Hantu Kos Receh

Reads
1.3K
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Hantu kos receh
Hantu Kos Receh
Penulis Moycha Zia

Chapter 1 Kamar Nomor 3

Brumm! Brumm!


Tin! Tin!


Suara gemuruh knalpot mobil bersahutan di jalan raya, beradu dengan klakson yang tak sabar. Mahera menempelkan dahi di kaca jendela mobil, matanya tak berhenti memindai tiap sudut kota. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena antusias. Impiannya, yang hanya berbentuk selebaran kampus dengan logo megah, kini benar-benar ada di depan mata.

"Akhirnya! Setelah berjuang mati-matian, aku lulus juga dari seleksi kampus impianku. Kampus terbaik di kota ini! Demi menggapai cita-cita, aku rela merantau." Mahera berbisik pada dirinya sendiri, senyumnya mengembang lebar, "Awalnya, aku kira semua akan berjalan mulus, tapi mencari kosan di kota asing itu lebih susah daripada ujian akhir. Untung nemu Kosan Azzahra ini, lumayan deket dari kampus."

Mobil yang Mahera tumpangi melambat, lalu berhenti di depan sebuah gerbang kayu tua yang tampak kokoh.

Di atas gerbang, dengan ukiran yang mulai pudar, terukir jelas tulisan "KOSAN AZZAHRA". Bangunan di baliknya terlihat asri, dikelilingi pohon-pohon rindang dan pot-pot bunga yang tertata rapi. Sekilas, kosan ini tampak damai di tengah hiruk pikuk kota.

Namun, saat Mahera hendak turun, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Di balik jendela lantai dua, sekilas ia melihat bayangan putih melintas cepat, seolah melayang. Mahera memicingkan mata, mencoba memastikan. Tapi bayangan itu sudah lenyap.

"Ah, palingan juga kain jemuran," gumamnya, cuek. Mahera memang tipe orang yang tidak mudah panik. Baginya, semua hal aneh pasti ada penjelasan logisnya.

Saat Mahera turun dari mobil, seorang wanita paruh baya berhijab sudah menunggu di teras. Tatapannya tajam, ekspresinya datar. Wanita itu adalah Bu Haji Romlah, pemilik Kosan Azzahra.

"Mahera? Kamu sudah sampai?" Suara Bu Haji serak, pelan, nyaris seperti bisikan.

"Iya, Bu. Assalamu'alaikum," jawab Mahera, tersenyum sopan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Bu Haji Romlah tidak membalas salamnya. Ia hanya menunjuk ke arah pintu masuk dengan dagunya, "Masuk. Kamar kamu nomor tiga. Di ujung lorong."

Sreeet! Sreeet!

Mahera menarik kopernya yang berat, mengikuti petunjuk Bu Haji. Lorong itu terasa panjang dan senyap. Di sepanjang dinding, ada deretan pintu bernomor. Kamar Mahera, nomor 3 berada di ujung lorong, tepat di seberang kamar nomor 2.

Saat ia sampai di depan pintu kamarnya, Mahera mendengar suara derit pelan dari dalam. Seolah ada yang membuka atau menutup pintu lemari. Mahera menempelkan telinganya ke pintu. "Ada suara apa, ya?" bisiknya.

Tiba-tiba, pintu kamar nomor 3 terbuka sendiri. Mahera terlonjak kaget, tapi ia menenangkan diri. "Mungkin pintunya enggak dikunci," pikirnya. Ia mengintip ke dalam. Kosong. Kamarnya tampak bersih dan rapi.

Mahera memberanikan diri masuk. Ia meletakkan kopernya di sudut. Di tengah kamar, ada sebuah cermin berdiri. Mahera berjalan mendekati cermin, menatap pantulan dirinya.

Di belakangnya, di pantulan cermin, terlihat sesosok kepala tanpa badan melayang. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan mulutnya terbuka seperti ingin muntah.

Mahera berbalik, tidak ada siapa-siapa. Ia menatap cermin lagi. Kepala itu sudah lenyap.

"Mungkin aku lapar, jadi halusinasi," Mahera menghela napas, menganggap kejadian itu hanya imajinasinya.

Ia mengeluarkan HP-nya, "Halo, Maizena? Lo udah sampai kampus? Aku udah di kosan nih. Kosan Azzahra. Kamarku nomor 3."

Saat ia menyebutkan nomor kamar, tiba-tiba, pintu kamar nomor 2 terbuka. Seorang gadis berwajah pucat dengan ekspresi panik keluar dari kamar dengan memegang tas besar di tangannya. Matanya membelalak kaget saat melihat Mahera. Itu sahabatnya, Maizena. Gadis penakut yang mudah panik.

"MAHERAAAAA! LO BUKAN DI KAMAR NOMOR 3, KAN? JAWAB CEPAT!" Maizena berteriak dari luar, suaranya bergetar.

Mahera menoleh, kaget, "Maizena?! Lo juga di sini? Gue di kamar nomor 3. Kenapa? Ada apaan?"

Wajah Maizena makin pucat, "Gue di kamar nomor 2. Tadi gue liat bayangan putih masuk ke kamar lo! Cepet keluar!"

Mahera menahan tawa, "Bayangan jemuran kali, Zen. Tenang aja. Udah, sana mandi. Bau asem."

Maizena menatap Mahera dengan tatapan horor.



BRAK!


Tiba-tiba, pintu kamar Maizena terbuka dan menutup dengan kencang, seolah ada yang membantingnya dari dalam. Maizena menjerit, suara yang khas dan penuh kepanikan.

"MAHERAAAAA! HANTU HANTU HANTUUU! GUE DIINCAR!"

Maizena berlari dan memeluk Mahera seolah hidupnya bergantung pada pelukan itu.

Mahera tersenyum, menepuk-nepuk punggung Maizena, "Welcome to the Kosan Azzahra, Zen."

Ia tahu, hari-hari kuliahnya di kota ini tidak akan pernah membosankan.

Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Percobaan

percobaan ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Download Titik & Koma