Chapter 2 Pertemuan Tak Terduga
Halaman sekolah. Siang hari, di bawah terik matahari. Syaira duduk sendirian di bangku taman, sebuah buku sketsa terbuka di pangkuannya. Ia sedang menggambar, mencoba melarikan diri dari kenyataan. Keheningan yang ia nikmati tiba-tiba pecah oleh tawa sinis.
"Wow, lihat siapa yang sendirian!" Suara Zihan menginterupsi.
Syaira mendongak, hatinya mencelos. Di hadapannya, Zihan dan dua temannya berdiri, wajah mereka dipenuhi ejekan.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan kami? Oh, aku lupa, kau tidak bisa berbicara," kata Zihan dengan nada mengejek. Teman-temannya cekikikan.
Syaira buru-buru menutup buku sketsanya ingin menyembunyikannya, tapi Zihan lebih cepat. Ia merebut buku itu dan membukanya.
"Apa ini? Gambaran bunga-bunga? Oh, aku tahu, kau ingin menjadi bunga di taman ini, tapi kau hanyalah gulma yang harus dicabut." Zihan terkekeh, lalu merobek halaman-halaman yang berisi gambar Syaira satu per satu, "Mari kita lihat, apa yang akan terjadi jika kita robek bunga-bunga ini."
Air mata Syaira kembali mengalir. Ia mencoba meraih bukunya, namun salah satu teman Zihan menahannya.
"Lepaskan dia! Dasar gadis bisu!" bentak teman Zihan itu.
Syaira tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menggelengkan kepala, tangannya gemetar.
Halaman-halaman buku sketsanya berterbangan ditiup angin, seperti serpihan-serpihan hatinya yang hancur. Zihan tertawa keras, "Bagaimana? Kau suka kejutan dariku, adikku sayang?"
Tiba-tiba, sebuah suara tegas menghentikan tawa mereka, "Apa yang kalian lakukan?"
Semua mata tertuju pada seorang pemuda tampan yang berdiri beberapa meter dari mereka. Ia adalah Rendra, putra pemilik sekolah. Wajahnya terlihat kesal, matanya menatap tajam ke arah Zihan.
Zihan terkejut, senyumnya langsung memudar, "Rendra, kau di sini?"
Rendra mengabaikan Zihan. Ia melangkah mendekat, matanya menatap Syaira yang terduduk di tanah dengan air mata. Lalu, ia beralih ke halaman-halaman yang berserakan.
"Kenapa kalian merusak bukunya?" tanya Rendra, suaranya dipenuhi amarah, "Apa yang dia lakukan pada kalian?"
"Dia hanya anak bisu, Rendra. Tidak penting," jawab Zihan, mencoba bersikap santai.
"Tidak penting?" Rendra menatap Zihan, matanya menyipit,
"Semua orang penting. Dan merusak properti orang lain adalah tindakan pengecut."
Rendra kemudian berjongkok di depan Syaira, "Kamu baik-baik saja?"
Syaira hanya mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap Rendra. Ia merasa malu dan kotor.
Rendra mengulurkan tangannya pada Syaira, "Aku tidak suka melihat perundungan. Aku akan bantu kamu membereskan ini."
Syaira mendongak, menatap tangan yang terulur padanya. Hatinya berdesir, tak percaya. Ini pertama kalinya ada orang lain selain Mbok Minah yang peduli padanya.
Syaira bermonolog dalam hati, "Siapa dia? Kenapa dia membantuku? Dia tidak jijik padaku."
Syaira mengambil tangan Rendra dan berdiri. Bersama-sama, mereka berjongkok, memunguti halaman-halaman buku sketsa yang robek, sementara Zihan dan teman-temannya hanya bisa menyaksikan dengan ekspresi kesal dan marah.
"Minggir. Aku tidak mau kalian di sini," kata Rendra dengan dingin pada Zihan dan teman-temannya.
Zihan merasa malu, ia hanya bisa melotot ke arah Syaira sebelum akhirnya pergi, diikuti oleh teman-temannya.
Setelah Zihan dan teman-temannya pergi, Rendra menyerahkan buku sketsa yang sudah robek itu pada Syaira, "Aku minta maaf. Seharusnya aku datang lebih cepat."
Syaira tidak bisa menjawab, ia hanya menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa terima kasih.
Syaira hanya bisa bicara di hatinya, "Dia tidak menganggapku cacat. Dia tulus."
"Nama kamu siapa?" tanya Rendra.
Syaira hanya menunjuk dadanya, lalu menunjuk ke arah buku sketsa yang sudah robek di tangannya. Rendra tersenyum lembut, "Kamu tidak bisa berbicara, ya?"
Syaira mengangguk, air mata kembali mengalir.
"Tidak apa-apa," kata Rendra, "Kamu bisa bicara denganku lewat tulisan. Kita bisa menjadi teman."
Rendra mengulurkan tangannya lagi, kali ini bukan untuk membantu, melainkan untuk uluran tangan. Syaira ragu sejenak, lalu membalas uluran tangan Rendra.
"Namaku Rendra," katanya, tersenyum hangat, "Senang bertemu denganmu."
Syaira membalas senyumnya. Di tengah kekacauan hidupnya, kehadiran Rendra terasa seperti setitik cahaya harapan. Ia tahu, mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru.
"Wow, lihat siapa yang sendirian!" Suara Zihan menginterupsi.
Syaira mendongak, hatinya mencelos. Di hadapannya, Zihan dan dua temannya berdiri, wajah mereka dipenuhi ejekan.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan kami? Oh, aku lupa, kau tidak bisa berbicara," kata Zihan dengan nada mengejek. Teman-temannya cekikikan.
Syaira buru-buru menutup buku sketsanya ingin menyembunyikannya, tapi Zihan lebih cepat. Ia merebut buku itu dan membukanya.
"Apa ini? Gambaran bunga-bunga? Oh, aku tahu, kau ingin menjadi bunga di taman ini, tapi kau hanyalah gulma yang harus dicabut." Zihan terkekeh, lalu merobek halaman-halaman yang berisi gambar Syaira satu per satu, "Mari kita lihat, apa yang akan terjadi jika kita robek bunga-bunga ini."
Air mata Syaira kembali mengalir. Ia mencoba meraih bukunya, namun salah satu teman Zihan menahannya.
"Lepaskan dia! Dasar gadis bisu!" bentak teman Zihan itu.
Syaira tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menggelengkan kepala, tangannya gemetar.
Halaman-halaman buku sketsanya berterbangan ditiup angin, seperti serpihan-serpihan hatinya yang hancur. Zihan tertawa keras, "Bagaimana? Kau suka kejutan dariku, adikku sayang?"
Tiba-tiba, sebuah suara tegas menghentikan tawa mereka, "Apa yang kalian lakukan?"
Semua mata tertuju pada seorang pemuda tampan yang berdiri beberapa meter dari mereka. Ia adalah Rendra, putra pemilik sekolah. Wajahnya terlihat kesal, matanya menatap tajam ke arah Zihan.
Zihan terkejut, senyumnya langsung memudar, "Rendra, kau di sini?"
Rendra mengabaikan Zihan. Ia melangkah mendekat, matanya menatap Syaira yang terduduk di tanah dengan air mata. Lalu, ia beralih ke halaman-halaman yang berserakan.
"Kenapa kalian merusak bukunya?" tanya Rendra, suaranya dipenuhi amarah, "Apa yang dia lakukan pada kalian?"
"Dia hanya anak bisu, Rendra. Tidak penting," jawab Zihan, mencoba bersikap santai.
"Tidak penting?" Rendra menatap Zihan, matanya menyipit,
"Semua orang penting. Dan merusak properti orang lain adalah tindakan pengecut."
Rendra kemudian berjongkok di depan Syaira, "Kamu baik-baik saja?"
Syaira hanya mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap Rendra. Ia merasa malu dan kotor.
Rendra mengulurkan tangannya pada Syaira, "Aku tidak suka melihat perundungan. Aku akan bantu kamu membereskan ini."
Syaira mendongak, menatap tangan yang terulur padanya. Hatinya berdesir, tak percaya. Ini pertama kalinya ada orang lain selain Mbok Minah yang peduli padanya.
Syaira bermonolog dalam hati, "Siapa dia? Kenapa dia membantuku? Dia tidak jijik padaku."
Syaira mengambil tangan Rendra dan berdiri. Bersama-sama, mereka berjongkok, memunguti halaman-halaman buku sketsa yang robek, sementara Zihan dan teman-temannya hanya bisa menyaksikan dengan ekspresi kesal dan marah.
"Minggir. Aku tidak mau kalian di sini," kata Rendra dengan dingin pada Zihan dan teman-temannya.
Zihan merasa malu, ia hanya bisa melotot ke arah Syaira sebelum akhirnya pergi, diikuti oleh teman-temannya.
Setelah Zihan dan teman-temannya pergi, Rendra menyerahkan buku sketsa yang sudah robek itu pada Syaira, "Aku minta maaf. Seharusnya aku datang lebih cepat."
Syaira tidak bisa menjawab, ia hanya menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa terima kasih.
Syaira hanya bisa bicara di hatinya, "Dia tidak menganggapku cacat. Dia tulus."
"Nama kamu siapa?" tanya Rendra.
Syaira hanya menunjuk dadanya, lalu menunjuk ke arah buku sketsa yang sudah robek di tangannya. Rendra tersenyum lembut, "Kamu tidak bisa berbicara, ya?"
Syaira mengangguk, air mata kembali mengalir.
"Tidak apa-apa," kata Rendra, "Kamu bisa bicara denganku lewat tulisan. Kita bisa menjadi teman."
Rendra mengulurkan tangannya lagi, kali ini bukan untuk membantu, melainkan untuk uluran tangan. Syaira ragu sejenak, lalu membalas uluran tangan Rendra.
"Namaku Rendra," katanya, tersenyum hangat, "Senang bertemu denganmu."
Syaira membalas senyumnya. Di tengah kekacauan hidupnya, kehadiran Rendra terasa seperti setitik cahaya harapan. Ia tahu, mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...