Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
dentistry melody
Dentistry Melody
Penulis Ekawati

Partial Amnesia


Suara Okan terus terdengar dari ponsel yang kini tergeletak di bawah kursi, terhubung tapi tak lagi mendapat balasan. Hanya desis angin dari jendela yang terbuka, dan suara klakson kendaraan yang mengular di belakang mobil yang ringsek di sisi kanan jalan.
Beberapa orang mulai berlari mendekat, menjerit, memanggil nama Tuhan.
Tubuh Stella tertunduk di atas setir. Darah menetes dari pelipisnya. Bibirnya bergetar pelan, matanya setengah terbuka—tapi pandangannya kosong, kabur, seperti mengambang antara sadar dan tidak. Ia mencoba menarik napas, tapi dada terasa sesak. Tangannya masih menggenggam setir erat-erat, seperti menolak melepaskan kendali, bahkan ketika segalanya telah terlepas dari kendalinya.
Seseorang membuka pintu mobil. Seorang pria muda, mungkin mahasiswa, tergopoh masuk sambil memanggil, “Mbak! Mbak, bangun, ya! Sadar, Mbak!”
Stella mengerjap. Sekali. Dua kali. Kemudian gelap lagi.

Di rumah sakit, Fandi tengah berjalan cepat menuju ruang jaga. Hari itu penuh pasien dan evaluasi bulanan, tapi pikirannya masih tertinggal di rumah—masih teringat wajah Stella pagi tadi yang dingin dan tak biasa. Mereka tak sempat bicara banyak setelah pertengkaran malam sebelumnya. Hanya diam dan jarak.
Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
Ia hampir mengabaikannya, tapi akhirnya menjawab. Suara di seberang membuat jantungnya runtuh seketika.
“Pak, ini dari IGD RS Bethesda. Istri Anda, Bu Stella… barusan dibawa masuk karena kecelakaan lalu lintas. Kami butuh Anda segera.”
Waktu seakan berhenti.
Fandi membeku. Detik berikutnya ia sudah berlari keluar tanpa menjelaskan pada siapa pun. Matanya memanas. Langkahnya terburu, napasnya memburu. Hanya satu nama yang menggema dalam kepalanya.
Stella.

Di ruang gawat darurat, lampu menyilaukan menyinari wajah Stella yang kini terbaring tak sadarkan diri. Alat monitor berdetak pelan. Di sisi tempat tidur, seorang perawat sedang membersihkan luka di pelipisnya, sementara seorang dokter lain mengecek hasil CT Scan.
Pintu terbuka.
Fandi masuk dengan langkah tergesa. Matanya langsung menatap tubuh Stella yang terbaring diam. Untuk sesaat ia tak bisa bergerak.
“Pak Fandi, kami sudah tangani. Ada sedikit pendarahan otak, jua kemungkinan trauma kepala ringan. Kami masih observasi untuk 24 jam ke depan,” ujar dokter jaga.
Fandi hanya mengangguk. Ia mendekat. Tangannya gemetar saat menyentuh jari-jari Stella yang dingin.
“Sayang…” bisiknya pelan, nyaris patah. “Maafin aku…”
Air matanya jatuh. Bukan karena amarah, bukan karena pertengkaran. Tapi karena rasa takut kehilangan. Dan penyesalan karena membiarkan keraguan merenggangkan cinta mereka.
Di sisi ranjang itu, Fandi akhirnya bersandar. Menangis dalam diam. Berdoa—untuk kesempatan kedua. Untuk waktu yang belum habis.
Dan untuk Stella. Selamanya.
Di ruang ICU yang dingin dan sunyi, hanya suara mesin monitor yang sesekali berbunyi mengisi udara. Di balik tirai putih, Stella terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen, wajahnya pucat namun tetap terlihat tenang. Di sisi ranjang, Fandi duduk dengan wajah layu dan mata sembab karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
Tangannya menggenggam jemari Stella yang terasa dingin. Ia menunduk, menatap wajah istrinya dengan penuh penyesalan.
"Sayang..." bisiknya lirih, suaranya serak. "Aku tahu kamu nggak bisa dengar sekarang, atau mungkin... kamu bisa, tapi belum mau bangun."
Ia menarik napas panjang, berusaha meredam emosi yang terus menggelora.
"Maaf... Aku marah waktu itu. Aku cemburu. Aku bodoh. Aku bahkan sempat percaya kata-kata orang yang gak kenal kamu sebaik aku. Aku tahu kamu sayang aku. Tapi aku malah nyakitin kamu...."
Fandi menggenggam tangan Stella lebih erat, seolah takut kehilangannya.
"Please, bangun ya... Aku janji gak akan egois lagi. Kita belum banyak waktu bareng. Kamu belum sempat nyuruh aku nyuci piring tiap hari. Belum sempat ajak aku jalan-jalan ke Jepang kayak kamu pernah bilang."
Air matanya jatuh. Ia mengusap wajah Stella pelan dengan jemari gemetar.
"Stel... pulang ya. Aku kangen kamu. Rumah kita sepi banget. Kamu janji sama aku, kita bakal pulang bareng dari mana pun. Jadi sekarang, pulang ya. Bangun. Aku tungguin di sini. Aku gak akan ke mana-mana."
Tak ada jawaban. Hanya detak stabil dari mesin monitor yang jadi satu-satunya tanda bahwa Stella masih bertahan.
Dan Fandi tetap duduk di sana, menggenggam tangan istrinya dengan penuh harap. Menunggu—dengan doa yang tak putus-putus—agar wanita yang paling ia cintai itu membuka mata dan kembali padanya.
--
Okan duduk di samping Stella yang masih memejamkan matanya, terbaring di sebuah tempat tidur di ruangan ICU rumah sakit itu. Wajahnya tampak sedih melihat perempuan yang ia sayangi itu belum juga sadarkan diri setelah kecelakaan yang dialaminya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke Stella.
“Aku udah terlalu lama ya Stel ngusik hidup kamu”, ujar Okan lirih.
Sementara itu dibalik tirai, Fandi sedang mengamati mereka. Kali ini ia menahan emosinya melihat lelaki itu berada di dekat istrinya. Ia mencoba mendengar apa yang sedang Okan katakan pada istrinya yang belum sadarkan diri itu.
“Dulu aku nyatain perasaan aku ke kamu. Tapi aku malah ngilang abis itu. Kamu juga pasti gak nyaman tiba-tiba aku muncul lagi pas kamu udah sama yang lain. Sekarang kamu udah bener-bener jadi milik orang lain aku masih gangguin kamu”, lanjut Okan sambil menahan air matanya.
“Stel, maaf ya. Aku sama sekali gak pengen keadaannya jadi kayak gini. Please, bangun ya. Banyak yang nungguin kamu. Kamu harus lanjutin mimpi-mimpi kamu, lanjutin hidup kamu. Sama Fandi, pilihan kamu”, Okan menghela nafas sejenak. Kata-katanya yang ia ucapkan sempat membuat dadanya merasa sesak.
“Aku janji, aku gak akan gangguin kamu lagi”, lanjutnya sambil tersenyum getir.
“Cepetan bangun ya, Stel. Aku pamit dulu”, lelaki itu berpamitan seraya bangkit dari tempat duduknya.
Melihat itu Fandi segera melangkahkan kakinya ke nurse station. Berpura-pura tidak melihat Okan. Tanpa Okan sadari, jemari Stella bergerak-gerak seolah ingin merespon perkataan Okan. Okan melangkah keluar dari ruangan ICU itu. Tak sengaja ia berpapasan dengan Reiza yang masih mengenakan baju scrub dokternya dan mengalungkan tanda pengenal dokter.
“Eh, bro!”, sapa Reiza dengan santai.

Okan hanya tersenyum tipis dan cepat-cepat melangkahkan kakinya. Reiza tampak heran dengan kelakuan lelaki itu. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang ICU, ke bed tempat Stella terbaring. Rupanya Fandi sedang berada di sampingnya.
“Loh. Lo barusan ketemu sama tuh orang? Si Okan Okan itu?”, tanya Reiza pada Fandi.
“Enggak sih. Tapi gue tau tadi dia ke sini”, jawab Fandi santai.
“Ngapain?”
“Say goodbye”
“Oh.. Freak banget ya emang tuh orang”, ujar Reiza yang hanya dibalas dengan senyuman Fandi.
“Gimana Fan, udah ada perkembangan?”, Reiza menanyakan keadaan Stella.
“Belum, Za. Masih gini-gini aja”, jawab Fandi dengan wajah sedih.
“Hasil CT scan gimana?”
“Kata Prof Bima emang ada pendarahan di otaknya. Tapi harusnya masih aman”
“Udah lo ajak ngomong, panggil-panggil gitu?”

“Udah. Tiap hari”
“Gue coba ajak ngomong juga ya. Siapa tahu dia emosi denger suara gue trus dia bangun”
“Haha iya coba aja”
Reiza sedikit membungkukkan badannya. Mendekatkan wajahnya pada telinga Stella.
“Stell… Stella. Bangun woy. Gak capek apa rebahan terus? Tau sih kamu tukang tidur. Tapi ini udah tiga hari lho. Ntar aku traktir ramen, takoyaki, atau apa aja deh kesukaan kamu. Tapi cepetan bangun”, kata Reiza pada Stella.
Fandi hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu.


Stella sedang berjalan di sebuah tempat yang teduh. Terdengar debur ombak dari kejauhan. Di bawah pohon ada sebuah bangku yang menghadap ke arah pantai. Ia melihat seorang lelaki mengenakan kaos putih duduk di bangku itu. Ia tampak familiar. Stella mendekat ke bangku itu.

“Roni..”, ucap Stella lirih.
Lelaki itu menoleh, tersenyum pada Stella. Wajah Roni tak lagi pucat seperti terakhir Stella melihatnya.
“Hai”, Roni menyapa Stella yang sudah duduk di sampingnya.
“Lama banget gak ketemu”, Stella tak berhenti menatap Roni.
Roni menatap ke arah pantai. Seolah begitu takjub dengan pemandangan di depannya.
“Bagus ya pemandangannya?”, tanya Roni sambil menoleh ke arah Stella.
“Iya”
“Aku mau pergi ke tempat yang lebih indah lagi, kamu mau ikut?”, Roni berdiri dan mengulurkan tangannya pada Stella.
“Iya. Aku mau” Stella mengangguk pelan.
“Stel, Stella!”, seseorang memanggil Stella.
Stella menoleh ke arah suara itu.
“Kayak ada yang panggil aku”
“Siapa?”, tanya Roni yang masih menggenggam tangan Stella.

“Itu suara Okan”
“Udah gak kedengeran lagi, yuk”, Roni menggandeng Stella untuk kembali melangkah.
“Stella!”, kembali terdengar suara seseorang memanggil Stella.
“Itu suara Reiza.”,
Roni tersenyum “belum saatnya, La. Kamu temui Reiza dulu ya”. Stella menoleh ke belakang. Melepaskan genggaman tangan Roni, mencari sumber suara yang memanggilnya.
Ketika ia menoleh kembali, Roni sudah tidak ada di sana. Hanya suara deburan ombak yang tersisa. Stella tampak bingung dan kecewa.


Cahaya lampu tampak begitu terang ketika Stella mulai membuka matanya perlahan. Di depannya tampak wajah yang begitu ia kenal. Nyaris sama dengan wajah yang baru saja ia temui. Hanya.. tampak sedikit berbeda.
“Fan, Fan liat! Beneran bangun dia!”, seru Reiza.

“Iya Za!”, kata Fandi sambil bergegas memberi tahu perawat yang berjaga.
“Sus tolong kabari prof Bima ya. Istri saya, Stella udah bangun”, kata Fandi kepada seorang perawat.
Fandi kembali ke dekat istrinya. Iya segera memeriksa keadaan istrinya itu. Ia memeriksa kelopak mata istrinya. Memeriksa dengan stetoskop.
“Makasih sayang kamu udah bangun”, kata Fandi sambil memegang tangan istrinya itu. Tapi segera Stella lepaskan perlahan. Pandangan Stella masih tertuju pada Reiza.
“Ron..Roni?”, kata Stella setengah berbisik.
“Reiza… kamu masih hidup Stella”, jawab Reiza.
Stella mengalihkan pandangannya pada Fandi. Ia tampak bingung dengan kehadiran lelaki itu di dekatnya. Ia kemudian menarik baju Reiza dan memberi kode agar ia mendekatkan wajahnya.
“Rei, kok dia di sini? Dia dokter aku?”, tanya Stella.
“Lah? Kan dia suami kamu. Wajar lah dia nungguin kamu”, Reiza menjawab dengan heran.

“Sayang, kamu..”, Fandi meraih tangan Stella, tetapi kembali disingkirkan oleh istrinya itu.
“Sayang?”, Stella bertanya dengan nada bingung.
Kedua lelaki itu saling pandang dan mulai panik.
“Ok. Kamu tenang dulu ya”, Reiza coba menenangkan Stella. Tak lama kemudian seseorang membuka tirai bed itu.
“Sore”, sapa seorang lelaki dengan jas putih dan stetoskop menggantung di lehernya.
“Sore prof”, Reiza dan Fandi bersamaan menjawab sapaan Prof. Bima.
“Gimana Stella? Sudah bangun ya. Akhirnya ya. Suami kamu lho sampai tiap malem ikut nginep di sini”, ujar Prof. Bima sambil memeriksa Stella.
“Suami? Suami siapa dok?”, tanya Stella heran.
“Suami kamu. Dokter Fandi”, jawab Prof Bima.
“Tapi, tapi saya belum nikah dok”, jawab Stella.
Prof Bima menoleh ke arah Fandi yang tampak panik.
“Oke. Sekarang gimana rasanya? Ada yang sakit?”, tanya Prof Bima.

“Iya dok. Badan saya sakit semua, pegel semua. Pusing juga rasanya”.
“It’s okay. Nanti kita cek lagi ya”, prof Bima tersenyum pada pasiennya itu, perlahan ia memeriksa Stella dengan stetoskopnya.

--
Prof. Bima berbicara kepada Fandi dan Reiza di depan komputer di nurse station.
“Seperti yang saya khawatirkan ya Fan. Benturan di kepalanya bisa berpengaruh ke memorinya. Semoga gak parah ya. Nanti kita lanjutkan observasi. Kalau kondisinya sudah stabil bisa pindah ke bangsal. Kamu yang sabar ya”
“Baik prof. Terimakasih”, ucap Fandi pada Prof. Bima yang beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan mereka berdua.
“Sabar ya bro”, ucap Reiza sambil menepuk bahu Fandi.

“Makasih ya, Za. Lo lagi sibuk gak?”

“Enggak kok. Mangkanya gue ke sini”
“Minta tolong ya ajak ngomong Stella. Kayaknya dia masih bingung banget”, pinta Fandi.
“It’s okay”
Reiza dan Fandi kembali menghampiri Stella.
“Hei, gimana Stel? Kita semua udah panik nungguin kamu buat bangun”, kata Reiza.
“Gimana apanya? Badanku sakit semua. Abis kenapa sih aku Rei?”
“Kamu abis kecelakaan waktu nyetir sendiri ke Solo. Udah tiga hari gak bangun”
“Ah, lama banget ya”
“Aku tinggal dulu ya. Ada Fandi di sini”, ucap Reiza sambil menoleh ke Fandi.
“Hah! Janganlah, emang kamu mau kemana? Sini aja lah”, rengek Stella.
“Mau lanjut sekolah! Lagian yang laki kamu kan dia. Aku kan laki orang”, ujar Reiza.
“Oh kamu udah nikah ya sama Dewi?”

“Iya. Kamu juga, sama Fandi. Liat, apa ini?”, tanya Reiza sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
“Hah? Aku? Nikah sama dia? Kok bisa?”
“Udah ya aku tinggal dulu”, Reiza memberikan kode pada Fandi agar mendekat pada Stella sebelum ia melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Stella terdiam sambil sesekali melirik Fandi yang tampak canggung di dekatnya.
“Sayang, kamu beneran gak inget sama aku?”, tanya Fandi perlahan.
“Stop call me sayang. Merinding tau”, Protes Stella walau masih dengan nada lemas.
“Ok, Stel. Kamu beneran gak ngenalin aku?”
“Ya kenal lah. Kamu temennya Reiza kan. Asistennya dokter Ali yang rese waktu aku kuliah”, jawab Stella ketus.
“Maksud aku, kamu gak inget kalau kita udah nikah?”

“Nikah? Gimana ceritanya? Ini prank apa sih?”, keluh Stella sambil memejamkan mata seperti orang kelelahan.
“It’s okay. Gak usah dipaksain. Kamu butuh apa sekarang?”
“Mau minum. Sama keluarga aku kemana sih. Masa gak ada yang jagain aku di sini”
“Aku udah telfon Mama, bentar lagi pasti pada dateng ke sini. Sabar ya. Ini aku bantuin minum dulu”
Stella dengan terpaksa menerima bantuan Fandi untuk meneguk air. Sementara pikirannya masih terasa semrawut.
--
Stella sudah berada di bangsal ketika keluarganya datang.
“Sayang, Alhamdulillah kamu udah bangun. Mama khawatir banget”, ucap mama Stella sambil memeluk erat anaknya.
“Gimana La, apanya yang masih sakit sekarang?”, giliran Papa Stella yang bertanya.

“Sakit semuanya pa. Sama ini nih, kok bisa dia ngaku-ngaku suami aku”, Stella menunjuk Fandi dengan kepalanya.
“Dih si oon. Kan dia emang suamimu!”, ucap Tama yang kemudian diingatkan oleh mamanya dengan senggolan di sikunya.
“Iya mah, pah. Sejak bangun emang Stella gak inget kalau kami udah nikah”, ucap Fandi dengan muka sedih. Mama Papa Stella dan Tama saling berpandangan. Tampak bingung harus bicara apa.
“La, Fandi ini bukan ngaku-ngaku jadi suami kamu. Tapi emang kalian berdua udah nikah. Masa kamu gak inget?” ucap Mama Stella pelan.
“Nih foto-foto alaymu waktu nikah”, ucap Tama sambil menyodorkan ponselnya ke kakaknya itu.
Stella melongo melihat foto-foto di ponsel Tama. Ia tampak begitu bahagia dengan kebaya pengantinnya. Fandi berada di sebelahnya tampak tak kalah bahagia ketika Stella menggandeng lengan kirinya.
“No way! I must be dreaming”, ucap Stella lirih sambil mengembalikan ponselnya ke Tama.

“Ya udah Fan. Kamu kalau mau lanjutin tugas kamu gak papa. Biar Stella kami jaga”, ucap Papa Stella.
“Ok Pa. Fandi pergi dulu. Mah, Tam, Stel”, pamit Fandi.
Stella hanya memandang sini Fandi yang melangkah pergi meninggalkannya bersama keluarganya.
“Parah sih laki sendiri dilupain” bisik Tama yang tetap terdengar oleh Stella.
--
Suara langkah kaki terdengar mendekat di koridor rumah sakit. Pintu kamar rawat Stella diketuk perlahan sebelum terbuka pelan. Niken muncul lebih dulu, diikuti Kresna yang membawa sebungkus buah tangan. Wajah mereka menyimpan kekhawatiran, tapi senyum merekah begitu melihat Stella yang sudah duduk bersandar di ranjang dengan infus terpasang di tangan.
“Assalamu’alaikum...,” sapa Niken lembut.
“Wa’alaikumsalam...” Stella membalas, senyum tipis menghias wajah pucatnya. “Akhirnya kalian datang juga.”
Niken langsung memeluk Stella pelan, berhati-hati agar tidak menyentuh selang infus.
“Maaf ya, baru bisa ke sini... Aku sempat di luar kota. Kresna juga sibuk banget.”
“Gapapa. Justru aku seneng kalian dateng sekarang,” jawab Stella, menoleh ke arah Kresna yang ikut tersenyum dan mengangguk.
Mereka berdua duduk mengelilingi ranjang. Hening sejenak sebelum Kresna angkat suara.
“Kemarin Okan udah sempat ke sini. Tapi kamu belum sadar waktu itu.”
Stella hanya menunduk. Hati kecilnya tercekat mendengar nama itu lagi.
“Kamu... gak papa, Stel?” tanya Niken hati-hati.
Stella menarik napas panjang. “Papa sih dikit. Tapi yang paling bikin bingung... semua orang bilang aku udah nikah.”
“Emang kamu udah nikah,” sahut Kresna datar.
Stella menoleh cepat. “Sama Fandi?”
Niken dan Kresna mengangguk bersamaan.
Stella menggeleng pelan, bingung. “Tapi aku ingetnya dia itu... asdos jutek yang sering bikin aku kesel.”
Niken terkekeh. “Ya, dulu sih iya. Tapi kamu tuh, Stel... sempet bucin banget sama dia. Bahkan pernah ketahuan lagi gandengan tangan di mall sama Fandi.”
Stella membelalak. “Hah?! Aku? Gandengan tangan sama dia di mall?!”
Kresna ikut tertawa pelan. “Itu kejadian real. Aku saksi mata.”
Stella masih terlihat syok, matanya menatap ke luar jendela.
“Aneh ya... Aku berasa kayak lagi hidup di hidup orang lain. Bahkan setiap kali Fandi dateng ke sini, aku ngerasa asing.”
Niken menatap Stella dalam-dalam. “Tapi dia nggak pernah ninggalin kamu, Stel. Sejak kamu di IGD sampai sekarang. Dia terus ada.”
Stella terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Dalam pikirannya, masih sulit membayangkan bagaimana ia bisa mencintai seseorang yang kini rasanya begitu asing.
Setelah Niken dan Kresna pamit, Stella duduk kembali bersandar di ranjang. Wajahnya masih menyimpan kebingungan, seolah apa yang barusan diceritakan belum sepenuhnya masuk akal. Tak lama, pintu kembali terbuka pelan.
Fandi masuk dengan kantong kertas di tangan. Wajahnya terlihat letih, tapi matanya langsung berbinar begitu melihat Stella terjaga.
“Lagi ada tamu?” tanyanya sambil menutup pintu.
“Udah pulang. Niken sama Kresna,” jawab Stella pelan, lalu menatap kantong di tangan Fandi. “Itu apa?”
Fandi tersenyum, lalu meletakkan kantong itu di meja kecil sebelah ranjang.
“Brownies keju dari bakery-nya Mama. Katanya kamu dulu suka ini”
“Kamu pernah ngambek karena brownies-nya kehabisan. Padahal kamu bilang ngidam itu dari seminggu sebelumnya.”, lanjut Fandi.
Stella mematung sejenak, lalu menatap Fandi tajam. “Ngidam?”
Fandi langsung tertawa pelan. “Maksudnya craving, bukan ngidam yang... itu.”
Fandi duduk di kursi sebelah ranjang. “Kamu dulu cerewet banget soal makanan. Bisa heboh sendiri cuma gara-gara topping kejunya kurang.”
“Kayaknya aku kok menyebalkan banget, ya?”
Fandi menatapnya dalam, senyum tipis di wajahnya. “Nggak juga. Justru... itu yang bikin aku jatuh cinta.”
Stella terdiam. Seketika ruangan terasa lebih sunyi. Matanya dan mata Fandi saling menatap, tapi tak ada kata lagi yang terucap. Hanya jantung yang berdetak lebih cepat.

Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Download Titik & Koma