Chapter 8 Bayang-Bayang Masa Lalu
Dua tahun telah berlalu. Almira yang dulunya gadis rapuh, kini telah menjelma menjadi wanita yang tangguh.
Agensi digital marketing yang ia rintis bersama Maya, "Qeenza Media", telah berkembang pesat. Mereka memiliki kantor kecil dengan beberapa karyawan, dan klien-klien besar mulai berdatangan, tertarik dengan portofolio mereka yang mengesankan.
Suatu sore, Almira sedang duduk di ruang kerjanya, memeriksa laporan bulanan. Ponselnya berdering. Nama Leo muncul di layar. Hati Almira bergemuruh sesaat, tapi langsung mengendalikan dirinya. Ia menekan tombol decline. Tak lama, sebuah pesan masuk.
Ting!
Leo: "Almira, aku tahu kamu sibuk, tapi aku perlu bicara. Ini penting!"
Almira hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Ia sudah tidak peduli. Ia sudah berhasil melewati masa-masa terburuk, dan Leo adalah bagian dari masa lalu yang ia tinggalkan.
Tak lama setelah itu, Maya masuk ke ruangan Almira dengan wajah bersemangat, sambil membawa koran bisnis di tangannya.
"Mir! Lihat ini!" serunya.
Almira mengambil koran itu. Sebuah artikel besar dengan foto Almira terpampang di halaman depan. "Dari Nol Hingga Sukses: Kisah CEO Muda Qeenza Media". Artikel itu menceritakan perjalanan Almira yang inspiratif, dari seorang gadis yang putus asa hingga menjadi pengusaha sukses.
"Kita masuk koran nasional, Mir! Ini pencapaian luar biasa!" kata Maya dengan mata yang berbinar.
Almira tersenyum, "Ini berkat kerja keras kita, May."
Di tempat lain, di ruang kerja Tuan Brata yang megah, Dito melempar koran itu di meja ayahnya. "Lihat, Pa! Dia ada di koran!" suara Dito terdengar tak percaya.
Tuan Brata mengambil koran itu, matanya melebar saat melihat foto putrinya yang ia buang. Nyonya Brata yang sedang duduk di sofa, ikut melihat. "Tidak mungkin. Itu pasti orang lain yang mirip," bantah Nyonya Brata.
"Tidak, Bu! Itu Almira. Lihat, namanya bahkan Qeenza Media. Nama belakangnya dia ambil dari nama kita!" Dito mengepalkan tangannya, "Tidak mungkin anak yang kita buang bisa sesukses ini."
Tuan Brata terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Bukan bangga, melainkan perasaan tidak nyaman dan sedikit iri. "Cari tahu, Dito. Cari tahu apa yang terjadi. Kenapa dia bisa seperti ini?"
"Apalagi, Pa? Dia pasti sudah punya uang. Kita bisa minta dia untuk membantunya," kata Dito, matanya berbinar dengan niat terselubung.
"Membantu? Dengar, Dito. Jangan pernah meremehkan dia lagi. Dia bukan Almira yang dulu," kata Tuan Brata, "Dia sudah bukan bagian dari keluarga ini. Dan kita tidak punya hak untuk memintanya."
Sementara itu, Leo, yang membaca koran yang sama, menatap foto Almira dengan mata penuh penyesalan. Ia mengingat kembali saat ia menertawakan Almira, lalu mengatakan Almira hanyalah jembatan menuju uang.
Ia mengambil ponselnya lagi, mengirimkan pesan pada Almira. Kali ini, pesannya lebih panjang, lebih memohon.
"Almira, aku tahu, aku salah. Aku sangat menyesal. Aku membaca artikel tentangmu. Aku bangga denganmu. Kamu sudah jadi orang yang luar biasa. Aku mau minta maaf. Bisakah kita bertemu?"
Almira, yang sedang makan siang dengan Maya, melihat pesan itu. Maya menatapnya, "Siapa, Mir?"
"Orang dari masa lalu," jawab Almira, suaranya tenang, "Dia pikir bisa kembali setelah membuangku."
Maya mengangguk. "Jangan ditanggapi, Mir. Ingat, ada orang-orang yang hanya akan kembali saat mereka melihat kamu berhasil. Mereka bukan ingin merayakan keberhasilanmu, tapi ingin mengambil bagian dari itu."
Almira tersenyum, senyumnya kali ini bukan senyum yang rapuh. Itu adalah senyum penuh kemenangan. Ia menekan tombol block pada nama Leo, lalu meletakkan ponselnya.
"Kita sudah jauh melangkah, May," kata Almira, "Aku tidak akan biarkan bayangan masa lalu menghancurkan masa depanku!"
Agensi digital marketing yang ia rintis bersama Maya, "Qeenza Media", telah berkembang pesat. Mereka memiliki kantor kecil dengan beberapa karyawan, dan klien-klien besar mulai berdatangan, tertarik dengan portofolio mereka yang mengesankan.
Suatu sore, Almira sedang duduk di ruang kerjanya, memeriksa laporan bulanan. Ponselnya berdering. Nama Leo muncul di layar. Hati Almira bergemuruh sesaat, tapi langsung mengendalikan dirinya. Ia menekan tombol decline. Tak lama, sebuah pesan masuk.
Ting!
Leo: "Almira, aku tahu kamu sibuk, tapi aku perlu bicara. Ini penting!"
Almira hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Ia sudah tidak peduli. Ia sudah berhasil melewati masa-masa terburuk, dan Leo adalah bagian dari masa lalu yang ia tinggalkan.
Tak lama setelah itu, Maya masuk ke ruangan Almira dengan wajah bersemangat, sambil membawa koran bisnis di tangannya.
"Mir! Lihat ini!" serunya.
Almira mengambil koran itu. Sebuah artikel besar dengan foto Almira terpampang di halaman depan. "Dari Nol Hingga Sukses: Kisah CEO Muda Qeenza Media". Artikel itu menceritakan perjalanan Almira yang inspiratif, dari seorang gadis yang putus asa hingga menjadi pengusaha sukses.
"Kita masuk koran nasional, Mir! Ini pencapaian luar biasa!" kata Maya dengan mata yang berbinar.
Almira tersenyum, "Ini berkat kerja keras kita, May."
Di tempat lain, di ruang kerja Tuan Brata yang megah, Dito melempar koran itu di meja ayahnya. "Lihat, Pa! Dia ada di koran!" suara Dito terdengar tak percaya.
Tuan Brata mengambil koran itu, matanya melebar saat melihat foto putrinya yang ia buang. Nyonya Brata yang sedang duduk di sofa, ikut melihat. "Tidak mungkin. Itu pasti orang lain yang mirip," bantah Nyonya Brata.
"Tidak, Bu! Itu Almira. Lihat, namanya bahkan Qeenza Media. Nama belakangnya dia ambil dari nama kita!" Dito mengepalkan tangannya, "Tidak mungkin anak yang kita buang bisa sesukses ini."
Tuan Brata terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Bukan bangga, melainkan perasaan tidak nyaman dan sedikit iri. "Cari tahu, Dito. Cari tahu apa yang terjadi. Kenapa dia bisa seperti ini?"
"Apalagi, Pa? Dia pasti sudah punya uang. Kita bisa minta dia untuk membantunya," kata Dito, matanya berbinar dengan niat terselubung.
"Membantu? Dengar, Dito. Jangan pernah meremehkan dia lagi. Dia bukan Almira yang dulu," kata Tuan Brata, "Dia sudah bukan bagian dari keluarga ini. Dan kita tidak punya hak untuk memintanya."
Sementara itu, Leo, yang membaca koran yang sama, menatap foto Almira dengan mata penuh penyesalan. Ia mengingat kembali saat ia menertawakan Almira, lalu mengatakan Almira hanyalah jembatan menuju uang.
Ia mengambil ponselnya lagi, mengirimkan pesan pada Almira. Kali ini, pesannya lebih panjang, lebih memohon.
"Almira, aku tahu, aku salah. Aku sangat menyesal. Aku membaca artikel tentangmu. Aku bangga denganmu. Kamu sudah jadi orang yang luar biasa. Aku mau minta maaf. Bisakah kita bertemu?"
Almira, yang sedang makan siang dengan Maya, melihat pesan itu. Maya menatapnya, "Siapa, Mir?"
"Orang dari masa lalu," jawab Almira, suaranya tenang, "Dia pikir bisa kembali setelah membuangku."
Maya mengangguk. "Jangan ditanggapi, Mir. Ingat, ada orang-orang yang hanya akan kembali saat mereka melihat kamu berhasil. Mereka bukan ingin merayakan keberhasilanmu, tapi ingin mengambil bagian dari itu."
Almira tersenyum, senyumnya kali ini bukan senyum yang rapuh. Itu adalah senyum penuh kemenangan. Ia menekan tombol block pada nama Leo, lalu meletakkan ponselnya.
"Kita sudah jauh melangkah, May," kata Almira, "Aku tidak akan biarkan bayangan masa lalu menghancurkan masa depanku!"
Other Stories
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...