Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

The Accident


Dua bulan telah berlalu sejak Fandi dan Stella resmi menjadi suami istri. Hari-hari mereka kini dipenuhi rutinitas: Stella sibuk bekerja di klinik gigi, sedangkan Fandi masih berjibaku dengan jadwal padat sebagai dokter residen. Mereka tak lagi bisa semesra awal menikah, namun keduanya belajar menikmati ritme baru dalam rumah tangga mereka.
Suatu pagi, di sela-sela waktu istirahat, Stella menatap layar ponselnya. Sebuah pesan dari Okan masuk.
“Stel, bisa ketemu sebentar? Aku mau kasih kado pernikahan.”
Stella mengabaikannya. Tapi pesan demi pesan terus masuk. Okan tetap menghubunginya meski tak dibalas.
“Gak lama kok.”
“Di tempat biasa.”
“Aku cuma mau ngucapin selamat dengan cara yang baik.”
Akhirnya, setelah mempertimbangkan lama—dan tanpa memberitahu Fandi—Stella membalas.
“Oke. Tapi sebentar aja.”
Siang itu Stella tiba di kampus FKG mereka dulu. Bangku taman di depan gedung lama—tempat yang pernah jadi saksi banyak momen mereka bersama teman-teman—masih seperti dulu. Di sanalah Okan duduk, mengenakan kemeja biru tua, tangan memegang paper bag kecil. Kampus terlihat sepi karena sedang musim liburan.
Entah mengapa ada perasaan tak enak pada diri Stella. Hingga akhirnya ia diam-diam memasang perekam suara di ponselnya. Saat melihat Stella datang, Okan langsung berdiri. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan.
“Selamat ya,” ucap Okan sambil menyodorkan paper bag itu. “Aku... sempat bingung mau ngasih atau nggak. Tapi rasanya aku harus ngucapin langsung.”
Stella mengambil paper bag itu, tersenyum tipis. “Makasih, Kan.”
Namun keheningan yang menyusul justru makin berat. Okan menghela napas dalam, kemudian duduk kembali. Stella ikut duduk di sampingnya.
“Kamu tahu gak,” ucap Okan pelan, “Aku pikir aku ngelakuin hal yang benar. Nunggu kamu. Kasih ruang biar kamu bisa sembuh, biar kamu bisa nyaman lagi. Aku kira kalau aku cukup sabar, akhirnya kamu akan lihat aku juga.”
Stella menunduk, jari-jarinya menggenggam erat gagang tas.
“Tapi ternyata kamu malah nikah. Sama orang yang bahkan kamu benci dulu.” Suara Okan mulai bergetar. “Sakit banget, Stel. Kamu tahu rasanya?”
Stella menoleh padanya. Matanya berkaca-kaca. “Maaf, Kan... aku gak pernah niat nyakitin kamu. Tapi aku gak bisa maksa hati aku ke arah yang kamu harapkan. Aku... bersyukur kamu sabar dan selalu baik ke aku, tapi...”
“Kamu pikir aku masuk FKG ini karena iseng? Aku lakuin karena kamu, Stel. Aku juga belajar mati-matian. Ikut ambis kayak kamu dan temen-temen. Semua karena kamu. Kamu tahu kan aku dulu bahkan gak kenal kata belajar. Yang aku tahu cuma basket”, nada Okan mulai meninggi.
“Okan..”ucap Stella.
“Bahkan waktu kamu kehilangan Roni, aku yang selalu ada buat kamu. Tapi apa sekarang? Kamu malah lebih milih orang yang bahkan dulu kamu benci. Kenapa? Karena dia lebih keren dari aku?”, lanjut Okan.
“Okan, hey. Listen to me”, Stella mendekat, memegang lengan Okan “you’re great. Kamu udah keren dari dulu. Kamu bukan cuma main basket. Tapi kamu punya banyak prestasi. Bahkan sampai di titik sekarang kamu udah keren banget. Bukan karena aku. Aku gak bisa, Kan maksain perasaan aku. Waktu kamu bilang kamu mau nunggu, aku berusaha buat buka lagi hati aku ke kamu. Tapi ternyata aku udah gak di sana. Perasaan aku udah lama pergi. Dan aku sayang sama kamu cuma sebagai sehabat”, ucap Stella dengan menahan air matanya.
“Sahabat? Kamu tahu rasanya Stel, nunggu bertahun-tahun cuma buat dibilang sahabat? Kamu tuh jahat banget tahu gak?”
“Iya aku jahat. Aku jahat banget sama kamu kan. Kamu boleh benci aku. Aku minta maaf, tapi cuma permintaan maaf yang bisa kulakuin”, Stella tak dapat menahan air matanya lagi kali ini.
Okan memalingkan wajah, menatap pepohonan kampus yang rindang. Lalu, dengan gerakan pelan, ia memeluk Stella.
Stella kaget. Tapi kemudian ia membalas pelukan itu, bukan sebagai tanda cinta, melainkan sebagai bentuk permintaan maaf... dan perpisahan.
Pelukan itu singkat, namun cukup untuk menutup satu bab dalam hidup mereka.
Saat akhirnya Stella berdiri dan pamit, Okan tidak menahannya. Ia hanya berkata pelan, “Jadi semuanya udah berakhir?”
“Kita bahkan gak pernah memulai apapun Kan”, ucap Stella lirih.
Stella lalu melangkah pergi meninggalkan Okan dengan perasaan yang masih tidak karuan.
--
Panas matahari siang belum juga reda saat Fandi duduk di kantin rumah sakit, menikmati waktu istirahatnya yang singkat. Wajahnya letih, namun tetap berusaha fokus membuka-buka catatan pasien di ponselnya. Suasana kantin cukup ramai, suara alat makan berdenting dan obrolan dokter-dokter muda terdengar bersahutan.
Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggilnya dari dekat pintu masuk.
“Dokter Fandi,”
Fandi menoleh. Okan berdiri di sana. Wajahnya datar, tapi matanya tajam menatap Fandi.
“Ada yang pengen aku omongin. Bisa sebentar?” katanya.
Fandi diam sejenak, lalu mengangguk. “Ayo.”
Mereka berjalan ke belakang rumah sakit, ke area parkir motor yang sepi dan teduh oleh pepohonan. Udara terasa pengap meski angin sepoi berusaha masuk. Begitu mereka berhenti, Okan langsung membuka ponselnya, menunjukkan layar ke arah Fandi.
Di sana, terlihat jelas foto Stella dan Okan berpelukan di depan bangku taman kampus. Sudut pengambilan fotonya seolah disengaja untuk menimbulkan kesan yang ambigu.
“Cuma pengen kamu tahu, Fan. Hati-hati aja. Kadang orang nikah bukan karena udah selesai sama masa lalunya, tapi karena pengen lari dari itu,” ucap Okan datar.
Fandi memicingkan mata, rahangnya mengeras. “Maksud lo?”
“Kamu pikir dia udah bener-bener lupain gue? Dia masih... nerima, Fan. Dia peluk aku waktu terakhir ketemu. Itu bukan hal yang bisa dilakukan kalau gak ada rasa.”
Fandi terdiam sesaat, tapi matanya mulai menyala. Ia ambil nafas panjang, lalu melangkah maju satu langkah.
“Lo pikir gue sebodoh itu percaya foto tanpa konteks?” katanya dengan suara menahan emosi. “Lo tahu gak, Stella udah cerita semua. Termasuk tentang masa lalunya sama lo.”
Okan menahan senyum sinis. “Ya kalau gitu kenapa dia masih mau ketemu? Gak bilang kan ke su-a-mi-nya?”
Fandi mengepalkan tangannya. Nadanya naik. “Lo kalau gagal move on itu urusan lo. Jangan gangguin istri orang.”
Okan terdiam. Napasnya sedikit memburu. Tapi ia tetap menatap Fandi, meski ketegangan makin terasa.
“Aku gak ganggu. Aku cuma ngerasa kamu berhak tahu,” katanya, pelan tapi tajam.
Fandi menarik napas panjang, lalu berkata dengan dingin, “Gue tahu satu hal pasti. Gue nikahin Stella karena gue yakin sama dia. Dia milih gue. Dan lo... lo cuma bagian dari masa lalunya yang belum bisa nerima kenyataan.”
Okan berdiri dengan tangan di saku jaketnya, sementara Fandi menatapnya dengan sorot mata tajam, napasnya belum kembali normal sejak ledakan emosinya barusan.
Namun Okan belum selesai bicara.
“Kamu tahu kan, Fan,” ucap Okan dengan suara lebih tenang tapi tetap tajam, “first love itu gak gampang dilupain.”
Fandi mengernyit, rahangnya mengeras lagi. Ia menahan diri agar tidak langsung menyela. “Terus kenapa?” tanyanya datar namun menusuk. “Kalau dia masih ada rasa sama lo, kenapa dia nikah sama gue?”
Okan tersenyum tipis, tapi bukan senyum bahagia. Lebih seperti senyum getir penuh sindiran. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Fandi lagi.
“All the privileges you have, maybe. Stella pernah cerita kok... siapa Mas Fandi. Orang tuanya. Background-nya..”
Fandi seperti terpukul. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Matanya menajam, wajahnya menegang. Ia seperti ingin menyangkal, tapi tak bisa langsung bicara. Napasnya tercekat sejenak.
“Apa maksud lo, dia milih gue bukan karena cinta, tapi karena... karena background gue? Karena gue ‘lebih layak’?” tanya Fandi pelan tapi penuh tekanan.
Okan hanya diam, seakan jawabannya sudah cukup jelas tadi. Ia tak menambahkan apa pun, hanya membiarkan ucapannya menggantung di udara seperti racun yang pelan-pelan menyebar ke hati lawan bicaranya.
Fandi memalingkan wajah sejenak, berusaha menahan amarah dan... sakit hati. Ia bukan orang yang mudah goyah, tapi saat yang dipertanyakan adalah cinta Stella padanya—hal paling ia jaga sepenuh hati—maka rasanya seperti tanah di bawahnya bergeser.
Namun, dalam hatinya, ada satu suara kecil yang masih membisikkan kebenaran: Stella mencintainya. Ia tahu itu. Ia harus tahu itu.
Tanpa menatap Okan lagi, Fandi berkata lirih tapi tegas, “Gue gak butuh omongan lo buat tahu perasaan istri gue. Tapi gue catat satu hal—lo udah kelewat batas, Okan.”
Lalu Fandi berbalik meninggalkan tempat itu, meninggalkan Okan sendirian, dengan dada yang masih penuh amarah… dan satu keraguan kecil yang mulai tumbuh tanpa diundangnya.
--
Pagi itu, suasana apartemen terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena sesuatu yang lebih dalam—udara yang mengendap di antara dua orang yang saling mencinta, tapi sedang kehilangan kata-kata.
Fandi duduk di kursi meja makan, masih mengenakan kaos tidur warna gelap. Rambutnya berantakan, mata sembab karena tak tidur semalaman. Cangkir kopi di tangannya sudah lama dingin.
Stella melangkah keluar dari kamar, rapi dan wangi. Ia bersiap ke seminar di Solo pagi itu. Langkahnya sempat pelan ketika melihat Fandi yang diam. Ia mendekat, membungkuk sedikit dan mencium pipi suaminya.
“Pulang jam berapa sayang?” tanyanya pelan.
“Jam dua,” jawab Fandi tanpa menoleh.
Stella terdiam. “Kenapa nggak bangunin aku?”
“Aku kira kamu capek... habis ketemu orang.”
Kening Stella mengerut. “Maksudnya?”
Fandi mentapnya. Tajam. “Kamu ke FKG, kan?”
“Iya,” Stella menjawab jujur, pelan.
Fandi tertawa sinis. “Jadi sekarang kamu diam-diam ketemu dia?”
“Mas, dia datang sendiri. Cuma kasih hadiah pernikahan.”
“Dan kamu terima?” nada suara Fandi naik. “Kamu tahu nggak betapa bodohnya aku kemarin waktu dia datang ke rumah sakit, pamer foto kalian berdua pelukan, senyum-senyum seolah dia yang punya hak atas kamu?”
“Mas... aku juga kaget dia kayak gitu. Aku udah tegas, aku...”
BRAKK!
Garpu dibanting ke lantai. Stella tersentak.
Fandi berdiri. Matanya merah.
“Dulu aku diem waktu kamu sama Roni,” katanya dengan suara bergetar. “Aku tahu dia kembaran Reiza, kembaran sahabatku. Aku nggak pernah ganggu kalian. Aku tahan semuanya sendiri.”
Stella menahan napas.
“Aku nunggu, sampai akhirnya kamu sendiri. Sampai aku yakin kamu udah benar-benar pulih. Tapi sekarang, setelah kita menikah—kita udah sah—kamu malah ketemu Okan diam-diam?!”
Langkah Fandi mendekat. Ia menahan pipi Stella dengan satu tangan. Pandangannya begitu dekat, panas, campuran luka dan kemarahan.
“Aku ini suami kamu, Stel.”
Stella gemetar. Tapi bukan karena amarah. Karena takut.
“...Mas,” suaranya pelan. “Kamu kalau marah kayak gini ya?”
Fandi terpaku. Matanya langsung berubah, terkejut oleh kalimat itu. Tangan yang menempel di pipi Stella perlahan turun. Ia seperti sadar telah melewati batas.
“Stel...” gumamnya, pelan, penuh sesal.
“Aku mau pergi seminar yang aku bilang kemarin,” kata Stella cepat-cepat. “Aku... nggak mau berdebat sekarang.”
Dia memalingkan wajah, memungut tasnya. Tapi sebelum melangkah keluar, dia menoleh.
“Aku nggak nyaman bukan karena Okan. Tapi karena Mas nggak percaya aku.”
Fandi terdiam. Tubuhnya masih kaku di tempat.
“Kamu tahu kenapa aku pilih Mas?” lanjut Stella, lirih. “Karena aku kira... kamu orang yang paling ngerti aku. Tapi kalau begini caranya, Mas kayak lupa... bahwa aku ini bukan perempuan yang suka main dua hati.”
Pintu tertutup.
Dan Fandi tertinggal di sana. Di ruang makan yang sunyi, dengan garpu masih tergeletak di lantai dan kopi yang dingin menyamai hatinya.
--
Mobil melaju pelan di antara lalu lintas pagi Jogja yang mulai padat. Langit masih mendung, tapi bukan itu yang membuat hari Stella terasa berat. Tangannya memegang setir, tapi pandangannya sesekali kabur karena air mata yang belum juga kering. Ia mengusapnya cepat, berusaha tetap fokus. Napasnya berat. Di kursi penumpang, tas seminar terguncang setiap kali mobil melewati polisi tidur.
Di dasbor, layar ponsel masih terbuka. Stella baru saja mengirim sebuah rekaman suara—hasil percakapan dengan Okan sore kemarin ke Fandi. Sesuatu yang sempat ia ragu untuk kirim, tapi pagi itu... setelah pertengkaran itu, ia merasa harus.
Rekaman itu berakhir dengan suaranya sendiri, terdengar rapuh dan lelah:
"Kita bahkan nggak pernah mulai apa-apa, Kan...". Setelah itu, hening.
Ia menarik napas dalam-dalam, membuka kontak blocked number, dan membuka blokir nama itu: Okan FKG. Jari Stella ragu, tapi tetap menekan ikon call.
Nada sambung pertama. Kedua. Tangannya gemetar. Hatinya campur aduk antara marah, kecewa.
Nada ketiga.
Ia bersandar sejenak, satu tangan di setir, satu lagi menahan air mata yang kembali turun.
Nada keempat.
“Angkat... dong…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Tiba-tiba:
“Halo?”
Suara itu menyapa dari seberang. Tapi...
BRAK!
Suara rem mobil terdengar melengking di udara, diikuti benturan keras.
Tubuh Stella terhentak. Mobil berputar sebentar, sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan. Layar ponsel terlempar. Semuanya gelap. Hening.
Di seberang telepon, Okan masih bersuara panik.
“Stella?! Halo? Stella?!”
Tapi tak ada jawaban.

Other Stories
Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Download Titik & Koma