Chapter 6 Teman Seperjuangan
Pagi pertama Almira di kosan Ibu Ratih dimulai dengan aroma masakan sederhana dan suara berisik dari kamar sebelah. Almira keluar, terkejut melihat betapa sibuknya kehidupan di sana.
Para penghuni kosan, kebanyakan mahasiswa dan pekerja sedang bersiap-siap untuk memulai hari mereka. Semuanya tampak bersemangat, sebuah energi yang sudah lama tidak Almira rasakan.
"Almira, sarapan dulu," sapa Ibu Ratih sambil meletakkan sepiring nasi dan lauk di meja. Almira mengangguk, hatinya hangat.
Saat sedang makan, seorang gadis ceria dengan rambut ikal dan mata berbinar datang menghampirinya, "Hai! Aku Maya. Anak kosan sini juga," sapanya ramah, tanpa sedikit pun rasa curiga atau pertanyaan tentang penampilan Almira yang jauh dari kata biasa.
Almira tersenyum tipis dan mengulurkan tangan, "Almira."
"Kamu anak baru, ya? Tadi malam aku lihat kamu datang. Kamu dari mana? Kok bajunya basah?" tanya Maya, suaranya tulus.
Pertanyaan itu membuat Almira terdiam sejenak. Ia sudah lelah berbohong. Ia hanya ingin jujur, untuk pertama kalinya. "Aku kabur dari rumah," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar.
Maya duduk di depannya, menatap Almira dengan pandangan yang penuh empati, "Kabur? Kenapa?"
Air mata Almira kembali menggenang. "Mereka tidak pernah menganggapku ada. Aku hanya boneka. Dan aku lelah menjadi boneka mereka."
"Mereka? Maksudmu keluargamu?" Maya bertanya sangat pelan, "Apa yang mereka lakukan sampai kamu harus kabur?"
Almira menceritakan semuanya, tentang pesta ulang tahun yang hampa, tentang pengkhianatan Leo, dan kata-kata tajam dari keluarganya. Almira menceritakan bagaimana ia dibenci tanpa alasan, bagaimana hartanya tak bisa membeli seulas senyum dari orang-orang yang seharusnya mencintainya.
Maya mendengarkan dengan sabar. Matanya berkaca-kaca, ia bahkan tak berusaha menyembunyikannya. Setelah Almira selesai bercerita, Maya memeluknya. Sebuah pelukan hangat, tulus, yang terasa seperti pelukan seorang saudari.
"Aku tidak tahu harus bilang apa," bisik Maya, suaranya bergetar, "Aku tidak tahu kalau ada orang yang bisa sesakit itu."
Almira menangis di pelukan Maya, "Kenapa mereka tidak bisa mencintaiku, Maya? Kenapa aku selalu kurang?"
"Almira, dengar aku baik-baik," kata Maya, melepaskan pelukan dan menangkup wajah Almira, "Kamu tidak pernah kurang. Mereka yang buta. Mereka yang tidak tahu bagaimana cara mencintai. Ini bukan salahmu. Sama sekali bukan."
"Kamu tidak tahu aku siapa. Aku hanya anak manja yang baru mengenal dunia nyata," isak Almira.
"Aku tidak peduli kamu siapa. Aku peduli kamu adalah orang yang di depan mataku sekarang, hatinya hancur tapi masih punya keberanian untuk bangkit," jawab Maya tegas, "Almira, aku tahu rasanya kesepian. Aku tahu rasanya dikhianati. Tapi jangan biarkan itu merusakmu. Jadikan itu kekuatan. Jadikan itu alasanmu untuk terbang lebih tinggi."
"Bagaimana caranya? Aku tidak punya apa-apa," bisik Almira putus asa.
"Kamu punya dirimu. Itu harta yang paling berharga. Semua harta dunia tidak ada artinya kalau hatimu hancur. Tapi dengan hati yang utuh, kamu bisa menciptakan harta yang tak ternilai," kata Maya, tangannya memegang erat tangan Almira, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan bantu kamu. Kita akan berjuang sama-sama."
Kata-kata Maya, sederhana namun begitu tulus, menyentuh relung hati Almira yang paling dalam.
Di hadapan orang asing yang baru ia kenal, Almira menemukan sebuah ikatan, keluarga baru yang jauh lebih berharga daripada semua nama dan harta yang ditinggalkannya. Ia akhirnya tahu, bahwa meskipun kehilangan segalanya, ia masih bisa menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu seorang teman sejati.
Para penghuni kosan, kebanyakan mahasiswa dan pekerja sedang bersiap-siap untuk memulai hari mereka. Semuanya tampak bersemangat, sebuah energi yang sudah lama tidak Almira rasakan.
"Almira, sarapan dulu," sapa Ibu Ratih sambil meletakkan sepiring nasi dan lauk di meja. Almira mengangguk, hatinya hangat.
Saat sedang makan, seorang gadis ceria dengan rambut ikal dan mata berbinar datang menghampirinya, "Hai! Aku Maya. Anak kosan sini juga," sapanya ramah, tanpa sedikit pun rasa curiga atau pertanyaan tentang penampilan Almira yang jauh dari kata biasa.
Almira tersenyum tipis dan mengulurkan tangan, "Almira."
"Kamu anak baru, ya? Tadi malam aku lihat kamu datang. Kamu dari mana? Kok bajunya basah?" tanya Maya, suaranya tulus.
Pertanyaan itu membuat Almira terdiam sejenak. Ia sudah lelah berbohong. Ia hanya ingin jujur, untuk pertama kalinya. "Aku kabur dari rumah," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar.
Maya duduk di depannya, menatap Almira dengan pandangan yang penuh empati, "Kabur? Kenapa?"
Air mata Almira kembali menggenang. "Mereka tidak pernah menganggapku ada. Aku hanya boneka. Dan aku lelah menjadi boneka mereka."
"Mereka? Maksudmu keluargamu?" Maya bertanya sangat pelan, "Apa yang mereka lakukan sampai kamu harus kabur?"
Almira menceritakan semuanya, tentang pesta ulang tahun yang hampa, tentang pengkhianatan Leo, dan kata-kata tajam dari keluarganya. Almira menceritakan bagaimana ia dibenci tanpa alasan, bagaimana hartanya tak bisa membeli seulas senyum dari orang-orang yang seharusnya mencintainya.
Maya mendengarkan dengan sabar. Matanya berkaca-kaca, ia bahkan tak berusaha menyembunyikannya. Setelah Almira selesai bercerita, Maya memeluknya. Sebuah pelukan hangat, tulus, yang terasa seperti pelukan seorang saudari.
"Aku tidak tahu harus bilang apa," bisik Maya, suaranya bergetar, "Aku tidak tahu kalau ada orang yang bisa sesakit itu."
Almira menangis di pelukan Maya, "Kenapa mereka tidak bisa mencintaiku, Maya? Kenapa aku selalu kurang?"
"Almira, dengar aku baik-baik," kata Maya, melepaskan pelukan dan menangkup wajah Almira, "Kamu tidak pernah kurang. Mereka yang buta. Mereka yang tidak tahu bagaimana cara mencintai. Ini bukan salahmu. Sama sekali bukan."
"Kamu tidak tahu aku siapa. Aku hanya anak manja yang baru mengenal dunia nyata," isak Almira.
"Aku tidak peduli kamu siapa. Aku peduli kamu adalah orang yang di depan mataku sekarang, hatinya hancur tapi masih punya keberanian untuk bangkit," jawab Maya tegas, "Almira, aku tahu rasanya kesepian. Aku tahu rasanya dikhianati. Tapi jangan biarkan itu merusakmu. Jadikan itu kekuatan. Jadikan itu alasanmu untuk terbang lebih tinggi."
"Bagaimana caranya? Aku tidak punya apa-apa," bisik Almira putus asa.
"Kamu punya dirimu. Itu harta yang paling berharga. Semua harta dunia tidak ada artinya kalau hatimu hancur. Tapi dengan hati yang utuh, kamu bisa menciptakan harta yang tak ternilai," kata Maya, tangannya memegang erat tangan Almira, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan bantu kamu. Kita akan berjuang sama-sama."
Kata-kata Maya, sederhana namun begitu tulus, menyentuh relung hati Almira yang paling dalam.
Di hadapan orang asing yang baru ia kenal, Almira menemukan sebuah ikatan, keluarga baru yang jauh lebih berharga daripada semua nama dan harta yang ditinggalkannya. Ia akhirnya tahu, bahwa meskipun kehilangan segalanya, ia masih bisa menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu seorang teman sejati.
Other Stories
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...