Chapter 8 Hadiah Dari Sebuah Kesabaran
Rumah nenek di desa. Sebulan kemudian. Syaira dan Mbok Minah tinggal bersama nenek, membantu pekerjaan di kebun dan belajar tentang tanaman obat. Syaira yang biasanya murung, kini lebih ceria. Punggungnya sudah sembuh total, dan luka di hatinya mulai memudar.
"Sekarang, coba ulangi lagi, Nak," kata nenek itu, menatap Syaira dengan penuh kesabaran, "Ayo, ucapkan A."
Syaira mengangguk, ia menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam, dan mencoba mengeluarkan suara. Hanya ada hembusan napas yang terdengar. Ia membuka matanya, dan menatap nenek itu dengan mata sedih. Ia merasa putus asa.
"Jangan menyerah, Non," bisik Mbok Minah, "Nenek bilang proses ini butuh waktu."
"Benar," kata nenek itu, "Ramuan itu sudah membuka jalan. Sekarang, kau harus menemukan sendiri suaramu. Suara yang sudah lama terkunci itu ingin keluar. Kau hanya perlu membantunya."
Syaira mengangguk. Ia mencoba lagi dan lagi, setiap hari. Latihan vokal, latihan pernapasan. Setiap pagi, ia mencoba mengeluarkan suara, namun selalu gagal.
Suatu pagi, saat Syaira sedang menyiram bunga di kebun, ia melihat seekor kupu-kupu yang sangat indah, berwarna biru cerah, hinggap di tangannya. Kupu-kupu itu terasa begitu ringan, begitu rapuh, namun begitu indah. Hatinya tersentuh. Ia tiba-tiba merasakan sebuah keinginan yang kuat untuk mengatakan sesuatu pada kupu-kupu itu.
Ia menutup matanya, dan mengambil napas dalam-dalam. Ia mengingat semua penderitaannya, semua air matanya. Dan kemudian, ia mengingat semua kebaikan yang diterimanya. Kasih sayang Mbok Minah, kehangatan Rendra, dan kebaikan nenek tua ini.
Ia membuka mulutnya, dan mencoba mengeluarkan suara. Terdengar sebuah bisikan. Bisikan yang sangat pelan yang hampir tidak bisa didengar.
"S..."
Ia mencoba lagi.
"S... Sy..."
Air mata mengalir di pipinya. Itu adalah suara. Suara pertamanya.
Nenek dan Mbok Minah yang melihat dari jauh, terkejut. Mereka berjalan perlahan ke arah Syaira.
"Syaira..." Mbok Minah berbisik, "Non, coba lagi."
Syaira mengangguk. Ia melihat ke arah kupu-kupu itu, dan ia berbicara lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih jelas.
"Sy... Syai..."
Suaranya masih parau, tapi itu nyata. Itu adalah suaranya.
"Non!" Mbok Minah tidak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Syaira dengan erat, "Non bisa bicara! Non bisa bicara!"
"Ini mukjizat," kata nenek itu, matanya berkaca-kaca, "Jiwa yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Selamat Syaira. Kau sudah menemukan suaramu."
Syaira tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menangis bahagia. Setelah bertahun-tahun dalam keheningan, ia akhirnya bisa mengeluarkan suara. Ia bisa menangis, tertawa, dan berbicara. Ia memeluk Mbok Minah erat-erat, dan mencoba mengucapkan kata yang sudah lama ingin ia katakan.
"Mbok..."
Suaranya parau, tapi penuh arti, "Mbok, terima kasih."
Mbok Minah tersenyum, air matanya membasahi pipi,."Tidak perlu terima kasih, Non. Ini semua karena kekuatan Non sendiri."
Syaira mengangguk. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Tapi kini ia memiliki sebuah kekuatan. Ia memiliki sebuah suara. Dan ia akan menggunakannya untuk membuktikan siapa dirinya, dan untuk membela kebenaran.
"Sekarang, coba ulangi lagi, Nak," kata nenek itu, menatap Syaira dengan penuh kesabaran, "Ayo, ucapkan A."
Syaira mengangguk, ia menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam, dan mencoba mengeluarkan suara. Hanya ada hembusan napas yang terdengar. Ia membuka matanya, dan menatap nenek itu dengan mata sedih. Ia merasa putus asa.
"Jangan menyerah, Non," bisik Mbok Minah, "Nenek bilang proses ini butuh waktu."
"Benar," kata nenek itu, "Ramuan itu sudah membuka jalan. Sekarang, kau harus menemukan sendiri suaramu. Suara yang sudah lama terkunci itu ingin keluar. Kau hanya perlu membantunya."
Syaira mengangguk. Ia mencoba lagi dan lagi, setiap hari. Latihan vokal, latihan pernapasan. Setiap pagi, ia mencoba mengeluarkan suara, namun selalu gagal.
Suatu pagi, saat Syaira sedang menyiram bunga di kebun, ia melihat seekor kupu-kupu yang sangat indah, berwarna biru cerah, hinggap di tangannya. Kupu-kupu itu terasa begitu ringan, begitu rapuh, namun begitu indah. Hatinya tersentuh. Ia tiba-tiba merasakan sebuah keinginan yang kuat untuk mengatakan sesuatu pada kupu-kupu itu.
Ia menutup matanya, dan mengambil napas dalam-dalam. Ia mengingat semua penderitaannya, semua air matanya. Dan kemudian, ia mengingat semua kebaikan yang diterimanya. Kasih sayang Mbok Minah, kehangatan Rendra, dan kebaikan nenek tua ini.
Ia membuka mulutnya, dan mencoba mengeluarkan suara. Terdengar sebuah bisikan. Bisikan yang sangat pelan yang hampir tidak bisa didengar.
"S..."
Ia mencoba lagi.
"S... Sy..."
Air mata mengalir di pipinya. Itu adalah suara. Suara pertamanya.
Nenek dan Mbok Minah yang melihat dari jauh, terkejut. Mereka berjalan perlahan ke arah Syaira.
"Syaira..." Mbok Minah berbisik, "Non, coba lagi."
Syaira mengangguk. Ia melihat ke arah kupu-kupu itu, dan ia berbicara lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih jelas.
"Sy... Syai..."
Suaranya masih parau, tapi itu nyata. Itu adalah suaranya.
"Non!" Mbok Minah tidak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Syaira dengan erat, "Non bisa bicara! Non bisa bicara!"
"Ini mukjizat," kata nenek itu, matanya berkaca-kaca, "Jiwa yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Selamat Syaira. Kau sudah menemukan suaramu."
Syaira tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menangis bahagia. Setelah bertahun-tahun dalam keheningan, ia akhirnya bisa mengeluarkan suara. Ia bisa menangis, tertawa, dan berbicara. Ia memeluk Mbok Minah erat-erat, dan mencoba mengucapkan kata yang sudah lama ingin ia katakan.
"Mbok..."
Suaranya parau, tapi penuh arti, "Mbok, terima kasih."
Mbok Minah tersenyum, air matanya membasahi pipi,."Tidak perlu terima kasih, Non. Ini semua karena kekuatan Non sendiri."
Syaira mengangguk. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Tapi kini ia memiliki sebuah kekuatan. Ia memiliki sebuah suara. Dan ia akan menggunakannya untuk membuktikan siapa dirinya, dan untuk membela kebenaran.
Other Stories
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Testing
testing ...