Suara Cinta Gadis Bisu

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara Cinta Gadis Bisu
Penulis Moycha Zia

Chapter 6 Rumah Bagai Neraka

Syaira masih berada di halaman sekolah sambil terisak-isak. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada yang peduli. Semua orang yang tadi menyaksikan perdebatan, kini menjauhinya. Ia merasa sendirian.

"Syaira..."

Sebuah suara lembut memanggil namanya. Syaira mendongak, Mbok Minah berdiri di hadapannya, wajahnya penuh kekhawatiran. Ia melihat betapa kacaunya Syaira, mata sembab dan bahu yang bergetar.

"Non, kenapa Non menangis di sini? Ayo, kita pulang." Mbok Minah membantu Syaira berdiri. Syaira memeluknya erat, isakannya semakin keras.

Ia menulis di buku catatannya, dengan tangan yang bergetar hebat, "Mbok, Rendra tidak percaya padaku. Dia pergi, Mbok."

Mbok Minah memeluk Syaira, menenangkan, "Sabar, Non. Mbok percaya Non tidak melakukan itu. Semua akan baik-baik saja." Ia tidak tahu, kata-kata baik-baik saja itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan di rumah.

Saat Syaira dan Mbok Minah tiba di mansion, suasana sudah tegang. Di ruang keluarga, Ayah dan Ibu Syaira, serta Zihan, sudah menunggu. Tuan Hermawan berdiri di depan televisi, di mana layar berita menunjukkan wajah Rendra dan tulisan "Putra pemilik sekolah dirundung isu pencurian".


Plaakkk!!!


Tangan Tuan Hermawan mendarat sempurna di pipi Syaira. Syaira meringis merasakan perih di pipinya, air matanya menetes secara perlahan.

"Apa-apaan ini?! Apa yang kau lakukan di sekolah?!" bentak Tuan Hermawan, wajahnya memerah karena marah, "Sudah bisu, pencuri pula! Dasar anak tidak tahu diri!"

Syaira menggeleng, air matanya kembali mengalir. Ia ingin menjelaskan, ingin berteriak, tapi ia tidak bisa.

"Zihan sudah menceritakan semuanya, dia melihatmu," kata Nyonya Wati, "Kau mendekati anak pemilik sekolah, lalu mencuri darinya. Kau membuat malu nama keluarga kita!"

Zihan tersenyum penuh kemenangan, "Aku sudah bilang, Bu. Dia itu cuma cari simpati. Siapa yang mau berteman dengan anak bisu, kecuali dia punya rencana jahat?"

Syaira menatap Zihan, ia tidak percaya betapa jahatnya kakaknya sendiri. Ia mengambil buku catatannya dan menulis, lalu menunjukkannya pada orang tuanya, "Aku tidak mencuri! Itu semua fitnah!"

Tuan Hermawan tertawa sinis, "Kau pikir kami akan percaya pada tulisanmu? Kau tidak punya suara, Syaira! Kau tidak punya bukti! Sekarang, siapa yang akan percaya padamu?"

Syaira kembali menangis, ia memohon dengan mata penuh keputusasaan. Ia menatap Mbok Minah yang mencoba menjelaskan.

"Tuan, Nyonya, Syaira tidak mungkin mencuri. Dia anak yang baik, tidak mungkin dia melakukan itu," bela Mbok Minah.

"Diam kau, Minah! Atau kau akan dipecat!" ancam Nyonya Wati, "Bawa anak ini ke kamarnya. Biarkan dia merenungi perbuatannya."

Tuan Hermawan menunjuk ke arah Syaira. "Aku tidak mau melihat wajahmu sampai kau bisa menjelaskan ini semua! Pergi! Dan jangan harap kau akan bisa bersekolah lagi!"

Syaira merasa dunianya runtuh. Ia tidak hanya kehilangan Rendra, satu-satunya orang yang memahaminya, tetapi juga kehilangan haknya untuk bersekolah. Ia menatap Zihan yang tersenyum kemenangan, lalu menatap orang tuanya yang memandangnya penuh kebencian.

Syaira berkata dalam hatinya, "Mereka tidak percaya padaku. Bahkan di rumah ini, aku tidak punya tempat. Aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya apa-apa lagi."

Air mata mengalir tak henti, ia merasa hatinya tercabik-cabik. Syaira berlari ke kamarnya, meninggalkan Mbok Minah yang hanya bisa menatapnya dengan penuh kasihan.

Pintu kamar ditutup, mengunci dirinya dari dunia luar, tetapi tidak dari rasa sakit yang begitu mendalam. Malam itu, ia kembali menangis dalam diam, merasa lebih kesepian dari sebelumnya.

****

Hujan deras mengguyur. Syaira duduk di lantai, bersandar pada pintu yang tertutup. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tatapan kosong dan hampa.

Sreeek!

Tangannya memegang sebuah foto dirinya dan Rendra saat pertama kali mereka bertemu di taman. Ia merobeknya menjadi serpihan kecil, seolah-olah ia ingin menghapus semua ingatan itu.

Cklak!

Tiba-tiba, pintu terbuka. Mbok Minah masuk dengan hati-hati, membawa nampan berisi teh hangat dan makanan. Ia melihat serpihan foto di lantai dan mengerti betapa hancurnya hati Syaira.

"Non... ini, makanlah sedikit," bisik Mbok Minah, suaranya dipenuhi kesedihan.

Syaira menggeleng, ia tidak lapar. Ia hanya bisa menatap Mbok Minah dengan mata yang dipenuhi kesedihan yang mendalam. Ia mengambil buku catatannya, dan menulis dengan tangan gemetar.

"Kenapa aku masih hidup, Mbok? Aku lelah. Aku tidak punya siapa-siapa lagi."

Mbok Minah menaruh nampan di meja dan berlutut di hadapan Syaira. Ia menggenggam tangan Syaira yang dingin, "Jangan bicara begitu, Non! Non punya Mbok. Non tidak sendirian."

Syaira menulis lagi, dengan tulisan yang hampir tidak bisa dibaca karena gemetar.

"Tidak. Aku hanya punya Mbok. Dan mereka akan memecatmu karena membela aku."

Mbok Minah tidak bisa menahan air matanya lagi. "Non tidak perlu khawatir tentang Mbok. Mereka tidak bisa memecat Mbok. Karena Mbok akan pergi."

Syaira mendongak, matanya melebar karena terkejut. Ia menulis dengan cepat.

"Pergi? Kemana? Kenapa?"

"Mbok akan pergi bersama Non," kata Mbok Minah, suaranya mantap, "Mbok tidak bisa membiarkan Non di sini, menderita sendirian. Mbok akan bawa Non pergi dari tempat ini."

Syaira menatap Mbok Minah. Ia melihat ketulusan yang tak tergoyahkan. Ia melihat kasih sayang yang selama ini menjadi satu-satunya pelindungnya. Ia merasa ada secercah harapan kecil yang muncul.

"Tapi, kita mau kemana?" tulis Syaira.

"Ke mana pun yang bisa membuat Non bahagia. Ke mana pun yang bisa membuat Non merasa aman," jawab Mbok Minah, "Kita akan pergi malam ini. Saat mereka semua sudah tidur. Kita mulai dari awal lagi."

Air mata Syaira kembali mengalir, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa haru. Ia tidak pernah membayangkan ada orang yang begitu rela berkorban untuknya. Mbok Minah adalah malaikat penolongnya.

Syaira memeluk Mbok Minah erat-erat. Ia tidak bisa berkata-kata, tapi pelukannya sudah mewakili semua perasaan yang ingin ia sampaikan. Rasa terima kasih, kebahagiaan, dan juga ketakutan.

"Tenang, Non. Ada Mbok," bisik Mbok Minah, "Malam ini, kita kabur dari neraka ini."

Pada saat itu, hujan di luar semakin deras, seolah alam ikut mengiringi keputusan besar yang mereka ambil.

Di bawah langit yang gelap, di dalam sebuah kamar mewah yang dingin, sebuah rencana pelarian penuh harapan mulai terjalin. Rencana untuk menemukan sebuah tempat di mana Syaira tidak lagi menjadi aib, melainkan menjadi dirinya sendiri.


Other Stories
Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Bangkit Dari Luka

Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma