Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

After He’s Gone


Stella kembali ke RSGM untuk menjalani harinya sebagai mahasiswa co-ass. Setelah dua hari kemarin ia habiskan untuk menangis, melamun, pergi ke restaurant keluarganya. Melamun di tepi pemancingan, melempar pakan sambil melamun lalu kembali menangis.
Suasana RSGM ramai seperti biasa. Pada dokter gigi muda yang sedang menjalani co-ass tampak sibuk dengan kegiatan mereka. Hari ini Stella kembali ke tempat itu. Ia melangkahkan kakinya ke lift menuju lantai tiga. Seseorang juga berada di dalam lift itu.
“Hai”, sapa Okan yang ternyata juga akan menuju ke tempat yang sama dengan Stella.
“Hai”, Stella memaksakan senyumnya.
Dalam hati Okan ia merasa serba salah tingkah. Ia tahu betul gadis itu masih berduka dengan kepergian kekasihnya dua hari yang lalu. Tak sepatah kata pun ia ucapkan selain sapaan tadi selama mereka di dalam lift.

Jam makan siang tiba, kantin dipenuhi pengunjung. Sementara itu Stella duduk sendiri di dekat parkiran. Ia hanya terdiam sendiri di sana.
“Nih, biar tetap ada tenaga walau gak doyan makan”, kata Okan sambil menyodorkan sebatang coklat kepada Stella. Stella menoleh ke arahnya dan menerima coklat itu.
“Kok tau kalau aku gak doyan makan?”
“Ya namanya juga orang lagi sedih. Dulu aku juga gitu. Waktu mama aku gak ada”, nada bicara Okan sedikit pelan.
“Sorry ya, Kan”
“Udah dimakan gih, nih minumnya biar gak nyangkut di gigi coklatnya”, Okan memberikan sebotol air mineral pada Stella.
“Makasih. Kamu sampai berapa lama kayak aku gini? Sakit, perih, remuk rasanya ditinggal orang yang kita sayang”
“Gak tau, Stel. Jujur sakitnya masih ada sampai sekarang. Kayak ada space kosong di dalam sini yang gak aku rasa gak bakalan bisa terisi lagi”, terang Okan sambil memegang dadanya.

“Bener lagi”
“Tapi ya gimana lagi, life must go on kan? Semangat yuk. Katanya harus lulus bareng periode satu?”, Okan menepuk pundak Stella.
“Iya”
“Gak semangat juga gak papa ding. Yang penting kelar. Hahaha”
“Bener juga”, Stella ikut tersenyum.
“Kalian pada di sini?”, ujar Niken yang tiba-tiba muncul bersama Felix.
Suara Niken mengagetkan mereka berdua. Ia muncul dari balik pilar parkiran, Felix mengikut di belakang dengan kantong kresek isi makan siang.
“Astaga, Stel. Dari tadi dicariin Bu Diah. Katanya kamu belum setor logbook,” ujar Niken, mendekat sambil duduk di samping Stella.
“Iya, abis ini aku setor,” jawab Stella, pelan.
Felix menyerahkan sekotak makanan pada Niken, lalu ikut duduk di atas pembatas taman kecil. Ia memandang Stella dan Okan bergantian.
“Aku sempet nyari kalian ke kantin. Eh, malah nongkrong di pojokan ginian,” gumamnya sambil mengunyah gorengan.
Stella menatap Okan sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Kami lagi bahas luka lama,” ujar Okan.
“Ciee…,” celetuk Felix spontan.
“Bukan gitu, goblok,” Okan melempar bungkus coklat kosong ke arah Felix yang langsung tertawa ngakak.
Stella dan Niken ikut tersenyum—senyum pertama Stella yang terasa lebih ringan dalam beberapa hari terakhir. Suasana di parkiran itu seperti oase kecil dari kepadatan RSGM, dan dari beban batin yang belum sepenuhnya reda.
“Kamu nggak apa-apa ya, Stel?” tanya Niken, suara sedikit mengecil.
Stella mengangguk pelan.
“Papa sih. Tapi aku tahu aku harus mulai jalan lagi.”
Ia menggenggam coklat pemberian Okan yang sudah tinggal bungkus.“Mulai dari hari ini.”
“Good. Karena besok kita udah mulai shift di prosthodonsia. Pasiennya banyak, dokternya cerewet,” ujar Niken.
“Mati kita,” Felix menambahkan sambil pura-pura garuk kepala.
Okan berdiri, lalu menepuk lututnya. “Ayo, balik. Udah cukup ‘melow time’-nya. Nanti malah dikira kabur dari klinik.”
Mereka pun bangkit satu per satu. Stella melangkah paling akhir, menatap ke langit yang cerah siang itu. Ada sedikit ruang di dadanya yang perlahan membaik. Bukan karena lukanya hilang, tapi karena ia tahu: ia tidak sendiri.
Stella baru saja keluar dari ruangan rawat. Wajahnya letih, masker sudah setengah terlepas, dan rambutnya lepek oleh keringat.
“Udah makan belum?” suara itu datang dari samping—Okan, dengan tangan menyodorkan kotak kecil berisi roti dan satu kotak susu UHT.
Stella menatapnya sekilas. “Belum sih, tapi aku mau ngerjain laporan dulu…”
“Nggak bakal bisa mikir kalau kelaparan,” potong Okan. “Makan dulu, baru kerja. Deal?”
Stella akhirnya mengangguk pelan. Ia mengambil makanan itu dan duduk di tangga belakang gedung. Okan ikut duduk di sebelahnya.
--
Langit mulai berubah warna, dari jingga muda menjadi semburat ungu yang lembut. Suara sepatu beradu dengan lantai koridor klinik sudah mulai berkurang. Mahasiswa co-ass satu per satu meninggalkan bangunan klinik setelah hari yang panjang penuh pasien dan laporan. Stella keluar bersama beberapa temannya. Wajahnya tampak lelah, tapi ada senyum tipis yang kembali menghiasi bibirnya. Senyum yang dulu sempat hilang selama berminggu-minggu.
“Stell, jadi ikut nonton film Jumat nanti?” tanya Kresna yang berjalan di sampingnya, menggantungkan tas selempang di satu bahu.
Stella mengangguk pelan. “Kalau gak ketiduran duluan sih... ikut.”
“Yaaah, Stella sekarang gak asik. Dulu mah langsung semangat kalau diajak jalan,” celetuk Niken dari belakang.
Stella tertawa kecil, membenarkan letak maskernya yang digantung di leher. “Dulu kan... masih ada yang suka jemputin.”
Mereka terdiam sejenak. Stella sendiri tak sadar bahwa ia baru saja menyebutkan sosok itu dalam kalimat spontan. Niken menggigit bibirnya, ragu mau membalas atau tidak.
“Tapi sekarang... Stella bisa jemput dirinya sendiri,” gumam Kresna pelan, mencoba menyemangati.
Stella tersenyum kecil, mengangguk, lalu mengangkat tangan ke mereka. “Duluan ya, aku parkir di belakang.”
“Ti ati, Stell” ucap Niken.
“Kalian juga,” jawabnya sambil melambai.
Ia melangkah melewati lorong yang sepi menuju area parkir belakang. Bayangan sore memanjang di antara deretan kendaraan. Hanya ada satu dua mahasiswa yang juga bersiap pulang. Sepatu Stella menginjak kerikil kecil di dekat taman kecil di ujung parkiran.
Dari kejauhan, tak terlihat oleh Stella, seseorang bersandar di pagar taman kecil—Okan. Ia baru saja menuju parkiran motor, berniat mengisi waktu sambil menunggu Niken yang katanya ingin menitipkan sesuatu. Tapi perhatiannya langsung tertuju pada sosok Stella.
Gadis itu membuka pintu mobilnya, menaruh tas di kursi penumpang, lalu duduk di balik kemudi. Okan tersenyum kecil melihat Stella masih sempat mengobrol dan tertawa tadi. Tapi, hanya dalam hitungan detik setelah pintu mobil tertutup, wajah Stella berubah.
Okan menyaksikan dari jauh. Stella menunduk. Bahunya sedikit bergetar. Tangannya menutupi mulut. Air mata turun begitu saja, tanpa aba-aba. Sesak di dadanya kembali menyergap, menyayat pelan namun dalam. Rasa hampa yang selama ini hanya ditahan di balik rutinitas co-ass dan candaan teman-teman, akhirnya menampakkan dirinya saat ia sendirian.
Okan menghela napas pelan. Tak ingin terlihat, tak ingin mengganggu. Ia hanya berdiri di sana, menatap Stella yang masih menjadi Stella yang dulu... hanya saja kini kehilangan cahaya yang pernah menerangi dunianya.
“Aku tahu kamu kuat, Stell...” gumam Okan pelan, “…tapi kamu juga boleh rapuh.”
Ia membalikkan badan, perlahan pergi tanpa suara. Membiarkan Stella melawan air matanya sendiri. Seperti biasa, Okan tetap menjadi penonton diam yang hanya bisa mengagumi dan mendoakan dari kejauhan.
Usai tugas co-ass hari itu, Okan mengajak Stella makan di warung makan kesukaannya, bukan tempat fancy, tapi tempat yang penuh kenangan.
“Aku belum pernah ngajak kamu ngobrol serius ya,” kata Okan setelah mereka selesai makan.
“Ngobrol kayak gimana?” tanya Stella, sedikit bingung.
“Ngobrol yang udah lama harusnya aku lakuin. Tentang waktu kita SMA... Hari terakhir kita ketemu.”
Stella menatap Okan, alisnya terangkat.
“Waktu itu aku nganter kamu ke bimbel”
Stella mengangguk pelan, mengingat momen itu. Tapi setelahnya, Okan tak pernah datang. Dan hilang.
“Aku nunggu. Tapi kamu gak pernah muncul,” ucap Stella pelan.
Okan menatap jauh ke depan, suaranya berubah lebih pelan dan berat.
“Sore itu… aku ketemu anak-anak dari sekolah musuh. Gak sengaja. Mereka dulu pernah punya urusan sama aku, dan rupanya belum kelar. Aku dikejar... sampai akhirnya kecelakaan. Kaki kiriku patah parah.”
Stella terkejut, matanya membesar.
“Aku dirawat lama, Stel. Gak bisa jalan berbulan-bulan. Dan… aku malu. Aku takut kalau kamu tahu. Takut kamu bakal ngerasa kasihan atau kecewa.”
Okan menunduk, tangannya mengepal di pangkuan.
“Aku pikir, mungkin lebih baik aku hilang. Tapi aku juga gak bisa ngelupain janji kita waktu itu. Tentang FKG. Jadi aku belajar mati-matian, ngejar kamu dari jauh. Aku masuk sini… karena itu satu-satunya cara buat aku merasa aku masih layak.”
Suasana jadi sunyi. Stella hanya menatap Okan, lidahnya kelu.
“Kamu marah?” tanya Okan, lirih.
Stella menggeleng, lalu menghela napas panjang.
“Aku gak marah. Aku cuma... sedih. Sorry, ya Kan. Kenapa kamu gak bilang dari dulu?”
“Aku juga sedih. Karena aku tahu, aku kehilangan momen-momen penting yang harusnya aku lewati sama kamu. Waktu aku ketemu kamu lagi di kampus, aku lihat kamu udah sama Roni. Jadi, aku pikir yang penting aku masih bisa ada di deket kamu udah cukup”
Mereka kembali diam. Tapi bukan diam yang kikuk—diam yang menyimpan sisa-sisa luka yang perlahan sembuh.
“Aku udah maafin kamu sejak lama, Kan,” ujar Stella akhirnya.
Okan tersenyum kecil. “Makasih ya.”
Angin sore mulai berubah dingin. Langit perlahan menggelap, tapi warung tempat mereka duduk masih tenang. Suara kendaraan dari kejauhan hanya seperti bisikan. Okan duduk dengan tangan di atas meja, menatap Stella yang masih menunduk, memegang kotak susu yang belum habis.
Stella membuka mulut, seolah ingin bicara. Tapi tak ada kata yang keluar. Hanya napas panjang yang terdengar berat.
Okan akhirnya bicara lebih dulu, suaranya dalam dan mantap.
“Stel… aku tahu kamu masih berduka. Aku nggak maksa kamu buat sembuh sekarang juga. Nggak mungkin.”
Stella menoleh perlahan.
“Tapi kalau suatu hari nanti kamu udah bisa tersenyum lagi, aku cuma minta satu hal,” lanjut Okan. “Boleh gak... aku dikasih kesempatan lagi? Buat nemenin kamu... sebagai aku yang sekarang.”
Ia mengulurkan tangannya, pelan-pelan menyentuh punggung tangan Stella yang dingin. Hangat tubuhnya merambat. Tapi detik berikutnya, Stella menarik tangannya menjauh.
Ia menggeleng pelan.
“Kan... dulu aku pernah nunggu kamu. Lama. Aku bahkan nangis, kecewa, dan tetap nunggu. Tapi kali ini, jangan nunggu aku.”
Okan menahan napas. Matanya mulai tampak berkaca.
“Aku... gak tahu sampai kapan aku akan begini. Aku bangun pagi dengan rasa kosong, tidur dengan dada yang sesak. Kadang aku bisa ketawa, tapi sejam kemudian bisa nangis lagi.”
Stella menatap jauh, suaranya pelan tapi tegas.
“Aku gak bisa janji apa-apa ke kamu. Bahkan ke diriku sendiri pun aku gak berani janji.”
Hening. Angin kembali meniup helaian rambut Stella.
Okan menunduk. Ia menarik tangannya, menggenggam jemarinya sendiri seolah mencoba menenangkan rasa perih yang mulai tumbuh.
“Maaf ya,” bisik Stella. “Bukan karena aku gak menghargai kamu. Tapi karena aku masih belajar bernapas tanpa seseorang yang udah jadi separuh hidupku.”
Okan mengangguk pelan. “Aku ngerti.”
“Tapi, gak papa sih ya kalau aku nunggu. Kan aku yang nunggu”, lanjutnya setengah menggoda.
“Terserah. Resiko ditanggung sendiri. Susah emang dibilangin. Gak berubah dari dulu”, cibir Stella nyaris tersenyum.
Okan tertawa.
“Aku sering banget Stel mikir, seribu kali mungkin. Kalau aja… kalau aja aku dengerin kamu waktu itu, buat gak usah ikut genk-genk-an. Kalau aja aku gak ngebut, atau kalau aja aku gak ngilang. Mungkin.. keadaannya gak bakal serumit sekarang”, Okan menghela nafas.
Tak ada lagi yang bisa diucapkan. Mereka duduk dalam diam, di antara kenangan lama dan masa kini yang rapuh.
--
Langit pagi masih berwarna biru pucat saat Stella menapakkan langkah-langkah kecilnya di lintasan jogging GSP. Embun belum sepenuhnya menguap dari dedaunan, dan udara masih segar menusuk hidung. Stella menarik napas dalam, seolah ingin membersihkan seluruh rongga dadanya dari luka yang belum sembuh.
Ia tak tahu sudah berapa putaran. Keringat menetes di pelipis, tapi pikirannya masih berat. Napasnya teratur, namun hatinya belum.
“Joggingnya sampai tumbang, Stell? Aku ngos-ngosan nih ngejar kamu”. Suara itu muncul dari samping kanannya Reiza dengan hoodie kelabu dan celana training, wajahnya sedikit sembab tapi tersenyum kecil.
Stella berhenti, menoleh, lalu mengangkat alis. “Kamu ngapain di sini?”
Reiza berjalan pelan di sebelah Stella.
“Aku tahu kamu ke sini kalau lagi galau. Jadi ya... iseng aja. Kangen bau udara pagi.”
Stella tertawa pelan, pahit. “Galau ya kata yang pas. Tapi kayaknya ini udah lewat dari galau.”
Mereka berjalan berdampingan, menelusuri jalan setapak di antara danau dan pepohonan rindang.
Stella mendesah. “Kenapa ya, orang-orang bisa tetap hidup setelah ditinggal orang yang mereka sayang? Kenapa mereka bisa tetap senyum, kerja, sekolah… sementara kita masih hancur gini.”
Reiza menoleh padanya, menahan napas sejenak sebelum bicara.
“Orang-orang juga hancur, Stel. Cuma kita nggak tahu aja. Ada yang diem-diem nangis tiap malam, ada yang pura-pura kuat sambil kerja. Tapi semua orang... berusaha bertahan.”
Stella mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca tapi masih kuat menahan.
Reiza tersenyum tipis. “Roni pernah bilang ke aku... kalau suatu hari dia nggak bisa nemenin kamu lagi, dia pengen aku sesekali nyamperin kamu. Biar kamu bisa lihat wajahnya... lewat aku. Yah walaupun ujung-ujungnya kita pasti ribut”
Stella menatap Reiza, lalu tertawa kecil—tawa yang diiringi tangis yang tak jadi jatuh. “Gila ya, dia sempat-sempatnya mikir sejauh itu.”
“Ya, namanya juga Roni. Emang tukang ngatur,” gumam Reiza sambil nyengir.
Stella menghela napas, lalu mengencangkan ikat rambutnya. “Udah ah, lanjut jogging. Badan udah enteng, hati belum.”
Reiza ikut berdiri dan mulai berlari kecil di sebelah Stella. “Eh tapi abis ini sarapan ya. Soto atau gudeg, pilih salah satu. Gak bisa nolak. Itu titipan juga dari Roni.”
Stella menoleh, tersenyum. “Kalau dua-duanya gimana?”
Reiza menyeringai. “Gak masalah. Yang penting kamu makan. Dan... gak galau lagi.”
Mereka berlari beriringan, menyusuri pagi yang perlahan menjadi terang. Hari mungkin masih penuh luka, tapi mereka terus bergerak—karena kenangan, karena janji, dan karena hidup yang tetap harus dijalani.
--
Suara notifikasi terdengar pelan dari ponsel Stella. Ia tengah duduk di pojok tempat tidurnya, ditemani lampu tidur yang remang. Hari itu terasa berat, seperti hari-hari lainnya sejak kepergian Roni. Ia membuka ponsel—sebuah pesan dari Reiza.
Reiza
“Lagi apa? Aku nemu ini pas beresin file voice note-nya Roni. Buat kamu”
Satu voice note menyusul.
Jantung Stella berdetak tak karuan. Ia ragu menekannya, tapi akhirnya ia pasrah, menekan tombol play.
“La...
Kamu inget nggak, pertama kali kita ketemu di tempat les musik? Kamu masih SD, kecil banget, rambut dikuncir dua. Aku udah SMP, sok-sokan serius belajar drum.
Kamu selalu dijemput papa kamu, terus dipanggilnya 'Lala'... lucu banget. Makanya aku juga ikut manggil kamu 'La'.
Dari dulu sampai sekarang, panggilan itu selalu bikin aku senyum. Karena kamu itu... cahaya kecil dalam hidupku.
Makasih ya, La. Makasih udah bikin hidupku penuh cinta. Penuh warna.
Maaf ya... karena aku pergi terlalu cepat. Maaf harus ninggalin kamu, maaf untuk semua janji yang nggak sempat aku penuhi.
Tapi aku nggak mau kamu sedih terus.
Pelan-pelan ya, La... bangkit lagi, kejar semua impian kamu. Dan nanti, kalau ada seseorang yang baik datang... buka hatimu, ya?
Hidup terus berjalan. Nikah, bahagia... dengan seseorang yang sayang sama kamu.
Karena kamu pantas untuk itu. I love you. So much”
Voice note berhenti.
Stella menunduk, bahunya gemetar. Air mata jatuh satu per satu hingga tak terbendung. Ia memeluk lututnya, seolah mencoba menahan dunia yang retak di dalam dadanya.
Lirih, dalam isak yang tertahan, ia berbisik—patah, tulus, dan pedih:
“Nikah? Emang boleh nikah... tapi gak sama kamu?”
Suaranya tenggelam dalam tangis yang pecah di malam yang hening. Pesan itu jadi perpisahan yang paling dalam, sekaligus dorongan yang paling menyentuh dari seseorang yang pernah ia cintai sepenuh hati.
--
Pagi itu, suasana klinik di RSGM seperti biasa riuh dengan aktivitas para dokter gigi muda. Stella duduk di kursi operatornya, menilik jadwal dan persiapan alat. Namun, asistennya hari itu, Niken, sedang izin. Felix pun sedang sibuk menangani pasien. Stella menghela napas kecil, lalu melirik ke arah seberang ruangan—Okan sedang mencatat sesuatu di meja.
Ia mendorong kursi berodanya pelan-pelan ke arah Okan, sampai berada tepat di sampingnya.
“Kan,” sapa Stella sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu ada pasien pagi ini?”
Okan menoleh, sedikit terkejut tapi langsung tersenyum. “Belum, kenapa?”
“Aku butuh asisten. Niken lagi izin, Felix sibuk. Bisa bantuin nggak?”
Okan menaikkan sebelah alis, pura-pura tersinggung. “Oh jadi aku cuma jadi last choice ya?”
Stella terkekeh pelan. “Nggak gitu. Kan biasanya kamu kalau pagi sibuk. Jadi aku nggak enak ganggu.”
Okan pura-pura berpikir lama, lalu mengangguk pelan. “Hmm… ya udah deh. Karena kamu yang minta, dan karena aku baik.”
“Thanks, Okan,” balas Stella, tersenyum.
Beberapa menit kemudian mereka sudah bersiap dengan alat dan pasien. Stella dengan tenang mulai menangani pasien, sementara Okan berdiri di sisi seberang, memegang alat bantu. Tapi entah kenapa, pandangan Okan justru lebih sering jatuh ke wajah Stella dibandingkan ke pasien. Ia tampak melamun, senyumnya menggantung tipis.
Pasien, seorang pria paruh baya, menyipitkan mata dan menggerakkan matanya ke arah Okan.
“Mas, ini saya yang diperiksa, atau mbaknya?” ujarnya, setengah bercanda tapi jelas terdengar jengkel.
Okan tersentak. “Eh, maaf, Pak! Iya, iya, fokus.”
Stella menahan tawa. Ia melirik ke arah Okan, menggeleng pelan dengan senyum geli.
“Nah kan,” bisik Stella sambil terus bekerja, “makanya jangan bengongin operator.”
Okan hanya cengengesan malu sambil mengalihkan pandangan ke alat, mencoba kembali fokus. Tapi senyum kecil di wajahnya masih bertahan—tak bisa ia sembunyikan, apalagi jika Stella sedang berada sedekat itu.


Pasien sudah keluar dari ruangan. Stella mulai membereskan alat, sementara Okan masih membantu membereskan tray instrumen. Beberapa menit kemudian, Felix dan Kresna masuk ke ruangan sambil membawa kopi.
“Nah, udah selesai?” tanya Felix santai sambil menyender ke dinding. “Tadi aku lewat, kayaknya pasienmu agak… terganggu, Stel.”
Stella melirik Okan sekilas, lalu menjawab, “Hmm, mungkin karena asistennya terlalu memerhatikan operator, bukan pasien.”
“Ohoho!” seru Kresna cepat-cepat. “Asisten macam apa itu, ya? Fokusnya salah sasaran!”
Okan hanya mengangkat tangan pasrah.
Felix tertawa. “Masalahnya, Pak, itu pasien kayaknya sampai mikir dia transparan. Kasihan loh, padahal niat mau periksa gigi, bukan jadi saksi mata orang naksir-naksiran.”
Stella memukul lengan Felix pelan sambil cekikikan. “Udah ah, ganggu banget. Fokus kerja gih!”
Dari belakang, Niken yang baru datang juga menimpali dengan suara menggoda. “Aduh, pagi-pagi udah aroma romansa, ya? Fix, ganti shift hari ini biar nggak ganggu suasana hati si operator dan asisten.”
“Boleh tuh,” celetuk Kresna. “Tapi jangan-jangan pasien berikutnya malah baper juga.”
Okan, yang biasanya cukup kalem, akhirnya ikut tertawa. Ia menepuk lengan Stella pelan dan berkata, “Udah lah, besok-besok kamu bikin form permintaan asisten tetap aja. Tulis di sana: syaratnya harus bisa fokus… ke alat, bukan ke operator.”
Semua tertawa. Dan di tengah-tengah canda itu, Stella menyadari—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—ia bisa ikut tertawa lepas bersama teman-temannya lagi.

--
Stella dan Niken berjalan berdampingan di lorong RSGM, masing-masing mencuri pandang satu sama lain. Langkah mereka cepat, senyuman tertahan.
Begitu sampai di depan parkiran Niken, mereka saling lirik dan bersamaan berkata,
"Aku mau cerita!"
Mereka berdua langsung tertawa dan masuk ke kamar Niken. Pintu ditutup rapat. Niken menjatuhkan diri ke kasurnya sementara Stella duduk bersila di bawah.
“Aku duluan ya!” kata Niken semangat.
Stella mengangguk cepat. “Oke, ayo.”
Niken menarik napas dalam, lalu memeluk bantalnya erat-erat. “Aku… sama Kresna, kita jadian.”
Mata Stella membulat. “Ha? Serius?”
Niken mengangguk, pipinya merah. “Iya. Baruuu banget tadi sore.”
“Wah gila! Aku kira kalian cuma kayak… saling nyaman doang gitu, gak nyangka! Tapi aku seneng banget, Ken! Kresna orangnya baik. Walaupun agak sinting sih”
“Makanya aku pengen cerita langsung ke kamu!” kata Niken sambil tertawa kecil. “Sekarang giliran kamu.”
Stella tersenyum tipis, lalu berkata pelan, “Okan.”
Niken langsung duduk tegak. “Kamu jadian juga sama Okan?!”
Stella cepat-cepat menggeleng. “Enggak! Bukan gitu. Maksudku… aku mau cerita tentang Okan.”
Lalu Stella mulai membuka semuanya. Tentang pertemuan mereka kembali di kampus. Tentang perhatian kecil dari Okan. Sampai cerita lama mereka saat SMA—Okan yang menghilang, kecelakaan, kaki patah, dan semua janji yang dulu pernah mereka ucapkan.
Niken perlahan membuka mulutnya, matanya membesar. Dan akhirnya, ia hampir berteriak.
“Stellananda! Empat tahun kita kuliah bareng. Co-ass udah setahun dan bisa-bisanya baru cerita soal ini?!”
Stella menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Dan aku juga… masih belum tahu perasaanku sendiri.”
Niken menghela napas panjang lalu menggeleng. “Aduh Stella. Drama hidup kamu tuh udah kayak sinetron prime time.”
“Tapi kamu tetep mau dengerin kan?”
“Ya jelas lah! Mana mungkin aku nggak ikut seru-seruan dalam hidup sahabatku yang penuh plot twist ini?”
Setelah tawa dan hebohnya mereda, Stella menatap langit-langit kamar Niken, lalu menghela napas panjang.
“Aku lanjutin ya,” ucapnya pelan.
Niken mengangguk sambil membenahi posisi duduk, siap jadi pendengar paling setia.
“Kemarin Okan ngajak aku makan bareng. Awalnya sih biasa aja… tapi ternyata dia mau ngomong sesuatu yang serius.” Stella menatap ke arah dinding, pandangannya kosong.
“Dia bilang dia tahu aku masih berduka. Tapi dia… minta kesempatan lagi. Dia bilang, dia rela nunggu. Selama apa pun itu.”
Niken memiringkan kepala. “Terus kamu jawab apa?”
“Aku bilang jangan nunggu,” jawab Stella lirih. “Aku juga bilang, aku nggak bisa janji apa-apa.”
Niken menatap Stella dalam diam. Lalu bertanya hati-hati, “Kamu masih sayang sama Okan?”
Stella terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Dulu aku pernah nungguin dia. Tapi sekarang… aku nggak tahu, Ken. Jujur, aku nyaman sama Okan. Tapi… sebagai sahabat. Bukan yang lain.”
Niken bergeser mendekat, menyandarkan dagunya ke lutut yang tertekuk. “Tapi kamu masih belum bisa ngebuka hati buat siapa pun, kan?”
Stella mengangguk pelan. “Belum. Rasanya kayak… semua bagian hati aku masih penuh sama Roni. Gimana bisa ada ruang buat yang lain?”
Niken mengusap lengan Stella pelan. “Itu wajar, Stel. Kamu baru kehilangan seseorang yang kamu cintai banget. Kamu nggak harus buru-buru sembuh, apalagi buru-buru ganti peran dalam hidup kamu.”
Stella mengangguk, air matanya kembali menggenang. “Kadang aku kasihan sama Okan. Tapi aku juga takut nyakitin dia kalau aku kasih harapan.”
“Dan itu justru bukti kamu peduli,” jawab Niken lembut. “Yang penting kamu jujur sama dia. Sama diri kamu juga. Sisanya? Ya waktu yang jalanin.”
Stella tersenyum tipis, lalu bersandar di bahu Niken. “Makanya aku cerita ke kamu. Karena kamu selalu bikin aku waras.”
Niken tertawa kecil. “Lagian kalau gak cerita, bisa-bisa aku curiga kalian udah prewed diam-diam.”
Mereka berdua tertawa kecil, lalu duduk diam dalam kehangatan malam. Di luar kamar, waktu terus berjalan. Tapi di dalam, dua sahabat itu saling menjaga, saling menyembuhkan—dengan cerita dan penerimaan.
--
Hari-hari berlalu cepat di koridor RSGM. Stella dan teman-temannya—Niken, Felix, Okan, dan yang lainnya menjalani rutinitas padat sebagai dokter gigi muda. Ruang sterilisasi, meja laporan, ruang tindakan… semua jadi saksi bisu tawa lelah, keluhan setengah bercanda, dan kecemasan yang perlahan mulai terasa nyata.
“Stel, kamu bawa proforma enggak?” tanya Niken sambil sibuk menyusun berkas.
“Duh… lupa, masih di kamar!” keluh Stella sambil menepuk kening.
“Gila, bisa-bisanya! Nih, pinjem punyaku dulu. Fotokopi aja.”
Di sela tekanan, tetap ada tawa. Di sela tawa, tetap ada tekanan.
Okan kadang muncul diam-diam, menyodorkan botol air atau sekotak roti. Sekilas sepele, tapi Stella tahu… perhatiannya masih sama. Dan justru karena itu, kadang Stella merasa bersalah. Ia belum sepenuhnya pulih, belum benar-benar bisa membuka hati. Tapi Okan terus ada. Sabar, seperti hujan yang tak pernah memaksa, tapi selalu kembali.
“Minum dulu. Nanti pingsan, siapa yang ngerjain laporan?” ucap Okan sambil menyodorkan tumbler minumnya.
Stella tersenyum lemah. “Kamu terus yang perhatian gini, aku jadi nggak enak…”
“Biar aku aja yang nggak enak. Kamu fokus lulus, ya?”
Hari demi hari berjalan. Pasien terakhir dilayani. Kasus terakhir ditutup. Laporan terakhir dikumpulkan. Kini tinggal satu langkah terakhir: ujian akhir. Mereka mulai belajar lebih intens, saling kirim soal prediksi, saling semangati saat mulai ragu.
Di ruang baca dan meja-meja kantin sore hari, mereka berkutat dengan materi yang seperti tak pernah habis. Tapi di antara lelah itu, ada rasa haru yang perlahan tumbuh. Tak terasa, perjalanan ini hampir selesai.
“Gila, kita sampai di titik ini,” kata Felix saat mereka berkumpul usai bimbingan terakhir. “Hampir lulus.”
“Kalau lolos semua, lulus periode satu. Impian kita sejak awal,” tambah Niken.
Stella mengangguk. Ia menatap langit senja di luar jendela. Hatinya terasa hangat dan pilu. Ada seseorang yang seharusnya ikut berdiri di sini. Tersenyum bangga, menyemangatinya seperti dulu.
Tapi Stella tahu, ia harus melanjutkan. Untuk dirinya sendiri. Untuk mimpi mereka.
Dan untuk satu janji diam-diam yang pernah dibuat—untuk tetap berdiri, meski hati pernah jatuh sehancur-hancurnya.

Other Stories
Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma