Bangkit Dari Luka

Reads
1.3K
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 9 Reuni Tak Terduga

Dua tahun setelah artikel di koran terbit, nama Almira Brata Qeenza kini dikenal luas di kalangan pebisnis. Ia tidak lagi menggunakan nama Brata, melainkan nama lengkapnya: Almira Qeenza. Agensinya, Qeenza Media menjadi salah satu yang paling dicari.

Hari itu, Almira diundang sebagai pembicara utama dalam sebuah konferensi bisnis bergengsi di Jakarta. Acara itu dihadiri oleh para pebisnis sukses, termasuk Tuan Brata dan Dito yang memiliki bisnis serupa di bidang investasi.

Mereka tidak tahu siapa pembicara utama konferensi yang namanya hanya tertera sebagai 'Almira Qeenza'.

Saat pembawa acara mengumumkan nama Almira, Tuan Brata dan Dito yang duduk di barisan depan terkejut.

Mata mereka membelalak saat melihat Almira naik ke atas panggung. Ia tidak lagi terlihat seperti gadis rapuh yang mereka buang. Ia kini adalah wanita tangguh dengan balutan blazer elegan, sorot mata yang penuh percaya diri, dan senyum yang memancarkan aura kesuksesan.

Di atas panggung, Almira menatap audiens, termasuk Tuan Brata dan Dito, yang hanya bisa terpaku di kursi mereka. Dito menyikut ayahnya. "Itu Almira, Pa." Tuan Brata tidak menjawab, ia terlalu terkejut untuk berkata-kata.

Almira memulai pidatonya dengan tenang. "Selamat malam, Bapak dan Ibu sekalian. Nama saya Almira Qeenza. Saya tidak akan bercerita tentang kehebatan perusahaan saya. Saya akan bercerita tentang perjalanan saya. Bagaimana saya bisa bangkit dari nol, tanpa modal, dan siapa-siapa."

Ia kemudian bercerita tentang bagaimana kehilangan segalanya, "Ada orang-orang yang berpikir, kalau kamu punya uang, kamu punya segalanya. Tapi saya belajar, bahwa uang tidak bisa membeli hal yang paling berharga, yaitu kasih sayang dan pengakuan."

Tuan Brata dan Dito saling pandang, mereka tahu setiap kata itu ditujukan untuk mereka.

Almira melanjutkan, suaranya bergetar namun penuh keyakinan, "Saya pernah berada di titik terendah. Saya merasa tidak diinginkan, tidak berharga. Saya pikir tidak bisa melakukan apa-apa. Saya pikir butuh orang lain untuk menjadi sandaran. Ternyata semua itu salah," lanjut, "Tapi, di kegelapan itu, saya menemukan cahaya. Bukan dari orang lain, tapi dari diri saya sendiri. Saya menyadari, bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan saya selain diri sendiri. Saya harus bangkit, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk membuktikan pada diri sendiri, bahwa saya sangat berharga."

Air mata Nyonya Brata yang hadir di samping Tuan Brata mulai mengalir. Ia tidak menyangka putrinya bisa sesukses ini. Sementara Dito, yang selalu meremehkan adiknya, kini menunduk, merasa malu.

"Ada pepatah yang mengatakan, 'Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya'," lanjut Almira, "Saya percaya itu. Setiap air mata yang saya tumpahkan, setiap kata caci maki yang saya dengar, itu adalah bahan bakar saya. Itu adalah pelajaran yang membuat saya kuat."

Almira mengakhiri pidatonya dengan senyum lebar. "Kepada siapapun yang merasa tidak berharga, dengarkan saya, kalian berharga. Jangan biarkan siapapun meremehkan kalian. Jangan biarkan siapapun menghancurkan mimpi kalian. Karena ketika kalian merasa tidak punya siapa-siapa, kalian punya satu hal yang paling penting, yaitu diri kalian sendiri. Percayalah pada diri sendiri. Itu satu-satunya kunci untuk meraih kesuksesan sejati."

Prok! Prok!

Tepuk tangan gemuruh memenuhi ruangan. Almira membungkuk, matanya menatap Dito dan Tuan Brata.

Ia tidak melihat kebencian di mata mereka, melainkan penyesalan. Namun, sudah terlambat. Almira bukan lagi gadis yang mereka kenal. Ia sudah memiliki jalan hidupnya sendiri, jauh dari mereka.

Other Stories
Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Download Titik & Koma