Chapter 3 Senyum Di Tengah Hujan
Siang hari, Syaira duduk sendirian di bangku taman sekolah. Ia mencoba melupakan kejadian kemarin. Di tangannya, ia memegang buku sketsa barunya. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari belakangnya.
"Lihat! Anak bisu itu mencoba menggambar lagi!" Suara keras itu membuat Syaira terkejut. Ia tahu siapa pemilik suara itu.
"Apa kau tidak punya malu? Setelah kau membuat Rendra berpihak padamu? Jangan mimpi, dia hanya kasihan," kata seorang siswi yang kemarin bersama Zihan, "Kau pikir bisa berteman dengannya? Rendra adalah milik Zihan."
Syaira tidak bisa menjawab, ia hanya menunduk dan memeluk bukunya erat-erat. Air mata mulai menetes di pipinya.
"Dasar penipu! Kau pikir dengan menjadi bisu, semua orang akan mengasihanimu?" kata siswi itu, lalu menarik buku sketsa dari tangan Syaira, "Aku akan buang buku ini ke tong sampah! Ini tempat yang pantas untukmu!"
Ia tertawa, lalu berlari menuju tong sampah. Syaira mencoba mengejar, tapi kakinya tidak secepat teman Zihan. Ia tersandung dan jatuh, lututnya terluka.
"Ayo, lihat, semua orang! Gadis bisu ini menangis!"
Tawa mereka pecah. Syaira hanya bisa menangis dalam diam, tergeletak di tanah, serpihan kertas berterbangan di sekitarnya. Hatinya sakit, bukan karena luka di lututnya, tapi karena rasa sakit yang tak terlukiskan.
Tiba-tiba, hujan turun. Setetes demi setetes, lalu semakin deras, membasahi Syaira dan air matanya. Tawa para perundung itu mereda, mereka segera berlari mencari tempat berteduh.
Syaira tetap di sana, membiarkan hujan membersihkan luka-lukanya. Ia merasa dingin, basah, dan hampa.
Namun, beberapa detik kemudian, tetesan hujan di tubuhnya berhenti. Syaira mendongak, dan melihat sebuah payung hitam menaunginya. Di bawah payung itu, ada Rendra.
Rendra memandang Syaira dengan tatapan penuh keprihatinan. "Kenapa kamu tidak berteduh?" tanyanya lembut. Syaira hanya menggelengkan kepala, air matanya masih mengalir. Rendra berjongkok di hadapannya. "Lututmu terluka," katanya, lalu melihat buku sketsa yang sudah robek-robek, "Tunggu di sini."
Rendra meninggalkan payungnya, lalu berlari ke arah tong sampah. Ia mengobrak-abrik tong sampah itu sambil mencari buku sketsa Syaira yang dibuang. Teman-teman Zihan yang melihatnya dari jauh, berbisik-bisik tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Apa yang Rendra lakukan? Dia mencari sampah?"
"Aku tidak percaya dia melakukan itu hanya untuk gadis bisu itu."
Rendra kembali dengan buku sketsa yang sudah basah dan kotor. Ia menyerahkannya pada Syaira, "Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan semuanya. Tapi aku akan membantumu memperbaiki yang rusak."
Syaira menatap buku itu, lalu menatap Rendra. Ia ingin mengatakan kata terima kasih, tapi suaranya tidak bisa keluar. Ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan tulus yang dihiasi air mata.
"Mari kita berteduh," kata Rendra, lalu ia membantu Syaira berdiri. Ia memapah Syaira menuju sebuah bangku di bawah pohon besar yang masih bisa melindungi mereka dari hujan.
Rendra mengeluarkan sebotol air dan saputangan dari tasnya. Dengan hati-hati, ia membersihkan luka di lutut Syaira, "Apa kamu bisa berjalan? Aku akan mengantarmu pulang."
Syaira menggeleng. Ia mengambil buku catatannya, dan menulis, "Tidak, terima kasih. Mereka akan marah."
Rendra membaca tulisan itu, dan mengerti, "Kenapa? Apa mereka yang membuatmu seperti ini?"
Syaira hanya mengangguk pelan. Rendra mengepalkan tangannya, merasa marah. Ia tahu, Syaira tidak bisa bicara karena tidak pernah diberi kesempatan. Ia melihat kelembutan di mata Syaira, dan ia tahu, gadis ini pantas mendapatkan yang lebih baik.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu di sini sampai hujan reda," kata Rendra. Ia duduk di samping Syaira, lalu menawarinya sebotol air, "Minumlah. Kamu pasti lelah."
Syaira mengambil botol itu, hatinya menghangat. Ia merasa aman dan dilindungi. Di bawah payung itu, di tengah hujan yang deras, Syaira dan Rendra berbagi keheningan yang nyaman. Keheningan yang berbicara lebih keras dari kata-kata.
Other Stories
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Horor
horor ...