Last Anniversary, Last Concert
Restoran itu temaram, dihiasi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan di seluruh ruangan. Aroma makanan Italia dan musik piano lembut memenuhi udara. Di sudut ruangan yang tenang, Stella dan Roni duduk berhadapan di meja yang dihias elegan dengan lilin dan bunga mawar putih.
Stella tampak anggun dalam balutan gaun hitam selutut yang sederhana tapi memikat. Rambutnya disanggul ringan, menyisakan beberapa helaian yang membingkai wajahnya dengan lembut. Roni duduk di depannya, mengenakan kemeja hitam dengan jam tangan kulit gelap yang membuat penampilannya tampak lebih dewasa.
“Empat tahun,” gumam Roni sambil menatap Stella, tangannya memutar perlahan gelas wine tanpa benar-benar meminumnya. “Kita benar-benar sampai di titik ini.”
Stella tersenyum kecil. “Iya. Rasanya cepat banget ya. Padahal kayak baru kemarin kamu nembak aku di SMA, berantakan banget… rambut kamu acak-acakan, mata panda.”
Roni terkekeh pelan. “Tapi kamu tetap bilang iya.”
Stella mengangkat bahu pura-pura malas. “Karena nggak enak nolak. Udah dibawain bunga waktu itu.”
Mereka tertawa pelan bersama, menciptakan gelembung hangat di tengah suasana malam yang damai. Setelah hidangan utama selesai diangkat oleh pelayan, Roni menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang dan mengeluarkan kotak beludru kecil dari saku jasnya.
“Aku tahu kamu nggak suka yang ribet… tapi ini… buat kamu.”
Stella menatapnya dengan heran. Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada sebuah kalung emas tipis dengan tanpa liontin yang elegan, dua nama, Roni, Stella, terukir menyatu dalam desain yang manis, melingkar seperti tak terpisahkan.
Stella terdiam sejenak. Lalu senyum perlahan tumbuh di wajahnya.
“Beb…”
“Aku tahu ini nggak seberapa. Tapi aku pengin kamu tahu… nggak peduli sibuknya dunia, kamu tetap pusat semestaku,” ucap Roni, suaranya sedikit bergetar tapi tenang.
Stella menggenggam tangannya di atas meja. “Kamu emang selalu tahu cara bikin aku merasa istimewa.”
Ia berdiri, memiringkan tubuhnya agar Roni bisa memakaikan kalung itu di lehernya. Setelah kalung terpasang, Stella menyentuh ukiran nama pelan, seolah ingin memastikan itu nyata.
Lalu ia membisik, nyaris tak terdengar, “Semoga empat tahun ini bukan yang terakhir. Tapi awal dari selamanya.”
Roni hanya menatapnya. Dalam. Penuh arti. Tapi di balik sorot matanya, ada sesuatu yang belum ia katakan.
--
Suasana pusat perbelanjaan sore itu ramai tapi nyaman. Stella berjalan di samping Roni, lengannya menggandeng ringan lengan kekasihnya sambil matanya menyapu etalase demi etalase. Mereka sedang mencari hadiah untuk Reiza, yang dalam waktu dekat akan menjalani sumpah dokter—langkah besar setelah perjalanan panjang kuliah kedokteran.
“Kalau Reiza sih gampang,” gumam Stella sambil menunjuk kemeja elegan di sebuah toko. “Dia pasti suka yang beginian.” Stella akhirnya memilih kemeja warna biru navy.
Roni mengangguk setuju. “Oke, tapi..”
Stella menoleh saat mendengar nada ragu dari suara Roni. “Tapi?”
Roni terdiam sebentar, lalu mengembuskan napas pelan. “Bisa sekalian… nyari hadiah juga buat Fandi?”
Langkah Stella terhenti. “Hah? Fandi?”
“Dia juga sumpah dokter bareng Reiza, La. Lagian… dia sahabat Reiza juga. Nggak enak kalau yang lain kita kasih hadiah, dia enggak.”
Stella mendengus pelan, menatap Roni dengan ekspresi datar. “Kamu aja deh yang beliin.”
“Tapi kamu yang lebih ngerti barang elegan buat cowok.”
“Aku ngerti barang elegan buat cowok, bukan robot,” gumam Stella malas, tapi akhirnya tetap menyerah. “Fine. Tapi aku pilih yang biasa aja, ya.”
Tak lama kemudian, mereka masuk ke sebuah toko alat tulis eksklusif. Stella mengambil sebuah pena berwarna hitam matte dengan ukiran emas di ujungnya. Ia menatap benda itu sejenak, lalu memberi isyarat pada penjaga toko untuk menambahkan ukiran nama di sisi badan pena.
“Namanya Fandi siapa sih, Beb?”, tanya Stella pada Roni.
“Gak tau juga sih. Kamu liat coba di Instagram”
“Oh iya”, Stella lalu membuka ponselnya dan memberikan isyarat pada penjaga toko untuk menuliskan nama dr. Fandi Kurniawan Hasto
“Ucapan selamatnya, Mbak?” tanya penjaga toko.
Stella menghela napas sebelum akhirnya menyodorkan tulisan tangan di secarik kertas:
Selamat jadi (calon) penyembuh dunia.
Semoga kelak lebih banyak menyembuhkan daripada bikin tegang orang.
—S
Roni tersenyum geli melihatnya. “Bisa aja sih. Tapi manis juga”
Stella menjawab tanpa menoleh. “Manis itu cuma di ucapan. Hatinya tetap kaku.”
Mereka melangkah keluar toko, dengan dua totebag berisi hadiah di tangan. Satu untuk sahabat Stella. Satu lagi—yang bahkan tidak ingin ia beri ucapan selamat.
--
Suasana meriah terasa di pelataran GSP, balon-balon beterbangan, bunga-bunga menggantung di tangan para keluarga dan pasangan, dan senyum lebar menghiasi wajah para dokter muda. Band Skylight datang lengkap—Raka dengan kameranya, Ria dan Andre sibuk merekam instastory, Bayu sudah antre foto bareng Reiza. Roni dan Stella berdiri sedikit di belakang, menunggu giliran.
“Selamat ya, Dokter Reiza,” ujar Stella dengan antusias saat akhirnya berhasil menyodorkan buket bunga.
Reiza mengangguk dengan bangga. “Thanks, Stell. Kapan nyusul nih?” candanya Stella hanya tertawa, “Aminin aja dulu.”
Setelah beberapa saat, Roni mencondongkan badan ke arah Stella, berbisik,
“Eh, tuh... sekalian aja kasih selamat ke Fandi.”
Stella menoleh cepat. “Hah? Ngapain?”
“Biar akur. Siapa tahu suatu saat butuh bantuannya. Lagian kamu udah beli hadiahnya, kan?”
Stella mendecak, “Kan itu kamu yang maksa beli.”
“Tapi kamu yang milih penanya,” Roni membalas, tersenyum menggoda.
Stella memutar bola mata. “Yaudah... tapi abis ini traktir, ya.”
Dengan langkah ragu, Stella mendekati Fandi yang sedang dikerubungi keluarganya. Seorang ibu paruh baya—ibunya, mungkin—mengusap bahu Fandi sambil tersenyum haru. Stella berdiri agak jauh, menunggu jeda, sebelum akhirnya menyapa pelan.
“Ehem”
Fandi menoleh. Kaget, lalu tersenyum tipis. “Oh. Stella...”
Stella menyodorkan tangannya “Congrats ya, dok”, lalu menyerahkan kotak kecil berisi pena itu.
Fandi mengambil kotak itu dengan sedikit bingung, lalu membaca ukiran di atas pena:
dr. Fandi Kurniawan Hasto, dan kertas ucapan kecil.
Selamat jadi (calon) penyembuh dunia.
Semoga kelak lebih banyak menyembuhkan daripada bikin tegang orang.
—S
Sejenak, mata Fandi bergerak dari pena ke wajah Stella.
“Makasih ya,” ucapnya, tulus. “Nggak nyangka kamu bakal... ngasih ini.”
Stella mengangguk kikuk. “Iya... aku juga nggak nyangka.” Lalu ia cepat-cepat berpaling. “Oke, udah, ya. Congrats again. Bye.”
Fandi masih berdiri di tempat, menggenggam kotak kecil berisi pena hadiah dari Stella. Ia menatap ke arah Stella yang menjauh, berjalan ke arah Roni dan teman-temannya.
“Fan,” panggil suara lembut di sampingnya. Fandi menoleh. Mamanya datang menghampiri, menatap ke arah Stella juga.
“Itu tadi siapa?” tanyanya sambil tersenyum.
Fandi sempat ragu, tapi menjawab, “Teman, Ma. Mahasiswinya Pakde Ali. Namanya Stella.”
Mamanya mengangguk pelan. “Cantik.” Fandi hanya tersenyum singkat.
“Suka sama kamu, ya?” tanya Mamanya sambil menatap wajah Fandi dengan tatapan menggoda.
Fandi mendengus pelan, lalu menggeleng. “Enggak kok, Ma. Dia udah punya pacar.”
Mamanya menaikkan alis. “Oh ya? Tapi kamu kayak... seneng banget tadi. Muka kamu langsung cerah.”
Fandi tertawa pelan, pura-pura sibuk membuka kotak pena. “Enggak ah. Cuma... kaget aja dia kasih hadiah.”
Mamanya tersenyum bijak. “Ya udah, Mama doain aja. Entah dia atau siapa... semoga yang terbaik buat kamu.”
Fandi mengangguk pelan. Namun sorot matanya masih menatap ke arah kejauhan—ke arah Stella.
Roni berdiri di sisi mobilnya yang terparkir di pinggir halaman. Di tangannya, sebotol air mineral belum sempat dibuka. Tatapannya tidak lepas dari sosok Stella yang baru saja kembali setelah berbincang singkat dengan Fandi. Senyumnya biasa saja—tapi Roni tahu benar, senyum itu dibuat-buat.
“Udah?” tanya Roni pelan saat Stella berdiri di sampingnya.
Stella mengangguk tanpa menatap. “Udah.”
“Dia ngomong apa?”
“Nggak penting,” jawab Stella cepat, mengibaskan tangan seolah ingin menutup topik. Tapi roni hanya tersenyum tipis, maklum. Ia tahu Stella... kalau sudah malas, lebih banyak diam.
Mereka kembali ke kerumunan kecil anak-anak Skylight. Reiza masih sibuk foto bareng Dewi, Bayu dan Ria saling goda soal kamera, dan Raka sibuk mengambil foto candid.
Roni melirik kembali ke kejauhan, ke arah Fandi yang kini sedang bersama ibunya. Ia memperhatikan bagaimana Fandi sempat menatap ke arah mereka. Bukan tatapan iri. Bukan tatapan ingin. Tapi... ada sesuatu di sana. Sesuatu yang Roni tak bisa jelaskan—dan mungkin tak ingin tahu lebih jauh.
Stella menyandarkan kepala di bahu Roni sebentar. “Capek. Panas banget.”
Roni mengangguk pelan, tangannya menyentuh rambut Stella dengan lembut. “Makasih ya, udah mau nurut tadi. Gimanapun... dia temennya Reiza. Dan inget, gak baik Beb musuhan sama orang gitu. Aku yakin kok dia gak ada maksud jahat sama kamu”
Stella hanya bergumam, “Hmm.”
Roni menatap langit sejenak. Cerah. Sama seperti harapan yang coba terus ia jaga. Tapi jauh di dalam dadanya, rasa tak nyaman itu muncul.
--
Hari ini menjadi hari yang istimewa bagi anggota Skylight. Keyboardist yang kadang jadi vocalist dan sang manajer mereka menikah.
Suasana pernikahan Ria dan Andre berlangsung meriah. Di luar gedung resepsi yang berhiaskan dekorasi adat Jawa, Stella dan Roni sedang berjalan menuju arah mobil. Keduanya tampil serasi dalam balutan busana adat Jawa — Roni mengenakan beskap hitam dengan blangkon senada, dan Stella tampak anggun sebagai pager ayu, berkebaya cokelat muda keemasan dengan sanggul berhias bunga melati.
Tawa mereka terdengar renyah. Stella baru saja mengomentari kejadian lucu saat Andre salah ucap waktu ijab kabul. Roni menimpali dengan lelucon, membuat kekasihnya tertawa geli.
Namun langkah mereka terhenti begitu mendengar suara seseorang yang familiar.
“Eh, itu kayaknya Fandi, deh,” gumam Roni pelan.
Fandi baru saja turun dari mobil hitam, membuka pintu untuk seorang wanita yang ikut bersamanya — Jena, berpenampilan modis, mengenakan gaun pastel dan sepatu hak tinggi, menurunkan kacamata hitamnya dari kepala. Tatapan matanya cepat menangkap Stella dan Roni di kejauhan.
Fandi juga melihat mereka, dan untuk sesaat suasana jadi canggung. Ia sempat terlihat menahan langkahnya. Tapi kemudian ia berjalan mendekat dengan senyum kecil, Jena mengikuti di sampingnya.
“Hey,” sapa Fandi ringan, mencoba terlihat santai. “Selamat buat Ria dan Andre ya. Kalian jadi pager bagus dan ayu juga ya?”
“Iya,” jawab Roni sambil tersenyum sopan. “Lo dateng bareng…?”
“Iya. Ini Jena.”
Jena mengulurkan tangan ke Stella lebih dulu.
“Hai.”
Stella membalas jabatan tangan itu sambil tersenyum kaku, mengangguk pelan.
“Hai juga.”
Roni menoleh ke Stella, yang senyumnya mulai terasa dipaksakan. Fandi menangkap perubahan ekspresi itu, tapi tak berkomentar. Ia hanya menggaruk tengkuknya dan tertawa singkat.
“Kita masuk duluan ya. Mau nyalamin pengantin.”
“Silakan,” jawab Roni.
Saat pasangan itu berjalan menjauh, Stella diam sejenak, lalu memalingkan wajah ke arah lain.
“Jena…” gumamnya pelan, kemudian menatap Roni, “itu kan yang pernah dibilang Reiza… mantan putus-nyambung seribu kali itu?”
Roni mengangkat bahu.
“Kayaknya iya. Tapi ya urusan mereka, Stel.”
Stella mendecak pelan.
“Heran deh. Padahal udah tenang banget hidupku tanpa drama dia.”
Roni menahan senyum.
“Yuk masuk. Daripada nanti Reiza nuduh kita keluyuran kayak dulu-dulu.”
Stella terkekeh dan menggamit tangan Roni.
“Iya iya, Pak.”
--
Suasana studio tampak sibuk dan penuh energi. Raka menyetel kabel mic, Bayu memukul-mukul snare pelan untuk cek suara, dan Reiza sedang mengatur mixer bersama Andre yang sibuk memeriksa jadwal latihan. Stella berdiri di tengah ruangan dengan biola di tangan, menyenandungkan reff lagu mereka yang akan dibawakan di acara Dental Night—konser tahunan terbesar di kampus FKG.
“Coba sekali lagi bagian masuk bridge-nya, Stell,” ujar Reiza sambil melirik ke arah Ria yang mengangguk mengatur tempo keyboard.
Mereka mengulang satu kali lagi, sampai Stella berkata, “Stop! Segitu dulu ya... Aku harus pergi, udah janjian sama temen kampus.”
Ia menyimpan biolanya dengan cepat dan meraih tote bag di kursi. Tapi belum sempat melangkah ke pintu, suara Roni menahan langkahnya.
“Ketemu sama Okan?”
Suara Roni terdengar datar, tapi cukup menarik perhatian Raka dan Bayu yang sedang bercanda. Stella berhenti sejenak, menoleh dengan alis terangkat.
“Iya. Ada dia juga. Emangnya kenapa?”
Roni mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Nggak apa-apa. Cuma nanya. Kayak waktu sidang skripsi aku... kamu juga bareng dia kan?”
Stella menatap Roni dengan tatapan bingung. “Kamu tahu dari mana?”
Stella menatap tajam ke arah Raka yang langsung angkat tangan Roni tidak menjawab. Hanya memasukkan tangan ke saku celana dan menatap Stella sejenak, diam. Roni melangkah ke luar studio kemudian Stella mengejarnya pelan.
“Beb,” suara Stella terdengar lebih pelan, “itu tuh, cuma kebetulan doang. Kita ketemu di parkiran, terus dia nawarin anter. Aku nggak ngerti kamu mikir apa...”
“Udahlah La,” potong Roni singkat, lalu berjalan ke lantai bawah.
Stella diam. Matanya menatap punggung Roni yang menjauh, lalu menghela napas. Ia tahu Roni sedang kesal, tapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya lebih jauh. Suasana di studio mendadak canggung. Roni tak menoleh.
“Jangan marah gitu dong”, rayu Stella sambil berjalan di belakang Roni.
Roni menoleh begitu mereka sampai di lantai bawah. Tepat di dekat tangga.
“Aku udah tau, La. Kalian pernah punya cerita. Tapi aku gak pernah bahas karena aku percaya sama kamu. Tapi kamu jangan polos-polos amat lah jadi orang. Aku tau kok dia masih suka sama kamu. Kelihatan dari cara dia liat kamu kemarin pas wisuda”, ucap Roni setenngah marah.
“Ya terus aku harus gimana? Ngusir dia biar gak deket-deket aku gitu?”
Roni menghela nafas pelan,”Coba kalau posisinya dibalik, aku boncengin mantan aku, aku deket-deket sama dia?”.
“Ya.. gak gimana-gimana. Paling aku..Cuma tantrum”, jawab Stella asal, “Eh tapi dia bukan mantan aku ya. Aku gak pernah jadian sama Okan.”
“Sama aja, La”, ucap Roni lalu kembali melangkahkan kaki ke studio.
“Udah ya aku gak mau debat kayak gini. Aku udah ditunggu yang lain”, Stella mencoba berbicara pada Roni yang kali ini tampak tak ingin mendengarnya.
--
Sorot lampu panggung menghantam wajah Stella yang berdiri di tengah panggung bersama anggota Skylight. Riuh tepuk tangan penonton menyambut kemunculan mereka, tapi malam ini terasa berbeda. Stella tidak menoleh ke arah drum, ke arah Roni seperti biasanya sebelum pertunjukan dimulai.
Mereka masih berseteru. Tidak ada sapa. Tidak ada anggukan. Bahkan tidak ada kontak mata. Hanya kesunyian yang terasa keras di tengah dentuman speaker.
Namun, seperti biasa, mereka tetap profesional. Lagu-lagu dibawakan dengan penuh semangat. Stella memulai dengan suara biolanya, Reiza memimpin vokal, dan Roni menggebuk drum dengan semangat. Lagu terakhir mereka, City of Dreams, menggema di seluruh GSP dan membuat penonton larut dalam atmosfer malam itu.
Sorak-sorai meledak saat lagu berakhir. Mereka menunduk, memberi salam, lalu satu per satu mundur ke belakang panggung.
Backstage – Beberapa Menit Kemudian
Stella segera menuju belakang panggung, menarik napas dalam-dalam. Ria menyusulnya, lalu disusul Bayu, Raka dan Reiza yang masih bercanda dengan beberapa panitia acara. Tapi Roni belum muncul.
Bruk!
Suara tubuh jatuh keras terdengar dari arah belakang. Semua orang menoleh.
“RONI!!” teriak Reiza.
Roni tergeletak di lantai, tubuhnya tidak bergerak. Stick drum masih tergenggam lemah di tangan kanannya. Wajahnya pucat. Panitia dan anak-anak Skylight langsung panik. Reiza berlutut di sampingnya, menepuk-nepuk pipi Roni.
“Roni! Ron, bangun! Roni!”
Bayu langsung berlari memanggil tim medis. Ria menahan napas dengan tangan menutupi mulutnya. Raka berdiri kaku. Stella hanya bisa membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya ia berlari mendekat.
“Roni!” jeritnya, suara mulai bergetar. Ia jatuh berlutut di sisi Reiza, menatap wajah kekasihnya yang tak menunjukkan respons apa pun. “Roni, bangun dong… please...”
Hatinya bergemuruh. Ketegangan yang sempat mereka simpan berubah jadi kekhawatiran mendalam. Tangan Stella gemetar saat menyentuh lengan Roni. Saat itu juga, ia sadar—tak peduli sedang bertengkar atau tidak, kehilangan Roni adalah sesuatu yang tidak sanggup ia bayangkan.
Tim medis datang membawa tandu. Stella mundur perlahan, menatap tubuh Roni yang diangkat. Matanya berkaca-kaca. Dan malam yang semula penuh cahaya, berubah menjadi malam yang paling sunyi untuk Stella.
--
Hujan turun perlahan di luar jendela ruang tunggu. Di dalam, suasana masih tegang. Stella duduk memeluk lutut, wajahnya penuh kecemasan. Reiza mondar-mandir di lorong. Ria duduk bersandar di bahu Andre. Tak ada suara, selain detak jam dinding dan sesekali langkah perawat yang lewat.
Pintu ruang IGD terbuka. Seorang dokter pria paruh baya melangkah keluar, mengenakan jas putih dan raut wajah yang serius. Semua langsung berdiri.
“Dok, gimana keadaan Roni?” tanya Reiza.
Dokter itu menarik napas sebelum menjawab. Matanya menatap satu per satu dari mereka dengan tenang.
“Kondisinya sudah stabil sekarang. Tapi… saya harus bicara jujur.”
Stella meremas ujung bajunya.
“Sebenarnya… pasien ini sudah menjadi pasien rawat kami beberapa bulan terakhir. Ia menjalani pengobatan untuk limfoma, kanker sistem limfatik.”
Sunyi.
Semua saling pandang, seolah tak percaya apa yang baru saja mereka dengar.
“A-apa maksudnya, Dok?” ucap Stella dengan suara gemetar.
“Roni… sudah tahu kondisinya. Dia yang meminta agar tidak banyak orang tahu. Tapi malam ini tubuhnya kelelahan. Ia terlalu memaksakan diri.”
Reiza terduduk. “Jadi selama ini dia… tahu?”
“Dia pasien kami sejak empat bulan lalu,” lanjut sang dokter. “Kami sudah menyarankan agar ia lebih banyak istirahat.”
Stella terdiam, menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Kapan… kapan kami bisa ketemu?” tanya Reiza perlahan.
“Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang rawat. Tapi saya minta jangan terlalu ramai. Pasien butuh ketenangan,” jelas dokter itu, lalu berlalu.
Stella berdiri. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Ria memeluknya, menenangkan. Tapi air mata Stella tak kunjung berhenti.
“Kenapa dia nggak bilang…” bisiknya.
Reiza mengepalkan tangan. “Dasar Roni. Masih aja mikirin orang lain duluan.”
Stella mengusap matanya, lalu menatap pintu ruang rawat yang tertutup.
Di balik pintu itu… sosok Roni yang selalu kuat, diam-diam bertarung dengan sesuatu yang tak pernah ia tunjukkan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya… Stella merasa sangat takut kehilangan.
--
Lampu temaram menemani kesunyian malam. Roni terbaring lemah di ranjang rumah sakit, selang infus terpasang di tangannya. Di balik kaca jendela, hujan masih turun pelan.
Pintu diketuk pelan.
Tok tok.
Roni menoleh. Wajahnya sedikit pucat, tapi tetap tersenyum ketika melihat siapa yang masuk.
Stella.
Dengan langkah ragu tapi mantap, Stella berjalan mendekat. Tatapannya buram oleh air mata yang tertahan. Ia berhenti di sisi ranjang, menatap Roni tanpa berkata apa-apa untuk beberapa saat.
Roni mencoba bercanda, suara pelan, “Tumben kamu diam. Biasanya banyak protes.”
Tapi Stella tak tertawa. Suaranya pecah saat akhirnya bicara.
“Kenapa kamu nggak bilang, sih Beb”
Roni hanya menunduk. Jemarinya bermain dengan selimut putih yang menutupi kakinya. Stella berlutut di sisi ranjang, memegang tangan Roni yang penuh bekas tusukan jarum infus. Air matanya jatuh satu-satu.
“Kamu pasti sedih. Dan takut. Tapi kamu nyimpen sendiri semua itu. Sendirian…”
Suara Stella gemetar.
“Maaf… aku nggak peka. Maaf… kalau selama ini aku malah bikin kamu stres. Marah-marah, cemburu, egois…”
Roni menggeleng perlahan.
“Aku bahagia, Stel,” jawabnya lirih. “Aku ngelewatin semua ini karena masih bisa ngelihat kamu ketawa. Denger kamu marah. Bahkan… dimarahin juga aku syukurin.”
Stella menunduk lebih dalam, menahan isak. Ia menyandarkan dahinya ke tangan Roni.Roni menatap ke langit-langit. Nafasnya dalam dan pelan.
Lalu Stella berkata, dengan suara pelan tapi yakin:
“Kalau kamu berjuang… aku juga bakal berjuang. Aku temenin kamu sampai sembuh”
Roni menggenggam tangan Stella lebih erat. Dalam diam, hanya itu yang bisa ia lakukan. Karena kata-kata sudah tak mampu menampung semua rasa yang menggumpal di antara mereka.
Dan malam itu, di ruang kecil yang sunyi… Stella menangis di sisi cinta yang diam-diam bertarung antara hidup dan kehilangan.
--
Hari mulai siang. Cahaya matahari menerobos dari celah gorden, menghangatkan ruang rawat yang sunyi. Stella duduk di kursi samping ranjang, tertidur sebentar sambil memegang tangan Roni.
Pintu kamar kembali terbuka.
Raka muncul lebih dulu, membawa satu kantong plastik isi jajanan pasar.
“Pagi, Ron. Nih, makanan favoritmu. Walau kamu nggak boleh makan sembarangan, minimal ngeliatnya aja bisa nyemangatin, kan?”
Ia tertawa kecil, lalu duduk di sofa. Melihat Stella yang masih tertidur, ia berkata lebih pelan. Tak lama kemudian, Bayu datang.
“Aku udah bikin aransemen baru buat lagu kita. Kamu harus dengerin. Tapi nanti... pas kita udah kumpul lengkap lagi, di studio. Janji ya, bro?”
Lalu Ria datang dengan Andre di belakangnya. Ria langsung memeluk Roni tanpa berkata apa-apa. Ia menahan tangis. Andre meletakkan bunga kecil di meja dekat tempat tidur.
“Skylight nggak lengkap tanpa drummer-nya. Kamu tahu itu,” ucap Andre pendek.
Kemudian Reiza masuk. Wajahnya letih karena shift malam, tapi ia tetap tersenyum. Di tangannya, ada hasil cetakan not balok lagu baru.
“Aku tulis lagu baru. Judulnya Untuk yang Masih Bertahan. Kamu harus mainin drum-nya. Dan jangan pakai alasan cuti sakit.”
Roni tersenyum lemah, matanya basah. “Kalian… lebay banget.”
Tapi mereka semua tahu, tidak ada dari ini yang lebay. Semua ini… tulus.
Terakhir, Stella terbangun. Ia menatap sekeliling. Semua anggota Skylight ada di sana. Meski hatinya masih genting, ia merasa ada kekuatan di ruangan itu.
Roni menatap mereka satu per satu. Lalu berujar pelan:
“Aku bakal sembuh. Karena kita belum selesai nulis lagu terakhir kita.”
Semua mengangguk. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, mereka kembali merasa seperti keluarga.
--
Jadwal Stella kini berubah drastis. Setiap pagi ia berangkat lebih awal dari biasanya, berseragam putih dengan jas pendek dan name tag ‘Koas Dokter Gigi’. Langkahnya cepat, matanya masih sedikit sayu karena semalam pulang larut dari rumah sakit.
Di ruang koas, Niken menyapanya sambil membawa catatan.
“Sempet istirahat nggak, Stell?”
“Setengah jam, cukup kok,” jawab Stella sambil tersenyum, meski wajahnya jelas kelelahan.
Siang hari, setelah sesi diskusi dan pasien klinik, Stella melirik jam tangannya. Ia buru-buru pamit, mengganti jasnya dan bergegas menuju rumah sakit tempat Roni dirawat.
--
Roni sedang tertidur ketika Stella datang. Ia masuk pelan-pelan, meletakkan kantong berisi roti panggang dan buah potong di meja. Kemudian duduk di samping tempat tidur, menatap wajah Roni yang pucat tapi masih tersenyum walau setengah sadar.
“Maaf ya aku baru datang... Dosenku tadi nahanin lama,” bisiknya pelan.
Tiba-tiba, tangan Roni bergerak menggenggam tangan Stella. Matanya terbuka setengah.
“Aku tahu kamu bakal datang... Walau sesibuk apa pun.”
“Aku nggak mungkin nggak datang,” Stella berusaha tersenyum. Tapi suaranya lirih.
Mereka diam. Cuma suara alat infus dan nafas halus yang terdengar.
“Jangan capek-capek, La. Koas itu berat. Aku tahu.”
“Berat banget, Ron... Tapi yang bikin lebih berat itu bukan pasien, bukan dosen... Tapi ninggalin kamu sendirian di sini.”
Mata Roni menghangat. Ia menggeleng.
“Aku nggak sendirian. Ada Bunda, Ayah, sama Rana. Kamu ada. Kalian semua ada.”
Stella menarik nafas panjang, menahan air mata.
Cahaya matahari senja menembus tirai putih yang sedikit tersingkap. Suasana ruangan sunyi, hanya terdengar suara mesin infus dan hembusan napas yang pelan. Stella datang lagi—kali ini tak sekadar duduk. Ia perlahan memanjat ke sisi ranjang dan berbaring di sebelah Roni, menyelipkan lengannya di bawah kepala Roni, lalu memeluk pinggang kekasihnya yang makin kurus.
Mereka diam beberapa saat. Roni menyandarkan dagunya di atas kepala Stella. Aroma samponya yang lembut masih sama seperti dulu. Hangat. Familiar.
“Inget nggak… waktu kita pertama kali ke studio Skylight?” bisik Stella.
“Yang kamu telat datang bareng Raka, masih pakai seragam SMA?”
“Iya, yang kamu kaku banget waktu itu.”
“Itu bukan kaku. Itu… gaya.”
Stella terkekeh kecil. Tapi tawa itu cepat meredup, tergantikan dengan hening yang berat. Ia menarik napas pelan.
“Beb…”
“Hmm?”
“Kamu harus sembuh. Aku mau kita manggung lagi. Mau kamu duduk di belakang drum dan aku main biola sambil nengok ke belakang kayak dulu.”
Roni tak langsung menjawab. Tapi kemudian ia bicara, suaranya lirih namun tegas.
“Kamu… akur ya sama Reiza. Aku udah titipin kamu ke dia.”
Stella menoleh cepat, wajahnya menegang.
“Jangan ngomong gitu. Aku bisa jaga diri sendiri. Dan aku akur sama Reiza karena… dia calon kakak iparku.”
“Stella…”
“Enggak, denger aku dulu.”
Ia menatap Roni dengan mata berkaca-kaca.
“Aku di sini, baring di sebelah kamu, karena aku nggak akan pergi. Aku akan nemenin kamu. Sampai kamu sembuh. Titik.”
Roni hanya diam. Tapi air mata jatuh dari sudut matanya. Pelan. Diam-diam. Ia memejamkan mata, menarik Stella lebih dekat, seolah ingin merekam detik itu selamanya.
Di luar, matahari benar-benar tenggelam.
Pintu kamar itu terbuka perlahan. Cahaya dari koridor menyelinap masuk sejenak, lalu tertutup kembali saat sosok Fandi melangkah masuk. Ia mengenakan jas putih panjang, name tag tergantung di dada, dan clipboard di tangan. Pandangannya langsung jatuh ke arah ranjang tempat Roni dan Stella masih berbaring, meski kini sudah tak saling berbicara. Hanya sunyi dan napas lembut yang tersisa di antara mereka.
“Permisi...” suara Fandi terdengar pelan, nyaris seperti bisikan.
Stella menoleh. Ia segera duduk, menyibakkan rambutnya yang sempat menutupi wajah, dan menatap Fandi dengan tatapan tak terduga. Ada rasa canggung, tapi juga kelelahan yang nyata di wajahnya.
Roni mengangkat kepala sedikit, menyipit menahan cahaya.
“Fan... kamu tugas hari ini?” tanyanya lemah namun ramah.
Fandi mengangguk sambil melangkah pelan mendekat.
“Iya. Aku jaga bangsal. Sekalian mampir ke sini. Reiza yang cerita soal kamu.”
Ia tersenyum, meski agak kaku. Tak mudah berada di ruangan ini—dengan Stella, dan Roni, dalam kondisi seperti itu.
“Maaf ganggu... aku cuma mau lihat sebentar. Kalau ada yang bisa kubantu, bilang aja.”
Stella hanya mengangguk singkat, menunduk lagi tanpa berkata-kata. Fandi menuliskan sesuatu di clipboardnya lalu meletakkan stetoskop dari lehernya, memeriksa catatan medis Roni yang tersandar di meja kecil dekat tempat tidur.
Selama beberapa detik, suasana hening lagi. Bahkan mesin infus seolah mengatur ritme napas mereka yang tak seirama.
“Kamu hebat, Ron,” ucap Fandi akhirnya. “Masih bisa senyum, masih bisa bikin Stella ketawa di tengah semua ini.”
Roni hanya mengangguk pelan.
“Itu... karena aku punya alasan buat tetep senyum.”
Fandi menatap mereka berdua. Ada sesuatu dalam sorot matanya—campuran rasa hormat, iri, dan mungkin... kehilangan.
“Oke. Aku lanjut visit dulu. Jaga diri, ya.”
Ia menatap Stella sebentar. “Stel…”
Stella tak menjawab. Hanya sekilas menoleh. Fandi akhirnya keluar, membiarkan pintu menutup perlahan di belakangnya. Suara klik pintu kembali menciptakan keheningan.
Roni menghela napas.
“Dia baik... walau anehnya kamu dulu sebel banget sama dia.”
Stella melirik dengan mata setengah senyum.
“Hmm. Masa sih?”
Mereka tertawa kecil.
Setelah berminggu-minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya hari itu Roni diperbolehkan pulang. Tapi bukan berarti ia sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih lemah, rambutnya mulai menipis karena efek kemoterapi, dan geraknya terbatas. Ia masih harus menjalani perawatan intensif di rumah, dengan pengawasan medis dan obat yang teratur.
Di ruang tamu yang telah disulap menjadi ruang perawatan sederhana, Roni duduk di sofa dengan selimut di pangkuan dan teh hangat di tangan. Stella masuk sambil membawa tas besar berisi catatan dan boks makan siang.
“Mama nitip sayur lodeh buat kamu,” ucap Stella, meletakkan bungkusan di meja. “Katanya biar nggak bosan makan makanan rebus mulu.”
Roni tersenyum lemah.
“Makasih. Kirim salam ya buat Mama.”
Stella duduk di sebelah Roni, menghela napas panjang. Wajahnya lelah tapi tetap cerah.
“Hari ini aku ada pasien anak. RSGM juga penuh banget...” Ia berhenti lalu menoleh, “Kamu… kuat kan sendirian tadi pagi?”
Roni mengangguk pelan.
“Ada Ayah sama Rana tadi pagi. Mama juga lagi ke pasar. Tapi yang paling penting, kamu datang.”
Stella menunduk, menggenggam tangan Roni yang mulai dingin.
“Maaf kalau aku nggak bisa selalu lama. Tapi aku bakal selalu datang. Kamu tahu itu kan?.”
“Aku tahu.”Suara Roni pelan. “Aku bersyukur banget kamu masih di sini, walau kadang aku takut... aku jadi beban.”
Stella menatap matanya lekat.
“Kamu bukan beban, Beb. Kamu rumah. Tempatku pulang, walaupun aku capek.”
Roni mengedip cepat, menahan emosi.
“Tapi kamu juga harus jaga diri. Jangan maksa.”
Stella tersenyum tipis dan mencubit pelan lengan Roni.
“Kalau kamu aja bisa tahan sakit kayak gitu, masa aku kalah sama capek dikit?”
Mereka tertawa kecil bersama, suara lembut yang menggema di ruangan hening. Di luar, matahari sore menyusup lewat jendela, membentuk pola hangat di lantai. Dan di dalam, meski tubuh lemah dan waktu terus berjalan, ada satu hal yang tetap kuat — cinta yang diam-diam, tapi tak tergoyahkan.
--
Dini hari.
Ketukan di pintu terdengar pelan tapi tergesa.
Tok. Tok. Tok.
Stella menggeliat lemah di ranjang, membuka mata dengan kesadaran yang belum utuh.
“Kak Lala…”
Suara Tama, adik laki-lakinya, terdengar dari balik pintu.
“Cepetan bangun. Mas Reiza nelpon… suruh kamu ke rumah sakit. Sekarang.”
Detik itu juga, rasa kantuk menguap tanpa bekas. Dada Stella langsung berdegup kencang, firasat buruk menyergap. Ia melompat turun dari ranjang, meraih hoodie dan tas tanpa banyak tanya.
Mobil melaju dalam keheningan. Jalanan masih gelap, lampu-lampu jalan temaram. Tak ada yang bicara. Stella menggigit bibir, menahan gugup, menahan takut. Jantungnya nyaris pecah di setiap detik.
Rumah Sakit.
Koridor bangsal terasa lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Stella cepat, tergesa. Matanya langsung menangkap sosok Reiza berdiri di depan salah satu kamar. Hoodie-nya lecek, wajahnya kusut, mata merah tapi kering—seolah air matanya sudah habis ditumpahkan.
Reiza hanya menoleh sebentar ke arah Stella.
Tanpa sepatah kata.
Hanya gelengan pelan.
Tidak.
Stella terhenti. Tubuhnya seperti dihantam tembok tak kasat mata.
“Rei…”
Suara itu nyaris tak terdengar keluar dari bibirnya.
Reiza tidak menjawab. Hanya menunduk.
Stella menoleh ke pintu kamar yang terbuka sedikit. Dari celahnya terlihat Rana, duduk di sisi ranjang. Wajahnya tertunduk, bahunya terguncang pelan. Di sisi lain, kedua orang tua Roni duduk terdiam. Mata mereka kosong, seperti tak percaya apa yang mereka lihat di hadapan mereka.
Roni… terbujur diam di ranjang. Pucat. Tenang. Seolah hanya tidur. Tapi terlalu sunyi. Stella mundur satu langkah, lalu jatuh terduduk di lantai dingin lorong rumah sakit. Tangannya menutup mulutnya, mencoba menahan isak. Tapi gagal.
Air mata membanjir, suara tangisnya pecah. Dalam. Liar.
“Nggak… nggak kayak gini akhirnya… Nggak gini, Ron…”
Tama langsung berjongkok, memeluk Stella dari samping.
“Aku di sini, Kak… Aku di sini…”
Stella menggenggam lengan adiknya erat-erat, seolah takut tenggelam dalam lubang besar bernama kehilangan.
Lorong rumah sakit tetap sunyi. Tapi di sanubari Stella, suara itu paling berisik:
suara kepergian yang tak sempat diucapkan selamat tinggal.
--
Langit mendung, awan berat menggantung seolah ikut berkabung. Hujan belum turun, tapi aroma tanah basah sudah menyelimuti udara.
Pemakaman Roni dipenuhi pelayat. Para anggota Skylight berdiri dalam formasi yang nyaris tak pernah mereka pakai sebelumnya—bukan di panggung, tapi di sekitar liang lahat sahabat mereka. Reiza, meski berusaha tegar, berkali-kali menyeka matanya diam-diam.
Raka berdiri kaku, tangannya mengepal di balik jaket. Ria menangis dalam pelukan Andre.
Dari kejauhan, tampak teman-teman kuliah Roni dan Reiza berdiri diam, mengenang sosok ceria yang kini hanya tinggal kenangan.
Di sisi kanan, Stella berdiri terpaku. Wajahnya datar, terlalu kosong untuk disebut sedih.
Ia tak lagi menangis. Seolah air matanya sudah terkuras sejak malam itu. Niken menggenggam tangannya erat, selalu ada di sisinya. Kresna berdiri di belakang mereka, sesekali menunduk, tak berkata apa pun.
Tak jauh dari sana, Fandi hadir dalam diam. Ia tidak mendekat. Hanya berdiri dengan kepala tertunduk. Tidak satu pun kata keluar dari mulutnya. Tapi mata itu menyimpan banyak yang tak sempat disampaikan.
Kemudian, datang dua sosok lagi. Felix dan… Okan. Felix memberi anggukan pelan pada Stella, lalu berdiri di antara teman-teman Skylight. Sementara Okan berjalan pelan, menunduk, lalu berhenti di samping Stella. Tak ada sapaan. Tak ada kata. Hanya diam.
Stella menoleh sejenak, menatap Okan. Ia tidak tersenyum, tapi matanya melembut.
Okan merespons dengan anggukan kecil. Mereka berdiri berdampingan, menyaksikan tanah demi tanah ditimbun perlahan, tempat Roni dibaringkan untuk selamanya.
Langit masih menahan tangisnya. Tapi di dalam dada Stella, badai belum berhenti.
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...