Chapter 4 Misteri Bu Haji Dan Dapur Angker
Jam empat sore, Mahera dan Maizena memutuskan untuk mencoba peruntungan mereka di dapur kosan. Perut mereka sudah bergejolak meminta asupan, tapi teror yang terjadi sebelumnya membuat mereka ragu.
Dapur itu terletak di sudut bangunan terasa lebih gelap dan dingin dari ruangan lain. Mereka melangkah masuk dengan hati-hati.
Di sana, di sebuah kursi tua, Bu Haji Romlah duduk membelakangi mereka. Ia menatap kosong pada panci di atas kompor, panci itu kosong. Bu Haji tampak sangat kurus.
Punggungnya membungkuk, membuat sosoknya terlihat kecil dan ringkih.
"Bu Haji nggak makan, ya?" Maizena berbisik pelan, tangannya mencengkeram lengan Mahera.
"Mana kutahu," balas Mahera, ia juga merasa ada yang tidak beres.
Mereka mulai memasak, berusaha mengabaikan kehadiran Bu Haji. Mahera merebus air, sementara Maizena memasak mi. Tapi tak lama kemudian, kompor di depan Maizena mati sendiri. Maizena menekan tombol kompor, kemudian kompor itu menyala, lalu mati lagi. Ini terjadi berulang-ulang, seolah ada yang iseng memainkan tombol kompor.
"Kompornya kenapa?" Maizena panik, suaranya tercekat.
"Ma ... ma ... ma ..." Tiba-tiba, suara bisikan terdengar dari dalam panci Maizena. Suara itu begitu pelan, tapi jelas. Maizena berteriak. Ia menoleh ke arah Mahera, tapi Mahera sedang menatap Bu Haji Romlah.
Bu Haji kini sudah berdiri. Anehnya, kakinya tidak menyentuh lantai. Ia melayang sekitar dua sentimeter dari lantai. Mahera terbelalak. Bu Haji Romlah menoleh ke arah Mahera dan tersenyum tipis, lalu menghilang.
"Zen, Bu Haji melayang," Mahera berbisik, matanya membelalak tak percaya.
"HANTU! BU HAJI JUGA HANTU!" Maizena berteriak histeris, wajahnya makin pucat pasi.
Tiba-tiba, Mahera melihat sesosok hantu wanita yang tadi ia temui di kampus. Hantu itu duduk di meja makan sambil memegang sisir pinknya.
"Jangan takut, Dek. Aku bukan hantu kok. Aku kenalan Bu Haji Romlah," hantu wanita itu berbisik, suaranya merdu.
"K-kenalan?" Mahera tergagap.
Hantu itu mengangguk, lalu tersenyum manis.
Mahera dan Maizena saling pandang. Mereka menyadari, kosan ini bukan hanya berisi hantu iseng, tapi juga menyimpan misteri yang lebih besar.
Dapur itu terletak di sudut bangunan terasa lebih gelap dan dingin dari ruangan lain. Mereka melangkah masuk dengan hati-hati.
Di sana, di sebuah kursi tua, Bu Haji Romlah duduk membelakangi mereka. Ia menatap kosong pada panci di atas kompor, panci itu kosong. Bu Haji tampak sangat kurus.
Punggungnya membungkuk, membuat sosoknya terlihat kecil dan ringkih.
"Bu Haji nggak makan, ya?" Maizena berbisik pelan, tangannya mencengkeram lengan Mahera.
"Mana kutahu," balas Mahera, ia juga merasa ada yang tidak beres.
Mereka mulai memasak, berusaha mengabaikan kehadiran Bu Haji. Mahera merebus air, sementara Maizena memasak mi. Tapi tak lama kemudian, kompor di depan Maizena mati sendiri. Maizena menekan tombol kompor, kemudian kompor itu menyala, lalu mati lagi. Ini terjadi berulang-ulang, seolah ada yang iseng memainkan tombol kompor.
"Kompornya kenapa?" Maizena panik, suaranya tercekat.
"Ma ... ma ... ma ..." Tiba-tiba, suara bisikan terdengar dari dalam panci Maizena. Suara itu begitu pelan, tapi jelas. Maizena berteriak. Ia menoleh ke arah Mahera, tapi Mahera sedang menatap Bu Haji Romlah.
Bu Haji kini sudah berdiri. Anehnya, kakinya tidak menyentuh lantai. Ia melayang sekitar dua sentimeter dari lantai. Mahera terbelalak. Bu Haji Romlah menoleh ke arah Mahera dan tersenyum tipis, lalu menghilang.
"Zen, Bu Haji melayang," Mahera berbisik, matanya membelalak tak percaya.
"HANTU! BU HAJI JUGA HANTU!" Maizena berteriak histeris, wajahnya makin pucat pasi.
Tiba-tiba, Mahera melihat sesosok hantu wanita yang tadi ia temui di kampus. Hantu itu duduk di meja makan sambil memegang sisir pinknya.
"Jangan takut, Dek. Aku bukan hantu kok. Aku kenalan Bu Haji Romlah," hantu wanita itu berbisik, suaranya merdu.
"K-kenalan?" Mahera tergagap.
Hantu itu mengangguk, lalu tersenyum manis.
Mahera dan Maizena saling pandang. Mereka menyadari, kosan ini bukan hanya berisi hantu iseng, tapi juga menyimpan misteri yang lebih besar.
Other Stories
Test
Test ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...