Chapter 1 Pesta Tanpa Harapan
Udara malam beraroma mawar dan parfum mahal. Musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan tawa renyah tamu-tamu terhormat di ruang pesta megah keluarga Brata.
Di tengah keramaian itu, berdiri seorang gadis dengan gaun sutra berwarna perak, memancarkan pesona bagai rembulan yang sendirian di langit malam. Dialah Almira Brata Qeenza yang berulang tahun ke-17 malam ini.
Tuan dan Nyonya Brata, orang tua Almira, sibuk menyambut tamu dan menebar senyum ramah, seolah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.
Di dekat mereka, berdiri Dito, kakak laki-laki Almira, yang selalu menjadi pusat perhatian keluarga. Mereka tertawa, bercanda, dan berpelukan.
Sebuah pemandangan yang tak pernah Almira dapatkan. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan, bagai penonton yang tak diundang dalam pertunjukan keluarganya sendiri.
Almira menghela napas, matanya berembun. Ia menatap kue ulang tahun yang menjulang tinggi, dihiasi angka 17.
Namun, tak ada yang memintanya meniup lilin. Tak ada lagu "Selamat Ulang Tahun" yang ditujukan padanya. Ia seperti patung hiasan pelengkap pesta yang tak berarti.
Tiba-tiba, Nyonya Brata menghampirinya. "Almira," suaranya dingin dan datar, "Berdirilah yang tegak. Jangan seperti orang yang tak punya semangat hidup. Kau membuat keluarga kita malu."
Almira menunduk, "Maaf, Bu."
"Maaf? Maafmu tidak berguna," Nyonya Brata berbisik tajam, matanya menyorot jijik, "Kau tahu, kehadiranmu di keluarga ini hanyalah aib. Seharusnya kau tidak pernah terlahir."
Air mata yang sudah ditahan Almira tumpah juga. Ia tak sanggup lagi. Ia lari, menerobos kerumunan tamu, menuju taman belakang. Di bawah sinar bulan yang sepi, ia duduk di bangku marmer, membiarkan isaknya pecah.
"Kenapa? Kenapa aku tidak pernah cukup?" bisiknya pada dirinya sendiri, di antara tangisan, "Aku anakmu, Ibu. Aku putri Ayah. Apa salahku?"
Sebuah suara datang dari belakang. "Cengeng sekali."
Almira menoleh. Itu Dito. Ia menatap Almira dengan pandangan merendahkan.
"Kenapa kau lari dari pestamu sendiri, huh? Bukankah seharusnya kau senang?" Dito tertawa sinis, "Kau tahu, Almira, kau hanya beban. Mama dan Papa hanya membiarkanmu tinggal di sini agar reputasi mereka tidak hancur. Kau pikir ada yang peduli padamu?"
"Kak, Dito ..." suara Almira bergetar, "Aku ini adikmu..."
"Adik?" Dito mendengus, "Aku tidak punya adik! Hanya ada diriku sendiri.Jangan pernah panggilku, Kakak! Kau bukan siapa-siapa di keluarga ini. Kau hanya seonggok daging yang tidak diinginkan."
Deg!
Kata-kata Dito bagai ribuan belati yang menusuk jantung Almira. Ia merasakan sakit yang tak terkira. "Kau benar," lirih Almira, menatap kakaknya dengan mata kosong, "Aku memang bukan siapa-siapa."
Almira bangkit, meninggalkan Dito yang masih berdiri dengan ekspresi puas. Ia kembali ke dalam rumah melewati keramaian yang seolah-olah tak melihatnya. Almira naik ke kamarnya, sebuah ruangan yang megah namun terasa hampa. Ia menatap cermin, melihat pantulan dirinya yang rapuh.
"Jika hati adalah rumah, maka hatiku sudah runtuh. Jika kasih sayang adalah oksigen, maka aku sudah lama mati lemas," bisiknya pada bayangan di cermin.
Ia mengeluarkan ponselnya. Ada satu harapan terakhir yang ia gantungkan, yaitu Leo, kekasihnya. Ia mengiriminya pesan.
"Leo, kamu di mana? Aku butuh kamu."
Beberapa menit berlalu, tak ada balasan. Almira mencoba menelepon, namun tidak diangkat. Harapan terakhirnya pun perlahan memudar. Ia menaruh ponselnya di meja, air matanya kembali mengalir.
Di malam ulang tahunnya yang seharusnya penuh sukacita, Almira menyadari satu hal di dunia ini, ia benar-benar sendirian. Harta berlimpah, kemewahan, dan nama besar keluarga Brata tak mampu membeli satu hal pun dengan setitik kasih sayang.
Other Stories
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...