Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

Ter- Fandi- Fandi



Suasana malam itu ramai dengan nostalgia. Tawa dan obrolan lama mengisi setiap sudut resto tempat reuni kecil kelas SMA diselenggarakan. Stella duduk di pojok ruangan, berusaha setenang mungkin meski hatinya enggan sejak awal. Ia hanya ikut karena bujukan Raka—teman yang tak pernah menyerah untuk membuat Stella keluar dari kubangannya sendiri.
Saat sesi permainan berlangsung, Raka tiba-tiba menoleh dan berkata, “Stel, pinjem kalungmu bentar dong. Buat games. Seru-seruan aja, kok.”
Stella sempat ragu, jemarinya menyentuh liontin kecil di lehernya. Kalung itu hadiah ulang tahun terakhir dari Roni. Ukiran nama mereka berdua masih terasa hangat di dada. Tapi entah kenapa, mungkin karena suasana sudah terlalu ramai dan semua orang menyoraki untuk ikut, Stella akhirnya melepaskannya. “Jangan sampai ilang ya,” katanya pelan.
Acara berlangsung meriah. Tapi sesudahnya, Raka datang dengan wajah panik.
“Stel… kalungmu… aku lupa naruh di mana.”
Jantung Stella seperti diremas. Ia berdiri spontan, matanya menyisir ruangan yang mulai kosong. “Raka, kamu bilang apa barusan?”
“Maaf, aku… aku taruh di meja, terus dipakai buat games. Habis itu aku tinggal sebentar, eh… udah nggak ada.”
“Raka!” suara Stella meninggi, napasnya sesak. Tangannya gemetar. “Itu… itu dari Roni!”
Namun semua sudah bubar. Restoran pun mulai sepi. Stella berdiri di parkiran dengan kepala tertunduk. Dada seperti berlubang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata.
Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar suara yang begitu familiar, tenang dan rendah.
“Stella…”
Ia menoleh cepat.
Fandi berdiri di sana, satu tangan di saku celana, tangan lain memegang kalung itu dengan ukiran nama yang tak asing lagi. “Ini punyamu, kan? Aku lihat jatuh di bawah meja tadi waktu mau pamit ke pelayan.”
Stella membeku. Tangannya terangkat pelan, lalu menerima kalung itu seolah memegang serpihan jiwanya sendiri. “Makasih… makasih banget, Mas…”
Fandi menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Lain kali hati-hati.”
Stella menunduk, menggenggam kalung itu erat-erat, seolah memeluk kehadiran Roni sekali lagi melalui benda kecil itu. Dan di sela malam yang sunyi, ia tahu—kenangan mungkin tak bisa kembali, tapi rasa yang dijaga tak akan pernah benar-benar hilang.
Fandi menyandarkan punggungnya di pagar pembatas parkiran. Angin malam berembus pelan, menyibak beberapa helaian rambut Stella yang belum sempat ia rapikan. Ia menatap kalung itu sekali lagi, sebelum akhirnya menoleh ke arah Fandi.
“Kamu masih marah sama aku?” tanya Fandi tiba-tiba, suaranya pelan tapi jelas.
Stella tersenyum kecil. Tawa lirih lolos dari bibirnya. “Hah? Marah? Enggak kok.”
“Yakin?” Fandi mengangkat alis, setengah bercanda tapi matanya serius.
“Iya. Roni pernah bilang… nggak baik marahan sama orang lama-lama. Berat katanya.” Stella menatap langit gelap yang bertabur sedikit bintang. “Dan aku sepakat. Hidup ini udah cukup berat.”
Fandi ikut tersenyum. Tapi ada kelegaan samar dalam ekspresinya.
“Dulu… aku banyak salah, Stel. Dan aku nggak pernah sempat minta maaf.”
“Aku juga kok. Rese”, kata Stella sambil tersenyum kaku.
Fandi mengangguk pelan. Hening beberapa detik menyapa mereka, bukan canggung, tapi tenang—seperti dua orang yang akhirnya bisa bicara tanpa beban.
Fandi tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Stella dalam-dalam, seolah ingin menyimpan versi gadis itu yang ada di hadapannya malam ini.
“Aku duluan ya,” katanya pelan sebelum melangkah pergi, meninggalkan Stella yang kembali memandang kalung di tangannya—lalu memasukkannya di tasnya tanpa memakainya lagi.
--
“Gue kemarin ketemu Stella, Za” ujar Fandi sembari meletakkan cup es kopinya.
“Stella?” Reiza bertanya meyakinkan.
“Iya. Stella lo”
“Hahaha kok Stella gue sih” .
“Kemarin gak sengaja ketemu di resto Jakal. Ada Raka juga”
“Terus lo ngomong gak sama dia?”
“Iya ngobrol bentar kita”
“Bukan. Maksud gue, lo ngomongin perasaan lo ke dia belum?” goda Reiza.
Uhuk! Fandi yang sedang menyeruput kopinya sontak saja tersedak mendengar pertanyaan Reiza.
“Maksud lo apaan?”
“Yaela bro. Gue juga udah tau lagi dari dulu lo ada perasaan Stella. Bahkan Roni juga tau kok”.
“Hah? Roni?”
“Iya, dulu gue sama Roni pernah ngegibahin lo. Sampe gue bilang gak akan ngajakin Lo lagi kalau ada Stella. Kocak sih kalau inget. Cuma ya Roni yang santai aja sih gak gimana-gimana” terang Reiza.
Fandi terdiam sejenak.
“Emang kliatan banget ya?”
“Hahaha iya. Dari pas lo ikutan kita syuting, sampe yang terakhir gue pergokin lo senyum-senyum sendiri liatin hadiah dari Stella waktu habis sumpah dokter. Yaudah sih. Gas aja. Menurut gue its time bro. Udah dua tahun. Stella mungkin udah bisa buka hati lagi” Reiza meyakinkan Fandi.
“Iya sih. Gue liat kemarin dia juga udah balik ceria lagi. Cuma gue masih pesimis aja. Bingung aja mau mulai dari mana. Tau sendiri gue udah lama gak PDKT sama cewek. Apalagi dulu hubungan gue sama Stella gak begitu baik. Masih inget gue waktu dia bilang I hate you abis sidang skripsi dia. Serem banget” ujar Fandi.
“Hahaha, kebayang sih gue. Yaudah. Gini aja, gue bantu tipis-tipis. Btw besok pagi Lo bisa gak sarapan bubur depan?” tawar Reiza.
“Bisa aja sih. Kenapa emang?” tanya Fandi.
“Besok gue ajakin Stella, mumpung dia masih coass kan di RSGM. Lo siapin aja materinya”
“ Siapin materi udah kayak presentasi aja” jawab Fandi sambil tersenyum mendengar ide temannya itu.
Kedua dokter residen itu bangkit dari tempat duduknya. Keluar dari coffee shop, berjalan untuk melanjutkan tugas mereka.

--

Stella duduk seorang diri di sebuah bangku warung bubur ayam di depan RSGM. Tangannya sibuk mengetik pesan untuk Reiza.
“Rei, dimana? Uda..” belum selesai ia mengetik pesannya, Reiza sudah muncul bersama Fandi.
“Widih.. udah sampe aja tuan putri” Reiza menyapa Stella.
“Tuan putri.. biasa juga panggil suketi” jawab Stella. Sementara Fandi hanya tersenyum melihat dua orang yang jarang akur tersebut.
Reiza menyenggol lengan Fandi untuk maju agar duduk di bangku depan Stella. Fandi yang paham dengan kode Reiza hanya menurut.
“ Loh, ada Mas Fandi juga” ujar Stella ketika melihat Fandi.
“Iyanih. Mas Reiza kan baik hati jadi ajakin mas Fandi yang habis ikut operasi berjam-jam. Sekarang dia butuh alasan buat senyum” jawab Reiza.
“Trus apa hubungannya sama botol kecap pak?”, ledek Stella sambil mengangkat botol kecap di depannya.
“Gak papa kan aku ikutan gabung” kata Fandi sambil duduk di depan Stella.
“I..iya gak papa”, jawab Stella sambil tersenyum.
“Udah pesen, Stel?” tanya Fandi.
“Belum. Baru sampai juga. Pesenin dong mas Reiza yang baik hati. Sekalian bayarin ntar”, pinta Stella pada Reiza disusul tawanya.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka sampai di hadapan mereka. Sambil memakan bubur Reiza membuka percakapan.
“Udah lama banget gak sih kita gak makan bareng gini?”
“Iya. Lama banget..”jawab Stella dengan nada datar. Dalam benaknya teringat masa-masa mereka duduk bersama Roni.
“By the way, co-ass kamu udah mau selesai Stel?”, Fandi mencoba mencairkan suasana.
“Alhamdulillah. Doain ya guys, semoga lancar bisa segera ikutan ujian”
“Semoga lancar ya, sampai pindahin gelar di belakang jadi di depan nama Stellananda”, ucap Fandi.
Sementara itu Reiza tampak pura-pura sibuk dengan ponselnya.
“Guys, duluan ya. Ini aku suruh ikut operasi darurat. Mau siap-siap”, ucap Reiza sambil terburu-buru bangkit dari kursinya, meninggalkan buburnya yang masih setengah.
“Hah? Iya deh, semangat Rei” ucap Stella.
Stella tampak canggung kini hanya berdua dengan Fandi. Baru kali ini mereka berdua duduk sedekat ini tanpa ada teman-teman kampus atau band yang di sekitar mereka.
“Kamu tuh ambil spesialis bedah umum juga kan Mas, kayak Reiza?”, Stella kembali membuka percakapan sambil berusaha menghabiskan makanannya.
“Bukan. Kalau aku di bedah saraf”
“Hah? Bukannya itu sekolahnya paling lama ya? Kok bisa sih pilih itu?”
“Haha, bener. Sebelas semester sekolahnya. Hampir enam tahun. Sengaja sih tapi, biar ada alasan stay lama di Jogja. Gak suruh buru-buru balik ke Jakarta”
“Dasar! Emang ya orang-orang yang ngerantau ke Jogja tuh kayak berat banget ninggalin Jogja”, ucap Stella diselingi tawanya.
“Bener sih. By the way, kalau ujiannya lancar, kapan disumpahnya Stel?”
“Semoga bisa ikutan awal bulan depan”
“Aku boleh dateng?”
“Hah? Eh, iya boleh aja kok”
“Janji deh gak bakalan bikin kacau atau bikin kamu marah lagi”
“Hahaha. Baru mau aku ingetin”
“Terus habis lulus kamu mau langsung ambil spesialis apa gimana?”
“Hah. Enggak lah, aku mau menenangkan diri dan cari duit”
“Haha. Kirain aja mau langsung sekolah lagi. Atau mau nikah gitu”
“Dih nikah juga sama siapa”
“Kalau sama aku gimana?”, ucap Fandi asal.
Stella yang sedang meneguk tehnya langsung tersedak. Sementara Fandi memalingkan wajahnya karena salah tingkah.
“Duh Fandi bego banget, ngapain lo nanya-nanya kayak gitu”, ucap Fandi dalam hati.
“Udah selesai makannya?”, Fandi kembali bertanya setelah situasi canggung tadi.
“Iya udah. Kamu mau balik ke RS?”
“Iya. Kamu juga mau ke RSGM kan?”
“Ok, aku duluan ya”, Stella pamit dan meninggalkan Fandi sendiri. Tak lama kemudian Fandi juga beranjak dari tempat duduknya.
“Udah dibayar sama temen saya tadi kan pak?, tanyanya pada sang pemilik warung.
“Iya udah mas. Semangat ya PDKT nya”, goda si bapak. Fandi hanya tersipu.
--
Fandi menghampiri Reiza yang sedang duduk di depan komputer sibuk dengan laporan rekam medis.
“Katanya mau siap-siap operasi, Za?”
“Eh udah balik. Masih ntar siang kok. Bohong doang tadi biar kalian bisa berdua. Gimana tadi?”
Fandi mengambil kursi dan duduk di sebelah Reiza. Tangannya menopang dagunya dengan muka memelas.
“Kayaknya gue gak suka lagi deh Za sama Stella”
“Hah abis diapain lu sama dia? Emang dasar tuh cewek psy..”
“Iya gue gak suka lagi sama dia. Tapi gue sayang deh Za”, sambar Fandi sebelum Reiza selesai bicara.
“Hoeeek! Jiji banget gue liatin lu kaya gini”
Fandi hanya tertawa kecil.
“Udah sayang-sayangnya. Noh bapak lu dateng”, ujar Reiza sambil menunjuk seorang dokter senior yang berjalan ke arah mereka. Fandi segera beranjak dan mengambil clipboard bersiap untuk visit pasiennya.
--
Stella baru saja masuk ke RSGM tempat dia coass. Pikirannya masih tertinggal di warung bubur tadi. Wajahnya masih terasa hangat. Ada perasaan yang tidak biasa setelah perbincangannya sejenak dengan Fandi tadi.

“Astaghfirullah mikir apa woy Stella”, ucapnya dalam hati. Ia lalu berlari ke dalam, menghampiri Niken yang sudah ada di sana.
“Morning guys”, sapanya pada Niken, Kresna dan Okan.
“Morning. Tumben sumringah amat neng”, ucap Niken.
“Iya soalnya udah sarapan hehe”
“Alhamdulillah udah inget makan sekarang”, tambah Okan.
“Iya tadi diajakin Reiza makan, sama.. Sama pacarnya. Iya sama pacarnya”
“Kalian udah beres semua daftar UKMPPDG?”, tanya Kresna.
“Yups”
“Udah”
“Iya udah”
“Bismillah ya lulus guys. Ada rencana belajar bareng gak?”, tanya Okan.
“Ntar kabari aja ya guys”, Stella lalu pergi meninggalkan mereka entah kemana.

--
Pukul 20.00 di depan RS Sardjito. Fandi tengah menunggu ojek online yang akan mengantarkannya pulang. Ia duduk di tangga sambil membuka sosmednya.
Update terbaru dari pemilik akun @stellananda.p Sebuah foto memperlihatkan Stella dengan kemeja warna biru duduk dengan Niken dan satu lagi teman perempuannya. Fandi menahan agar ia lebih lama melihat foto itu.
“Cie.. lagi liatin foto siapa?”, tiba-tiba Reiza muncul dari belakang dan memencet tanda hati di ponsel Fandi.
“Eh, Za!”, Fandi setengah terkejut menyadari Reiza datang tiba-tiba.
Reiza bukannya berhenti malah merebut ponsel Fandi.
“Cantik banget yang pakai baju biru”, ucapnya sambil mengetikkan kata-kata yang sama di ponsel Fandi.
“Woy apaan Za! Ngasal banget”, ujar Fandi sambil merebut kembali ponselnya.
“Eits jangan dihapus!”, liat responnya ntar.

“Sorry dibajak Reiza”, ketik Fandi di ponselnya. Sementara Reiza hanya tertawa melihat tingkah temannya itu.
Sementara itu, Stella membuka ponselnya dan mendapati pesan dari Fandi. Sejenak ia terkejut melihat pesan itu, tapi segera senyumnya mengembang setelah membaca kalimat “sorry dibajak Reiza”.
Stella iseng membalas pesan itu.
Yah udah seneng dibilang cantik gak taunya bajakan
Fandi yang baru saja sampai, bersandar pada bahu sofa di apartemennya tersenyum melihat balasan pesan Stella. Sejenak berpikir kalimat apa yang paling sesuai untuk membalasnya.

Fandi
Eh tapi emang cantik kok. Cuma gak berani bilang aja hehe

Stella
Hahaha gak berani bilang soalnya serem banget ya

Fandi
Iya. Apalagi kalau marah
Stella
Wkwkwk. Lah emang aku segalak itu ya?
Fandi
Enggak sih... tapi waktu kamu bilang “I hate you” abis sidang skripsi, itu tuh... kayak dihantam gelombang tsunami.
Stella
Maaf ya... waktu itu emang aku lagi chaos banget. Tapi sekarang kan udah enggak, kan?
Fandi
Iya, sekarang kamu kayak matahari jam 7 pagi. Hangat, tapi nggak bikin gosong.
Stella
Ih apaan sih
Fandi
Hehe. Tapi serius, Stel... aku seneng bisa ngobrol lagi sama kamu kayak tadi. Nggak tahu kenapa, rasanya... nyaman aja.
Stella
Hmm... aku juga gak nyangka sih bakal senyaman itu. Padahal dulu... yah, kamu tau lah
Fandi
Tau. Tapi aku gak nyangka masih bisa ketawa bareng kamu lagi setelah semuanya.
Stella
Mungkin karena kita sama-sama udah banyak berubah. Sama-sama belajar.
Fandi
Mungkin. Tapi satu yang nggak berubah.
Stella
Apa?
Fandi
Aku masih suka kamu.
(⋯ketik ⋯hapus ⋯ketik ⋯hapus ⋯)
Fandi
Eh maksudnya... masih suka ngobrol sama kamu. Masih suka kalau kamu senyum.
Stella hanya menjawab dengan emot icon tanpa ekspresi.
“Apasih ini kok makin gak bener aja”, ucap Stella yang langsung menenggelamkan wajahnya di bantal. Tapi dalam hatinya ada rasa hangat bahkan debaran aneh yang lama tidak ia rasakan.
--
Suasana di luar auditorium siang itu terasa semarak. Bunga, balon, dan papan ucapan berjejer rapi menghiasi pelataran. Para keluarga, sahabat, dan pasangan saling sibuk mengabadikan momen sakral hari itu: Sumpah Dokter Gigi.
Stella melangkah keluar dari gedung bersama Niken, Okan, Kresna, dan Felix. Cahaya matahari yang hangat memantulkan kilau dari kebaya indah yang dikenakan oleh Stella dan Niken. Stella memilih kebaya bernuansa biru lembut yang mempertegas kesan anggun, sementara Niken tampak menawan dengan warna peach yang lembut. Di pundak mereka, selempang putih bertuliskan “drg.” diikuti nama mereka masing-masing, menjadi simbol nyata dari perjuangan panjang yang akhirnya berbuah manis.
Di sisi mereka, tiga lelaki dalam setelan jas tampak gagah: Okan, Kresna, dan Felix. Mereka tampak santai tapi matanya penuh kebanggaan. Kamera demi kamera mengarah pada mereka. Tawa dan pelukan saling bersahutan.
“Akhirnya... dokter cuy!” teriak Kresna sambil mengacungkan tangan ke udara.
Stella tertawa kecil, lalu membungkuk sedikit, membetulkan dasi Felix yang sedikit miring.
“Duh, kamu tuh ya. Jas rapi, dasinya enggak,” omelnya pelan sambil membenahi.
Felix tersenyum kecil. “Terima kasih, Bu Dokter.”
Namun senyum Stella sedikit memudar. “Abis ini kamu pulang ke Surabaya ya?”
Felix mengangguk, sorot matanya sejenak menenangkan. “Iya... Mami udah nunggu. Enam tahun lho Stel, aku kabur dari rumah. Katanya, kalau aku gak pulang hari ini juga, aku disuruh daftar rumah jompo.”
Stella tertawa, walau matanya tampak sedikit berkaca.
“Ya udah, balik. Tapi jangan lupa video call tiap minggu. Atau... tiap hari juga gak papa sih.”
“Tenang aja, kamu gak akan ketinggalan satu pun gosip keluarga Felix.” Ia menatap Stella dan tersenyum hangat. “Thanks ya, udah jadi bagian dari enam tahun hidup aku yang luar biasa ini.”
Mereka bertukar pandang sesaat. Tak perlu banyak kata-kata lagi.
Dari belakang, Niken menggoda sambil mengangkat kamera: “Eh, eh, kita foto dulu! Stella jangan nangis. Nanti foundation-nya luntur!”
Mereka tertawa lagi. Sejenak, waktu seakan berhenti untuk memberi ruang pada bahagia. Gelar, perjuangan, dan persahabatan, semuanya berpadu di hari itu.
Suasana semakin riuh ketika dari kejauhan Stella melihat sosok-sosok yang amat dikenalnya.
Ria datang sambil menuntun langkah pelan, perutnya yang membuncit membuatnya tampak makin bersinar sebagai calon ibu. Di sampingnya, Andre berjalan dengan wajah penuh bangga. Tak jauh dari mereka, Reiza datang bersama Dewi, menggandeng tangan kekasihnya dengan senyum lebar. Raka muncul dengan gaya santainya, dan Bayu menyusul dari belakang, membawa buket bunga yang sedikit kusut—mungkin karena terburu-buru.
Stella spontan melangkah cepat menghampiri mereka.
“Selamat, Dokter Stella!” seru Ria sambil membuka tangan lebar untuk memeluknya.
Stella memeluknya hati-hati, lalu menoleh ke perut Ria. “Duh, baby-nya udah besar! Kapan due date-nya?”
“Sebulan lagi,” jawab Ria sambil tersenyum lebar. “Baby-nya nunggu tante Stella sumpah dulu, baru dia mau lahir.”
Tawa mereka pecah, lalu Stella menyalami satu per satu. Ketika giliran Reiza, Stella tak berkata apa-apa. Ia hanya menatap mata sahabatnya itu.
Reiza yang mengerti, langsung membuka tangannya lebar. Stella masuk dalam pelukannya.
“I miss him,” bisik Stella, suaranya pecah. “So much...”
Tangis yang selama ini ditahannya luruh begitu saja di pelukan Reiza. Reiza hanya menepuk-nepuk pundaknya pelan, diam dalam duka yang juga dirasakannya.
Andre menunduk, Bayu menatap langit, Raka menghela napas panjang, dan Ria mengusap air matanya yang jatuh diam-diam. Semua tahu, yang dimaksud Stella adalah Roni—satu nama yang hari ini terasa paling nyata dalam ketidakhadirannya.
“Dia pasti bangga banget liat kamu hari ini, Stel,” ucap Reiza lirih di telinganya.
Stella mengangguk dalam pelukan itu. Selempangnya mungkin bertuliskan “drg. Stellananda C.P,” tapi hari ini, ia merasa seperti gadis kecil yang baru saja menyelesaikan babak terberat hidupnya.
Dengan air mata yang masih mengalir, ia tersenyum kecil. “Thank you, udah datang. Semuanya.”

Saat mentari mulai condong ke barat dan satu per satu tamu mulai berpamitan, halaman tempat upacara barusan digelar perlahan lengang. Stella berdiri bersama keluarganya, senyum masih tersisa di bibir, namun matanya sibuk menyapu sekeliling.
Reiza yang belum pulang menangkap gelagat itu. Ia mendekat, menyelipkan tangan ke saku celana dan mencondongkan badan sedikit.
“Nyariin siapa, hayo?” godanya sambil mengedip sebelah mata.
Stella cepat-cepat berpura-pura sibuk merapikan selempangnya. “Enggak kok. Nyari Niken tadi.”
Reiza mengangkat alis. “Niken udah pamit lima belas menit lalu, bu dokter.” Ia tertawa kecil lalu menepuk pundak Stella. Reiza lalu berpamitan.
Ketika Stella hendak masuk ke mobil keluarganya, suara seseorang memanggilnya.
“Stella!”
Sontak Stella berbalik. Di kejauhan, Fandi berlari kecil sambil membawa buket bunga matahari bercampur lily putih dan sebuah kotak kecil berwarna cokelat muda, diikat pita biru.
Stella tertegun. Bajunya sedikit kusut, rambutnya acak-acakan, tapi senyum di wajah Fandi tak kalah bersinar dari bunga yang dibawanya.
“Maaf telat,” ujarnya sambil terengah. “Tadi sempet nyangkut di ruang IGD, ada pasien masuk mendadak.”
Stella tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. “Gak apa-apa.”
Fandi menyerahkan bunga dan kotak itu. “Selamat, Dokter Stellananda. You deserve this day.”
Tiba-tiba Tama yang berdiri di sampng Stella berbicara “Fotoin juga gak nih” dengan nada malas. Seolah sudah lelah seharian tadi ia menjadi juru kamera kakaknya dan teman-temannya.
Mereka pun berpose sebentar—Stella memegang buket dengan senyum malu-malu, sementara Fandi berdiri di sampingnya, satu tangan menyelip di saku jasnya. Jepretan kamera mengabadikan momen sederhana, tapi istimewa.
Setelah berpamitan dan Fandi berlalu bersama Tama, Papa Stella—yang sedari tadi mengamati dari dekat mobil—mendekat dan bersiul pelan.
“Itu tadi siapa, Stel?”
“Teman,” jawab Stella singkat, berusaha menahan senyum.
“Teman ya,” ulang Papa penuh penekanan, lalu mengangguk-angguk. “Cakep amat tuh temen. Papa mah mau sih, punya mantu ganteng kayak gitu.”
“Apa sih Pa”, ucap Stella.
Stella hanya menunduk, pipinya memerah. Sementara itu, Mama Stella tersenyum simpul dari balik jendela mobil. Sepertinya, tak hanya Stella yang menyimpan harapan hari itu.
--
Sore, Stella duduk di kamarnya, masih mengenakan kebaya biru langit yang kini sedikit kusut. Selempang bertuliskan "drg. Stellananda" tergantung manis di kursi dekat meja rias. Hari ini begitu panjang—penuh tawa, peluk, dan air mata. Tapi ada satu momen yang masih melekat erat di benaknya: Fandi, dengan senyum gugupnya dan bunga di tangan.
Stella menatap kotak kecil berwarna cokelat muda di pangkuannya. Pita birunya sudah ia lepas, kini hanya tinggal membukanya. Perlahan, ia membuka tutup kotaknya.
Sebuah jam tangan elegan berwarna rose gold terbaring manis di dalamnya. Desainnya simpel namun berkelas, dengan ukiran kecil di bagian belakang arloji:
"For the hands that will heal the world. –F."
Stella menatap jam itu lama. Senyum tipis perlahan merekah, lalu berubah jadi tawa kecil yang hampir sendu.
Pikirannya terlempar ke masa lalu. Waktu itu, di tengah kepanikan jelang presentasi klinik, ia kalang kabut mencari jam tangannya. Ia ingat betul bagaimana ia berkata pada teman-temannya, “Aku tuh paling gak bisa kalau gak pakai jam. Rasanya kayak separuh nyawa ilang.”
Stella membuka notifikasi di akun Instagramnya. Berbagai story muncul dengan menandai dirinya. Ia mengunggah kembali semua cerita itu. Termasuk milik Fandi yang berpose dengannya. Awalnya ia ragu. Tapi. Klik! Postingan itu terunggah juga
Menjelang malam Stella terbangun setelah sore tadi tertidur masih dengan ponsel di tangannya. Ketika ia melihat layar ponselnya, betapa kegetnya ia mendapat notifikasi pada story unggahan Fandi yang ia unggah kembali.
NIKEN: Cieee apaan nih. Btw cocok loh
OKAN: ??
REIZA: kiwkiw ini toh yang ditungguin tadi
MELITA: Stel? Sehat?
Tak satupun yang Stella balas.
--
Pagi itu Fandi duduk di ruang staf sambil menyesap kopi hangat dari mesin otomatis. Sambil menunggu giliran diskusi, ia membuka ponselnya—kebiasaan kecil yang menenangkan sebelum hari yang panjang dimulai.
Satu notifikasi membuatnya berhenti sejenak. Stella merepost story mereka kemarin. Foto yang diambil oleh adik Stella, Fandi yang berdiri di samping Stella yang tersenyum membawa bucket bunga darinya. Fandi tersenyum kecil. Perasaan hangat menyelinap diam-diam di dadanya.
Tapi ketika ia geser ke story berikutnya, senyum itu perlahan memudar. Sebuah foto baru. Bunga putih dan ungu tertata rapi di sebuah makam. Bunga-bunga pemberian teman-temannya, bahkan bunga darinya-pun ikut ia taruh di sana.
“The one who deserves these flowers. Yang semangatin aku dari sebelum daftar FKG. Yang ingetin belajar, ingetin buat gak nyerah, nemenin sidang sampe wisuda, walau gak bisa hadir pas sumpah dokter kemarin. Bahagia di sana ya, sayang.”
Fandi menatap layar itu cukup lama. Matanya tak bergerak. Rasanya seperti kembali ditarik pada kenyataan yang sering ia lupakan: bahwa di hati Stella, masih ada tempat yang belum bisa ditempati siapa pun.
Dan tempat itu punya nama: Roni.
Ia menarik napas panjang, menaruh ponsel di meja, dan merapikan jas dokternya. Matanya kosong sebentar, tapi kemudian ia kembali fokus ke catatan diskusinya. Seolah menegur dirinya sendiri.
“Pelan-pelan, Fan.” Itu saja yang ia bisikkan dalam hati sebelum berdiri dan melangkah masuk ke ruangan diskusi.
--
Kafe kecil itu cukup tenang malam itu, dengan lampu temaram dan aroma kopi yang menguar lembut. Raka, Bayu, Reiza, dan Fandi sudah duduk di sudut ruangan, meja panjang kayu dengan empat cangkir yang tinggal setengah.
“Lama banget ya nungguin dokter gigi satu ini,” celetuk Bayu sambil menyeruput matcha-nya.
“Wajar, dia kan sekarang sibuk kerja. Lagi banyak pasien kali,” tambah Reiza, yang disambut tawa kecil dari Raka.
Tak lama kemudian pintu kafe terbuka. Stella masuk, mengenakan blouse putih polos dan celana kain abu-abu. Simpel, tapi tetap menawan.
“Maaf ya telat, tadi ada pasien ngotot minta scaling detik-detik tutup klinik,” ujar Stella sambil menarik kursi di sebelah Fandi.
“Gak apa-apa. Dokter gigi emang sibuk,” jawab Fandi cepat, dengan senyum kecil.
Suasana sudah tak lagi canggung. Stella sudah mulai terbiasa duduk satu meja lagi dengan orang-orang yang dulu pernah jadi bagian penting hidupnya—beberapa bahkan masih.
“Gimana, Ka, kerjaanmu sekarang?” tanya Stella, membuka percakapan setelah memesan lemon tea.
Raka mengangguk, semangat. “Aku sekarang ngajar musik di sekolah internasional di Solo. Lumayan, dari ngajar piano sampe bikin ensemble kecil buat anak-anak. Capek tapi seru.”
“Wih, anak-anak Solo diajarin chord Skylight dong tuh,” seloroh Bayu.
“Ya kalau mereka bisa sabar dengar jokes bapak-bapak kayak kamu dulu sih, bisa aja,” balas Raka.
Mereka tertawa. Stella ikut.
“Kamu sendiri, Bay?” tanya Stella.
“Masih di bagian marketing perusahaan alat kesehatan. Sekarang mulai pegang klien rumah sakit juga. Sibuk tapi aman lah.”
Stella mengangguk. “Aku juga mulai kerja. Di klinik teman papa.”
“Oh ya?” tanya Raka.
“Iya. Awalnya agak gimana gitu ya. Kayak... ya, jalur ordal. Tapi yaudah, aku butuh kerja dan butuh uang. Jadi ya diterima aja,” katanya sambil tersenyum miris.
“Kamu kerja karena butuh uang, Stel. Bukan karena gak mampu. Dan semua dokter, dari mana pun jalurnya, tetap harus buktiin kemampuan. Gak apa-apa,” kata Fandi pelan.
Stella menoleh sebentar, tersenyum tipis. “Thanks, Mas.”
Setelah semua saling bertukar kabar, Reiza menepuk meja pelan. “Aku ada pengumuman.”
Mereka semua menoleh.
“Aku udah ngelamar Dewi minggu lalu.”
“Heh? Serius?” ujar Stella tercekat, nyaris menumpahkan tehnya.
“Gila, sempet ya? Nikah tuh kayak... luxury banget di tengah jadwal residen,” kata Bayu.
“Ya... yang penting niatnya dulu. Waktunya disesuaikan nanti. Biar resmi juga, jangan pacaran terus,” jawab Reiza sambil mengangkat bahu.
“Emang kita nih umur berapa sih koku dah pada mau nikah gitu. Bulan ini aja aku udah dapet dua undangan”, tanya Stella.
Raka mengangkat tangan duluan. “Kita bentar lagi 25. Aku sama kamu kan seangkatan.”
Bayu menimpali cepat, “Aku masih 24 dong. Kan adek kelas kalian.”
“Aku tahun ini 27,” kata Reiza.
Fandi mengangkat alis. “Paling tua di sini. Gue udah 28.”
“Hahaha, pantesan paling kalem,” ujar Raka.
Malam itu tak penuh kejutan. Tapi penuh kehangatan. Seperti pelan-pelan, waktu memperbaiki banyak yang sempat hancur. Dan mungkin, membukakan pintu baru.
Raka dan Bayu pamit lebih dulu, melambaikan tangan sambil mengenakan helm. “Besok kita ketemu lagi gak ya?” tanya Bayu.
“Liat nanti, kalau gak diculik kerjaan,” jawab Raka sambil tertawa. Motor mereka menderu pelan meninggalkan kafe.
Tinggal Reiza, Stella, dan Fandi. Stella baru saja mengambil tas ketika Reiza menepuk bahu Fandi. “Gue mau langsung ke rumah Dewi. Janjian bantu dia review laporan,” katanya santai.
Fandi langsung menoleh, terkejut. “Loh, terus gue gimana, Za? Tadi kan kita bareng.”
Reiza nyengir nakal, lalu menoleh ke Stella. “Bareng Stella aja. Rumahnya juga ke arah utara kan”
Stella sempat mendelik. “Kamu tuh hobi banget ya ngebuang Fandi.”
Reiza pura-pura nggak dengar, langsung dadah dan pergi.
Fandi berdiri canggung di sisi trotoar. “Gak apa-apa kok, Stel. Aku pesan ojol aja. Deket juga.”
Tapi sebelum ia sempat membuka aplikasi, Stella melemparkan kunci mobil padanya. Fandi kaget, menangkapnya reflek.
“Udah, bawa aja. Kamu yang nyetir.”
Fandi menatap Stella sejenak, lalu mengangguk. “Oke...”
Mereka masuk mobil. Awalnya hening, hanya suara mesin dan lalu lintas kota yang memecah keheningan. Stella menatap jalan, sementara Fandi sesekali melirik spion tengah.
Setelah beberapa menit, Fandi akhirnya bicara. “Kamu udah capek, Stel? Kalau mampir dulu gimana?”
Stella menoleh. “Kamu sendiri capek gak? Sibuk gak?”
Stella menghela napas pelan. “Aku sebenernya belum mau pulang.”
Fandi tersenyum samar. “Oke. Mau ke alkid?”
Stella mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis.
--
Udara malam di Alun-alun Selatan terasa hangat dengan lampu-lampu yang temaram. Suara pedagang kaki lima, anak-anak kecil tertawa, dan dentingan alat lukis mewarnai malam.
Mereka duduk di bangku plastik kecil, di depan lapak lukis anak-anak. Masing-masing memegang lukisan kartun hewan yang setengah jadi, lengkap dengan kuas dan cat air.
Setelah lukisan mereka selesai, Fandi menunjuk karyanya yang aneh bentuknya. “Kayaknya kalo ini dilombain, aku juara... terakhir.”
Stella tertawa sampai bahunya naik turun. “Sama. Tapi at least kita gak pulang dengan tangan kosong.”
Mereka berdiri, membawa lukisan.
“Aku mau beli sempol, kamu mau?”, tanya Stella.
“Belum kenyang?”, Fandi balik bertanya.
Stella menggelengkan kepala. Lalu pergi dan kembali membawa sebungkus sempol.
“Aku ada kali setahun gak doyan makan. Sampai masuk IGD waktu itu. Malu banget ketemy Reiza di IGD”, kenang Stella sambil menggigit sempolnya.
“Terus bisa doyan makan lagi gimana ceritanya?”
“Ya abis insiden itu aku terus insyaf. Dan mikir aja kalau aku gak bisa kayak gitu terus. Eh malah keterusan deh sekarang jajan mulu”, lanjut Stella.
Fandi tertawa kecil.
“Thanks ya, udah nemenin aku jalan-jalan random” kata Stella pelan saat mereka tiba di parkiran apartemen Fandi.
“Aku yang makasih udah dianterin. Next time aku yang anter atau jemput kamu, boleh?”, tanya Fandi sedikit ragu.
Stella sedikit tersipu “I..iya boleh”
“Kabari ya kalau udah sampai rumah”, ucap Fandi.
Stella melaju dengan mobilnya. Meninggalkan Fandi yang masih berdiri di sana mengamati Stella berjalan menjauh.
--
Malam itu, sebuah kafe mungil di sudut kota menjadi tempat reuni kecil sebelum kepergian Felix kembali ke Surabaya. Musik akustik mengalun pelan, lampu-lampu kuning temaram menciptakan suasana hangat. Stella datang bersama Niken, disambut hangat oleh Felix, Okan, dan Kresna yang sudah lebih dulu tiba.
Felix tampak bahagia meski ada gurat sendu di wajahnya. Ia memeluk Stella erat.
"Thanks ya, udah dateng. Ini terakhir sebelum aku balik. Mami udah ngambek tuh ditinggal enam tahun," katanya sambil tertawa kecil.
Mereka duduk melingkar, memesan minuman favorit masing-masing. Obrolan pun mengalir: tentang masa kuliah, kerjaan, pasien pertama, dan tentu saja, kehidupan setelah wisuda.
Okan malam itu terlihat berbeda. Sorot matanya terang, terutama tiap menatap Stella. Ia beberapa kali menimpali cerita Stella dengan tawa yang terlalu keras, dan pujian-pujian kecil yang membuat suasana canggung. Tapi Stella tetap bersikap biasa, walau sesekali gelisah.
Di tengah obrolan, Niken memergoki Stella yang sedang tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. "Eh eh, senyum-senyum. Cowok ya?" godanya sambil menyikut lengan Stella.
Stella terkejut, lalu cepat-cepat mengunci ponselnya.
"Enggak lah... biasa, Reiza ngelawak di grup," jawabnya cepat, senyum ditahan.
Padahal yang membuatnya tersenyum adalah pesan dari Fandi:
"Malam ini dingin ya. Tapi tahu nggak, tiap lihat kamu di story... jadi hangat sendiri."
Seketika Stella menunduk, menyembunyikan rona pipinya.
Okan, yang duduk tak jauh, mencuri pandang ke arah Stella dan Niken. Ia tampak tak senang, lalu mengalihkan pandangan ke gelasnya.
Beberapa saat kemudian, Okan menarik napas dan membuka suara.
“By the way… aku mau pamit juga. Bulan depan berangkat ke Jepang. Short course satu semester. Fokus ke riset biomedik gigi.”
Semua berseru kaget dan kagum.
“Wah, keren banget Kan!” kata Kresna.
“Jaga diri ya. Jangan lupa balik,” ujar Felix sambil tertawa.
Okan tersenyum, tapi matanya tertuju pada Stella.
“Stel… kamu juga jaga diri. Jaga kesehatan. Dan… jaga hati.”
Stella hanya mengangguk pelan. Ada rasa bersalah yang menyesak, meski ia tak pernah menjanjikan apapun.
Malam itu berakhir dengan pelukan dan foto bersama. Tapi hati masing-masing membawa perasaan berbeda: Felix dengan kerinduan akan rumah, Niken dengan rasa penasaran,
Okan dengan getir tak terucap, dan Stella… dengan senyum kecil karena satu nama di pikirannya: Fandi.
--
Hari itu, langit Jogja cerah seolah turut merayakan momen sakral yang dinanti. Reiza, dengan jas abu lembut dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, berdiri gagah di samping Dewi yang tampak anggun dalam balutan kebaya putih gading. Hari ini, ia resmi menjadi seorang suami.
Di antara tamu-tamu yang hadir, Stella berdiri di sisi kanan pelaminan bersama Ria, keduanya tampil anggun sebagai bridesmaid. Di seberangnya, Bayu, Fandi, dan Raka dengan setelan senada menjadi groomsman. Tak ada yang bisa menyembunyikan kebanggaan dan haru di wajah mereka—teman seperjuangan Reiza sejak masa kuliah hingga kini.
Usai resepsi dan prosesi, senja mulai turun perlahan. Lampu-lampu taman menyala remang, menciptakan suasana hangat yang intim. MC memanggil nama Skylight untuk tampil sebagai kejutan di hari pernikahan. Riuh tepuk tangan memenuhi udara.
Stella sudah bersiap di atas panggung, biola putih menggantung di bahunya. Gaun dusty rose-nya tampak berkilau samar di bawah lampu sorot. Ia melirik ke kanan, tempat biasanya Roni duduk di balik drum. Kosong. Hampa.
Tapi beberapa detik kemudian, seseorang menaiki panggung. Andre—dengan seragam groomsman dan senyum tenang—mengangguk ke arah Stella sambil mengambil posisi di belakang drum. Ia tak bicara, cukup memberi tatapan seolah berkata, “Aku tahu ini berat. Tapi kita bisa.”
Stella menahan napas. Ada yang mengganjal di dadanya. Tapi juga ada rasa lega. Roni mungkin tak hadir secara fisik, tapi kehadirannya terasa dalam senar biola, dalam beat yang dimainkan, dalam tawa-tawa kecil yang muncul di antara mereka.
“Ready?” bisik Raka di sampingnya, tangan sudah siap di fret gitar.
Stella mengangguk. “Ready.”
Lagu pertama mengalun. Harmoni sederhana namun penuh makna. Lagu yang dulu mereka ciptakan bersama—tentang mimpi, tentang kehilangan, tentang bertahan. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Skylight kembali bermain dengan formasi yang utuh... meski tidak lengkap.
Fandi berdiri di depan panggung dengan, sesekali menatap Stella dari kejauhan. Saat Stella menunduk memainkan bagian solonya, bayangan air mata yang tertahan tampak di sudut matanya—bukan karena sedih, tapi karena syukur. Karena meskipun tak sempurna, hari ini adalah tentang kebahagiaan sahabatnya. Dan itu cukup.
Di antara musik, cahaya, dan kenangan yang menggantung di udara malam, Stella tersenyum. Hari ini bukan tentang kehilangan. Hari ini adalah tentang merayakan cinta.
Untuk Reiza dan Dewi.
Untuk yang telah pergi.
Dan untuk mereka yang masih bertahan.
Riuh tawa dan sorakan meledak di antara tamu-tamu yang masih bertahan malam itu. Musik telah selesai, cahaya lampu gantung taman menari-nari lembut di angin malam yang hangat. Dewi, yang kini telah resmi menjadi istri Reiza, berdiri dengan anggun membelakangi kerumunan perempuan lajang yang bersiap di belakangnya. Di tangannya, seikat bunga putih-ungu yang menjadi simbol harapan.
“Siap-siap ya!” seru Dewi semangat, matanya melirik ke arah Stella sambil tersenyum penuh arti.
“Wooo!” para perempuan bersorak, sebagian mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Dewi melemparkan buket ke belakang.
Dan—seolah sudah ditakdirkan—buket itu mendarat tepat di dada Stella yang tampak tidak terlalu siap. Tangannya refleks menangkap, matanya membelalak seolah tidak percaya. Sejenak hening... lalu kerumunan meledak dalam sorakan heboh.
“WAAAAH! STELLAAAAA!!”
“SAH NIH, SAH!!”
“OI OI OI, JANGAN DIBUANG BUNGANYA!”
Stella tertawa malu-malu, wajahnya merona. Ia melirik ke arah Reiza yang sedang tertawa puas di pelaminan. Dan sebelum ia sempat berkata apa pun, Reiza yang kini sudah mengganti jas dengan kemeja santai tapi tetap rapi, berteriak lantang:
“Nih, udah siap Fan?!”
Sorakan langsung berbalik ke arah Fandi yang sedang berdiri di belakang, minum dari gelas plastik. Ia nyaris tersedak, langsung menegakkan badan dan melambaikan tangan dengan canggung. Wajahnya langsung merah padam.
“WOIIIIII!!!”
“FANDI, FANDI, FANDI!”
“SEGERA YA! SEGERA!”
Fandi tertawa pasrah, menggaruk tengkuknya dan akhirnya berjalan pelan ke arah Stella yang masih memegang bunga di tangan. Ia berhenti di depannya, menatap Stella yang juga menahan tawa.
“Ehm,” kata Fandi pelan sambil menunduk sedikit. “Kayaknya kamu nggak bisa nolak nasib, ya.”
Stella terkikik. “Nasib apaan?”
“Nasib jadi target bully massal.”
Mereka tertawa bersama. Lalu senyap sebentar. Hanya mata yang bicara.
“Selamat, ya,” kata Fandi lirih, tak hanya untuk bunga itu, tapi mungkin untuk seluruh langkah hidup yang telah Stella lalui sampai ke titik ini.
Stella mengangguk. “Thanks”
Sorakan masih berlanjut di belakang mereka, tapi untuk sesaat, dunia terasa hanya milik berdua.
--
Langit sore di Obelix Sea View perlahan bergradasi—biru muda berganti jingga keemasan, matahari menggantung rendah di ufuk, memantulkan cahaya di permukaan laut yang berkilau. Angin membawa aroma asin laut, lembut menyentuh wajah Stella yang berdiri di sisi pagar kayu, menatap horizon dengan mata setengah terpicing. Di sampingnya, Fandi berdiri diam, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Mereka sudah lama tidak berkata-kata. Hanya sunyi yang nyaman, seperti jeda dalam lagu favorit. Sampai akhirnya Fandi bersuara, pelan namun cukup jelas.
“Kamu udah pernah ke sini, Stel?”, tanya Fandi mencoba mencairkan suasana.
“Belum, kalau kamu?”
“Udah pernah. Makanya aku ajak kamu ke sini. Soalnya bagus”
“Sama mbak-mbak yang kamu ajak ke nikahan Ria ya?”, goda Stella.
Fandi tersenyum, “Bukan, sama Mama Papa waktu liburan ke sini”.
“Oh, kirain”
“Lagian, udah nikah tuh mbak-mbak yang itu”
“Oh ya? Sabar ya..”, goda Stella lagi. Pura-pura iba.
Fandi hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya. Lalu kembali hening.
“Stel. Masa kamu nggak tau sih,” katanya, “cowok kalau lagi caper tuh salah satunya dengan bikin kamu sebel.”
Stella mengernyit, menoleh setengah bingung. “Hah? Apaan sih…”
Fandi tertawa kecil, lalu menunduk, sedikit malu.
“Dulu... aku suka bikin kamu kesel. Komentar sinis, sok nggak peduli, ngelawan terus tiap kamu ngomong. Padahal ya, caper. Aku senang aja kalau kamu perhatiin, walau itu berarti kamu kesel sama aku.”
Stella menatap Fandi lama. Di matanya ada kejutan... dan pengertian.
“Mas…” gumamnya.
Fandi menarik napas, menatap Stella penuh kesungguhan.
“Aku tahu, Roni akan selalu punya tempat di hati kamu. Dan aku nggak pernah berniat buat gantiin dia.” Ia diam sebentar. Suaranya agak bergetar waktu lanjut bicara.
“Tapi… kalau kamu kasih aku kesempatan, izinin aku jadi bagian yang juga ngisi hati kamu. Jadi alasan kamu senyum... dan jadi rumah buat kamu pulang.”
Stella terdiam. Angin kembali berembus pelan, seolah memberi waktu.
Matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena hatinya yang perlahan merasa… hangat. Nyaman.
“Aku nggak tahu harus bilang apa,” gumamnya.
Fandi tersenyum kecil. “Bilang aja kamu nggak nolak.”
Stella tertawa pelan.
“Jujur aku juga sering..kangen sih sama kamu. Aku juga deg degan tiap kita ketemu. Aneh banget rasanya. Padahal dulu aku sebel banget sama kamu”
“Tapi, kalau kamu siap dengan hati yang pelan-pelan belajar buka lagi, mungkin… kita bisa coba.”
Fandi mengangguk. Wajahnya merekah lega, seolah menanti jawaban itu selama bertahun-tahun. Tanpa banyak kata lagi, mereka berdiri berdampingan, menatap matahari yang perlahan tenggelam. Tak perlu genggaman tangan dulu, karena kini mereka tahu… langkah berikutnya bisa dijalani bersama.
--
Pagi itu, langit tampak cerah, tapi hati Stella justru berkabut. Sejak Fandi pamit akan ke Jakarta untuk beberapa hari karena urusan, tak ada satu pun pesan masuk darinya. Sudah lebih dari dua puluh empat jam.
Ia menatap ponselnya berkali-kali, membuka WhatsApp hanya untuk menemukan chat terakhir mereka masih di posisi sama.
“Sampe Jakarta kabarin ya,” tulis Stella kemarin pagi. Tanpa balasan.
Siang berlalu dengan gelisah. Di sela bekerja di klinik, pikirannya melayang terus. Malam pun datang, dan hatinya makin tak tenang. Ia bahkan sempat mengetik "lagi sibuk ya?" lalu menghapusnya sebelum terkirim.
Sampai akhirnya, layar ponselnya menyala.
Panggilan video dari Fandi.
Jantung Stella langsung berdetak kencang.
“Hey…” suara Fandi terdengar serak, wajahnya tampak di balik layar dengan latar kamar hotel. “Maaf ya, baru bisa kabarin. Baru kelar rapat dan pindahan alat dari pagi.”
Stella menatapnya lama. Antara lega dan kesal.
“Kirain hilang,” gumamnya.
Fandi tersenyum lelah. “Enggak mungkin. Hilang cuma kalau kamu nggak nyariin.”
Stella mencibir kecil. Lalu, dengan nada setengah bercanda, ia berkata,
“Tau nggak sih, kita tuh udah kayak orang pacaran…”
Fandi menatapnya sebentar, lalu menjawab serius,
“Memang udah pacaran, Stel.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Kecuali kamu ngerasa belum, ya.”
Stella terdiam. Wajahnya memerah. “Bukan gitu… maksudku... ya gitu deh.”
Fandi tertawa pelan, suaranya membuat dada Stella menghangat.
“Oh iya,” Fandi tiba-tiba menambahkan, “Tadi aku udah cerita ke Mama soal kamu.”
Stella membelalakkan mata. “Hah? Serius?”
Fandi mengangguk. “Iya. Mama cuma nanya kamu anak mana, kerja di mana… terus mama cuma bilang, ‘kalau kamu bahagia, Mama setuju.’”
Stella menggigit bibirnya menahan senyum, matanya berkaca-kaca.
“Terus kamu jawab apa ke Mama?” tanyanya pelan.
Fandi menatapnya lembut dari layar.
“Aku bilang… dia yang bikin aku pengin pulang cepat.”
Dan malam itu, meski hanya lewat layar kecil, hati Stella terasa penuh. Gelisahnya lenyap, digantikan oleh rasa hangat yang lama tak ia rasakan—seolah semesta sedang pelan-pelan mengobati luka di hatinya dengan cara yang lembut dan perlahan.
--
Suasana mall sore itu ramai oleh lalu-lalang pengunjung, tapi di antara keramaian, satu pasangan tampak larut dalam dunia mereka sendiri. Stella dan Fandi berjalan beriringan, tangan Stella sesekali menggandeng lengan Fandi, menggoyang-goyangkan dengan manja. Fandi hanya tertawa kecil dan membiarkannya—wajahnya tampak cerah, senyumnya seolah enggan turun dari bibir.
Mereka berhenti di depan sebuah toko buku, lalu pindah ke kafe es krim, lalu lagi ke toko aksesori—semua dilakukan santai, pelan, seperti tak ingin hari cepat berakhir.
Di seberang lantai, tepat di depan toko sepatu, dua pasang mata mengamati dari balik kaca .Kresna memicingkan mata, sementara Niken membeku di tempat.
“Eh beb… itu…” bisik Niken pelan.
“Fix. Itu Stella. Dan Fandi,” jawab Kresna cepat, matanya tidak berkedip. “Deket. Pegangan tangan. Ketawa-ketawa. .”
Niken menutup mulutnya, nyaris tidak percaya.
“Gila… itu Stella yang sama kan? Yang dulu bilang suara Fandi aja bikin ilfil? Najis banget sekarang tuh centil banget gelendotan gitu”
Kresna mengangguk. “Dan itu Fandi yang dulu kalau ngomong kayak ujian OSCE. Kaku, tegas, gak ada senyumnya.”
Mereka berdua diam sebentar sambil terus memperhatikan. Stella saat itu terlihat menjulurkan lidah ke arah Fandi yang sedang memilih topping es krim, dan Fandi malah menyuapinya satu sendok.
Kresna akhirnya berkomentar, “Fix. Kesambet.”
Niken menimpali cepat, “Bukan cuma Stella. Fandi juga.”
Kresna mengangguk dramatis. “Dua-duanya kesambet.”
Niken dan Kresna akhirnya saling mengangguk pelan, lalu mulai melangkah mendekati pasangan yang sedang duduk berdua menikmati es krim. Langkah mereka santai, seolah kebetulan saja melewati situ. Tapi ekspresi mereka? Penuh makna.
“Eh… kalian juga di sini?” sapa Niken dengan nada sok polos.
Stella yang sedang menyendok es krim ke mulut langsung terbatuk kecil. Fandi spontan menegakkan duduknya, seperti anak sekolah yang ketahuan bolos.
“Niken! Kresna! Hahaha… iya, ini… eh…” Stella panik, senyumnya kaku.
Fandi juga langsung bersikap sok kalem, padahal telinganya memerah. “Kalian lagi ngapain?” tanyanya canggung.
“Kita?” jawab Kresna, menahan tawa. “Liat-liat doang. Tapi kayaknya nemu pemandangan menarik, ya kan Beb?”
Niken tersenyum nakal sambil memandang Stella, lalu duduk di kursi sebelahnya. “Kalian kelihatan… akrab banget.”
Stella nyaris tersedak lagi. “Ah… ya… ehm…”
Dia mendekatkan wajah ke arah Niken dan berbisik, “Nanti aku cerita. Sumpah.”
Niken menaikkan alis. “Nanti itu… secepatnya ya. Karena banyak banget yang harus dijelaskan,” katanya setengah berbisik, tapi cukup keras untuk membuat Fandi makin kikuk.
Kresna melipat tangan dan tersenyum ke arah Fandi. “Mas, ternyata senyumnya bisa sering juga ya. Kirain cuma punya dua ekspresi: datar sama dingin.”
Fandi tertawa kecil, lalu menggaruk tengkuknya. “Ya… tergantung siapa yang ada di depan gue.”
Niken dan Kresna berpandangan.
“Fix,” bisik Niken.
“Kesambet cinta level lanjut,” timpal Kresna.
Stella hanya menutup muka pakai tangan, sementara Fandi pura-pura sibuk minum.
Setelah beberapa menit canggung, Niken akhirnya berdiri dan berkata, “Udah ah, kita lanjut muter. Jangan lama-lama ya Stel, cerita harus detail.”
“Siap, bu!” jawab Stella malu-malu.
Setelah mereka pergi, Stella melirik Fandi yang langsung tertawa pelan.
“Gawat,” gumam Stella.
“Gawat kenapa?”
“Dua itu mulutnya lebih cepat dari gosip infotainment.”
Fandi nyengir, lalu menggenggam tangan Stella. “Ya udah sekalian aja, kita umumkan. Daripada dikira prank.”
Stella menahan tawa sambil menggeleng. “Nanti deh, aku.. belum siap..”
“Kenapa? Ada hati yang harus dijaga ya?”, tanya Fandi sambil mendekatkan wajahnya.
“Enggak gitu.. belum siap aja bikin heboh anak-anak seangakatan hehe”
Dan mereka pun kembali menikmati sore itu, dengan hati yang sedikit lebih deg-degan… tapi juga lebih hangat.
--
Di kamar Niken yang penuh poster-poster estetik dan lampu tumblr redup, Stella duduk bersila di atas kasur, memeluk bantal besar berwarna pastel. Wajahnya sudah merah sejak masuk kamar. Niken yang duduk bersandar di sandaran ranjang sambil nyemil keripik, menatap sahabatnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Jadi…” Niken memulai, “kamu mau cerita, atau aku harus tarik-tarik infonya satu-satu kayak investigasi?”
Stella mendesah panjang. “Duh… malu tau.”
“Plis, Stel. Aku udah liat kamu gandeng-gandengan kayak anak SMA. Masa masih malu?”
Stella akhirnya tertawa pelan. “Oke… oke. Jadi, awalnya tuh…” Ia mulai menceritakan bagaimana Fandi ngajak ngobrol waktu pulang bareng, gimana mereka ke alun-alun dan mulai dekat, lalu obelix sea view dan pengakuan perasaan itu.
Niken membelalakkan mata. “Jadi akhirnya kamu jadian sama Mas Fandi yang dulu kamu benci itu?”
Stella hanya bisa mengangguk pelan, wajahnya semakin merah. “Iya…”
Niken tertawa geli. “Gila, sih. Kan udah kubilang Fandi ganteng.”
Stella langsung menimpali, “Nope. He’s hot!,” sambil buru-buru menutup wajahnya dengan bantal, menahan jeritan kecilnya sendiri.
“Ya ampun Stella!” seru Niken sambil melempar bantal kecil ke arah sahabatnya. “Kamu tuh kalau lagi jatuh cinta… centil banget!”
“Aku gak ngerti juga, Ken,” kata Stella lirih dari balik bantal. “Kayak… dia tuh bisa nyebelin banget, tapi juga yang paling bikin tenang. Dan… yah, dia ngelucu di saat yang enggak tepat, tapi itu justru bikin aku ketawa.”
Niken tersenyum hangat. “Kelihatan kok, Stel. Kamu tuh nyaman banget sama dia. Dan dia juga berubah banget di dekat kamu.”
Setelah beberapa detik hening, Stella menurunkan bantalnya perlahan.
“Tapi…” katanya lirih, “aku masih agak kepikiran soal Okan.”
Niken langsung menatapnya serius. “Kepikiran gimana?”
“Aku ngerasa gak enak. Aku tahu dia punya rasa itu sejak lama. Dan dia orang baik, Ken. Selalu ada. Tapi… aku gak bisa balas perasaannya. Dan aku gak mau kasih harapan palsu. Cuma… tiap aku lihat dia, kayak.. hatiku rasanya berat.”
Niken mengangguk pelan, penuh pengertian. “Kamu gak salah, Stel. Gak bisa maksa perasaan. Yang penting kamu jujur. Okan pasti ngerti, meski mungkin butuh waktu.”
Stella menatap langit-langit kamar, lalu menghela napas panjang. “Aku cuma gak pengin nyakitin siapa pun, Ken.”
“Kamu gak bisa menyenangkan semua orang, Stel,” kata Niken lembut. “Tapi kamu bisa tetap jadi dirimu sendiri, dan itu udah cukup.”
Stella tersenyum tipis. “Thanks, Ken. Gak tahu deh gimana jadinya kalau gak punya kamu.”
Niken nyengir, lalu memeluk sahabatnya. “Ya jelas. Aku kan partner in crime kamu dari zaman ospek sampai jatuh cinta sama musuh bebuyutan sendiri.”
Mereka berdua pun tertawa pelan, dan malam itu diisi dengan obrolan ringan, popcorn, dan sedikit kelegaan di hati Stella.
--
Di depan rumah Stella, malam sudah mulai larut. Lampu teras menyala temaram, menyinari mobil Fandi yang baru saja berhenti. Stella melepas seatbelt dengan enggan.
“Thanks ya, udah anterin,” kata Stella sambil membuka pintu.
“Selalu,” jawab Fandi dengan senyum tenang.
Baru saja Stella hendak keluar, pintu pagar terbuka. Sosok Papa Stella muncul dengan kaus oblong dan celana pendek, tangan masih memegang gelas teh hangat.
“Lho, pulang sama Fandi?” sapa Papa ramah.
Stella hanya bisa cengengesan. “Hehe… iya, Pa.”
Fandi langsung keluar dari mobil, berdiri tegak. “Malam, Om,” sapanya sopan.
“Malam. Masuk dulu gak?” tawar Papa.
Stella buru-buru melambai, “Enggak, Pa, Fandi mau langsung pulang.”
Tapi Fandi malah berkata, “Boleh sebentar, Om? Gak apa-apa ya, Stel?”
Stella hanya bisa melongo, tak menyangka. “Hah? Eh… yaudah…”
Di teras rumah, Stella berdiri kikuk di samping, sementara Fandi duduk santai ngobrol dengan Papa Stella. Obrolannya awalnya ringan: kerjaan, cuaca, macet Jogja yang makin parah.
Tiba-tiba, Fandi menatap Papa Stella dengan nada yang lebih serius.
“Om, saya tahu saya masih dalam proses kenal lebih dalam dengan Stella, tapi saya mau Om tahu… saya serius sama dia.”
Papa Stella menaikkan alis sedikit, lalu tersenyum kecil. “Wah, ngomong gini berarti harus makin banyak mampir rumah nih.”
Stella di belakang mereka refleks menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya merah padam. “Aduh… mati aku…”
Malamnya, Stella yang gelisah bolak-balik di kasurnya akhirnya menelpon Fandi.
Begitu tersambung, ia langsung membuka suara, “Kamu kenapa sih ngomong kayak gitu ke Papa aku?”
Fandi di ujung sana tertawa kecil. “Ngomong apa?”
“Yang… kamu serius sama aku!” kata Stella panik. “Abis ini aku bisa disuruh nikah, tau gak!”
Fandi hanya tertawa lagi, tenang seperti biasa. “Loh, emangnya salah kalau aku serius?”
Stella mengerang kecil, lalu menutup wajah dengan bantal. “Bukan gitu, Mas. Aku belum siap disuruh nikah, belum siap omongan keluarga, belum siap… ya pokoknya belum siap.”
“Tenang, Stel,” jawab Fandi dengan suara lembut. “Aku gak minta kamu nikah besok. Aku cuma jujur. Karena aku gak main-main. Tapi semua tetap jalan sesuai waktu kamu. Aku tunggu.”
Stella diam sejenak, lalu menghela napas panjang.
“…makasih ya,” katanya pelan.
“Buat apa?”
“Buat gak bikin aku makin panik.”
Fandi terkekeh. “Tapi lucu sih liat kamu panik kayak tadi.”
“Ya ampun, Mas!” pekik Stella malu.
“Ya udah, tidur. Besok kamu praktik, kan?”
“Iya. Good night…”
“Night, calon mantu Mama.”
“MAS!”
Telepon terputus, dan Stella hanya bisa menjerit tertahan di bawah selimut, wajahnya terkubur dalam bantal, jantungnya masih berdetak kencang.
--
Pagi harinya…
Stella baru saja keluar kamar dengan rambut masih agak berantakan, mata sedikit sembab karena tidur larut malam usai teleponan dengan Fandi. Ia berjalan ke ruang makan, masih menguap, ketika suara mamanya menyambut riang:
“Selamat pagi calon pengantin!”
Stella langsung tersedak udara kosong. “Hah?? Ma?!”
Papa Stella yang sedang duduk sambil baca koran cuma menimpali dengan santai, “Kemarin ngobrol sama Fandi enak banget. Anak itu sopan, pintar ngomong. Ganteng juga. Cocok banget lah.”
Stella langsung menunduk ke meja, ingin menghilang. “Astaga… dia cuma anterin pulang terus basa-basi doang itu mah…”
“Basa-basi kok serius amat,” celetuk Mamanya sambil menyodorkan telur dadar.
“Ma, Pa… tolong jangan mulai deh,” rintih Stella sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kita gak mulai apa-apa, sayang,” kata Mamanya sambil duduk. “Tapi kalau kamu serius, kami dukung. Papa juga tadi malam udah bilang ke Mama, ‘itu anak keliatan serius’. Ya siapa tahu kan, tahun depan kita ngadain acara juga…”
Stella langsung berdiri. “Aku makan di klinik aja, dadah!” katanya buru-buru mengambil roti dan tasnya.
“Eh, ini baru dibikin tuh telurnya…” Mama berseru.
“Gak apa-apa, Ma, aku diet!” pekik Stella dari arah pintu.
Saat pintu tertutup, Papa Stella melipat koran dan terkekeh pelan.
“Kamu yakin dia diet?”
“Enggak sih,” jawab Mamanya sambil tertawa. “Itu panik.”
Mereka berdua saling pandang, tersenyum geli, lalu berkata hampir bersamaan:
“Namanya juga orang jatuh cinta.”
--
Angin sepoi berhembus lembut di teras rumah. Stella duduk bersandar di kursi rotan sambil memeluk bantal kecil, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Papa muncul dari balik pintu, membawa dua cangkir teh hangat.
“Masih suka lihat bintang ya?”
“Suka, Pa. Apalagi kalau cerah gini.”
Papa duduk di sebelahnya, menyerahkan satu cangkir. “Dulu, waktu Mama hamil kamu, Papa pernah mimpi... Di langit gelap, ada bintang banyak banget. Indah banget. Rasanya damai, tenang. Begitu bangun, Papa langsung bilang ke Mama, ‘Namain dia Stella, ya.’”
Stella menoleh, tersenyum hangat. “Stella... bintang.”
“Iya. Stella artinya bintang. Dan Stellananda, doa Papa biar kamu bisa bersinar, walaupun kadang langit hidupmu gelap.”
Hening sejenak. Hanya suara jangkrik dan gesekan angin di dedaunan. Lalu Papa melanjutkan, nadanya lembut tapi dalam.
“Papa senang kamu bisa senyum lagi. Bisa doyan makan lagi. Gak diem terus di kamar kayak dulu…”
Stella menunduk. Jemarinya memeluk cangkir erat. “Maaf ya, Pa... aku sempat nyusahin.”
“Bukan nyusahin. Namanya juga hidup. Ada yang pergi, ada yang datang. Tapi Papa lega... sekarang kamu bisa ketawa lagi.”
Stella mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
“Dan soal Fandi…”
Stella langsung reflek menoleh.
“Papa lihat anak itu. Kalem, sopan. Matanya jujur. Kelihatan banget dia sayang kamu. Perhatian. Papa suka dia.”
Stella mencubit bibir bawahnya, menahan senyum malu.
“Kalau memang kamu juga ngerasa dia orang yang baik… ya gak usah lama-lama pacaran, Stel. Hidup ini singkat. Kalau bisa nemu yang serius, ya kenapa enggak?”
Stella terdiam. Lalu perlahan menunduk, menyandarkan kepalanya ke bahu Papa.
“Makasih, Pa…”
Papa menepuk-nepuk pelan bahu Stella. “Bintangnya Papa udah mulai bersinar lagi.”
Langit malam tetap sama. Tapi Stella merasa ada satu bintang yang paling terang — dan malam itu, hatinya pun terasa hangat seperti teh dalam genggamannya.
--
Stella duduk di kasur sambil menggulir ponselnya. Video call dengan Fandi sudah tersambung. Wajah Fandi muncul, duduk santai dengan kaos putih dan rambut sedikit acak.
“Tadi Papa ngobrol panjang di teras...”
“Ngobrolin apa?” Fandi bertanya sambil tersenyum.
Stella menggigit bibir bawahnya, malu-malu. “Banyak. Soal aku, soal dulu waktu Mama hamil, terus soal kamu juga...”
“Aku?” Fandi menaikkan alis.
“Iya...” Stella menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah. “Papa bilang kamu kelihatan sayang sama aku. Dia harap... gak usah lama-lama pacaran.”
Fandi tertawa kecil. “Setuju, Pa kamu peka.”
Stella mendelik manja. “Kamu setuju?”
Fandi duduk lebih tegak, serius tapi tetap lembut.
“Aku juga maunya cepet nikah aja sih, Stel.”
Stella terdiam. Jantungnya berdetak agak cepat.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya, pelan.
Fandi menghela napas sebentar, lalu menatap kamera seolah-olah ia menatap mata Stella langsung.
“Karena aku pengen bangun keluarga. Punya rumah yang hangat. Yang bisa jadi tempat pulang setelah capek kerja seharian. Dan aku tahu... kamu partner yang tepat buat itu.”
Stella hanya bisa mematung, tak menyangka jawaban Fandi begitu jujur dan dalam.
“Nikah itu bukan cuma biar sah tidur bareng,” lanjut Fandi. “Tapi biar bisa bahagia bareng, rezeki makin banyak, hidup makin berkah. Dan... rasa sayangku ke kamu bisa jadi halal. Gak ada lagi takut ‘kebablasan’ pas peluk kamu atau pegang tangan kamu.”
Stella tertawa kecil, wajahnya merah. “Ih...”
Fandi tertawa juga, tapi nada suaranya tetap tenang. “Aku serius.”
Stella menatap layar lama. Dalam diamnya, ada ketenangan yang perlahan tumbuh. Sebuah rasa yakin yang mulai mengakar.
“Mas...”
“Hmm?”
“Makasih udah sabar nunggu aku pulih. Dan makasih udah tetap di sini.”
Fandi tersenyum hangat. “Karena kamu berharga, Stel. Dan aku niatnya baik.”
Dan malam itu, di balik layar kaca, Stella merasa hatinya sudah mulai memilih — bukan karena dipaksa waktu, tapi karena ia benar-benar siap.
--
Hari itu Stella diajak Fandi ke tempat yang ia sebut "spesial", tapi tidak memberi tahu detailnya. Stella sempat curiga, tapi Fandi hanya menjawab santai, “Percaya aja, ya?”
Mereka tiba di sebuah taman kecil yang sepi dan asri, dihias lampu-lampu gantung yang remang hangat. Ada meja kecil dengan buket bunga di tengahnya, dan lukisan-lukisan kecil tergantung di pepohonan — lukisan yang Stella kenali sebagai hasil mereka berdua waktu mewarnai di alun-alun selatan.
Stella terdiam. Matanya berkaca-kaca melihat semua itu.
Fandi menuntunnya ke depan meja. Di sana, ada satu kotak kecil beludru biru.
“Mas Fandi...” bisik Stella, suaranya nyaris tak terdengar.
Tapi Fandi sudah berlutut di hadapannya, mengangkat kotak itu. Saat terbuka, tampak cincin dengan batu mungil yang sederhana, tapi berkilau lembut.
“Stellananda Candra Putri...”
Stella menutup mulutnya dengan tangan, matanya sudah berlinang.
“Aku tahu kamu pernah kehilangan. Aku tahu kamu pernah merasa dunia berhenti. Tapi sekarang kamu bersinar lagi. Dan aku bersyukur banget bisa lihat kamu bahagia. Aku gak mau kehilangan kamu.”
“Aku gak bisa janji semuanya akan selalu mulus. Tapi aku janji, aku akan jadi rumah buat kamu. Aku akan temani kamu, support kamu, dan jadi pasangan hidup yang gak ninggalin saat susah.”
“Will you marry me?”
Stella terisak, tangannya gemetar saat menjawab, “Iya. Iya, Mas.”
Fandi tersenyum lega, memasangkan cincin itu ke jari manis Stella. Begitu berdiri, Stella langsung memeluknya erat. Tangis mereka bercampur haru.
“Akhirnya, aku punya alasan kuat untuk pulang,” bisik Fandi di telinganya.
Dan malam itu, langit terasa lebih terang. Seperti bintang-bintang ikut merestui cinta yang akhirnya berlabuh.


Other Stories
2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Download Titik & Koma