Bangkit Dari Luka

Reads
1.3K
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 5 Langkah Awal Almira

Almira berjalan di bawah guyuran hujan malam, menembus dinginnya udara. Gaun sutra mahalnya kini basah kuyup dan kotor. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan di pesta ulang tahunnya terasa menyiksa.

Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena fisik yang lelah, tapi karena beban hati yang tak terkira. Ia tak lagi punya air mata untuk diteteskan. Jiwanya terasa kering, hampa, namun di saat yang sama, sebuah api baru menyala di dalamnya.

Ia berjalan hingga kakinya lemas, berhenti di depan sebuah gang sempit yang tampak kumuh. Di sana, sebuah plang kecil bertuliskan "Kost Putri" menyambutnya.

Almira ragu sejenak. Ia tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Seumur hidupnya, ia hanya mengenal kemewahan dan kebersihan yang sempurna. Namun, ia tidak punya pilihan.

Seorang ibu paruh baya keluar dari pintu, menatap Almira dari atas ke bawah, dengan tatapan penuh tanda tanya. "Nak? Kamu kenapa?" tanyanya lembut, suaranya mengandung kehangatan yang asing bagi Almira.

Almira menunduk, tak mampu menatap mata ibu itu. "Saya cari kamar kos, Bu."

"Ya ampun, Nak. Bajumu basah semua," Ibu itu menyentuh bahu Almira. Sentuhan itu, sentuhan yang sederhana membuat pertahanan Almira runtuh. Ia menatap Ibu itu, air matanya akhirnya tumpah lagi, "Kamu kenapa? Ada masalah?"

Almira menggelengkan kepala, isaknya pecah, "Enggak, Bu. Enggak ada apa-apa."

Ibu itu memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Ratih, mengerti tanpa perlu banyak kata. Ia membawa Almira masuk, memberinya handuk dan teh hangat. "Tidak semua masalah harus diucapkan, Nak. Kadang, air mata sudah menceritakan segalanya," ujar Ibu Ratih, "Tapi ingat satu hal. Hujan tidak turun selamanya. Badai akan berlalu. Dan setelah badai, akan ada pelangi. Percayalah."

Almira mengangguk, terharu. Kata-kata Ibu Ratih yang begitu sederhana, terasa lebih berharga daripada semua kata-kata mutiara palsu yang pernah ia dengar dari keluarganya.

Ibu Ratih menunjukkan sebuah kamar kecil di ujung lorong. Kamar itu hanya berisi sebuah kasur, meja belajar, dan lemari kecil. Jauh dari kata mewah, tapi terasa lebih nyaman dan hangat daripada kamar tidur super luas yang ia tinggalkan.

"Ini kamarmu, Nak," kata Ibu Ratih, "Jangan khawatir soal bayaran. Kamu istirahat dulu. Besok kita bicarakan."

Almira duduk di tepi kasur. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Gaun perak itu kini lusuh, rambutnya acak-acakan. Ia terlihat seperti orang asing. Namun, ia merasa lebih dari dirinya sendiri daripada sebelumnya.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan dompet yang isinya hanya beberapa lembar uang tunai, dan sebuah foto usang. Foto itu adalah foto dirinya saat masih kecil, tersenyum ceria di samping kedua orang tuanya. Senyum di foto itu terasa seperti ejekan.

"Aku pikir, kenangan bisa menjadi kekuatan. Ternyata, kenangan juga bisa menjadi rantai yang membelenggu," bisiknya pada foto itu, "Kini aku harus mematahkan rantai ini."

Almira meletakkan foto itu di laci. Ia harus bangkit, dan melupakan masa lalu. Ia harus membuang Almira Brata Qeenza yang rapuh. Ia harus melahirkan kembali Almira yang baru, kuat, dan mandiri.

"Mungkin benar kata orang, penderitaan adalah mata air kekuatan. Aku sudah berada di dasar, tak ada lagi yang bisa diambil dariku," gumamnya, suaranya penuh keyakinan, "Kini saatnya aku naik. Selangkah demi selangkah. Dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku."

Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan dan rasa sakit meresap ke dalam tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidur bukan di atas kasur yang empuk, tapi dengan hati yang ringan, meski penuh luka. Karena ia tahu, ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang.

Perjalanan menuju dirinya yang sesungguhnya.

Other Stories
Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Download Titik & Koma