Bram Mengaku Cinta & Balas Dendam
Malam itu, setelah ritual panas yang melelahkan, Bram duduk di tepi ranjang, tatapannya tajam tapi ada lembut terselip di balik amarah dan dendam yang menggerogoti hatinya. Ratna, yang baru saja menuntaskan ronde ketujuh dengan stamina luar biasa, berbaring di sampingnya, tubuhnya yang basah keringat berkilauan di bawah lampu remang, dada super besar naik turun mengikuti napas beratnya. Hubungan mereka semakin rumit antara cinta yang membara dan dendam yang terus membakar.
Bram menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka suara dengan suara berat tapi penuh perasaan, “Ratna, aku harus jujur. Semua dendam yang selama ini kubawa aku juga mencintaimu. Lebih dari yang aku sangka.” Kata-kata itu menggema dengan tekanan luar biasa di dalam kamar yang penuh dengan bekas pelukan mereka.
Ratna tersenyum pelan, tapi matanya tetap waspada. “Cinta? Apakah itu cukup untuk menghapus semua luka dan pengkhianatan yang sudah kita alami?”
Bram mendekat, memegang wajah Ratna dengan lembut. “Aku tidak hanya cinta, aku bertekad untuk membalas semua luka yang pernah kita terima. Aku ingin kita berdiri bersama, bukan sebagai korban, tapi sebagai ratu dan raja dalam dunia ini.”
Mereka mulai lagi, sekali lagi melewati ritual tujuh ronde yang penuh gairah dan kekuasaan. Bram hapal betul titik-titik yang membuat Ratna mengerang dan menangis karena kenikmatan dan sakit. Dia menguasai posisi misionaris dengan penuh kasih dan kekuatan, sebelum berpindah ke posisi woman on top yang memungkinkan Ratna memegang kendali penuh.
“Jangan kira aku akan mudah menyerah,” bisik Ratna pada Bram saat ronde kedua berjalan. “Aku ini badai yang kau harus hadapi.”
Di ronde ketiga hingga kelima, Bram memperkenalkan variasi baru—menggunakan cambuk lembut dan tali sutra yang membelit tubuh Ratna, menimbulkan sensasi menyakitkan tapi mendebarkan. Ratna menikmati kombinasi antara rasa sakit dan nikmat itu, sementara Bram memandangnya dengan penuh kekaguman dan tekad.
Malam itu, cinta dan dendam berpadu menjadi satu simfoni liar, mereka saling mengisi dan menghancurkan sekaligus. Di luar kamar, dunia tak pernah henti mengintai, ancaman terus mengejar dengan rekaman gelap dan tipu muslihat yang siap kapan saja menghancurkan segalanya.
Namun, di pagi yang dingin itu, Bram dan Ratna berbaring bersisian, napas mereka bergantian dalam ritme damai sejenak. Mereka tahu perjuangan belum selesai, tapi cinta yang mengikat mereka memberikan kekuatan untuk terus melawan.
Ratna melempar komentar sarkastik ke arah pembaca, “Kalau ini sinetron, aku sudah dapat peran utama untuk season anti-hero paling liar. Tapi serius, aku tak akan biarkan Bram kalah dalam perang ini.”
Bram tertawa kecil, “Dan aku tak akan membiarkan kekasihku jatuh.”
Bram menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka suara dengan suara berat tapi penuh perasaan, “Ratna, aku harus jujur. Semua dendam yang selama ini kubawa aku juga mencintaimu. Lebih dari yang aku sangka.” Kata-kata itu menggema dengan tekanan luar biasa di dalam kamar yang penuh dengan bekas pelukan mereka.
Ratna tersenyum pelan, tapi matanya tetap waspada. “Cinta? Apakah itu cukup untuk menghapus semua luka dan pengkhianatan yang sudah kita alami?”
Bram mendekat, memegang wajah Ratna dengan lembut. “Aku tidak hanya cinta, aku bertekad untuk membalas semua luka yang pernah kita terima. Aku ingin kita berdiri bersama, bukan sebagai korban, tapi sebagai ratu dan raja dalam dunia ini.”
Mereka mulai lagi, sekali lagi melewati ritual tujuh ronde yang penuh gairah dan kekuasaan. Bram hapal betul titik-titik yang membuat Ratna mengerang dan menangis karena kenikmatan dan sakit. Dia menguasai posisi misionaris dengan penuh kasih dan kekuatan, sebelum berpindah ke posisi woman on top yang memungkinkan Ratna memegang kendali penuh.
“Jangan kira aku akan mudah menyerah,” bisik Ratna pada Bram saat ronde kedua berjalan. “Aku ini badai yang kau harus hadapi.”
Di ronde ketiga hingga kelima, Bram memperkenalkan variasi baru—menggunakan cambuk lembut dan tali sutra yang membelit tubuh Ratna, menimbulkan sensasi menyakitkan tapi mendebarkan. Ratna menikmati kombinasi antara rasa sakit dan nikmat itu, sementara Bram memandangnya dengan penuh kekaguman dan tekad.
Malam itu, cinta dan dendam berpadu menjadi satu simfoni liar, mereka saling mengisi dan menghancurkan sekaligus. Di luar kamar, dunia tak pernah henti mengintai, ancaman terus mengejar dengan rekaman gelap dan tipu muslihat yang siap kapan saja menghancurkan segalanya.
Namun, di pagi yang dingin itu, Bram dan Ratna berbaring bersisian, napas mereka bergantian dalam ritme damai sejenak. Mereka tahu perjuangan belum selesai, tapi cinta yang mengikat mereka memberikan kekuatan untuk terus melawan.
Ratna melempar komentar sarkastik ke arah pembaca, “Kalau ini sinetron, aku sudah dapat peran utama untuk season anti-hero paling liar. Tapi serius, aku tak akan biarkan Bram kalah dalam perang ini.”
Bram tertawa kecil, “Dan aku tak akan membiarkan kekasihku jatuh.”
Other Stories
Haruskah Bertemu?
Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...