Suara Cinta Gadis Bisu

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara Cinta Gadis Bisu
Penulis Moycha Zia

Chapter 5 Racun Dalam Kebahagiaan

Triiiing! Triiiiiiing!

Bel berbunyi, menandakan jam istirahat sekolah. Zihan duduk di kafe sekolah bersama dua temannya, ponsel di tangannya. Senyum licik menghiasi wajahnya saat ia melihat Rendra dan Syaira dari kejauhan. Rendra sedang membantu Syaira membawa beberapa buku yang tebal.

"Lihat mereka," bisik Zihan pada temannya, "Rendra begitu peduli pada si bisu itu."

"Kau akan melakukan apa, Zihan?" tanya salah satu temannya, "Rendra terlihat sangat menyukai Syaira."

"Tentu saja dia akan menyukai gadis yang lemah dan menyedihkan," balas Zihan, suaranya dipenuhi kebencian, "Tapi lihat ini."

Zihan membuka galeri ponselnya, memperlihatkan foto Rendra dan Syaira yang ia ambil di kafe kemarin. Namun, foto itu sudah diedit. Di tangan Syaira, tampak seolah-olah ia sedang memegang dompet Rendra.

Zihan menyebarkan foto itu ke grup obrolan kelas, diikuti dengan sebuah pesan.
"Aku akan buat cerita. Bahwa Syaira, di balik wajah polosnya, adalah seorang pencuri."

Teman-temannya terkejut. "Tapi, itu tidak benar, Zihan!"
"Siapa yang peduli?" Zihan tertawa kecil, "Yang penting adalah apa yang orang lain percaya. Rendra tidak akan percaya pada gadis bisu yang tidak bisa membela dirinya sendiri, kan?"

Drrrrt! Drrrrt!

Beberapa menit kemudian, ponsel Rendra bergetar. Ia membukanya, dan melihat foto itu. Matanya melebar, dan raut wajahnya berubah menjadi bingung, lalu kecewa. Ia berhenti berjalan, dan menatap Syaira dengan tatapan yang berbeda.
Syaira yang tidak mengerti, apa yang terjadi, menunjuk ke buku yang Rendra bawa, mengisyaratkan bahwa ia bisa membantu membawanya. Tapi Rendra menggeleng.

"Syaira..." Rendra menunjukkan ponselnya, "Apa ini?"

Syaira menatap layar ponsel itu, ia terkejut. Tubuhnya membeku, air matanya mulai mengalir. Ia menggelengkan kepala mencoba menjelaskan bahwa itu tidak benar, tapi tidak ada suara yang keluar.

"Jawab aku, Syaira! Apa ini? Kamu pencuri?" Suara Rendra meninggi.

Pada saat itu, Zihan datang. Ia berjalan ke arah Rendra dan Syaira dengan wajah penuh keprihatinan palsu, "Rendra, kamu tidak apa-apa? Kamu kehilangan sesuatu?"

Rendra menatap Zihan, lalu ke Syaira, "Dompetku ada di tas. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku percaya."

"Aku sudah bilang, Rendra," kata Zihan, suaranya terdengar lembut namun penuh racun, "Dia hanya pura-pura polos. Jangan percaya padanya. Dia hanya mendekatimu karena kamu anak pemilik sekolah. Dia memanfaatkanmu."

Syaira terus menggeleng, air matanya mengalir deras. Ia mencoba meraih tangan Rendra, tapi Rendra menepisnya.

"Jangan sentuh aku," kata Rendra, suaranya dingin dan menusuk, "Aku tidak menyangka kamu akan seperti ini. Aku kecewa!"

Syaira tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya bisa melihat Rendra berbalik dan pergi, meninggalkan dirinya sendirian. Perasaan itu sama persis seperti saat ayah dan ibunya memukulnya. Hati Syaira hancur berkeping-keping.

Bati Syaira, "Rendra, itu tidak benar! Aku bisa melihat kebencian di matamu. Ini semua karena Zihan."

Zihan tersenyum penuh kemenangan. Ia menatap Syaira dengan mata meremehkan.
"Kau pikir Rendra akan percaya pada gadis bisu sepertimu?" bisik Zihan, "Kau tidak punya suara untuk membela diri. Sekarang, kau kehilangan satu-satunya teman yang kau miliki."

Syaira tidak bisa berkata-kata hanya bisa menangis. Kata-kata Zihan menusuk hatinya, lebih sakit dari cambukan. Ia kehilangan Rendra. Ia kehilangan cahayanya. Sekali lagi, ia kembali sendirian, terperangkap dalam bisu yang membelenggunya.

***
Di halaman sekolah. Syaira masih berdiri mematung, air matanya tak terbendung. Zihan mendekat, senyum sinisnya tak luntur. Ia sengaja menunggu Rendra pergi jauh sebelum melanjutkan serangannya.

"Kasihan sekali, adikku," bisik Zihan, suaranya terdengar manis namun menusuk seperti belati, "Sekarang kau sudah kehilangan segalanya. Ayah dan Ibu membencimu, dan sekarang, satu-satunya orang yang peduli padamu sudah pergi."

Syaira menunduk, ia mencoba membersihkan air matanya yang terus mengalir. Ia merasa begitu hampa.

"Kau pikir kau bisa menipu semua orang? Kau tidak punya suara untuk membela diri," lanjut Zihan, ia sengaja mengucapkan setiap kata dengan perlahan, memastikan Syaira mendengarnya, "Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Menulis di buku kotormu? Rendra tidak akan percaya padamu lagi."

Syaira mengangkat wajahnya, menatap Zihan dengan mata yang penuh permohonan. Ia ingin mengatakan, "Itu tidak benar! Aku tidak mencuri!" Tapi tidak ada yang keluar.

"Kau tahu, Syaira," kata Zihan, ia semakin mendekat, "Aku tahu kenapa Ayah dan Ibu membencimu. Karena kau mengingatkan mereka pada sebuah kesalahan. Aku adalah kebanggaan mereka, putri yang sempurna. Dan kau hanyalah aib yang harus mereka sembunyikan."

Syaira menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir semakin deras. Kata-kata Zihan lebih menyakitkan dari semua cambukan fisik yang pernah ia terima.

"Kau tidak pernah pantas mendapatkan Rendra," bisik Zihan, "Dia terlalu sempurna untukmu. Kau tahu, dia bahkan tidak pernah benar-benar mencintaimu. Dia hanya kasihan padamu. Dia hanya ingin terlihat seperti pahlawan yang menyelamatkan gadis bisu."

Hati Syaira terasa hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa lagi menahan isakannya. Tubuhnya bergetar, ia terduduk di tanah.

"Mulai sekarang, jangan pernah lagi mendekati Rendra. Atau aku akan pastikan kau tidak akan pernah bisa kembali ke sekolah ini," ancam Zihan, lalu ia berbalik dan pergi, meninggalkan Syaira sendirian di tengah halaman sekolah yang sepi, ditemani oleh serpihan harapan yang kini hancur.

Syaira berkata dalam hati, "Kenapa kau begitu jahat, Kak? Aku adalah adikmu. Aku juga punya hati. Apa aku benar-benar seburuk itu? Apa aku memang ditakdirkan untuk sendirian di dunia ini?"

Tes!

Air mata Syaira membasahi tanah, membaur dengan debu, seolah-olah semua mimpinya kini telah menjadi abu. Ia kembali terperangkap dalam bisu yang membelenggunya dengan sebuah kenyataan pahit yang menusuk hingga ke relung jiwanya.

Other Stories
Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Download Titik & Koma