Chapter 10 Suara Hati Dan Awal Yang Baru
Di halaman mansion keluarga Syaira. Syaira berdiri di hadapan orang tuanya, Ayah dan Ibunya yang menatapnya dengan pandangan campur aduk antara penyesalan dan keterkejutan.
Di samping mereka, Zihan hanya bisa menunduk, tidak berani menatap Syaira.
"Syaira, kenapa kamu bisa bicara?" tanya Tuan Hermawan, suaranya terdengar bergetar, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku kembali karena aku ingin kebenaran terungkap," jawab Syaira, suaranya sudah tidak parau lagi, melainkan terdengar tegas dan penuh keyakinan, "Aku kembali karena aku ingin kalian melihatku, bukan sebagai aib, tapi sebagai anak kalian. Yang selama ini kalian sakiti."
Nyonya Wati mendekat, air mata mulai menggenang di matanya. "Syaira maafkan Ibu. Kami tidak tahu kalau Zihan..."
Syaira menggeleng, "Aku sudah tahu, Bu. Aku sudah lama tahu. Aku juga tahu, Ayah dan Ibu memukuli aku bukan hanya karena aku bisu, tapi karena aku adalah pengingat dari semua yang kalian anggap cacat. Tapi ketahuilah, tidak ada yang cacat dari ketulusan dan kebaikan. Hal itu justru ada di dalam diriku."
Syaira menoleh ke Zihan, "Aku tidak akan menghancurkan hidupmu, Kak. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja dari perbuatanmu. Biarlah hati kecilmu yang akan menghukummu."
Zihan mengangkat wajahnya, menatap Syaira, matanya penuh air mata. "Aku minta maaf, Syaira. Aku..."
"Permintaan maafmu tidak akan menghapus semua luka ini, Kak," potong Syaira, "Tapi aku memaafkanmu. Aku memaafkan Ayah. Aku memaafkan Ibu. Karena aku tidak ingin hidup dengan kebencian di dalam hati. Kebencian adalah sebuah racun, dan aku tidak mau membiarkannya merusak diriku."
Kata-kata Syaira menusuk hati kedua orang tuanya. Tuan Hermawan terduduk, air mata penyesalan mengalir di wajahnya. Nyonya Wati menangis sesenggukan. Mereka baru menyadari, betapa kejamnya mereka.
"Aku tidak akan kembali ke sini," kata Syaira, suaranya melembut, tapi mantap, "Aku sudah menemukan kekuatanku sendiri. Aku sudah memiliki suaraku. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya terkunci lagi. Bukan hanya suaraku, tapi juga hatiku."
"Tapi, nak, kemana kamu akan pergi?" tanya Nyonya Wati, suaranya bergetar.
"Aku akan pergi mencari kebahagiaanku sendiri," jawab Syaira, lalu ia tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, tanpa ada lagi kesedihan di matanya, "Aku ingin hidup, bukan hanya ada. Aku ingin menemukan tujuan hidupku, tanpa harus memenuhi standar yang kalian tetapkan."
Tiba-tiba, dari balik gerbang, Rendra datang. Ia berjalan menuju Syaira, lalu memegang tangannya, "Aku bersamamu, Syaira. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku akan membantumu menemukan kebahagiaan itu."
Syaira tersenyum, hatinya terasa hangat. Ia menatap Mbok Minah yang berdiri di belakang Rendra, "Mbok, terima kasih. Mbok sudah menjadi malaikat pelindungku. Mbok adalah satu-satunya orang yang percaya padaku, bahkan saat aku tidak bisa bicara. Ketulusan Mbok sudah menyelamatkanku."
"Non... Mbok hanya melakukan apa yang seharusnya Mbok lakukan," bisik Mbok Minah, matanya berkaca-kaca, "Cinta tidak butuh alasan. Dan Mbok sudah terlanjur mencintai Non seperti anak Mbok sendiri."
Syaira menatap kedua orang tuanya yang hanya bisa menangis dalam diam, "Aku akan memaafkan kalian. Tapi aku tidak akan melupakan. Semoga kalian bisa menemukan makna cinta sejati, yang bukan hanya untuk sempurna, tapi juga untuk yang tidak sempurna."
Syaira berbalik, dan berjalan keluar dari gerbang mansion. Di belakangnya, ia meninggalkan semua penderitaan dan kenangan pahit. Di sampingnya, Rendra dan Mbok Minah berjalan bersamanya. Mereka akan memulai sebuah kehidupan baru, di mana Syaira bisa menjadi dirinya sendiri.
Mereka berjalan di bawah langit malam yang bertabur bintang. Di pundak Rendra, kepala Syaira bersandar. "Aku mencintaimu, Rendra," bisiknya.
"Aku juga mencintaimu, Syaira," balas Rendra, "Kamu adalah bukti bahwa keheningan bukanlah kelemahan. Itu adalah tempat di mana kekuatan terbesar tumbuh. Kamu sudah menjadi cahaya bagi dirimu sendiri."
Syaira tersenyum berakhir dengan suara hati dan sebuah awal yang baru. Ia tidak lagi menjadi si bisu. Ia adalah Syaira, gadis yang kuat telah menemukan suaranya, dan kebahagiaan sejatinya.
Cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang ketulusan yang menerima segala kekurangannya.
_TAMAT_
Di samping mereka, Zihan hanya bisa menunduk, tidak berani menatap Syaira.
"Syaira, kenapa kamu bisa bicara?" tanya Tuan Hermawan, suaranya terdengar bergetar, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku kembali karena aku ingin kebenaran terungkap," jawab Syaira, suaranya sudah tidak parau lagi, melainkan terdengar tegas dan penuh keyakinan, "Aku kembali karena aku ingin kalian melihatku, bukan sebagai aib, tapi sebagai anak kalian. Yang selama ini kalian sakiti."
Nyonya Wati mendekat, air mata mulai menggenang di matanya. "Syaira maafkan Ibu. Kami tidak tahu kalau Zihan..."
Syaira menggeleng, "Aku sudah tahu, Bu. Aku sudah lama tahu. Aku juga tahu, Ayah dan Ibu memukuli aku bukan hanya karena aku bisu, tapi karena aku adalah pengingat dari semua yang kalian anggap cacat. Tapi ketahuilah, tidak ada yang cacat dari ketulusan dan kebaikan. Hal itu justru ada di dalam diriku."
Syaira menoleh ke Zihan, "Aku tidak akan menghancurkan hidupmu, Kak. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja dari perbuatanmu. Biarlah hati kecilmu yang akan menghukummu."
Zihan mengangkat wajahnya, menatap Syaira, matanya penuh air mata. "Aku minta maaf, Syaira. Aku..."
"Permintaan maafmu tidak akan menghapus semua luka ini, Kak," potong Syaira, "Tapi aku memaafkanmu. Aku memaafkan Ayah. Aku memaafkan Ibu. Karena aku tidak ingin hidup dengan kebencian di dalam hati. Kebencian adalah sebuah racun, dan aku tidak mau membiarkannya merusak diriku."
Kata-kata Syaira menusuk hati kedua orang tuanya. Tuan Hermawan terduduk, air mata penyesalan mengalir di wajahnya. Nyonya Wati menangis sesenggukan. Mereka baru menyadari, betapa kejamnya mereka.
"Aku tidak akan kembali ke sini," kata Syaira, suaranya melembut, tapi mantap, "Aku sudah menemukan kekuatanku sendiri. Aku sudah memiliki suaraku. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya terkunci lagi. Bukan hanya suaraku, tapi juga hatiku."
"Tapi, nak, kemana kamu akan pergi?" tanya Nyonya Wati, suaranya bergetar.
"Aku akan pergi mencari kebahagiaanku sendiri," jawab Syaira, lalu ia tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, tanpa ada lagi kesedihan di matanya, "Aku ingin hidup, bukan hanya ada. Aku ingin menemukan tujuan hidupku, tanpa harus memenuhi standar yang kalian tetapkan."
Tiba-tiba, dari balik gerbang, Rendra datang. Ia berjalan menuju Syaira, lalu memegang tangannya, "Aku bersamamu, Syaira. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku akan membantumu menemukan kebahagiaan itu."
Syaira tersenyum, hatinya terasa hangat. Ia menatap Mbok Minah yang berdiri di belakang Rendra, "Mbok, terima kasih. Mbok sudah menjadi malaikat pelindungku. Mbok adalah satu-satunya orang yang percaya padaku, bahkan saat aku tidak bisa bicara. Ketulusan Mbok sudah menyelamatkanku."
"Non... Mbok hanya melakukan apa yang seharusnya Mbok lakukan," bisik Mbok Minah, matanya berkaca-kaca, "Cinta tidak butuh alasan. Dan Mbok sudah terlanjur mencintai Non seperti anak Mbok sendiri."
Syaira menatap kedua orang tuanya yang hanya bisa menangis dalam diam, "Aku akan memaafkan kalian. Tapi aku tidak akan melupakan. Semoga kalian bisa menemukan makna cinta sejati, yang bukan hanya untuk sempurna, tapi juga untuk yang tidak sempurna."
Syaira berbalik, dan berjalan keluar dari gerbang mansion. Di belakangnya, ia meninggalkan semua penderitaan dan kenangan pahit. Di sampingnya, Rendra dan Mbok Minah berjalan bersamanya. Mereka akan memulai sebuah kehidupan baru, di mana Syaira bisa menjadi dirinya sendiri.
Mereka berjalan di bawah langit malam yang bertabur bintang. Di pundak Rendra, kepala Syaira bersandar. "Aku mencintaimu, Rendra," bisiknya.
"Aku juga mencintaimu, Syaira," balas Rendra, "Kamu adalah bukti bahwa keheningan bukanlah kelemahan. Itu adalah tempat di mana kekuatan terbesar tumbuh. Kamu sudah menjadi cahaya bagi dirimu sendiri."
Syaira tersenyum berakhir dengan suara hati dan sebuah awal yang baru. Ia tidak lagi menjadi si bisu. Ia adalah Syaira, gadis yang kuat telah menemukan suaranya, dan kebahagiaan sejatinya.
Cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang ketulusan yang menerima segala kekurangannya.
_TAMAT_
Other Stories
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...