11. Man Jadda Wajada
Barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil
Where There is a wiil there is a way
(Di mana ada kemauan, pasti di situ ada jalan)
Kalimat motivasi di atas terpampang jelas di kotak bajuku. Nilai impian juga ada di antara mereka. Kalian masih ingat bukan berapa nilai impianku? Aku menyimpannya dalam hati sedalam mungkin, kupasang pada setiap ruas jalan yang kulalui. Tidak terasa ujian semester semakin dekat saja. Tidak terasa? Apakah aku sudah betah di pesantren? Jawabannya adalah iya, aku begitu menikmati setiap waktuku di sini. Setelah melewati masa-masa yang tak menyenangkan tentunya.
Tidak betah di pondok harus kita lawan, yang terpenting adalah kita harus ingat tujuan awal kita dari rumah. Mengingat setiap garis wajah orang tua yang kian menua. Bertangggung jawab atas apa yang sudah aku pilih. Ya, untuk menuntut ilmu di Jawa adalah pilihanku, dan aku pun akan bertangggung jawab atas hal itu. Tentu saja tidak semuanya akan berjalan lancar, akan banyak hal menghadang mencoba menghentikan langkah-langkah kecil kita. Namun tekad dan mimpi itu lebih besar dan kuat dan akan mampu menghadapi segalanya. Mengingat inci demi inci kampung yang suatu saat nanti akan membutuhkanku, sekecil apapun andilku.
Aku selalu bercita-cita untuk kembali ke kampung setelah aku menyelesaikan sekolah. Tidak peduli apa, aku ingin dekat dengan kedua orang tua, namun di kemudian hari takdir akan membawaku kepada mimpi-mimpi sederhana itu.
Beberapa waktu lalu aku mendapat aneka buku teknologi informasi dan buku akuntansi dari seseorang yang tak bernama. Aku mendapatkannya dari pihak sekolah, katanya dikirim melalui kantor pos. Aku hanya mengingat kartu ucapan yang terselip dalam bungkus buku-buku tersebut.
Belajarlah untuk terbang, meski engkau akan menemukan 1000 kesakitan
Jika ragamu tak mampu melakukannya, biarkan mimpimu menembus langit-Nya
Aku penasaran dengan pengirimnya, siapakah? Apakah ada seseorang yang diam-diam menyukaiku? Sejenak rasanya jantungku berhenti berdetak. Lalu kutepiskan jauh-jauh pemikiran aneh ini. Memang sih kalau kabar aku tidak bisa akuntansi dan komputer semua anak sekolah ini juga tahu. Aku pun enggan menelisik lebih jauh, anggaplah ini kiriman spesial.
Hari-hariku dipenuhi dengan latihan mengerjakan soal akuntansi, semua buku akuntansi kakak kelas di asrama aku sita. Beruntung banyak kakak kelas yang berkenan menjawab segala pertanyaan yang kusampaikan.
Di sekolah saat istirahat tiba, aku tak pernah membeli bakmi lagi. Tujuanku hanya mushola untuk salat duha dan perpustakaan. Ada yang kusukai ketika di perpusakaan, aku bisa melihat seseorang, seseorang yang begitu menakutkan namun aku rindu dengan ketakutan itu. Ketegasan, dan caranya membentak aku masih menyimpannya dengan lekat.
Dia menjadi salah satu ketua kelompok belajar di perpustakaan, saat anak-anak ramai aku mencoba menyelinap, mendengarkan segala yang ia sampaikan.
Aku kira ini rasa kagum pada putra kyaiku yang mempunyai segala kelebihan. Sedangkan aku, dibilang cantik temanku banyak yang lebih cantik. Namun setidaknya aku sudah mendapat 10 surat yang isinya menyukaiku. Rata-rata semua berisi menyukai kepolosan dan keberanian, juga… manis dan imut.
Aku menyukai suasana di perpustakaan ini, sedangkan di pesantren dia seolah-olah tidak mengenalku. Meski di sekolah juga sama demikian. Ah sudahlah intinya aku belajar sekuat yang kubisa untuk membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku bersungguh-sunggung di sini.
***
Setelah beberapa kali belajar dan latihan akuntansi, aku semakin mantap menghadapi ujian semester yang hanya tinggal menghitung detik. Keyakinanku entah akan berbanding lurus dengan hasilnya akupun juga penasaran. Hari ini aku ujian semester mengerjakan soal sebagai pembuktian bahwa siswa telah melaksanakan pembelajaran dengan baik.
Ujian pertama hari ini adalah mata pelajaran bahasa Indonesia, aku paling suka dengan pelajaran ini. Bagaimana tidak suka? Jika sebelum terlahir aku ditakdirkan sudah menyukainya? Gombal banget bukan? Haha.
Intinya tidak bisa dijelaskan asal mula mengapa aku bisa menyukai pelajaran ini. Ataukah mungkin sama halnya seperti aku mulai mengaguminya? Sebenarnya suka juga bisa diperjuangkan, yang asalnya aku tidak kenal apalagi suka dengan pelajaran akuntansi, kini akuntansi menjadi pelajaran kedua yang aku sukai.
Nomor urut duduk pun diganti tidak seperti di kelas, kami semua disebar. Duduk bersebelahan dengan kakak kelas. Alasannya sederhana agar tidak terjadi peristiwa contek mencontek. Tapi bukannya lebih besar potensi menconteknya ya jika ada kakak kelas di samping? Apalagi logikanya kakak kelas lebih pintar daripada adik kelas. Meski tidak dalam segala hal seperti itu juga sih.
Aku duduk di samping kakak kelas perempuan, kami tidak saling kenal, dan tidak ada inisiatif dari kami masing-masing untuk berkenalan juga sih. Apa kalian juga mengira ketua OSIS juga akan sekelas denganku? Aku berharapnya tidak, dan memang tidak sekelas hahaha. Jika iya akan sangat mengganggu konsentrasi.
Pengawas datang, rasanya guru akan berubah sikap jika menjadi pengawas. Seolah-olah di wajahnya terpampang jelas, jangan nyontek! Sejak SMP aku sudah belajar tidak mencontek. Jadi hampir seluruh siswa mengenaliku dengan anak yang pelit ketika ujian, gini-gini sejak sekolah dasar hingga SMP aku peringkat tidak lebih dari peringkat tiga. Paling mentok aku berada di posisi tiga. Namun untuk bersaing dengan para juara kelas di SMK ini, cukup menguras energi juga.
Pak guru telah membagikan lembar soal dan jawaban pada meja kami masing-masing. Mulai kukerjakan soal satu demi satu, sebisaku. Yang tidak kubisa pun tidak kuusahakan minta bantuan orang lain. Aku masih ingat guru SMP-ku yang mengingatkan bahwa beliau tidak suka dengan siswa yang nyontek. Entah mengapa lama-lama aku pun menyadari bahwa nyontek bukan perbuatan terpuji. Meski aku akan mendapatkan rasa sakit ketika menjaga komitmen ini.
Tidak jarang selepas ujian aku akan mendapat musuh dadakan, karena aku terkesan sombong tidak mau memberi jawaban. Maka kadang aku berbohong belum mengerjakan soal yang ditanyakan. Ternyata budaya mencontek juga masih banyak di tingkat sekolah menengah atas. Bagi mereka mencontek adalah hal wajar, dan hampir semua anak melakukannya. Lalu itu hal yang membuat melegitimasi perbuatan buruk menjadi biasa, atau tak ada sanksi sosialnya. Sedangkan anak-anak yang mempunyai prinsip tidak mencontek justru terkesan bersalah karena tidak ikut pada golongan mayoritas.
Kasak-kusuk dalam ujian pun begitu kentara. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang bertukar jawaban. Namun anehnya hal tersebut bisa mereka sembunyikan dengan baik, kadang aku merasa tak adil jika mereka mendapat nilai lebih baik. Sedangkan yang murni mengerjakan sendiri justru mendapat nilai di bawahnya. Namun aku selalu percaya tidak akan ada yang sia-sia. Setidaknya hatiku menyatakan kebenaran dengan sikap yang kuambil. Samar-samar ada seseorang dari arah belakang memanggilku.
“Karima, tanya nomor 20 dong,” pintanya.
“Tanya aja pada rumput yang bergoyang,” jawabku sekenanya cengengesan. Sedangkan dia manyun.
Percayalah pada kemampuanmu, itu yang selalu kutanamkan. Aku selalu merasa rendah jika bertanya jawaban pada orang lain. Serasa tidak bisa tegak di atas kaki sendiri. Jadi prinsipku adalah, jika bisa kukerjakan jika tak bisa ya tinggalkan. Kalau mau ya mengarang, lebih-lebih nilai mengarangku cukup tinggi. Tapi kasihan guru juga sih, sudah baca panjang kali lebar ternyata jawaban zonk.
Tapi kita mempunyai prinsip masing-masing, ada yang mempunyai prinsip bisa tidak bisa harus bisa nyari jawabannya, entah itu tanya pada manusia atau tanya pada buku contekan. Harus bisa entah bagaimana prosesnya. Namun biarlah mereka mempunyai pemikiran masing-masing, dan aku dengan prinsipku sendiri. Sekeras apapun perjuanganku, aku menikmatinya dengan sangat. Mendapat posisi atau tidak aku selalu percaya Tuhan akan memberikan ganjaran terbaik atas proses yang telah kita perbuat.
***
Ujian berlalu dengan sangat cepat, melesat bagai kilat. Tak membiarkan siapapun untuk bersiap. Jika sudah ujian tiba, itu artinya siap tidak siap harus siap. Aku telah melewati banyak hal. Untuk pertama kalinya aku ragu bisa mendapatkan posisi tiga besar di kelas. Meski selama sekolah aku tidak pernah lepas dari peringkat tersebut.
Buku misterius yang sampai padaku juga sangat membantu dalam belajar. Setidaknya aku bisa mengejar ketertinggalan. Rapor hari ini harus diambil oleh wali siswa. Berhubung bapak dan mamak jauh, jadi saya sudah bilang dengan mbak pengurus minta untuk mengambilkan rapor.
Aku gemetar di bawah pohon depan sekolah. Berulang kali aku hanya memainkan ujung sepatuku. Beberapa teman sudah ada yang mendapatkan rapor. Dari kejauhan tampak Mbak Zila datang menuju kantor. Saat aku ingin menghampirinya aku justru ingin ke kamar kecil, sepertinya efek grogi nih. Aku berlari kecil menuju kamar mandi, berharap bisa segera menyusul Mbak Zila. Sayang sekali kamar kecil antri, jadiah aku antri dulu mendapatkan giliran. Seteah beberapa menit kemudian aku sudah berhasil keluar dari kamar kecil. Segera kulangkahkan kaki menuju kantor. Mencoba menemukan seseorang yang memakai sarung dan baju kurung dilengkapi kerudung berwarna putih. Badan Mbak Zila tidak terlalu susah untuk dicari.
Sepertinya aku kehilangan jejak, aku akan menyusul saja ke pondok untuk mengetahui hasil raporku. Kuambil tas yang masih ada di kelas, karena hari ini hanya penerimaan rapor, jadi sekolah bisa pulang lebih awal. Meski aku sangat ingin pulang ke pondok, namun aku masih ada janji dengan Ina untuk bersama-sama pulang. Jadilah aku duduk di kursi lobi sekolah. Menunggu Ina yang entah kapan akan muncul.
Buku bacaan yang kupinjam dari perpus segera kukeluarkan, sepertinya sangat cocok untuk menunggu seseorang. Kubaca buku bait demi bait. Kulahap kalimatnya dengan nikmat. Aku ingin suatu saat nanti ada namaku tertulis di sampul buku ini. Ya, boleh kan bermimpi? sepertinya Ina semakin lama saja ditunggu. Aku juga semakin tidak betah duduk di kursi yang terbuat dari bahan baku stainless atau baja ringan ini, entahlah.
“Selamat atas prestasimu!” seseorang menyodorkan rapor padaku. Aku sumringah, ketika sebelum aku menemukan bahwa itu Zaidan. Raut mukaku ketika berubah dengan rasa penasaran, mengapa rapor ini bisa sampai padanya.
“Tadi rapormu aku minta dari Mbak Zila. Lagi pula Mbak Zila juga nggak bisa menolak permintaanku,” ia menjelaskan seperti orang yang bisa membaca pikiranku. Aku masih belum membuka rapor itu.
“Awal yang bagus, Karima… mendapatkan peringkat tersebut untuk anak yang nggak bisa komputer sepertimu,” dia menggodaku. Aku mendelik sebal. Perlahan aku buka rapor berwarna abu-abu itu, tertera peringkat dua. Hamdalah kurapal berkali-kali, peringkat ini sangat luar biasa, itu artinya aku bisa bersaing dengan anak-anak dari Jawa yang pintar dalam pikiranku.
Lagi-lagi dia bisa sesuka hatinya melakukan yang ia mau, tanpa memedulikan apa akibatnya setelah ini. Aku hanya diam, tak banyak berkata apalagi mengiba.
Jika aku hidup karena kata orang
Aku tak yakin apa aku masih bisa bertahan
Jika aku hidup karena anggapan
Aku juga tak yakin bagaimana aku harus menanggapinya
Menanggapi satu demi satu manusia
Akupun yakin takkan pernah ada ujungnya
Saat gemericik air hujan turun ke bumi
Dia tak pernah memilih akan turun di mana dan untuk apa
Tak pernah memilih pada bunga yang mana ia akan menderma
Artinya berbuat baik tak perlu melihat akan dipuja ataupun dianggap arjuna
Ya, aku ingin seperti hujan
Yang tak pernah berpikir panjang untuk menebar kasih sayang
Other Stories
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Reuni Mantan
Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...