella, lalu meletakkan satu gelas kopi tepat di sebelah kepalanya.
Sambil menatap wajah Stella yang terlelap, Okan menghela napas pendek. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia tak berniat mengganggu, jadi hanya duduk di sana, diam.
Beberapa saat kemudian, datanglah Kresna dengan langkah santai dan ekspresi seperti biasa: siap cari keributan kecil.
“Mantap, ada kopi,” katanya, langsung mengambil gelas yang baru saja diletakkan Okan.
Okan menoleh cepat, tapi belum sempat bicara, Kresna sudah menyeruput dengan puas.
“Thanks, Mas Okan ganteng.”
Okan hanya mendengus. “Itu bukan buat lo jamet.”
Kresna pura-pura tuli. “Aromanya kayak kasih sayang.”
Tak lama, Niken dan Felix menyusul. Mereka langsung membaca situasi, kopi, Stella yang tertidur, Okan yang diam, dan Kresna yang... seperti biasa, asal comot.
Felix menahan senyum, memberi kode ke Niken. “Fix, drama lagi sore ini.”
Lalu langkah berat terdengar dari arah belakang. Fandi datang, ransel selempang menyilang di bahu. Ekspresinya? Datar, tajam seperti biasa.
Kresna melambai, santai. “Masuk, Mas! Join diskusi! Biar kita nggak buta-buta amat soal laporan ini.”
Fandi sudah mendekat dan duduk di sisi seberang meja. Tepat saat itu, Stella menggerakkan tangan pelan dan membuka mata. Ia mengerjap, bingung, lalu langsung sadar: suara siapa tadi?
Begitu melihat Fandi duduk di depannya, matanya melebar sedikit. Lalu melirik ke arah Kresna dan berbisik tajam:
“Ngide banget sih ngajakin dia ke sini…”
Kresna nyengir tanpa dosa. “Biar diskusinya berbobot, dong.”
Stella mencelos. Kepalanya masih berat, dan sekarang harus diskusi sambil tatap-tatapan sama orang yang bikin tensinya naik. Okan, yang masih duduk di samping Stella, menyodorkan gelas kopi cadangan miliknya.
“Yang tadi udah disikat maling. Ini buat kamu aja.”
Stella menatapnya sejenak, sedikit terkejut, sedikit terharu, lalu mengangguk pelan.
“Thanks…”
Niken dan Felix saling sikut di seberang meja, menyimpan senyum penuh kode.
Diskusi pun dimulai. Fandi langsung membuka laptop dan mulai bicara soal struktur laporan. Sementara itu, Stella sibuk menahan emosi dan rasa kantuk yang belum benar-benar hilang. Apalagi duduk berseberangan dengan “si kaku” dan bersisian dengan “mantan bayangan”. Komplit.
Kertas-kertas berserakan, laptop menyala tapi hanya separuh layar yang menampilkan hal berguna. Kresna masih bercanda, Felix nyimak sambil ngemil, Niken sibuk mencatat, dan Fandi… mulai mengatur struktur laporan dengan cara khasnya: to the point, cepat, tanpa basa-basi.
“Jadi bagian analisis patogen ini kalian harus kasih tabel per jenis spesies, bukan cuma penjelasan umum,” ucap Fandi sambil mengetik di laptopnya, lalu menatap Stella. “Kamu yang bagian ini, kan?”
Stella mendongak perlahan, mengunyah roti kecil yang entah dari mana munculnya.
“Hmm… iya. Kayaknya gitu.”
Fandi menyipitkan mata. “Kayaknya?”
“Ya udah, iya. Nanti aku benerin,” jawabnya tanpa semangat, lalu menyesap kopi dari gelas pemberian Okan.
Suasana seketika jadi agak hening. Felix dan Niken saling melirik. Kresna mendengus tertahan.
Fandi meletakkan tangannya di atas meja, sedikit menahan diri. “Kalau kamu kerjainnya setengah hati, nanti nilainya juga segitu.”
Stella mengangkat bahu, masih malas. “Santai aja. Toh, belum dikumpulin sekarang juga.”
Okan menoleh ke Stella, suaranya tenang. “Tapi Mas Fandi ada benarnya juga. Mending dikerjain serius dari awal biar nggak ngebut belakangan.”
Stella menatap Okan sebentar, lalu mengangguk. “Iya deh….”
Kresna langsung batuk pura-pura. Niken menahan senyum, Felix pura-pura sibuk di laptopnya.
Fandi mengamati interaksi itu diam-diam. Cara Okan memiringkan badannya sedikit lebih dekat, bahkan nada suara mereka yang terasa… nyaman. Terlalu nyaman untuk sekadar “teman diskusi”.
Ia kembali ke layar laptopnya, tapi pikirannya mulai melayang sedikit. Ada sesuatu antara mereka berdua? Gumam itu muncul tanpa diminta.
Diskusi berlanjut. Tapi Fandi tak lagi fokus penuh pada laporan. Pandangannya sesekali melirik Okan yang kini tertawa kecil bersama Stella karena candaan Kresna. Ada yang terasa beda. Dan entah kenapa, dadanya agak mengeras.
Bukannya cemburu.
Belum.
Tapi mungkin… terusik.
“Aku ke kamar mandi dulu ya,” ujar Stella, sambil bangkit dan menepuk-nepuk celana kulotnya dari debu bangku taman. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah santai menjauh, meninggalkan tas dan ponselnya di meja.
“Cepet yaa, ntar keburu kelar diskusinya,” seru Niken iseng.
Stella hanya melambaikan tangan malas tanpa menoleh.
Diskusi tetap berlanjut. Kresna mulai mengoceh soal format daftar pustaka yang katanya “nggak manusiawi”, sementara Felix mengatur file di Google Drive. Fandi kembali fokus ke laptopnya, tapi sesekali matanya melirik ke arah bangku kosong yang ditinggal Stella. Lalu, ke arah Okan, yang masih duduk di tempatnya, gelas kopi kosong di tangan.
Tiba-tiba, ponsel Stella bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama yang terpampang jelas:
Roni Calling...
Okan yang duduk tepat di sebelahnya langsung melihat.
Wajahnya menegang seketika.
Tangannya reflek bergerak ke ponsel itu. Satu detik. Dua detik.
Lalu…
Reject.
Layar gelap lagi.
Tidak ada yang bicara. Tapi suasana berubah tipis seperti udara yang menegang walau tak ada suara keras. Hanya gesekan angin dan halaman jurnal yang dibalik pelan.
Niken sempat melirik, lalu menunduk lagi pura-pura mencatat.
Felix melirik sebentar, lalu pura-pura sok asyik dengan laptop.
Kresna membuka mulut, siap nyeletuk… tapi entah kenapa, menutupnya kembali.
Fandi, dari seberang meja melihat jelas. Gerakan Okan yang terlalu cepat untuk “tidak sengaja”, ekspresi wajahnya yang terlalu kaku untuk “netral”.
Pandangan Fandi mengerucut. Alisnya sedikit naik.
Tak ada kata. Tapi pikirannya mulai menyusun potongan-potongan kecil yang sebelumnya terasa acak.
Okan suka sama Stella? Tapi kenapa dia tolak telepon dari Roni?
Fandi belum bisa memastikan. Tapi satu hal jelas: Okan sedang menyembunyikan sesuatu. Dan ia bukan satu-satunya yang memperhatikan.
Beberapa menit berlalu, denting suara burung dari pepohonan menyelinap di sela obrolan diskusi yang mulai datar. Fandi masih menulis poin-poin penting, sementara yang lain berlagak sibuk meski pikiran mereka tertinggal di momen tadi.
Tak lama kemudian, langkah Stella terdengar kembali dari arah belakang.
“Udah siap belum?” ujarnya santai sambil duduk di tempat semula. Ia meraih ponselnya, hendak memeriksa catatan yang tadi disimpan.
Namun layar ponsel menampilkan notifikasi pesan masuk dari Roni:
Roni: "Kamu lagi di mana? Kok direject?"
Dahi Stella mengernyit. Ibu jarinya langsung menekan layar, melihat ada panggilan tak terjawab. Ia menatap sekeliling. Semua masih tenggelam dalam diskusi. Atau pura-pura tenggelam.
Stella mendongak, sedikit bingung. “Tadi ada yang lihat HP aku bunyi?”
Niken langsung menjawab cepat, sedikit gugup, “Eh… kayaknya kedengaran, tapi kita pikir kamu tinggal bentar, jadi…”
Felix menambahkan, “Mungkin kepencet sendiri, atau kamu kepencet pas naruh?”
Stella makin heran. “Lah tapi… aku tinggal ponsel di meja.”
Matanya lalu bergerak ke sisi kanan, ke arah Okan. Okan menatap lurus ke buku catatan di hadapannya, seolah-olah tak mendengar. Ujung jarinya menggambar garis tak jelas di atas meja kayu. Diam. Tapi terlalu tenang untuk tak bersalah.
Stella menatapnya beberapa detik, ingin bertanya, tapi urung. Napasnya sedikit ditahan.
Fandi mengamati semua itu dari seberang. Matanya sempit, membaca reaksi kecil yang terlewatkan orang lain, gerak bahu Okan yang menegang, tatapan Stella yang separuh curiga, dan cara Niken serta Felix menahan diri untuk tidak saling melirik.
Bukan hanya sekadar diskusi laporan. Bukan hanya sekadar “ngumpul buat tugas”.
Ada sesuatu di antara mereka. Dan Fandi mulai merasa, posisinya bukan cuma sebagai asisten dosen yang diundang Kresna secara iseng. Ia sekarang jadi saksi dari cerita yang jauh lebih rumit. Dan entah kenapa… bagian dari dirinya ikut terpancing.

Other Stories
Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Download Titik & Koma