Chapter 10 Kosan Azzahra Damai
Kosan Azzahra kini damai. Pertarungan melawan Hantu Kelaparan telah usai meninggalkan keheningan yang menenangkan.
Mahera, Maizena, dan Rehan duduk di teras kosan, wajah mereka lelah tapi lega. Bu Haji Romlah dan anak-anaknya, para hantu iseng, juga ikut duduk di dekat mereka. Suasana yang tadinya penuh teror, kini berubah menjadi hangat dan kekeluargaan.
Mahera, "Aku tidak pernah menyangka, petualanganku mencari kosan akan berakhir seperti ini. Aku menemukan tempat tinggal, sahabat, dan bahkan keluarga tak kasat mata."
Mahera menatap hantu jemuran yang sedang asyik bermain dengan kerikil. Ia tersenyum. Hantu Mi mendekati Mahera, lalu menyentuh pundaknya. Mahera tidak takut, ia sudah terbiasa dengan sentuhan dingin itu. Rehan menatap Mahera, ia tidak bisa berkata-kata.
Rehan, "Terima kasih, Mahera. Lo udah selamatin gue."
Mahera, "Kita. Kita yang selamatin."
Maizena menatap hantu jemuran dan teman-temannya. Ia tidak lagi gemetar. Ia tersenyum tulus, lalu mengambil sapu yang tadi digunakan untuk melawan hantu kelaparan, lalu memeluknya. Ia sadar, ketakutannya telah berubah menjadi keberanian.
Maizena, "Mahera, lihat. Mereka jadi lebih baik, kan? Mereka nggak lagi iseng."
Mahera tersenyum, "Iya. Mereka keluarga kita."
Bu Haji Romlah tersenyum. Senyum yang tulus, berbeda dari senyum dingin yang dulu ia berikan. Ia menunjuk ke sebuah papan baru di dinding. Di sana tertulis, dengan tulisan tangan yang rapi, "Peraturan Kosan Nomor 8: Siapa pun yang ingin menjadi penghuni harus mau makan bakso urat setidaknya sekali seminggu."
Mahera, "Kami tidak pernah pindah. Kami tetap di Kosan Azzahra. Kami tidak hanya berbagi kamar, tapi juga berbagi cerita, tawa, dan sesekali makan bakso urat. Kosan ini bukan hanya tempat tinggal, tapi rumah, dengan keluarga yang unik."
Mereka telah menemukan tempat di mana batas antara hidup dan mati, antara ketakutan dan tawa, menjadi kabur dan penuh makna.
_TAMAT_
Mahera, Maizena, dan Rehan duduk di teras kosan, wajah mereka lelah tapi lega. Bu Haji Romlah dan anak-anaknya, para hantu iseng, juga ikut duduk di dekat mereka. Suasana yang tadinya penuh teror, kini berubah menjadi hangat dan kekeluargaan.
Mahera, "Aku tidak pernah menyangka, petualanganku mencari kosan akan berakhir seperti ini. Aku menemukan tempat tinggal, sahabat, dan bahkan keluarga tak kasat mata."
Mahera menatap hantu jemuran yang sedang asyik bermain dengan kerikil. Ia tersenyum. Hantu Mi mendekati Mahera, lalu menyentuh pundaknya. Mahera tidak takut, ia sudah terbiasa dengan sentuhan dingin itu. Rehan menatap Mahera, ia tidak bisa berkata-kata.
Rehan, "Terima kasih, Mahera. Lo udah selamatin gue."
Mahera, "Kita. Kita yang selamatin."
Maizena menatap hantu jemuran dan teman-temannya. Ia tidak lagi gemetar. Ia tersenyum tulus, lalu mengambil sapu yang tadi digunakan untuk melawan hantu kelaparan, lalu memeluknya. Ia sadar, ketakutannya telah berubah menjadi keberanian.
Maizena, "Mahera, lihat. Mereka jadi lebih baik, kan? Mereka nggak lagi iseng."
Mahera tersenyum, "Iya. Mereka keluarga kita."
Bu Haji Romlah tersenyum. Senyum yang tulus, berbeda dari senyum dingin yang dulu ia berikan. Ia menunjuk ke sebuah papan baru di dinding. Di sana tertulis, dengan tulisan tangan yang rapi, "Peraturan Kosan Nomor 8: Siapa pun yang ingin menjadi penghuni harus mau makan bakso urat setidaknya sekali seminggu."
Mahera, "Kami tidak pernah pindah. Kami tetap di Kosan Azzahra. Kami tidak hanya berbagi kamar, tapi juga berbagi cerita, tawa, dan sesekali makan bakso urat. Kosan ini bukan hanya tempat tinggal, tapi rumah, dengan keluarga yang unik."
Mereka telah menemukan tempat di mana batas antara hidup dan mati, antara ketakutan dan tawa, menjadi kabur dan penuh makna.
_TAMAT_
Other Stories
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...