Chapter 9 Pertarungan Di Kosan
Mahera dan Maizena sedang duduk di kamar, Mahera menjelaskan semua yang ia baca dari jurnal. Maizena mendengarkan dengan serius, ia tidak lagi ketakutan. Mereka berdua berencana untuk mengumpulkan bakso urat sebanyak-banyaknya untuk pertahanan kosan.
Tok! Tok!
Tiba-tiba, pintu kamar Mahera diketuk dengan kencang. Rehan, wajahnya pucat, berdiri di depan pintu.
Rehan, "Tolong gue! Hantu Kelaparan itu datang! Mereka mau makan energi semua orang di sini!"
Rehan menunjuk ke arah gerbang. Di sana, terlihat beberapa sosok bayangan hitam, lalu bergerak cepat dan tanpa suara, seperti asap yang merayap.
Mereka adalah Hantu Kelaparan yang disebutkan di jurnal. Bu Haji Romlah berdiri di teras, tangannya gemetar. Hantu-hantu anak-anaknya bersembunyi di belakangnya, ketakutan.
Mahera, "Ini dia. Jurnal itu benar. Mereka bukan hantu biasa. Mereka musuh kita."
Hantu Kelaparan itu menyerang. Mereka merayap mencoba menyentuh Bu Haji Romlah dan anak-anaknya.
Maizena menjerit, tapi kali ini bukan karena takut. Ia mengambil sapu, wajahnya terlihat serius, "Jangan ganggu teman-teman gue! Sana lo!"
Maizena mengayunkan sapu ke arah Hantu Kelaparan. Sapu itu tidak menyentuh mereka, tapi sapu itu mengeluarkan energi yang membuat hantu kelaparan mundur. Pertarungan dimulai.
Hantu-hantu kosan, Mahera, Maizena, dan Rehan bekerja sama. Hantu-hantu anak-anak mengalihkan perhatian, melempar barang-barang, dan berlarian.
Byuur!
Mahera mengambil seember air dan menyiram hantu kelaparan itu. Hantu-hantu itu menjerit, tapi tidak menghilang.
Tiba-tiba, Bu Haji Romlah melihat kesempatan. Ia mengisyaratkan Mahera untuk mengubur bakso urat. Mahera mengangguk, ia mengerti. Ia berbisik pada Rehan, "Kita harus mengubur bakso urat! Cepat!"
Mahera dan Rehan berlari ke dapur, kemudian mengambil beberapa mangkuk bakso urat yang tersisa, lalu menguburnya di taman.
Saat bakso urat itu dikubur, energi yang tersimpan di dalamnya menyebar. Hantu Kelaparan menjerit kesakitan, lalu menghilang. Kosan Azzahra kembali tenang.
Tok! Tok!
Tiba-tiba, pintu kamar Mahera diketuk dengan kencang. Rehan, wajahnya pucat, berdiri di depan pintu.
Rehan, "Tolong gue! Hantu Kelaparan itu datang! Mereka mau makan energi semua orang di sini!"
Rehan menunjuk ke arah gerbang. Di sana, terlihat beberapa sosok bayangan hitam, lalu bergerak cepat dan tanpa suara, seperti asap yang merayap.
Mereka adalah Hantu Kelaparan yang disebutkan di jurnal. Bu Haji Romlah berdiri di teras, tangannya gemetar. Hantu-hantu anak-anaknya bersembunyi di belakangnya, ketakutan.
Mahera, "Ini dia. Jurnal itu benar. Mereka bukan hantu biasa. Mereka musuh kita."
Hantu Kelaparan itu menyerang. Mereka merayap mencoba menyentuh Bu Haji Romlah dan anak-anaknya.
Maizena menjerit, tapi kali ini bukan karena takut. Ia mengambil sapu, wajahnya terlihat serius, "Jangan ganggu teman-teman gue! Sana lo!"
Maizena mengayunkan sapu ke arah Hantu Kelaparan. Sapu itu tidak menyentuh mereka, tapi sapu itu mengeluarkan energi yang membuat hantu kelaparan mundur. Pertarungan dimulai.
Hantu-hantu kosan, Mahera, Maizena, dan Rehan bekerja sama. Hantu-hantu anak-anak mengalihkan perhatian, melempar barang-barang, dan berlarian.
Byuur!
Mahera mengambil seember air dan menyiram hantu kelaparan itu. Hantu-hantu itu menjerit, tapi tidak menghilang.
Tiba-tiba, Bu Haji Romlah melihat kesempatan. Ia mengisyaratkan Mahera untuk mengubur bakso urat. Mahera mengangguk, ia mengerti. Ia berbisik pada Rehan, "Kita harus mengubur bakso urat! Cepat!"
Mahera dan Rehan berlari ke dapur, kemudian mengambil beberapa mangkuk bakso urat yang tersisa, lalu menguburnya di taman.
Saat bakso urat itu dikubur, energi yang tersimpan di dalamnya menyebar. Hantu Kelaparan menjerit kesakitan, lalu menghilang. Kosan Azzahra kembali tenang.
Other Stories
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...